
Mata Yuki terbelalak ketika melihat salah satu anjing yang muncul ternyata adalah anjing peliharaannya.
“Akita!.” Yuki segera meletakkan senjatanya lalu menyambut anjing berbulu coklat kekuningan itu. Akita terlihat begitu senang setelah bertemu dengan majikannya.
Begitu pula dengan Roxy yang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Raya dan Rohid.
“Roxy, kau kah itu?.”
Guk!
Roxy menggonggong sebagai balasannya pertanyaan Raya.
“Roxy, kau menemukan kami!.” Rohid memeluk anjing Itu.
“Gadis pintar.” puji Raya sambil menepuk kepala Roxy.
Di tengah suasana haru dimana Raya, Rohid dan Yuki kembali dipertemukan dengan peliharaan mereka. Ridwan justru merasa kebingungan, dia yang sebelumnya merasa akan mati karena berpikir sedang dikejar monster ganas pun merasa di kerjain oleh anak-anak itu.
“Ah... ini pasti karena aku kelelahan sehingga kemampuan deteksi yang aku mengalami gangguan.” ucap Raya yang sadar dengan tatapan Ridwan.
“Oh begitu rupanya, aku juga heran kenapa kau justru menganggap binatang imut ini sebagai monster berbahaya.” Yuki memberikan bantuan untuk memperkuat alasan Raya.
“Begitu rupanya. Kalau begitu ayo kita segera kembali ke pengungsian. Akan berbahaya jika nona Raya salah mengidentifikasi kekuatan monster seperti tadi.” Ridwan dengan mudah percaya dengan alasan yang diberikan Raya.
Selama perjalanan kembali suasana menjadi tenang, tidak ada monster yang datang menghadap perjalanan kelompok itu.
“Aku berharap tuan Hendry kembali dengan selamat.” kata Rohid.
“Jangan terlalu memikirkan orang seperti itu bocah. Jika pun akhirnya dia diserang oleh monster itu adalah kesalahan yang dia lakukan sendiri karena meninggal kelompok begitu saja.” Ridwan terlihat begitu marah saat mengatakan itu.
Ridwan mengatakan jika dirinya sangat benci pada penghianatan karena dahulu dia pernah dikhianati oleh rekannya. Jadi karena Hendry meninggalkan kelompok begitu saja, Ridwan mengaggap itu sebagai penghianatan.
“Karena itulah mulai sekarang aku tidak suka dengan Hendry.”
__ADS_1
Hanya Rohid yang menyimak perkataan Ridwan, Sementara para gadis tidak peduli dan malah asik bermain dengan para anjing.
“Ngomong-ngomong dari mana asal dua anjing itu? Kalian berkata mereka adalah peliharaan kalian, terapi aku tidak pernah melihat kalian membawa anjing sebelumnya.”
Pertanyaan Ridwan membuat mereka segera sadar tentang seseorang yang telah merawat Roxy dan Akita selama beberapa bulan.
“Jika kalian datang ke kota, bukankah itu artinya 'dia' juga datang?.” tanya Raya, Roxy pun menggonggong sebagai jawaban.
Mendengar percakapan itu membuat Ridwan penasaran dsn bertanya-tanya tentang ‘Dia’ yang rata bicarakan.
Raya tersenyum cerah saat mendengar jawaban Roxy yang hanya sebuah gonggongan. “Oh begitu, lalu dimana dia sekarang?.”
Roxy berjalan di depan seakan menunjukkan jalan, Akita pun ikut berlari didepannya. Dengan mengikuti arahan dua anjing itu mereka akhirnya pulang ke kota.
Di saat raya berpikir akan segera bertemu dengan orang yang telah merawat anjing peliharaannya. Tiba-tiba dia dihadapkan pada satu masalah rumit.
“A? Apa kalian tidak tersesat?.” tanya Raya setelah melihat kedua anjing membawanya ke kantor Polisi.
Namun kedua anjing menggonggong seakan ingin mengatakan jika arah yang mereka tuju sudah benar.
Di dalam sel penjara.
“Bang tangan Abang kenapa kok hilang?.” tanya salah satu tahanan yang wajahnya terlihat lebam.
Seseorang yang dia ajak bicara tidak lagi adalah Budi, walaupun usia pemuda itu jauh lebih muda dari para tahanan, tetapi mereka memperlakukan Budi dengan begitu hormat.
Hal ini sangat berbeda ketika Budi baru masuk ke dalam sel. Sebelum wajah setiap tahanan mendapatkan luka lebam, mereka sangat arogan dan hendak menjadikan Budi sebagai budak.
Namun kini justru sebaliknya, mereka terlihat takut pada pemuda itu, dan terus memijat kaki serta punggung Budi dengan begitu patuh.
“Aku mengorbankan lengan kiri milikku pada iblis untuk mendapatkan kekuatan yang besar.”
“Se... seriusan bang?.”
__ADS_1
Semua tahanan semakin merasa takut pada Budi setelah mendengar pemuda itu sudah melakukan perjanjian pada iblis untuk menjadi lebih kuat.
“Ya nggak lah, mana ada yang seperti itu.” para tahanan dibuat kebingungan, “Tangan saya cuma di makan sama laba-laba pembunuh.” perkataan jujur Budi justru membuat semua tahanan semakin takut.
Laba-laba pembunuh dikenal sebagai monster kuat yang sangat sulit dikalahkan. Mereka membuat sarang ditempat starategis yang menyimpan cadangan makanan dalam jumlah besar seperti supermarket, gudang dan lain sebagainya dimana makanan untuk manusia tersimpan.
Laba-laba pembunuh menggunakan makanan itu untuk menarik perhatian manusia untuk mendekat. Di kota Sawi juga ada sarang laba-laba pembunuh di sebuah supermarket yang sangat terkenal di kota.
“Hebat Abang bisa lolos, padahal katanya jika sudah terkena jaring laba-laba pembunuh tidak mungkin lolos loh.”
Wajah Budi terpelintir mendengar perkataan tahanan itu. “Lolos? Kau pikir aku melarikan diri?.” Budi tidak terima. Seluruh tahanan langsung panik karena mereka tidak ingin merasakan amukan pemuda itu untuk kedua kalinya.
Tetapi tidak seperti yang para tahanan itu pikiran, Budi justru terlihat begitu tenang. Dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam dimensi penyimpanan (Item Box). Semua tahanan takjub setelah melihat Budi menggunakan skill itu.
“Itu, itu keahlian yang dinamakan item box bukan?.”
“Apa itu benar jika keahlian itu bisa menyimpan berbagai benda?.”
Mereka sangat penasaran, tetapi Budi tidak peduli. Pemuda itu menarik sesuatu dari dalam lubang hitam, benda itu terlihat berat hingga Budi harus menggunakan dua tangan untuk mengeluarkannya.
Para tahanan semakin dibuat penasaran dengan benda apa yang ingin Budi ambil. Namun mereka sangat terkejut sambil menjerit-jerit dengan histeris setelah melihat apa yang Budi keluarkan dari dalam lubang hitam.
Mayat monster sebesar kuda yang tidak lain adalah mayat laba-laba pembunuh muncul di tengah-tengah ruangan sel penjara. Para tahanan yang begitu ketakutan hingga bisa menjerit sambil berpelukan satu sama lain, mereka bahkan ada yang mulai menangis.
“Ini laba-laba pembunuh yang berhasil saya kalahkan. Apa kalian masih berpikir jika saya lari dari monster ini?.” tanya Budi dengan santai.
Tetapi jeritan para tahanan justru semakin keras, mereka tidak tahan melihat wujud mengerikan mayat laba-laba yang tidak utuh karena berbagai bagian tubuhnya sudah diambil untuk dijadikan material pembuatan senjata.
Budi tersenyum kecil saat melih para tahanan ketakutan. Tetapi dia segera berhenti setelah mendengar seseorang mulai mendekat. Budi dengan cepat menyimpan kembali mayat laba-laba pembunuh ke dalam lubang hitam.
“Sepertinya kita mendapatkan pengunjung.” ucap Budi.
Suara gonggongan anjing terdengar. Budi segera menunjukan senyumnya setelah melih Roxy dan Akita mendatanginya. Kemudian dari belakang para anjing, muncul sosok perempuan yang sudah sering dia lihat.
__ADS_1
Raya Sanjaya, dia terlihat cantik seperti biasanya. Walaupun dunia telah berubah tetapi gadis itu seakan tidak pernah berubah, justru orang-orang terdekatnya berpikir jika dia semakin bertambah cantik.
Semua orang terpesona jika melihat gadis itu. Tetapi apakah Budi juga demikian?.