Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
101. Berikan di padaku


__ADS_3

[Chapter dewa lagi]


Saat aku kembali ke kota keadaan masih biasa saja. Walaupun begitu ketegangan dapat aku rasakan mulai tumbuh semakin besar.


Para warga takut jika masalah ini berakhir dengan peperangan antara pihak militer dengan Guild Legion Teapot yang tentu saja akan mendukung Wali Kota Yuki.


Saat ini seluruh pasukan militer telah ditarik mundur untuk berkumpul di sekitar wilayah penjara bawah tanah.


Banyak warga takut jika Militer berencana mengambil alih penjara bawah tanah yang saat ini sangat penting bagi kota Sawi.


Bukan hanya sebagai tempat berburu para Hunter yang ingin menaikkan level. Penjara bawah tanah adalah tambang batu monster yang sangat berharga.


Tanpa adanya batu monster, kehidupan warga akan menjadi sulit, terutama bagi mereka yang hidup di luar tembok.


Tanpa batu monster, lampu sihir tidak bisa menyala. Jika seperti itu monster malam akan bebas berkeliaran di pemukiman warga.


Itu akan sangat berbahaya.


Menyadari kekhawatiran warganya, wali kota Yuki meyakinkan mereka jika pihak Militer tidak mungkin akan melakukan itu.


Penjara bawah tanah Poci dibersihkan oleh warga kota, maka pihak Militer tidak memiliki hak sedikitpun untuk mengambil alih tempat itu.


“Jika saja memang semudah itu.”


Sesampainya di toko aku melihat restoran di samping toko begitu ramai. Antrian panjang ribuan orang membentang hingga dua kilometer.


Mereka adalah para warga dari kota Jati yang dibawa ke kota ini oleh genk the Daki.


Bukan hanya sedang mengantri makanan, mereka juga saat ini tengah ‘Diperiksa’, takut jika ada anggota the Daki menyamar.


Liliana mengatakan jika saat ini para pengungsi tinggal di gedung kosong milik keluarganya.


Kedatangan para pengungsi juga berdampak positif bagi toko Asongan. Tempat itu ramai oleh para pengungsi yang menukarkan berbagai material dengan senjata.


Mereka seperti berusaha untuk mempertahankan diri.


“Bos, selamat datang!.”


Siti menyambutku begitu aku memasuki toko, dalam sekejap membuat para pengunjung mengalihkan perhatian padaku.


Namun seperti yang sudah-sudah mereka segera kehilangan minat saat melihat keadaanku yang cacat.


Aku segera membantu Siti yang terlihat kerepotan melayani para pengunjung.


Hingga sudah waktunya toko tutup tetapi pengunjung masih saja berdatangan. Aku pun segera mengusir mereka yang berakhir dengan protes keras.


Namun apapun yang mereka katakan, aku tetap menutup toko.


“Silahkan datang lagi besok.” ucapku sembari menurunkan tralis besi saat menutup toko.


“Uguuh... Lelahnya.”

__ADS_1


Siti meregangkan otot yang kaku ketika akhirnya dia bisa beristirahat. Dia pasti sangat lelah setelah melayani ratusan pengunjung selama berjam-jam seorang diri.


Namun berkat itu aku dapat melihat pemandangan indah. Saat Siti melakukan peregangan aku dapat melihat lekukan tubuhnya yang sangat indah.


Tatapanku tidak dapat berpaling dari dadanya yang begitu besar dan begitu kencang.


Walaupun usianya sama dengan ku, tetapi aset yang ia miliki tidak kalah dari Yuniar. Majikan Siti sebelumnya pasti sangat memanjakan gadis itu.


“Siti, apa kau akan kembali ke Mansion lebih dulu?.”


“Ya, aku belum meminta izin untuk tidur di luar. Jika aku tidak meminta izin lebih dulu maka kepala pelayan akan memarahiku.”


Siti takut mendapat masalah yang mungkin saja akan membuat dirinya mendapatkan hukuman.


Aku penasaran hukum apa yang akan dia dapatkan hingga membuat Siti ketakutan seperti itu.


“Bagaimana jika aku meminta pada Yuki untuk memberimu padaku?.”


“Eh?.”


Aku mendekati Siti yang terdiam karena sulit mencerna apa yang baru saja aku katakan. Kami saling bertatapan sesaat hingga aku mengecup bibirnya.


Siti membalas ciuman itu, dia memelukku begitu erat saat lidah kami saling beradu satu sama lain.


Ketika adu mulut masih terjadi, aku mulai memasukkan tanganku kedalam celananya dan merasakan area itu sudah begitu basah.


Erangan kenikmatan tidak dapat Siti tahan, matanya mengerjap manakala aku mulai mengacak-acak miliknya dengan tiga jari.


Tidak ingin kalah Siti pun membalas serangan ku. Dia mulai mengeluarkan burung dari sangkarnya yang sudah bangkit begitu gagah.


“Oh syt syt fak yes grandpa...ah ah... ssssh!.”


Mata Siti terpejam, tubuhnya mengejang, mulutnya meracau dengan penuh makian saat mengekspresikan kenikmatan yang tengah dia rasakan.


Tangan Siti mencengkram kuat ayam jago milikku, memaksaku untuk mengikutinya mencapai puncak.


Setelah keadaan agak tenang, aku pun mengeluarkan tanganku dari dalam celana jeans Siti.


Aku hanya tersenyum kecil melihat betapa basah tanganku itu.


“Jadi apa kau akan kembali ke Mansion?.”


Mendengar pertanyaan ku, Siti memalingkan wajahnya yang begitu merah. Dia terlihat sangat imut saat sedang malu.


Tanpa mengatakan apapun Siti melepaskan jeans dan Cau_at yang ia kenakan.


“Kamu sangat seksi.”


Siti tersenyum menggoda mendengar pujian dariku. Dia kemudian naik ke meja kasir menghadap ke arahku, melebarkan kedua kakinya memperlihatkan miliknya yang begitu menantang.


“Bos, masukin...” pinta Siti dengan suara manja.

__ADS_1


Dia benar-benar tahu bagaimana cara membuat lawannya bergairah, itu memperlihatkan betapa berpengalaman Siti menjadi seorang ‘Pelayan’.


Aku bergerak mendekat, laku segera ******* bibir Siti yang begitu basah. Torpedo ku meluncur cepat menerobos lembah gadis itu dengan begitu kuat.


Siti terperanjat kaget begitu miliknya diterobos dengan sangat brutal.


Aku terus menggempurnya tanpa jeda, tidak akan memberikan kesempatan pada Siti untuk berpikir.


Mulutnya terus mengeluarkan kata-kata kotor dengan begitu lantang seakan tidak peduli seseorang di luar akan mendengarnya.


Kami bersama sama mencapai puncak berkali-kali. Toko yang menjadi begitu berantakan menjadi saksi bisu betapa brutal permainan yang kami mainkan.


Hingga akhirnya Siti yang kelelahan akhirnya terkapar tidak berdaya.


“Maaf bos, aku sudah tidak sanggup...” Siti terlihat sangat menyesal karena hanya dapat bertahan selama lima belas menit.


Sebelumnya ia sudah begitu kelelahan karena pekerjaannya. Dan kini dia tidak lagi memiliki sisa tenaga setelah mencapai puncak sebanyak lima kali.


“Oh ayolah, seharian aku sudah menunggu untuk ini.”


Tidak ingin semua berakhir begitu saja. Aku pun memberi Siti sebuah potions seharga 200 batu monster putih.


Siti pun sangat terkejut melihat apa yang aku berikan padanya.


“Bos kau kejam.” ucapnya dengan suara imut.


Dia segera meminum potions yang aku berikan dengan satu kali tegukan.


Setelah meminum potions pemberian dariku, dalam sekejap wajah Siti yang lesu karena terlalu lelah, kembali segar seperti baru bangun tidur.


“Ini pertama kalinya aku minum Potions stamina recovery.”


Siti tersenyum cerah seakan baru saja mendapatkan lotre.


Sebagai penjaga toko dia terkadang sangat penasaran dengan rasa berbagai potions yang aku buat.


Dia ingin setidaknya sekali saja meminum obat-obat ajaib itu. Namun karena harganya yang terlalu mahal membuat Siti hanya bisa bermimpi untuk mencicipi rasa setiap potions.


Rasa penasaran Siti pada potions bukan karena tanpa sebab. Semua karena bakat terpendamnya membuat Siti memiliki ketertarikan kuat pada pengetahuan obat-obatan.


Aku tersenyum lebar saat berdiri di depan Siti yang duduk di lantai.


“Hey jangan anggap aku memberikan potions itu secara gratis yah!.”


Gadis itu terkejut melihat si Jhoni yang sebelumnya sudah lemas, sekarang sudah dibangkitkan.


Aku gunakan adik kecilku untuk menyodok pipi Siti yang merona.


“Dasar monster.” pujinya.


Aku pun segera menarik tangan Siti mengajaknya ke kamar mandi, lalu bersama-sama membersihkan diri.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2