Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
82. Toko Kembali Dibuka


__ADS_3

[peringatan chapter Dewasa]


Tubuh Jiecie memberontak keras saat Budi terus mendorongnya. Walaupun wanita itu tidak menginginkannya, tetapi Jiecie tidak berdaya ketika kenikmatan mengambil alih kendali.


Dengan posisi misionaris, Budi mengangkat sedikit pinggul Jiecie sambil terus menggerakkan dirinya sendiri. Suara wanita itu tidak dapat ditahan lagi.


Mulut Jiecie meracau dengan mata tertutup, kedua tangannya menarik seprai di kedua sisi bantal. Suara benturan semakin keras membuat nafas Jiecie tidak beraturan.


Plak!


“Aah.... mmmh!.”


Pinggul Budi menghentak keras membuatnya masuk hingga bagian terdalam.


Jiecie melenguh panjang, pinggulnya yang dicengkeram oleh kedua tangan Budi naik semakin tinggi dan kakinya mengejang.


Akhirnya mata Jiecie terbuka, lidahnya pun terjulur keluar ketika merasakan ledakan di dalam perutnya. Dia merasa rahimnya terbakar dan begitu penuh oleh lelehan cairan panas.


Budi mengatur nafasnya dengan tenang ketika melepas benih miliknya. Saat puncak telah tercapai, perlahan kaki Jiecie lemas, Budi pun melepas pinggul wanita itu yang terkulai tidak berdaya.


Jiecie tertidur, dia menjadi begitu lelah hanya dengan satu ronde permainan. Ini tidak pernah terjadi padanya sebelumnya, setiap bermain dengan pria lain Jiecie selalu memegang kendali.


Dia bisa bermain sepuluh ronde dengan orang lain, namun bertarung dengan Budi membuatnya kehilangan semua stamina di ronde kedua.


Budi menarik miliknya, itu masih begitu tegak. Tangannya mengusap senjata itu agar sisa cairan yang terjebak dapat di keluarkan.


Di luar sel Liliana menatap senjata Budi dengan wajah merona, bibirnya tergigit saat membayangkan dirinya merasa keperkasaan Budi.


Tiba-tiba jari Budi masuk ke dalam mulut Jiecie hingga tenggorokan, yang sontak membuat wanita itu tersedak.


“Kau sudah menyerah? Padahal ini baru permulaan.” ucap Buda sambil mencium tengkuk leher Jiecie.


Wanita merasa kenikmatan saat ciuman dari Budi membasahi kulitnya, namun mengingat pria itu adalah musuhnya membuat Jiecie dipenuhi oleh amarah.


Jiecie mengigit jari Budi yang masih berada di mulutnya, namun Budi tidak merasakan sakit sedikitpun. Dia memberikan perlawanan dengan memainkan mutiara Jiecie menggunakan lengan palsunya yang kasar.


Tidak dapat bertahan dari serangan balasan akhirnya Jiecie melepas jari Budi yang ia gigit. Jiecie kembali memberontak saat serangan Budi di bagian intimnya semakin gencar.


Wanita itu tidak dapat melakukan perlawanan lagi, dia hanya bisa membiarkan musuh mengacaukan dirinya. Namun saat ingin menyerah untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Budi menghentikannya serangannya.


Jiecie menatap pemuda itu dengan heran. Namun setelah melihat senyum di wajah Budi, Jiecie sadar jika dirinya sedang dipermainkan.


Budi membalikkan tubuh Jiecie hingga tengkurap di atas kasur, dia mengangkat pinggul wanita itu agar lebih tinggi.

__ADS_1


Melihat bongkahan besar daging bagian belakang Jiecie yang sangat kuat biasa membuat Budi tidak dapat menahan tangannya untuk menamparnya.


Jiecie hanya bisa menahan sakit ketika bagian belakangnya mendapatkan pukulan beberapa kali.


Tetapi Jiecie tidak sepenuhnya membenci Budi memukul belakangnya karena dia merasa sensasi aneh yang membuatnya menikmati perlakuan kasar pemuda itu.


Karena tidak ingin Budi mengetahui itu, Jiecie membenamkan wajahnya di kasur, mulutnya menggigit seprai untuk meredam suaranya.


Bendungan itu akhirnya bocor saat biji Jiecie ditekan begitu keras. Untuk menghentikan suaranya Jiecie menggigit kuat-kuat seprai.


Namun dia begitu terkejut manakala merasakan milik Budi mulia merasuki dirinya ketika masih berada di puncak.


“Tu... tunggu.. ughhh....”


Jiecie hendak menghentikan Budi, namun ia terlambat karena tongkat itu sudah masuk begitu dalam dengan satu kali dorongan membuat Otak Jiecie terhenti sesaat.


“Sangat ketat...”


Budi memeluk Jiecie dari belakang, memalingkan wajah wanita itu kerahnya lalu ******* bibirnya. Jiecie tidak dapat bereaksi karena efek shock yang sebelumnya masih membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya.


Namun begitu bisa bergerak Jiecie tidak lantas menyingkirkan wajah Budi yang saat ini tengah mencumbu bibirnya. Dia membiarkan pemuda itu menikmati seluruh mulutnya.


“Kau keledai yang sangat nyaman untuk dinaiki.” ucap Budi.


Dia bukan hanya membiarkan tetapi juga mempersilahkan dan menginginkan Budi menyentuh tubuhnya.


***


Pagi berikutnya, terdapat banyak tenda berwarna hijau di dirikan di area sekitar Penjara bawah tanah. Para tentara yang baru tiba tadi malam mendirikan perkemahan di tempat itu.


Budi berniat kembali membuka tokonya, namun karena dia memiliki pekerjaan lain yakni membangun pembangkit listrik.


Pemuda itu pun berpikir untuk mempekerjakan seseorang untuk menjaga tokonya selama dia bekerja.


Tetapi bahkan sebelum mengatakan apapun, Yuki sudah menyiapkan satu pelayannya untuk bekerja sementara di toko Asongan.


“Bukankah itu sangat mudah ditebak?.”


Yuki berkata penuh kebanggaan, dia bahkan membusungkan dadanya yang masih dalam proses tumbuh kembang.


Karena menggemaskan melihat gadis itu, Budi pun tidak tahan untuk mengusap rambutnya. Itu membuat Yuki marah karena rambutnya jadi berantakan tetapi Budi tidak peduli.


Tindakan Budi baru berhenti saat Raya menarik telinganya, dia seperti seorang ibu yang melihat anaknya melakukan hal nakal.

__ADS_1


“Mas Budi kok tadi malam nggak datang ke Pesta, sih?.”


Raya terlihat marah, Budi dapat merasakan tekanan intimidasi yang begitu kuat dari gadis itu. Walaupun itu terasa lemah tetapi tidak demikian dengan mereka disekitar.


“Ya mau bagaimana lagi, aku masih ada tugas survei lokasi.” Budi mencoba memberikan alasan.


“Hem!.”


Namun Raya hanya memutar bibirnya karena tidak puas dengan jawaban yang aku berikan.


Yuniar mengatakan jika semalam beberapa tentara mengajaknya berkencan dengan paksa hingga berakhir dengan keributan kecil.


Sebagai ibunya, ia ingin Budi menghibur Raya. Mendengar itu Budi hanya menghela nafas panjang.


“Aku ingin setidaknya sekali menjelajahi Dungeon di kota ini,”


Mendengar perkataan Budi, mata Raya langsung berbinar.


“Aku... aku bisa menemani kakak buat jalan-jalan, eh maksudku menjelajah.” Gadi berambut merah itu begitu gugup.


“Eh, sungguh? Itu pasti akan sangat menyenangkan.”


Setelah Itu keduanya pun membuat janji untuk menjelajahi Dungeon bersama. Wajah Raya kembali ceria seakan kemarahannya hanya sebuah jebakan.


‘Apa aku benar-benar sebodoh itu hingga lupa siapa dia?.’


Budi merasa jika dirinya adalah manusia terbodoh di dunia.


Setelah itu semua orang pun meninggalkan toko, mereka mengerjakan tugas masing-masing.


Raya akan kembali menyelam ke dalam Penjara Bawah Tanah bersama Rohid dan anggota guild Pasukan Poci. Yuki dan Yuniar sibuk dengan urusan pembangunan kota.


Tidak lama setelah kepergian tamu-tamunya, Budi pun membuka toko. Hunter yang sudah menunggu di luar segera merengsek masuk untuk berbelanja.


Batu monster masih menjadi mata uang yang digunakan. Para Hunter yang sudah menjadi lebih kuat setelah berburu di Dungeon akhirnya memiliki cukup batu monster untuk dibelanjakan.


Senjata tombak sepertinya masih menjadi favorit, tetapi sudah banyak yang melirik senjata lain.


Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sudah mencapai level tertentu sehingga merasakan bakat alami mereka mulai menentukan pilihan senjata.


“Mungkin aku perlu membangun tempat latihan dimana mereka bisa mencoba berbagai senjata yang berbeda.”


Pikir Budi saat di melihat beberapa orang merasa ragu memilih senjata yang cocok untuk bakat alami mereka.

__ADS_1


Dia beberapa kali memberikan nasehat, tetapi sangat sedikit Hunter yang mau mendengarkan perkataannya.


__ADS_2