Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
86. Terlalu Kasar


__ADS_3

Budi merasa telah salah memberikan syarat untuk memasuki are pembangunan. Karena bukannya mengurungkan niatnya, Liliana justru menyetujui syarat itu lalu mengajukan tantang pertarungan.


“Seorang lelaki tidak boleh menarik perkataanya bukan? ”


Liliana tersenyum penuh kemenangan saat mengatakan itu.


Merasa tidak memiliki pilihan lain Budi pun menerima ajakan duel dari Liliana. Tepat di depan gerbang mereka melakukan pertarungan.


Liliana menggunakan pedang dua tangan andalannya, sementara Budi hanya menggunakan senjata pedang satu tangan karena saat ini dia tidak menggunakan lengan palsu.


“Cepatlah, aku harus segera kembali bekerja.” Budi mulai memprovokasi.


“Oh, tunggu sebentar tuan sibuk. Aku perlu pemanasan lebih dahulu.” Lilian menjawab sambil melakukan peregangan.


Peraturan pertarungan ini sederhana, siapapun yang bisa mengenai lawannya sebanyak tiga kali maka akan menjadi pemenang.


Budi melakukan serangan awal, dengan gerakan cepat dia mampu memperpendek jarak dengan Liliana dalam sekejap.


Ayunan pedang dari atas, Budi lancarkan namun Liliana dengan sigap menahannya.


Gigi Liliana seketika mengerat saat merasakan serangan dari Budi.


‘Berat, Walau dia hanya menggunakan satu lengan!.’


Dua tangan Lilian meras mati rasa saat menahan tebasan pedang Budi. Walaupun dia tahu jika pemuda itu kuat, tetapi Liliana tidak pernah menyangka bisa sekuat itu.


Budi mendorong Liliana yang membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Kemudian sebuah tendangan Budi lancarkan mengenai pinggang Liliana.


Sebuah serangan telak yang membuat Budi mendapatkan poin pertama.


Liliana berniat membuka, dia menggunakan semua keahlian yang telah dia pelajari. Namun semua serangan dapat dengan mudah ditangkis oleh Budi.


“Terjangan Elang!.”


Liliana menusuk dengan kecepatan tinggi, akurasinya sangat mengagumkan hingga tidak mungkin meleset dari target.


Namu Budi dapat melihat gerakan itu sehingga dia hanya membelokkan sedang lintasan pedang Liliana menggunakan pedangnya.


Pedang Liliana tidak berhasil melukai Budi, gadis itu sangat terkejut karena selama ini serang yang dia pelajari secara otodidak tidak pernah melesat.


Keterkejutan itu membuat Budi memilih kesempatan untuk menyerang.


BRAK!


“Ghaak!.”

__ADS_1


Sebuah tinju kuat menghantam perut Liliana yang membuatnya terjatuh berlutut di depan Budi.


“Sekakmat.” ucap Budi sambil menghunuskan pedangnya di depan wajah Liliana.


Melihat kekalahan sudah di depan mata, Liliana terdiam dengan wajah tertunduk. Dia tidak mengira akan dikalahkan semudah itu dan begitu cepat.


“Apakah kau tidak terlalu keras pada seorang wanita!.” ucap Liliana sambil kembali menghunuskan pedangnya.


Liliana menolak untuk mengakui kekalahan jika Budi masih belum berhasil mendaratkan serangan ke tiganya.


Serangan dadakan dari Liliana dalam jarak yang begitu dekat dapat melukai Budi Seca serius.


Namun seakan dapat memprediksi itu akan terjadi Budi pun dapat menghindarinya dan justru melakukan serangan balasan.


Sebuah tebasan mengenai dada Liliana, namun tebasan pedang Budi tidak sedikitpun melukai gadis itu, tetapi hanya bajunya saja yang robek.


“Sekarang kau selesai.”


“Uwaa... kau!.”


Wajah Liliana terlihat begitu merah saat melihat bajunya yang sobek memperlihatkan tubuhnya begitu terbuka.


“Wah, aku tidak menyangka kau bisa membuat wajah malu seperti itu.”


“Tentu saja bukan, kau pikir aku wanita yang suka memperlihatkan tubuhku tanpa busana!.”


Liliana tidak dapat mengelak, dia mengakui kekalahannya pada pertarungan melawan Budi. Namun dia mengatakan jika besok akan kembali lagi untuk menantangnya bertarung.


“Aku tidak keberatan, jika kau memintanya saat aku selesai bekerja.”


“Tapi bukankah saat itu kau sedang lelah sehingga tidak memiliki banyak tenaga?.”


“Justru itu lah waktu terbaik untuk bertarung secara adil dengan ku.”


“Kuh!.”


Gadis itu merasa harga dirinya direndahkan karena Budi menahan kekuatannya saat bertarung melawannya.


Namun Liliana bukanlah tipe orang yang berpikir pendek. Melihat bagaimana dia dikalahkan membuat Liliana sadar jika kekuatan yang Budi miliki jauh diatasnya.


Jika Budi melawan dey kekuatan penuh maka pertempuran itu akan berakhir dalam sekejap. Jika itu terjadi maka Liliana tidak akan belajar apapun dari pertarungannya dengan Budi.


Karena memang tujuan Liliana mengajak Budi duel adalah mengukur kekuatan pemuda itu dan belajar darinya.


***

__ADS_1


Setelah Liliana kembali ke kota, Budi pun melanjutkan pekerjaannya membangun pembangkit listrik.


Namun karena hanya dibantu oleh satu Goliath membuat pekerjaannya berjalan lambat. Budi hanya bisa membangun kerangka luar dari mesin penghasil energi.


Saat dia sadar hari telah sore karena itu dia memilih untuk berhenti bekerja. Walaupun sebenarnya sejak awal dia berniat untuk bekerja siang malam hingga pekerjaannya selesai.


Tetapi karena kepalannya tidak tenang karena terus memikirkan sesuatu. Dia pun akhirnya memilih untuk kembali ke kota.


Sebelum kembali, Budi memastikan jika tempat pembangunan di kunci rapat. Dia Juga memprogram Goliath dalam mode bertahan untuk melindungi tempat itu.


Karena kerahasiaan tempat itu begitu penting, Budi sampai memasang Goliath dengan senjata lengkap seperti peluncur roket dan mini gun untuk mengamankan lokasi itu.


“Bekerjalah yang baik kawan.” ucap Budi pada Goliat.


Seakan mengerti perkataan pemuda itu, Goliath pun berdiri tegak seperti seorang prajurit yang baru saja mendapatkan misi penting dari atasannya.


Setelah itu Budi barulah memanggil Pushrank untuk membawanya kembali ke kota.


Cahaya redup sudah dapat dilihat pada rumah warga di bagian luar tembok. Cahaya itu berasal dari lampu sihir yang dijual oleh perusahaan Ceplik milik Liliana.


Walaupun Toko Asongan juga menjualnya, namun para warga lebih suka membeli dari perusahaan Liliana karena merasa lebih terjamin kualitasnya.


Meskipun faktanya baik Toko Asongan atau Perusahaan Ceplik memiliki satu kontributor yang sama yakni Budi sendiri.


Orang-orang lebih suka membeli sesuatu dari perusahaan yang didirikan oleh seorang gadis cantik dan kaya.


Dibandingkan membeli barang yang sama di toko sederhana yang dimiliki oleh pemuda cacat, walaupun dengan harga yang lebih murah.


Itu membuktikan jika brending adalah sesuatu yang sangat penting dalam bidang perdagangan.


Sesampainya di gerbang kota Budi berhenti karena seperti biasa antrian begitu panjang. Namun itu lebih sedikit dari hari biasanya.


Karena Dungeon sudah di ambil alih membuat monster yang berkeliaran semakin sedikit, bahkan sudah sangat jarang muncul monster di area terbuka.


Hal itu menyebabkan para warga merasa aman hidup di luar tembok. Ditambah rencana pembangunan lapisan tembok kedua yang sudah dikabarkan oleh Yuki.


Itu membuat semakin banyak warga mulai berpikir untuk pindah dari tempat pengungsian yang begitu sesak menuju area luar tembok pertama.


Di dalam tembok sudah begitu sesak oleh pengungsi. Itu menyebabkan banyak sekali masalah, terutama masalah kebersihan dan kesehatan.


Karena itu rencana pembangunan tembok untuk menutupi wilayah yang lebih luas adalah sesuatu yang sangat penting untuk segera dilakukan.


Agar warga semakin merasa aman dan lebih banyak yang berani meninggalkan area Tembok pertama.


Budi akhirnya berhasil memasuki tembok setinggi menunggu selama lima belas menit. Dia pun segera menuju ke toko Asongan.

__ADS_1


Seperti bisa saat sore tempat itu ramai oleh para Hunter yang baru saja pulang dari berburu.


__ADS_2