
[Karena melanggar kebijakan jadi saya terpaksa melewatkan beberapa bagian yang seharusnya ada di chapter sebelumny]
[Terdapat konten dewa di bagian akhir]
***
Di dalam kamar Budi, Yuniar merapikan bajunya di depan cermin. Hingga tiba-tiba Budi memeluknya dari belakang.
“Bibi Yu luar biasa tadi. Aku suka saat Bibi menunjukkan sisi Nakal yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Tidak aku sangka Bibi bisa seperti itu, bahkan aku sempat berpikir jika wanita yang sedang aku tiduri bukan Bibi karena terlalu pangling.”
Wajah Yuniar merona merah setelah mendapatkan pujian dari Budi.
Yuniar sendiri tidak mengira dirinya bisa seperti itu. Sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal semacam itu bahkan dengan mendiang suaminya.
Wanita itu merasa seolah bebas melakukan apa pun saat bersamaan pemuda yang telah mendapatkan hati dan tubuhnya.
Tidak ada hal lain yang terpikirkan selain mencapai kepuasan ketika Yuniar sudah sepakat untuk menjadi partner ranjang Budi.
Yuniar akan melakukan apapun agar tidak membuat pemuda itu kecewa saat bercinta dengannya.
Walaupun cara yang dia gunakan terkadang diluar nalar pikirannya sendiri, namun selama Budi menyukainya maka akan dia lakukan dengan sepenuh hati.
Yuniar merasa tidak ada yang aneh saat mencoba memberikan kepuasan pada pasangannya, dia berpikir itu adalah sesuatu hal yang sangat wajar.
“Aku senang jika kau menyukainya. Sejujurnya aku tidak pernah seperti itu sebelumnya, bahkan saat masih bersama suamiku.”
Tidak ada lagi kesedihan di wajah Yuniar saat membicarakan suaminya yang sudah meninggal. Dia seakan sudah merelakan kepergian ayah dari dua orang anaknya.
Dengan cepat Yuniar melupakan masa lalu jika ia pernah menjadi seorang istri.
Pemikiran itu entah disebabkan karena kedewasaan atau faktor lain seperti pengaruh menjalin hubungan dengan Budi .
Yuniar merasa Budi lah yang membuatnya berubah. Pemuda itu begitu pandai dalam masalah ranjang.
Namun yang tidak wanita itu sadari jika semakin sering ia bercinta dengan Budi membuatnya membangkitkan kepribadian lain.
Sebuah Kepribadian yang hanya menginginkan pengakuan dan kepuasan.
Keduanya saling berciuman sebelum akhirnya mengakhiri pertemuan hari ini.
Melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Budi pun mengetahui jika telah menghabiskan tiga jam bersama Yuniar.
Setelah ini dia berencana untuk kembali melanjutkan pembangunan pembangkit listrik.
Di lantai dasar gedung toko masih ramai oleh pembeli. Tatapan para Hunter teralihkan saat melihat Yuniar keluar dari bagian dalam toko.
Kecantikan Yuniar setara dengan Raya karena memang mereka adalah ibu dan anak. Tetapi keduanya memiliki ciri khas yang sangat berbeda.
Jika Raya begitu cantik karena wajah imut gadis belia, sikap dingin membuatnya sangat keren dan penuh wibawa.
Sedangkan Yuniar sangat berbeda dari putrinya karena dia lebih dewasa, penuh kehangatan, mudah senyum dan sangat ramah.
Toko menjadi hening sesaat setelah kemunculan Yuniar, namun tidak lama kemudian kembali gaduh begitu wanita itu meninggalkan toko.
“Nyonya Yuni terlihat lebih cantik dari biasanya.”
“Wajar saja, dia kan ibu dari Guild master Legion Teapot yang terkenal begitu cantik.”
__ADS_1
“Aku merasakan energi positif darinya, dia sedang dalam kondisi sangat bahagia.”
“Pantas saja wajahnya begitu berseri-seri.”
Para pengunjung toko sekarang lebih fokus membicarakan tentang Yuniar dari pada berpikir untuk membeli sesuatu.
Penjaga toko Siti tidak masalah dengan keadaan itu, toh saat ini tokonya sedang sepi karena jam sibuk sudah lewat.
Setelah kepergian Yuniar, giliran Budi keluar. Berbeda dari yang pertama, tidak ada seorang yang peduli dengan kemunculan pemuda dengan satu lengan itu.
Kecuali Siti.
“Bos tadi baru saja ada seseorang yang mencari mu.” ucap Siti.
“Apa itu pihak militer?.” tebak Budi.
“Ya... tapi tidak juga.” Siti justru memberikan jawaban yang ambigu.
“Maksudmu?.”
Budi menginginkan Siti untuk menjelaskan dengan lebih detail.
Siti pun menambahkan jika yang mencarinya adalah seorang sukarelawan bernama Lidia Mecrain.
Mendengar ciri-ciri fisik wanita itu, Budi pun sadar jika pernah bertemu dengan Lidia di area terlarang kemarin.
“Aku ingat wanita itu, memangnya ada perlu apa dia ingin menemui ku.”
“Tidak ada yang terlalu penting, dia hanya ingin berdiskusi tentang item sihir yang anda bos.”
Siti terlihat begitu tenang, wajahnya seakan datar tanpa ekspresi. Tetapi itu segera berubah ketika Budi membalas perkataannya.
Siti terperanjat kaget mendengar perkataan Budi. Siti pikir bos nya tidak akan tahu jika ia sempat naik ke lantai atas ketika dia sedang bermesraan bersama Yuniar.
Namun dia telah tertangkap basah. Siti khawatir jika Budi melakukan sesuatu padanya untuk menutupi hubungannya dengan Yuniar.
Tetapi Siti mencoba yang terbaik untuk tetap tenang.
“Mendengar teriakan nyonya Yuniar yang begitu keras, membuatku berpikir sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
“Apa suaranya sekeras itu?.”
Budi menjadi khawatir jika suara Yuniar terdengar hingga lantai toko. Walaupun lantai atas sudah diberikan sihir peredam suara, pemuda itu masih merasa khawatir.
Tetapi setelah Siti mengatakan jika itu tidak terjadi Budi pun merasa aman.
“Anda pasti sangat pandai dalam hal merawat wanita. Aku sampai basah hanya dengan mendengarkan erangan nyonya Yuniar.”
Wajah datar Siti hancur saat mengatakan itu. Dia merona merah seperti tomat dan terlihat nakal, seakan menginginkan sentuhan dari Budi.
“Sungguh?.”
Berniat mencari tahu kebenaran perkataan Siti, Budi pun mendekati gadis itu lalu segera menurunkan jeans hitam nya untuk melihat apa kah yang ia katakan benar atau tidak.
“Hieh!.”
Suara Siti yang terkejut membuat beberapa pengunjung menjadi heran. Siti tidak menyangka Budi akan tiba-tiba melakukan itu padanya.
__ADS_1
Tanpa mengeluh dengan tindakan pencabulan yang dilakukan oleh bosnya, Siti berusaha keras untuk tetap tenang agar tidak ada seorang pun tahu apa yang sedang terjadi dibelakang meja kasir.
“Ah... ini beneran basah.”
Senyum Budi melebar melihat kain putih kusam yang Siti kenakan menjadi basah kuyup. Budi pun berinisiatif untuk memberikan perawatan untuk gadis itu.
Mata Siti terbelalak saat merasakan jari jemari Budi mulai memberikan rangsangan pada lembah miliknya.
Matanya terpejam, dia menikmati setiap belaian lembut yang Budi berikan, hingga...
“Nona Siti kau tidak apa?.”
“Ughh... ssssshhh...”
Suara pelanggan yang berada di depannya membuat Siti terperanjat kaget. Dia tidak lagi dapat menahan dirinya, Siti pun akhirnya mengeluarkan apa yang tertahan sejak dia mendengar suara Yuniar yang penuh gairah.
Bendungan itu akhirnya bocor, menyembur air dengan begitu kencang.
Wajahnya terpelintir saat merasakan kenikmatan pelepas itu, membuat pelanggan yang berada di depannya menatap dengan wajah Merah.
Hunter muda itu tidak pernah menyangka jika Siti akan membuat wajah mesum seperti ini di depannya. Namun sebelum berpikir terlalu jauh, Budi segera mengambil alih tempat kasir.
“Apa hanya ini?.”
Dengan senyum ramah Budi bertanya pada pelanggan. Tangan kanannya mencubit bagian belakang Siti yang membuatnya tersadar.
Siti pun segera melanjutkan pekerjaannya.
“Apa anda tidak apa-apa, nona Siti?.”
Pelanggan itu terlihat begitu peduli dengan Siti. Sementara itu Dia menatap Budi dengan tatapan curiga.
“Ah... iya. Aku tidak apa....”
“Tetapi wajah anda memerah dan....”
Pelanggan itu menghentikan perkataannya saat melihat wajah datar Siti, tatapan mata gadis itu terlihat begitu merendahkan seakan sedang melihat kotoran pada pemuda di depannya.
“Totalnya 15 batu monster putih.”
Suara Budi memecah keheningan, pemuda itu pun sadar laku segera mengambil batu monster sebagai alat pembayaran, sedangkan Siti membungkus item yang terjual.
Wajah Siti terlihat datar seperti biasanya, namun begitu pelanggan itu pergi gadis itu pun segera berubah.
“Bos, kasih aku milikmu please...”
Dia memohon dengan wajah penuh gairah. Seperti seorang pecandu yang sedang kambuh, keringat mengalir deras membasahi kemeja putih yang Siti kenakan.
Walaupun Budi berniat ingin segera pergi ke wilayah terlarang, namun dia tidak biasa membiarkan Siti tetap seperti itu.
Karena merasa bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan, Budi pun tidak memiliki pilihan lain untuk membiarkan Siti bermain dengan adik kecilnya.
“Oh... Fabulous.”
Terpesona dengan milik Budi, Siti tidak dapat menahan dirinya untuk turun merendah di bawah meja.
***
__ADS_1
Bersambung.