Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
81. Pesta Lagi?.


__ADS_3

Setelah anggota geng the Daki menarik diri. Mundur dengan kekalahan. Budi bersama dengan Lizardman membangun jembatan yang sudah diledakkan.


Itu dilakukan karena jembatan tersebut adalah jalur utama yang menghubungkan kota Sawi dengan provinsi Jawa barat.


Jika dalam kondisi biasa, pengerjaan perbaikan jembatan mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan. Tetapi berkat kemampuan yang Budi miliki, pembangunan itu hanya berlangsung selama tiga jam.


Setelah perbaikan selesai, jembatan Siwak menjadi begitu kokoh dan indah seakan baru saja di bangun ulang.


Selesai memperbaiki jembatan, Budi pun kembali ke kota dengan menaiki kereta kuda yang ditarik oleh Pushrank. Sementara di bagian belakang Lizardman duduk santai menikmati perjalanan pulang.


Dia terlihat sedang memperbaiki topeng merah yang sebelumnya tidak akibat tembakan dari Wink.


***


Warga kota Sawi merasa sangat senang setelah mengetahui jika serangan Genk the Daki telah berhasil di gagalkan.


Mereka menyambut kedatangan sang pahlawan yang tidak lain adalah si topeng merah.


Saat kereta kuda yang Budi kendarai memasuki kota, banyak warga yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Banyak warga yang berterima kasih pada pria bertopeng yang duduk di gerbong kereta. Tetapi ada juga yang merasa takut karena tahu jika dibalik topeng itu bukanlah seorang manusia.


Lizardman di belakang tidak terlalu peduli dengan sanjungan yang warga berikan. Dia tetap duduk dengan tenang, aura di sekitarnya sangat mengintimidasi sehingga tidak ada warga yang berhasil mendekat.


Kereta akhirnya sampai di Mansion Yuki. Sang wali kota sementara itu sudah menunggu dengan Raya dan semua anggota guild Legion Teapot di dalam halaman Mansion.


“Selamat datang tuan Rango di kota kami. Aku sangat berterimakasih karena anda Sudi meminjamkan kekuatan untuk melindungi kota ini.”


Yuki berkata dengan begitu lantang hingga semua orang mendengarnya. Para warga pun menjadi ribut saat akhirnya mereka mengetahui nama dari pria kadal yang berhasil mengalahkan Genk The Daki seorang diri.


“Aku melakukan ini demi kepuasan bertarung, dan bayaran yang layak tentunya.”


“Ahahaha, tentu kami akan membayar anda sesuai kesepakatan.”


Yuki pun segera mempersilahkan Lizardman masuk kedalam Mansion bersama Raya yang mengawal. Sedangkan Budi meninggalkan area taman menuju halaman belakang Mansion.


Beberapa orang mengikutinya karena ingin bertanya tentang hubungannya dengan Lizardman. Namun saat dikejar Budi tiba-tiba menghilang tanpa ada yang tahu pemuda itu pergi ke mana.


“Aku pikir ini sudah aman.” Ucap Lizardman.


Kulit kadal itu perlahan kehilangan sisik, dia kembali pada wujud manusianya yang tidak lain adalah Budi.


Lalu dari jendela yang terbuka Budi lainnya datang masuk kedalam kamar. Dia berhasil lolos dari kejaran orang-orang yang mengikutinya.


Budi kedua melepas kulit wajahnya yang ternyata hanyalah sebuah topeng, di balik topeng itu ternyata adalah Rohid yang lebih tua karena Efek ramuan.


“Bagaimana efek dari ramuan penambahan usia, Rohid?.” tanya Budi yang penasaran dengan efek ramuan baru buatannya.


“Tidak ada masalah, tapi kira-kira kapan berakhirnya efek ramuan ini?.”

__ADS_1


Wajah Rohid terlihat khawatir, dia takut jika ramuan yang dia minum membuatnya harus kehilangan masa kanak-kanak.


“Jangan khawatir, itu hanya bekerja selama satu jam.”


Balasan Budi membuat Rohid merasa lega.


Sandiwara keduanya berjalan dengan lancar. Itu mengakibatkan para warga percaya jika Karakter Rango yang sebenarnya Budi sendiri adalah orang lain.


Budi terpaksa melakukan ini demi menghindari masalah yang bisa ditimbulkan jika semua orang tahun bahwa dirinya adalah monster.


Yuki kembali berterimakasih karena telah berhasil melindungi kota. Dia sangat senang bukan hanya karena tidak ada sedikitpun kerusakan pada pada kota, tetapi juga telah memenangkan pertaruhan dengan para orang kaya.


Berkat ketakutan para orang kaya dan pengusaha yang kabur hingga berakhir menjadi penghianat. Saat ini harta kekayaan mereka sudah di sita oleh wali kota.


Setelah itu Budi mohon pamit karena dia ingin bersiap-siap untuk proyek besarnya besok. Dia berniat untuk memulai pembuatan pembangkit listrik tenaga batu sihir.


Sementara itu sepertinya kota akan melakukan perayaan lainnya dengan rangka mensyukuri kemenangan setelah perang.


Yah walaupun yang bertarung melawan Genk The Daki bukan warga kota sendiri. Tetapi Yuki tetap bersikeras untuk mengadakan perayaan nanti malam, karena anggota militer juga akan datang.


“Bukankah kota ini selalu mengadakan festival hampir setiap malam?.”


Budi heran dengan kepemimpinan Yuki yang sepertinya sangat suka mengajak seluruh warga kota untuk berpesta.


“Tidak apa bukan? Semakin banyak pesta semakin banyak anak lahir.”


“Hah? Apa hubungannya tentang berpesta dengan kelahiran anak?.”


Raya merasa pesta sangat merepotkan karena dirinya selalu mendapatkan ratusan undangan berkencan di setiap pesta yang dia hadiri.


“Begitu rupanya.”


“Kau sebenarnya tidak mengerti bukan?.”


“Benar.”


Plak! Yuki menampar keningnya sendiri. Dia sudah menjelaskan tentang tujuan terselubung dari diadakannya pesta setiap malam, namun Budi masih belum paham.


“Kakak terlalu polos.”


Yuki berkata sambil menunjuk kearah Budi.


“Memangnya kau sudah tidak polos?.”


Balasan Budi seketika membuat Yuki membuka lebar mulutnya, dia hendak membalas namun dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.


Semua orang hanya bisa menahan tawa melihat Yuki yang kebingungan.


“I... itu adalah sebuah pertanyaan yang menjebak!.”

__ADS_1


Wajah Yuki begitu merah dengan pupil mata yang berputar putar.


“Aku tidak percaya kak Budi bisa melakukan ini padaku.” Yuki mulai memukuli Budi sambil menangis.


“Hey ayolah aku hanya bercanda.”


Yah pada akhirnya Budi lah yang harus meminta maaf. Lagi pula memang tidak baik menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi seperti tadi.


***


Seperti yang dikatakan oleh Yuki, Militer akhirnya datang saat petang. Kota kembali semarak oleh festival.


Seluruh pasukan tentara yang jauh-jauh datang dari kota Toge disambut dengan sebaik mungkin.


Walaupun kedatangan mereka sangat tidak ada gunanya karena Genk the Daki sudah dikalahkan.


Mereka datang hanya untuk meminta jatah pajak.


“Sangat merepotkan.”


Budi yang tidak peduli dengan pesta, saat ini sedang berada di area yang akan digunakan sebagai tempat dibangunnya Pembangkit listrik.


Tempat itu dekat dengan ladang Mansion Gofar, sehingga dua datang bersama Liliana dengan mengendarai kuda.


Walaupun mereka masih memiliki truk yang didapat dari organisasi Gamprit. Tetapi entah kenapa gadis berambut emas itu lebih memilih berkuda bersamanya.


“Apa kau sungguh tidak ingin menghadiri pesta?.”


“Ya, aku tidak suka tatapan mereka yang begitu sinis saat melihatku.”


“Walaupun kau bisa menyelinap bersama nyonya Yuniar?.”


Senyum Liliana melebar.


“Ahahaha, untuk apa aku menyelinap bersamanya. Jika ingin, aku bisa mengunjungi kamarnya kapanpun.”


“Kapanpun kah....”


Puas melakukan inspeksi, Budi kembali ke Mansion Gofar. Dia berniat untuk menghabiskan malam di mansion ini bersama wanita yang dia tawan dari organisasi Gamprit.


“Mohon bantuannya malam ini Nona.”


Budi menunjukkan miliknya yang sudah tegang. Jiecie melihatnya dengan tatapan jijik.


“Sebanyak apa pun kau berusaha, aku tidak akan buka mulut!.”


“Begitu kah? Maka ini akan menjadi pertempuran yang sengit.”


Budi kembali menggauli Jiecie dengan paksa. Sementara itu di luar sel, Liliana menikmati tontonan sambil duduk manis dan segelas anggur.

__ADS_1


“Sungguh begitu bergairah.”


__ADS_2