Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
23. Pertarungan saat Pagi Buta


__ADS_3

Hutan bergetar saat derap langkah kaki dalam jumlah banyak melangkah beriringan.Pasukan monster berjalan begitu lambat dari tengah hutan.


Aku tidak tahu apakah mereka melakukan itu karena tidak memiliki kemampuan penglihatan malam, atau karena mereka tidak ingin terpencar.


“Akan sangat merepotkan jika dugaan kedua adalah alasan yang tepat.”


Jika para monster memang sengaja berjalan dengan lambat karena tidak ingin terpencar, maka berarti ada seorang yang mengomandoi pasukan itu.


Aku pernah melakukan penelitian kecil sebelumnya, tentang bagaimana hubungan antara monster dari berbagai ras. Hasilnya mereka tidak peduli satu sama lain, namun tidak terlihat sedikit permusuhan antara ras.


Para monster hanya akan bergerombol dengan monster dari ras mereka sendiri. Walaupun tidak ada permusuhan antara ras, mereka bisa saling berkelahi jika tidak ada sumber makanan lain.


Tetapi beberapa hari terakhir para monster menunjukkan hal aneh. Mereka mulai membuat kelompok dengan monster dari ras berbeda. Seakan ada sesuatu telah mengendalikan mereka untuk melakukan itu.


“Apa mungkin ini karena pengaruh dari Dungeon?. Aku sangat penasaran Bagaimana efek pengendalian ini bekerja.”


Mungkin pengaruh pengendalian menghilang saat para monster pergi terlalu jauh dari pusat Dungeon, atau pengaruh itu memiliki waktu yang terbatas.


“Ini sangat menarik.”


Aku kembali menulis apa yang aku pikirkan pada buku catatan. Tetapi aku segera berhenti begitu Jek memberitahuku jika para monster sudah semakin dekat.


“Baiklah mari kita mulai.” ucapku sambil mencengkram sabit besar pemberian Tohir.


Pasukan monster dengan jumlah sekitar tiga puluh pasukan. Aku melihat beberapa monster yang belum pernah kutemui sebelumnya. Dari perasaan bahaya yang aku rasakan, monster-monster itu setara dengan para serigala yang lebih kuat dari belakang sembah.


Bahkan ada beberapa diantaranya yang lebih kuat.


“Aku harus berhati-hati.”


Menatap ke arah Jek dan Tohir untuk memastikan. Aku pun segera melompat ke bawah, meluncur langsung ke tengah pasukan moster.


Serangan pertama mengenai monster humanoid dengan tubuh besar. Aku menargetkan monster itu karena merasa kekuatannya yang lebih besar dari pasukan monster lainnya.


Ding!


[Serangan kejutan berhasil, efek (Backstabe) aktif]


Monster itu berteriak keras saat belati menembus tengkorak kepalanya. Tidak cukup sampai disitu, menggunakan momentum jatuh, aku menarik belati itu kebawah hingga menyayat wajah monster dan membuat kepalanya terbelah dua.


Monster itu pun jatuh dengan satu serangan.


[Mengalahkan Orc, +350]


“Oh.... akhirnya monster fantasi lainnya.”


[Job Hero level up]

__ADS_1


“Akhirnya mencapai level 9 job Hero, hanya satu lagi maka aku bisa mendapatkan skill baru.”


Pasukan monster segera berhenti saat mendengar teriakan Orc yang aku kalahkan. Tetapi sebelum para monster sadar apa yang sedang terjadi, aku segera mengganti senjata dari belati menjadi sabit besar.


“Cakar.” aku segera mengaktifkan fitur tiga bilah pada sabit, lalu “Tebasan kuat!.” satu ayunan sabit besar itu langsung memotongnya beberapa monster menjadi beberapa bagian.


Mengetahui adanya serangan dadakan membuat semua monster menggila, mereka segera mengelilingiku untuk menyerang.


Berdiri di tengah monster ganas yang siap membunuhku, aku tidak melihat jalan untuk lari. Namun tidak ada sedikitpun kepanikan yang aku rasakan.


“Makhluk lemah seperti kalian hanya akan menjadi pengalaman yang akan membuatku lebih kuat.”


Semua monster melangkah mundur saat merasakan aura yang aku keluarkan.


Ding!


[Anda mengaktifkan (Intimidasi). Lawan yang terpengaruh oleh intimidasi akan mendapatkan pinalti penurunan statistik sebesar 10% dan abnormal status (Confusion) selama 30 detik]


Senyumku melebar, dengan cepat aku menyerang monster di sekitarku. Kekuatan aura yang kini sudah mencapai level tiga begitu mengagumkan, hanya dengan beberapa serangan saja aku bisa mengalahkan serigala.


Senjata yang aku gunakan terus berganti dari belati dan sabit besar, tergantung jarak monster yang aku lawan. Pertarungan berjalan dengan baik hingga aku menumbangkan belasan monster.


Dari belakang kerumunan, Jek menggunakan panahnya untuk membantuku. Dia menyerang secara sembunyi-sembunyi di atas pohon.


“Sangat disayangkan, padahal aku ingin melihat sihir.” ucapku saat memenggal kepala belalang sembah.


Tetapi pertarungan tidak selamanya akan menguntungkan satu pihak. Setelah efek (intimidasi) berakhir, membuat sisa dari pasukan monster mulai menunjukan perlawanan.


Dua makhluk seperti kucing gemuk melompat lalu hendak mencakar. Tetapi terlambat saat satu cakar berhasil menggores pipiku, sementara serangan lainnya bisa aku tahan menggunakan belati besar.


Darah mulai mengalir dari luka cakar, rasanya begitu perih tidak tertahankan. Berusaha memberikan serangan balik, aku mengambil belati lalu menusuk makhluk yang serangannya masih aku tahan.


Jeritan terdengar saat aku berhasil melukainya. Tetapi sayangnya makhluk itu cukup lihai hingga sempat menghindar, alhasil serangan dariku hanya bisa menggores tubuh makhluk Itu.


“Apa itu rakun?.”


Aku mencoba mengidentifikasi monster baru yang aku hadapi. Monster kali ini memiliki spesialisasi dalam serangan dadakan, sepertinya mereka memiliki keahlian dalam menyamarkan kehadiran mereka hingga sulit terdeteksi.


Tetapi beruntung (Hero Sense) masih bisa mendeteksi serangan mereka, walaupun dalam jarak yang begitu dekat.


Selain monster baru yakni Rakun assassin, tidak ada monster lain yang memberikan ancaman. Jek membantuku mengurangi jumlah monster, sementara aku bisa fokus menghadapi para rakun.


Pada awalnya akan sangat merepotkan memang melawan para rakun yang terus kabur setelah menyerang. Tapi setelah mengetahui pola gerakan mereka, aku pun bisa dengan mudah mengalahkan para Rakun.


Hutan yang beberapa saat lalu berisik, sekarang kembali menjadi tenang. Aku yang lelah duduk bersandar di bawah pohon, menatap langit yang tidak begitu gelap seperti saat kami berangkat.


Sebatang rokok aku nyalakan untuk melepas lelah. Jek datang menghampiri bersama dengan Tohir yang sejak tadi bersembunyi dan memantau.

__ADS_1


{Jadi bagaimana?}


Tanpa memperdulikan keadaanku seusai bertarung, Tohir langsung bertanya tentang senjatanya. Aku pun hanya memberikan jempol padanya sebagai tanda jika aku sangat menyukai senjata yang dia berikan.


Melihat aku memberikan jempol padanya, Tohir membusungkan dadanya seolah-olah tengah membanggakan dirinya sendiri.


{Senjata-senjata itu hanya sampah, kau akan mulai Kayang jika aku mulai serius membuat senjata}


Tohir berkata sambil terbahak-bahak.


Sementara itu aku melihat Jek mulai menggantung beberapa monster untuk mengeringkan darahnya. Salah satu monster adalah Rakun assassin yang aku lawan.


“Apakah mereka enak?.”


{Lebih baik dari kelinci}


Jek menjawab dengan cepat, dia mulai terbiasa dengan bahasa manusia setelah belajar bersamaku.


Setelah beristirahat aku membantu Tohir mengumpulkan material yang bisa digunakan untuk membuat berbagai alat. Dwarf itu mengatakan jika yang paling penting dari mayat para monster adalah batu ajaib, yang merupakan energi sihir yang mengendap dan membatu.


Seperti yang aku pikirkan, batu sihir bisa digunakan sebagai bahan bakar alat sihir. Mungkin jika aku belajar pada Tohir, aku bisa menciptakan berbagai alat sihir berguna.


“Tohir kenapa kau tidak meningkatkan level dengan berburu?.”


{Naik level, berburu? Tidak, aku akan menaikkan skill menempa hingga maksimal lebih dahulu}


Dia mengatakan jika ingin menguasai skill lebih dahulu daripada menaikkan level yang dapat memperbanyak skill tidak diperlukan.


‘Pemikiran yang hebat. Tapi juga memiliki resiko.’


Walaupun Skill sudah maksimal, tetapi jika tidak memiliki kekuatan sama saja bohong.


Aku pun bertanya padanya tentang pekerjaan apa yang saat ini dia lakukan. Apakah dia ingin menempa terus hingga skillnya mencapai maksimum?.


{Kenapa kau bertanya seperti itu?.}


Raut wajah Tohir menjadi curiga. Apakah dia salah menduga tentang apa yang sedang aku bicarakan.


“Well aku tidak terganggu dengan keberadaan mu, aku hanya ingin mengatakan bisakah kau mengajariku teknik membuat senjata sihir,”


Tohir masih menatapku dengan tajam.


“Di... waktu senggang tentunya...”


Aku hanya bisa tersenyum canggung. Tohir tidak mengatakan apapun dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengambil material monster, setelah itu kami pun pulang.


Diantara ketiganya, aku berada di barisan belakang, sebelum pergi aku menatap ke belakang. Terlihat sebuah mata bercahaya di atas gundukan tanah, seakan pemilik mata itu baru saja muncul dari dalam bumi seperti jamur.

__ADS_1


Kami saling menatap selama beberapa saat hingga Tohir berteriak agar aku segera pulang. Aku menjawab perkataan Tohir dengan berteriak. Tetapi setelah itu aku tidak mendapati sosok itu dimana pun.


Karena merasa tidak berbahaya aku pun mengabaikan sodok yang terus mengawasi selama pertarungan dengan pasukan monster.


__ADS_2