Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
109. Hari Bersejarah Kami


__ADS_3


Mansion Liliana (source Pinterest)


[chapter dewa]


Aku sama sekali tidak menyangka jika akan mengambil saat pertama Liliana.


Melihat bagaimana gadis ini sangat menikmati kegiatan dewasa yang aku lakukan pada Jie cie, membuatku secara alami jika Liliana sama seperti kebanyakan gadis di usianya.


Liliana menutup wajahnya dengan lengannya, namun aku masih dapat melihat jika air mata masih mengalir.


Kembali memasukkan sisa milikku, hingga Liliana mengerat seakan menahan sakit. Hingga semuanya berhasil dimasukkan, namun Liliana tidak mengatakan apa pun.


Kedua tangan Liliana aku singkirkan, membuatku melihat wajah gadis itu yang sedang menangis.


Ku coba mengecup bibir Liliana, namun gadis itu mengelak dengan Membuang wajah. Tetapi Liliana tidak dapat berbuat apa-apa saat aku memaksanya.


Bibirnya aku cium. Liliana tidak sedikitpun memberikan aku kesempatan untuk menikmati mulutnya. Dia menutup rapat bagian Itu.


Tidak ingin menyerah, aku menggunakan cara paling ampuh untuk membuatnya menyerahkan segalanya, yakni mulai menggerakkan pinggulku.


Awalnya Liliana masih merasakan kesakitan, namun setelah aku berikan rangsangan dia pun mulai merasa keenakan.


Liliana memelukku begitu erat hingga kuku jarinya melukai punggungku. Mulutnya tidak berhenti meracau manakala lehernya tidak hentinya aku cium dan ku hisap.


Aku dapat merasakan Liliana mencengkram lebih kuat, aku pun sadar jika ia hampir mencapai puncak.


Aku mempercepat gerakan ku, membuat Liliana gelagapan. Kedua kalinya melingkari pinggulku seakan tidak ingin melepasnya.


Tatapanku hanya melihat wajahnya yang terlihat sangat kesulitan menghadapi gempuran darimu, tangannya mencengkram seprai kuat-kuat mencoba bertahan.


Hingga akhirnya Liliana pun tidak dapat bertahan, suara pelepasannya terdengar begitu nyaring.


Sedangkan aku terus memompanya menikmati cengkraman yang begitu ketat hingga akhirnya aku pun ikut menyusul Liliana ke puncak.


Liliana menatapku saat ia masih melepaskan, aku hanya tersenyum sambil terus bergerak membuat gadis itu semakin kesulitan.


Hingga akhirnya dia terjatuh lemas saat pelepasan akhirnya berakhir.


Digempur secara bertubi-tubi sangat menguras banyak tenaga Liliana, wajahnya begitu cantik saat kelelahan.


Aku menyingkirkan rambut keemasan yang menutupi wajahnya. Liliana melirik ke arahku dengan lemas.


“Kau sangat luar biasa Liliana.” bisik ku ke telinganya.


Kedua tangan gadis itu melingkari leherku, kami saling berciuman dengan lembut, hingga aku dapat merasakan miliknya kembali mencengkeram.


Lalu tiba-tiba...


Ding!


[Job Pervert level up]

__ADS_1


[Keahlian (Charmer) dari pekerjaan Pervert]


[Job Pervert mencapai level Max]


[Mendapatkan Gelar First Expert]


Suara sistem terdengar di kepalaku, namun tidak aku pedulikan karena Liliana sudah menungguku untuk melanjutkan permainan.


Kami kembali melakukannya hingga beberapa ronde, sampai Liliana akhirnya menyerah karena begitu lelah.


Aku melepaskan keempat kalinya pada wajah Liliana yang sudah tertidur lelap. Merasa belum cukup, aku pun menurunkan Jie cie dari gantungan laku segera melemparnya ke tempat tidur.


Tepat di samping Liliana yang tertidur, aku menggunakan tubuh Jie cie untuk memuaskan diriku sendiri.


Berbeda dengan Liliana yang baru merasakan saat pertamanya. Jie cie yang begitu berpengalaman dapat melayaniku dengan sangat baik.


Liliana terbangun saat permainanku dengan Jie cie semakin intens, aku pun mengajaknya bergabung.


Gadis itu tidak dapat menolak ajakan dariku karena aku merayunya dengan keahlian Pervert.


Berjam-jam kami lewati saat bersenang-senang, hingga akhirnya permainan berakhir saat langit yang gelap mulai bercahaya.


Kami bertiga pun tertidur lelap seperti balok kayu.


***


Aku terbangun saat sinar matahari menerpa wajahku. Bermain dengan dua pasangan memang cukup menyenangkan hingga aku lupa waktu.


Keduanya masih tertidur lelap di sampingku. Masing-masing tanganku mencengkram dada keduanya untuk melihat siapa yang pertama kali bangun.


Tatapan kami bertemu, kemudian aku menciumi bibirnya dengan lembut.


“Bisakah kau membuat sarapan?.” ucapku.


“Tentu tuan.”


Jie cie tersenyum manis lalu turun dari tempat tidur. Pandanganku tidak dapat beralih dari bagian belakang wanita itu yang begitu indah saat dia berjalan.


Liliana terbangun tidak lama setelah kepergian Jie cie. Matanya terbelalak saat melihat aku disampingnya, dia pun teringat apa yang sudah terjadi semalam.


Dia langsung berbalik memunggungi ku, tubuhnya meringkuk seakan berusaha untuk bersembunyi.


Tubuh Liliana bergetar, Suara sesenggukan mulai terdengar. Aku tidak mengerti kenapa dia menangis, apa itu karena dia telah kehilangan keperawanan?.


Aku rasa demikian.


Jika begitu bukankah ini berarti salahku?.


Mencoba menenangkan Liliana, aku memeluknya dari belakang. Aku membisikan kata-kata lembut ditelinga Gadi itu.


“Tadi malam kamu sangat luar biasa Liliana, aku suka saat kau begitu malu-malu saat menginginkan mendapatkan sentuhan. Itu terlihat sangat imut.”


Aku tidak akan meminta maaf padanya, karena itu hanya akan membuatnya lebih menyesal dengan apa yang terjadi semalam.

__ADS_1


Perlahan suara tangisnya mereda, tubuhnya tidak lagi bergetar. Liliana menoleh ke belakang, tatapan kami bertemu, aku mencium bibirnya dengan lembu.


Kami kembali melakukan beberapa kali di atas ranjang, hingga semua berakhir di dalam kamar mandi.


“Ah ah.. Beri aku itu ayah, kumohon...”


“Mmh.. ayah itu terasa nikmat, aku mau lagi...”


“Ayah aku tidak tahan lagi...”


“Ah.. ah... ayah!.”


Di bawah guyuran shower, aku dan Liliana saling melepaskan. Dia terus memanggil ayah, aku tidak mengerti kenapa dia membayangkan pria gemuk itu saat bercinta denganku.


Berbeda saat tadi malam, kali ini stamina Liliana jauh lebih baik, membuatku begitu puas bermain dengannya.


“Aku sangat terpuaskan kali ini.”


Ucapku sambil memeluk Liliana yang sedang bercermin di kamar mandi. Saat ini dia hanya mengenakan pakaian dalamnya.


“Aku juga demikian.” balas Liliana.


Karena hari ini adalah hari bersejarah bagi Liliana karena telah melepas keperawanan. Aku pun meminta untuk berfoto sebagai kenangan-kenangan.


“Aku tidak merasa sesuatu seperti ini perlu diperingati.”


“Oh ayolah, ini adalah momen satu kali dalam hidupmu. Dan untukku juga, ini adalah kali pertama ku mengambil kesucian seorang gadis.”


“Haah... seperti ini hanya karena kau ingin melakukannya untuk dirimu sendiri.”


Karena desakan ku, akhirnya Liliana setuju untuk mengambil foto. Gelak tawa terdengar di kamar mandi saat kami beberapa kali mengambil foto dengan gaya aneh.


Kemudian setelah selesai kami segera keluar menuju ruang makan dimana Jie cie telah selesai menyiapkan sarapan.


Wanita itu sangat berbeda jika sudah berdandan rapi. Dia begitu elegan namun misterius. Cucu bos mafia paling ditakuti di Jawa memang memiliki daya tariknya tersendiri.


“Budi, apa gedung di sebelah barat kau yang membuatnya?.” tanya Liliana saat melihat jendela.


“Benar, itu adalah kantor perusahaan listrik dan kantor mu juga.” aku terus menyantap sarapanku.


“Maksudmu ketiganya adalah kantor perusahaan Ceplik?.”


Liliana terlihat senang, namun aku menjadi bingung karena dia mengatakan tiga gedung. Jelas-jelas aku hanya membuat satu.


Tetapi aku kemudian teringat dengan permintaan Omega yang ingin mengerjakan pembangunan rusun untuk para pengungsi dari kota Jati.


“Apa mungkin itu gedung yang Omega buat?.”


Karena penasaran aku pun melihat keluar jendela lalu melihat dua gedung pencakar langit menjulang tinggi dengan begitu megah dengan gaya futuristik.


Tidak salah lagi itu adalah ciptaan Omega.


***

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2