
Rencana awal Budi hanya akan membangun lima lantai, namun karena kedalam lubang terlalu dalam mengakibatkan hanya sekitar 5% ruangan yang terisi.
“Aku harus merubah rencana awal.”
Budi berniat merubah beberapa hal dari rancangan bunker pembangkit listrik yang akan dia buat.
Setelah lubang selesai di buat, Budi segera membangun alat transportasi yang menghubungkan permukaan dengan dasar lubang.
Dia berpikir terlalu merepotkan jika harus bolak-balik menggunakan tangga sepanjang lima ratus meter. Oleh karena Budi membuat sebuah lift.
Setelah membangun life, Budi berniat untuk menutupi lubang menggunakan atap kaca.
Namun fokusnya teralihkan ketika keahlian [Hero Sense] merasakan sebuah kendaraan mulai mendekati area yang sedang dia bangun.
Mengetahui ada yang datang, Budi langsung memasukkan kembali Robot Goliath ke dalam kotak barang.
Kemudian dia segera pergi ke pintu masuk wilayah kontruksi karena tempat pembangunan pembangkit listrik memang dikelilingi oleh tembok setinggi lima meter.
Proyek pembangunan pembangkit listrik adalah proyek sangat rahasia sehingga Yuki memerintahkan jika siapapun tidak boleh mendekati area pembangunan.
Karena itulah Budi sangat heran kenapa ada orang yang dengan sengaja melanggar peraturan Yuki selaku Wali Kota.
Setelah sampai di depan pintu gerbang, Budi dapat melihat dari kejauhan sebuah truk yang biasa digunakan oleh anggota militer sedang menuju ketempat nya.
Truk berhenti tepat di depan gerbang, Budi yang masih di dalam tembok dapat merasakan ada delapan orang yang berada di dalam kendaraan itu.
Dua di depan termasuk supir dan enam menumpang di belakang, enam orang di belakang memiliki senjata yang begitu lengkap. Sudah dapat dipastikan mereka adalah pasukan tentara.
Din diiiiiiin!
Suara klakson di bunyikan, sudah jelas mereka ingin masuk ke dalam tembok walaupun Budi sudah menulis tanda peringatan berbunyi.
[Tempat terlarang, dilarang masuk jika tidak memiliki izin Wali Kota]
Tanpa menghiraukan suara klakson, Budi memilih menghubungi Yuki untuk menanyakan tujuan pasukan militer yang datang ke tempatnya.
{Kau mengatakan ada pasukan yang datang ke tempat Pembangunan!}
“Yap, apa mereka memiliki izin?.”
{Tentu saja tidak, aku sudah meminta mereka untuk mengabaikan getaran yang kau timbulkan saat pembangunan. Namun mereka seperti anak kecil yang justru melakukan apa pun yang di larang}
Suara Yuki terdengar agak jengkel. Sepertinya kehadiran para tentara menimbulkan masalah baru untuknya.
“Lalu bagaimana sekarang?.”
{Lakukan apa pun yang penting jangan biarkan mereka tahu apa yang sedang kau buat}
Budi terdiam sesaat, dua tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengusir para tentara Kepo itu.
Jika salah bertindak mungkin bisa membuat seluruh kota mendapatkan masalah besar. Militer adalah organisasi yang sangat besar, bermusuhan dengan mereka tidak akan berakhir dengan baik untuk kota Sawi.
__ADS_1
***
“Sebenarnya ada apa di dalam sana?.”
Fikri menatap tembok setinggi lima meter dengan papan peringatan yang dengan jelas melarang siapapun untuk masuk tanpa izin dari walikota.
Namun karena dia sedang menjalankan perintah dari atasannya, Fikri pun mau tidak mau harus mengabaikan peraturan Wali kota dan tetap melakukan inspeksi.
Semua berawal dari getaran kecil yang dirasakan seluruh kota. Wali kota sudah memberikan peringatan sehingga warga tidak panik.
Namun waktu getaran yang dirasakan terus-menerus hampir selama satu jam membuat warga cukup khawatir.
Walaupun pada akhirnya getaran berhenti tetapi rasa penasaran beberapa orang sudah terlanjur tumbuh besar. Salah satunya adalah bermimpi Pasukan Militer yang datang ke kota Sawi kemarin.
Bambang Beajah, sangat penasaran dengan sumber getaran yang membuatnya tidak nyaman menikmati kopinya.
Walaupun sudah dilarang sebelumnya oleh wali kota, tetapi dia tetap memerintahkan bawahannya yakni Fikri Kecekal untuk mengetahui apa yang menyebabkan getaran itu terjadi.
Mendapatkan perintah dari atasan, prajurit yang sangat disiplin itu pun membawa enam personil dan satu sukarelawan untuk ikut bersamanya mencari sumber getaran.
Tidak sulit untuk Fikri mengetahui sumber getaran karena dia hanya perlu mencari tempat yang dilarang untuk dikunjungi oleh Wali Kota Yuki.
Hingga akhirnya sampailah mereka di area pembangunan di mana Budi berada.
Melihat tidak ada tanggapan, Fikri pun turun dari truk bersama bawahannya juga Seorang wanita dengan kacamata yang merupakan sukarelawan mengikuti pasukan itu dari belakang.
Lidia Mecrain seorang peneliti yang memiliki keinginan kuat untuk mempelajari tentang sihir dan pengobatan ajaib. Dia telah banyak membantu militer dengan potions buatannya dan berbagai item sihir.
Pengetahuan yang dia miliki sebagai besar diambil dari akun media sosial Goblin Factory.
Lidia pun demikian, dia sudah merancang konsep pembangkit listrik bertenaga batu moster. Model awalnya adalah item penghasil listrik sederhana yang sudah dibahas pada konten Goblin Factory.
Gadis itu sudah pernah mencoba membuatnya, percobaan itu pun membuahkan keberhasilan. Itu membuktikan jika konten yang goblin factory berikan bukanlah sekedar kebohongan.
Mereka sudah memiliki pengetahuan yang cukup, Lidia pun berniat untuk membuat penghasil listrik yang lebih besar sehingga bisa digunakan untuk menyediakan energi lebih besar.
Tetapi sayangnya Lidia tidak dapat melanjutkan penelitiannya karena berbagai masalah yang terjadi. Walaupun pihak militer sudah mendukungnya, namun dia tetap saja tidak dapat menyelesaikan proyek tersebut.
Lidia merasa ada sebuah tembok transparan yang menghalanginya.
***
Fikri melihat ke atas tembok, mungkin dia akan melihat sesuatu jika melompati tembok itu.
Dengan kekuatannya yang melebihi manusia normal, membuat prajurit berusia dua pulu sembilan tahun itu yakin jika bisa melompati tembok itu.
Namun saat Fikri melakukan ancang-ancang untuk melompat, tiba-tiba pintu kecil di samping gerbang besar terbuka lalu keluar seorang pemuda tanpa lengan dan perban di kepalanya.
Melihat kemunculan pemuda itu membuat wajah Fikri menunjukan kekesalan.
“Siang tuan-tuan dan nyonya.”
__ADS_1
Budi menyapa para tamu yang datang dengan senyuman ringan. Dia menghampiri Fikri untuk menanyakan kedatangan mereka ke area itu.
“Siang, bapak?.”
Tetapi Fikri lebih dulu bertanya.
“Budi pak, tapi karena saya belum punya anak jadi tolong jangan panggil bapak.”
“Baiklah, mas Budi kerja di sini?.”
Budi tidak langsung menjawab pertanyaan Fikri, di justru bertanya identitas pria yang sedang mengajaknya berbicara.
Tindakan Budi membuat Fikri agak kesal, namun dia menahannya karena memang curiga terhadap orang asing adalah sesuatu yang sangat wajar.
Fikri menunjukan kartu identitasnya, Budi melihat kartu itu sesaat lalu mengembalikan pada pemiliknya.
“Iya pak saya kerja di dini.”
Budi membalas pertanyaan Fikri sebelumnya. Mendengar itu sorot mata Fikri berubah tajam, tatapannya melihat Budi dengan penuh ketelitian seakan sedang menilai pemuda itu.
Ditatap seperti itu Budi tidak melakukan apa-apa karena merasa sudah biasa.
“Anda menjaga gerbang bukan? Kenapa tidak segera membuka pintu? Kami sudah membunyikan klakson hampir sepuluh menit tadi.”
Fikri langsung mencerca Budi dengan berbagai pertanyaan. Karena melihat kondisi Budi yang hanya memiliki satu lengan, Fikri pun mengira jika pemuda itu bekerja di tempat ini sebagai penjaga gerbang.
“Bukan pak, saya bukan penjaga gerbang.”
Fikri menatap semakin tajam seakan dia tidak percaya dengan perkataan Budi, ‘Apa yang bisa dilakukan oleh orang seperti dia selain menjadi penjaga gerbang?’ pikir Fikri.
“Lalu siapa yang bertugas menjaga gerbang tempat ini?.”
Fikri yang tidak percaya dengan perkataan Budi, berusaha mengintrogasi pemuda itu.
“Tidak ada pak.”
Budi membalas singkat.
“Tidak ada?.”
Fikri tersenyum mendengar pernyataan Budi
“Aku mendengar jika wali kota menjadikan area ini sebagai wilayah terlarang. Tetapi kenapa kau mengatakan jika tidak ada yang menjaga tempat ini?.”
Fikri mulai mendesak Budi secara terang-terangan. Tetapi pemuda itu tidak menunjukkan kepanikan sedikitpun.
“Iya seperti yang anda ketahui jika walikota sendiri menjadikan wilayah ini sebagai area terlarang, sehingga tidak ada seorangpun yang boleh masuk tanpa izin.”
Budi membicarakan tentang papan peringatan.
“Jadi bukankah itu artinya tempat ini seharusnya di jaga? Khususnya pintu masuknya?.”
__ADS_1
Senyum Fikri semakin melebar, dia yakin jika Budi tidak dapat mengelak dari tuduhannya jika dia sedang berbohong.
Tetapi...