Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
49. Segila Apa?


__ADS_3

Pagi harinya Budi mendapati diri terbangun di dalam kamar Yuniar, bersama si pemilik kamar yang tertidur dengan pulas di sampingnya tanpa sehelai benang pun yang dia kenakan.


“Apa apa yang sedang terjadi!.”


Budi sangat terkejut, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Pemuda itu pun mencoba kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan itu membuatnya begitu ketakutan.


Tidak lama setelah Budi bangun, Yuniar pun membuka matanya. Dia merasa seakan tidak ada yang aneh pagi ini, bangun di dalam kamarnya seperti hari biasanya.


Namun semua berubah saat dia mendapati Budi tengah menatapnya di samping tempat tidur. Keduanya bertatapan dalam diam selama beberapa saat. Tidak ada yang berbicara karena keduanya tidak tahu harus mengatakan apa.


Apa yang terjadi malam kemarin sungguh sangat mengguncang, bagaimana mungkin keduanya sampai melewati batas hingga bersih melakukan hubungan terlarang.


‘Apa jadinya jika Raya dan Rohid tahu tentang ini?.’ Yuniar sangat takut jika kedua anaknya akan berubah membencinya.


Keheningan itu terus berlangsung, hingga Budi akan mengatakan sesuatu namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar, membuat keduanya sangat terkejut hingga berteriak bersamaan.


“Bu apa semua baik-baik saja?.” suara Raya terdengar dari luar.


Keduanya pun menjadi lebih panik dari sebelumnya.


“Erm... Yeah....” Yuniar menjawab dengan tergagap. Sadar jika saat ini tidak ada satupun pakaian yang dia kenakan, wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Ada apa Ray, pagi-pagi kok sudah kemari?.”


“Tidak, aku hanya ingin tahu apakah ibu tahu kemana mas Budi pergi tadi malam. Aku pikir dua akan tidur di kandang kuda, tapi ternyata dua tidak ada di sana.”


Perhatian Yuniar langsung tertuju pada Budi yang tepat berada di sampingnya.


“Tidak Ray, ibu segera kembali ke kamar setelah memberikan dia makan.”


“Oh... oke... Hem kira-kira di mana mas Budi tidur tadi malam?.” suara Raya perlahan mengecil disertai langkah kaki yang mulai menjauh.


Merasa Raya sudah pergi, keduanya pun bernafas dengan lega.


Selanjutnya Budi langsung bereujud di depan Yuniar untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi tadi malam. Wanita itu sangat terkejut melihat Budi yang tiba-tiba bersujud di depannya.


Melihat Budi begitu tulus meminta maaf dan sangat menyesali perbuatannya, membuat Yuniar tidak bisa marah pada pemuda yang semalam telah tidur bersamanya.

__ADS_1


“Ini bukan semuanya salah nak Budi. Aku juga salah karena terlalu banyak minum. Karena itulah anggap saja jika yang terjadi semalam tidak pernah terjadi.”


Budi mengangkat kembali kepalanya begitu mendengar jika Yuniar telah memaafkannya. Dia pun segera mengambil pakannya yang berserakan di lantai.


Yuniar yang terus memperhatikan ketika Budi mengenakan pakaian, dia tanpa senjata melihat kejantanan Budi yang saat ini tengah bangkit begitu kokoh.


Setelah mengenakan semua pakaiannya, Budi berniat pamit pada Yuniar saat ingin pergi. Namun dia segera mengurungkan niatnya saat melihat wanita itu memalingkan wajahnya seakan tidak ingin melihat Budi.


‘Tentu saja dia pasti masih sangat marah.’ pikir Budi ketika melihat kulit telinga itu begitu merah. Akhirnya tanpa mengatakan apa pun pemuda itu meninggalkan kamar.


Yuniar melihat pintu yang sudah tertutup, dia kembali membaringkan diri di atas tempat tidur, pikirannya mencoba melupakan semua yang terjadi tadi malam.


Namun Yuniar merasa tidak nyaman ketika tubuhnya terasa begitu lengket. Ketika wanita itu mencoba menyingkirkan seprai untuk melihat apa yang membuatnya tidak nyaman, Yuniar begitu terkejut melihat kasus yang basah seakan baru saja terjadi kebanjiran.


Yuniar menepuk wajahnya sendiri, “Segila apa permainan yang kami lakukan tadi malam hingga tempat ini menjadi begitu kacau seperti kapal karam?.”


Wanita itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun ingatan tentang kejadian tadi malam yang terus berputar di dalam pikirannya membuat Yuniar berada dalam kamar mandi lebih lama dari yang seharusnya.


***


“Aku pikir sudah baikan.”


Selesai mandi Budi kembali lagi ke Mansion, dia bermaksud untuk mengambil Pushrank yang berada di dalam kandang kuda. Namun saat dia ingin melewati gerbang Mansion, beberapa orang mencegatnya.


“Hey pria cacat, kau pikir ingin pergi ke mana?.”


“Enyahlah, tempat ini tidak cocok untuk manusia sepertimu.”


Kedua orang ini mengenakan seragam seperti petugas keamanan. Apakah mereka satpam Mansion ini?.


“Aku datang kemari untuk mengambil peliharaan ku.” balasku dengan nada yang lebih sopan.


Namun sepertinya kedua orang ini tidak peduli dengan nada seperti apa yang aku gunakan untuk berbicara. Karena walaupun sudah begitu sopan berbicara, mereka masih bertindak seperti preman dan sangat tidak menghargai ku.


Ketika aku berhadapan dengan dua orang penjaga gerbang, aku merasakan tatapan sinis dari para penghuni tenda di halaman Mansion.


“Jangan biarkan dia masuk,”

__ADS_1


“Melihatnya saja membuatku mual.”


“Sangat menjijikkan.”


“Berpikir ingin mendekati nona Raya, dia pikir siapa dirinya.”


Umpat dan makian mereka bisa aku dengar dengan begitu jelas. Aku berusaha bersabar menghadapi mereka karena tidak ingin membuat masalah dengan pemilik rumah yang merupakan teman dari Raya.


Tetapi kemarahanku tidak terbendung lagi ketika perkataan para penjaga membuatku begitu marah.


“Dua anjing itu sudah kembali ke majikan mereka bukan? Kau tidak perlu lagi khawatir dengan mereka.”


“Aku mengerti, tetapi kuda ku masih ada di kandang aku akan mengambilnya.”


“Oh, tentang kuda itu kami minta maaf tidak meminta izin padamu sebelumnya.” kedua penjaga gerbang tersenyum lebar. Kecemasanku mulai tumbuh besar.


“Minta maaf untuk apa?.”


“Begini, karena pesta kemarin membuat kami kekurangan daging. Karena itu kami memotong kuda milikmu untuk dibagikan pada penduduk yang kelaparan.”


“Apa?.” aku seperti tersambar petir mendengar perkataan penjaga.


“Kau tahu, ini adalah sebuah tindakan baik. Kau telah menjadi pahlawan karena telah menyumbangkan kuda itu untuk disembelih dan dagingnya diberikan pada orang-orang kelaparan.”


Mereka terus berbicara tentang sedekah dan membantu orang yang kelaparan, namun wajah dan senyuman dari semua orang yang melihatku shock, itu sangat menjengkelkan.


“Kau bilang sudah memotong Pushrank?.”


“Yeah, itu demi kelangsungan hidup warga...”


Tanpa mengatakan apa pun aku segera melayangkan tinjuku pada wajah penjaga itu. Seketika penjaga terkapar di tanah.


“Dasar bajin....”


BRAK! Tidak memberikan kesempatan aku segera menendang perut penjaga satunya hingga membuatnya bernasib sama seperti rekannya.


“Kau bilang telah memotong Pushrank, hah!.” beberapa kali tendangan aku berikan pada setiap penjaga yang terkapar di tanah. Hingga akhirnya Raya datang untuk menghentikan aku

__ADS_1


__ADS_2