
Sebuah pesawat mini tanpa awak atau yang biasa disebut sebagai Drone, terbang dari area hutan menuju ke area terlarang.
“Bintit-1 telah diterbangkan untuk memantau area terlarang.” ucap seorang tentara yang memegang kendali Drone tersebut.
Karena begitu penasaran dengan area terlarang, Bambang sampai mengerahkan pasukannya secara diam-diam untuk memata-matai area terlarang.
Dia berharap mendapatkan sesuatu yang berguna, misalnya pengembangan teknologi atau rahasia gelap Wali Kota. Dia akan menggunakan segala cara untuk mengambil keuntungan dari kota ini.
Drone terbang dengan lancar, kabut tebal membuat jarak pandang terhambat, namun itu tidak masalah karena setelah sampai di tujuan mereka akan melihat apa yang sebenarnya disembunyikan oleh wali kota Yuki.
Hanya tersisa sepuluh meter dari tembok setinggi lima meter yang mengelilingi seluruh area. Namun saat mencapai jarak lima meter tiba-tiba...
Jdaaar!
Terdengar suara sambaran petir yang sangat mengagetkan. Kemudian diikuti dengan hilangnya sambungan antara prajurit dan Drone yang ia kendalikan.
Bambang mengawasi langsung jalannya misi itu dari pusat kontrol. Dia bertanya pada prajurit tentang keadaan Drone, namun jawaban dari prajurit itu tidak membuatnya senang sama sekali.
{Ambil kembali alat itu, jangan meninggalkan jejak sedikitpun!}
“Siap Jendral!.”
Prajurit itu pun bergerak mendekati area terlarang untuk mengambil kembali Drone. Sementara rekannya yang lain diminta untuk melanjutkan pengintaian.
Empat Drone lainnya diterbangkan menuju area terlarang. Namun kejadian yang sama terulang kembali.
Suara petir yang begitu mengejutkan, lalu kilatan cahaya meliuk-liuk seperti ular mengenai keempat Drone di tengah kabut tebal.
Prajurit yang sedang mencari Drone miliknya, melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Satu kilatan petir menghancurkan empat peralatan mahal sekaligus.
Dua sambaran petir barusan terasa tidak biasa karena terus mengenai Drone, seakan petir itu melindungi area terlarang agar tidak ada yang mendekat.
Bambang memutar ulang video rekaman prajurit yang berupaya mencari Drone miliknya. Di dalam video itu terlihat jelas jika sambaran petir berasal dari dalam area terlarang.
Bukan dari langit melainkan dari area yang dilindungi oleh Wali kota. Seakan seseorang telah menembakkan senjata yang dapat mengeluarkan energi listrik setara petir alami.
“Tarik semua pasukan.”
Mendengar perintah Jendral, kelima prajurit pengintai pun segera ditarik mundur. Bambang tidak akan gegabah.
Lima Drone telah dihancurkan oleh senjata yang tidak diketahui. Itu berarti misi pengintaian telah gagal total, mereka telah ketahuan.
Jika misi tetap dilanjutkan maka wali kota pasti akan marah dan membuat warga membenci keberadaan pasukan militer.
Di mansion Gofar, Liliana menyesap kopinya, dia saat ini tengah berada di ruang kerja ayahnya yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
__ADS_1
Dia menatap jendela menikmati malam yang tenang dengan suara petir yang menyambar sesekali,
Terlihat juga kilatan cahaya dari dalam kabut yang berkumpul menutupi area terlarang.
Senyum di bibir cantik itu terpantul di cermin jendela ketika melihat pasukan militer yang kembali dari area terlarang.
“Sepertinya mereka tidak mendapatkan apa pun.” ucapnya sambil menyesap kembali kopinya.
Di belakang Liliana seorang wanita berdiri dengan wajah tertunduk, tidak ada satupun busana yang wanita itu kenakan.
Hanya selotip hitam menutupi tiga bagian intim dan kalung anjing bertuliskan Jolie mengikat lehernya.
Dia adalah Jiecie yang kepalanya sudah diutak-atik oleh Budi, sekarang mantan anggota Gamprit itu menjadi begitu penurut layaknya budak atau anjing.
Tidak diketahui apakah Jiecie masih ingat dengan identitasnya atau tidak yang pasti wanita itu menjadi begitu patuh.
Saat ini dia dipinjamkan pada Liliana untuk membantu bekerja di perusahaan Ceplik sebagai asisten.
“Sangat membosankan.” Liliana menguap seakan mulai mengantuk.
“Aku berharap Jendral itu memaksa prajuritnya untuk maju. Jika ada tentara yang terbunuh mungkin keadaan akan menjadi lebih seru.”
Liliana memaksakan diri untuk begadang hingga larut malam dengan harapan melihat pertunjukan yang menarik.
Namun hanya sepuluh menit setelah kedatangan pasukan militer, semuanya berakhir tanpa adanya pertempuran berarti.
Liliana bertanya pada Jiecie yang segera dibalas dengan anggukan.
“Bagus.”
Liliana memuji Jolie lalu menepuk kepalanya dengan lembut, itu membuat Jolie tersenyum senang.
Tatapan Liliana tidak dapat lepas dari kedua buah milik Jolie yang lebih besar dari miliknya. Karena penasaran gadis itu pun menyentuhnya.
Suara erangan keluar dari mulut Jolie saat tandan Liliana memperlakukan gunung miliknya dengan kasar.
“Temani aku tidur.”
Jolie terkejut mendengar perintah Liliana. Wajahnya begitu merah penuh keraguan, namun dia tidak dapat membantah perintah majikannya.
***
Apa yang kau pikirkan jika mendengar kata pabrik?.
Mungkin sebagian besar orang akan berpikir pabrik adalah tempat mengolah barang mentah menjadi sesuatu yang lebih berguna dalam jumlah besar.
__ADS_1
Namun dalam benak Budi, pabrik adalah sebuah neraka. Dia terus membayangkan hidupnya yang begitu menderita saat bekerja sebagai buruh.
Pemuda itu berpikir dirinya tidak akan berurusan dengan pabrik lagi.
Tetapi itu semua berubah saat perkembangan keahlian Pandai Besi, Runecraft dan Mechanical yang dia pelajari dari Tohir.
Setelah menciptakan robot Goliath, Budi berpikir untuk membuat robot seperti lebih banyak lagi.
Namun melakukan itu tentu sangat menyulitkan karena menciptakan satu Goliat saja membuat waktu dua bulan.
Yang dibutuhkan untuk membuat Goliath adalah material dan tenaga kerja ahli.
Material tidaklah menjadi masalah, desa tempat Budi tinggal menyimpan cadangan mineral yang melimpah di sekitar area Dungeon.
Lalu masalah utamanya adalah tenaga kerja. Hanya Budi dan Tohir yang bisa membuat sebuah robot dengan kemampuan luar biasa seperti Goliath.
Sedangkan Jek sama sekali tidak tertarik untuk belajar.
Hanya memiliki dua tenaga kerja membuat kecepatan produktivitas sangat lambat. Karena itulah Budi muncul dengan ide briliannya untuk membuat sebuah pabrik.
Hal yang paling dia benci ternyata menjadi solusi untuk masalah yang dia hadapi.
Mengacu pada gambaran pabrik mobil semi-otomatis yang Budi lihat melalui internet, keduanya menghabiskan waktu beberapa bulan mengerjakan pembangunan pabrik.
Keahlian mereka meningkat pesat saat membuat bangunan yang dipenuhi kerangka baja itu.
Tetapi setelah pabrik selesai dibuat dan mulai memproduksi Goliath secara otomatis, muncul kekhawatiran pada kedua orang yang menciptakannya.
Pabrik itu bekerja full otomatis yang berarti saat tombol start di mulai maka tidak perlu tambah tenaga kerja untuk membantu, karena mesin akan secara otomatis membuat apa yang telah didesain untuk dibuat.
Itu berarti keduanya tidak perlu ikut bekerja, tetapi jika tidak bekerja maka keahlian mereka tidak akan meningkat.
Tujuan pembuatan pabrik memang tercapai yakni meningkatkan kecepatan produktivitas, namun itu justru membuang tujuan utama yakni meningkatkan tiga keahlian yang ingin Budi dan Tohir maksimalkan menjadi terabaikan.
Tohir juga takut jika pabrik itu bekerja sendiri mungkin suatu saat akan berakhir dengan pembelotan.
Itu bukan ketakutan yang disebabkan oleh film tertentu, tapi memang ada alasannya.
Program kecerdasan buatan yang diterapkan pada pabrik itu memiliki kemapuan untuk ‘Belajar’ yang merupakan kemampuan terpenting untuk menjadi lebih baik.
Jika dibiarkan terlalu lama, pencipta pabrik itu sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh kecerdasan buatan pada pabrik mereka.
Karena itulah keduanya sepakat untuk menyegel pabrik di dalam dasar lubang dimensi milik Budi.
Namun kini pemuda itu berniat untuk menggunakannya kembali.
__ADS_1
***
Bersambung