
Rumah itu terlihat megah seperti sebuah Mansion, halaman yang luas rumah itu digunakan sebagai tempat pengungsian.
Walaupun kini tembok kota telah dibangun lebih luas hingga membuat banyak rumah warga di sekitar menjadi lebih aman.
Tetapi masih banyak warga yang tidak ingin meninggalkan area Mansion karena masih takut dengan serangan monster.
“Bukankah tempat ini cukup tertata rapi.” Budi menatap area pengungsian di dalam halaman rumah mewah yang begitu bersih dan terawat.
Sangat berbeda dengan pengungsian di luar tembok rumah yang sangat berantakan, di mana sampah seperti tulang binatang berserakan di sepanjang jalan.
“Itu karena aku tidak ingin melihat rumahku kotor dan juga hari ini ada sebuah perayaan.” balas Yuki yang tidak lain adalah pemilik rumah mewah ini.
Budi kembali teringat dengan rumah mewah di kompleks perumahan tempat dia tinggal. Rumah itu juga milik orang tua Yuki. 'Seberapa kaya orang tua Yuki hingga memiliki dua Rumah Mewah yang terlihat begitu mahal'. pikirkan Budi mengembara.
Perhatian Budi kembali teralihkan saat melihat para pengungsi di wilayah bagian dalam rumah menyambut kedatangan mereka.
Para pengungsi terlihat berbeda dari yang Budi lihat sebelumnya, mereka yang mengungsi di sini terlihat seperti orang kaya dengan penampilan mewah. Itu membuat Budi berpikir jika para pengungsi di tempat ini memang khusus untuk para orang kaya.
“Mereka memberikan banyak bantuan dengan menyediakan persediaan pangan dan peralatan. Karena itu mereka pantas mendapatkan perlakuan istimewa.” ucap Yuki yang seakan bisa membaca pikiran Budi.
“Begitu rupanya, aku paham.”
Orang-orang kaya di tempat ini telah menggunakan harta mereka untuk membantu para pengungsi, sebagai balasannya mereka pun mendapatkan tempat yang layak dan aman.
Begitu memasuki Mansion, kami disambut oleh banyaknya orang yang terlihat sibuk dengan komputer mereka. Di bagian dalam rumah ini lebih terlihat seperti kantor perusahaan dibandingkan dengan Rumah Mewah yang Budi lihat diluar.
Beberapa orang segera menghampiri Yuni, mereka seperti para karyawan yang menghampiri bosnya untuk melaporkan sesuatu. Raya melihat dengan Tatapan kagum pada temannya yang masih memiliki tenaga untuk bekerja walaupun baru pulang setelah berburu.
Karena tidak ingin menganggu Yuki, Raya pun membawa kami ke bagian belakang rumah. Tidak kalah seperti bagian dalam, bagian belakang Mansion pun pun sangat ramai dengan para pekerja yang sedang memasak.
Tempat ini telah menjadi dapur umum yang memasak untuk ribuan pengungsi setiap harinya, namun hari ini bahkan jauh lebih ramai dari biasanya karena akan ada sebuah perayaan.
“Ibu sedang membantu memasak, biar aku panggilkan.” ucap Raya yang hendak pergi memanggil ibunya. Namun Budi segera menghentikan gadis itu.
“Tidak, aku tidak ingin pekerjaannya terganggu.” Budi mengatakan jika tidak sedang terburu-buru jadi bisa bertemu dengan ibu Raya setelah pekerjannya selesai.
“Begitu.” Raya terlihat kecewa.
__ADS_1
“Bau masakan tercium sangat enak, itu membuatku sangat lapar. Bagaimana aku bisa mendapatkan makanan di sini?.” tanya Budi. Mendengar itu Raya kembali bersemangat seakan mendapatkan sebuah ide.
“Makan malam sekitar satu jam lagi. Aku mengundangmu makan bersama kami.”
“Tentu aku pasti akan datang.” Budi dengan senang hati menerima tawaran makan malam dari Raya. Setelah itu Raya pun pergi bergabung bersama para sukarelawan untuk membantu memasak.
Karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, Budi pun mengikuti Rohid menuju bagian dimana daging diolah. Tempat itu seperti pasar daging, ada banyak sekali mayat kelinci dan tikus besar menumpuk. Semuanya hasil dari perburuan yang dilakukan oleh warga.
“Kak Budi yakali ingin membantu?.” Rohid merasa tidak yakin dengan tawaran bantuan Budi dikarenakan kondisi fisik pemuda itu yang tidak lengkap.
Namun setelah melihat cara unik Budi melakukan pembongkaran, Rohid pun tidak dapat berkata-kata, begitu juga para tukang dagi ditempat itu. Mereka sangat terkejut ketika Budi begitu ahli menggunakan pisaunya untuk menguliti mayat binatang hanya dengan satu tangan.
Setelah satu jam berlalu, semua orang yang bekerja di dapur pun akhirnya beristirahat. Raya memanggil adiknya dan budi beserta para anjing dan kuda untuk makan malam bersama.
***
Gofar, wali kota Sawi. Dari jendela pria bertubuh gemuk itu menatap kegiatan pembagian makanan di luar Mansion. “Sialan para lintah itu, beraninya mereka makan begitu tenang di tempat ini.” dia terlihat tidak senang ketika melihat para pengungsi mendapatkan makanan.
Di belakang Gofar, Hendry menyantap makan malamnya yang berupa daging kelinci dengan penuh nikmat.
Wali kota itu saat ini merasa tertekan karena pengaruhnya mulai menurun, para warga kotanya sendiri tidak lagi mematuhinya. Itu semua berawal ketika masa awal bencana monster, para warga yang kesulitan mendapatkan makanan begitu menderita.
Bantuan dari pemerintah sebagai besar dia simpan untuk dirinya sendiri, sementara sisanya diberikan pada para warga yang tentunya tidak akan cukup untuk semua orang.
Pada akhirnya para warga pun menderita bencana kelaparan. Gofar yang melihat itu sangat senang karena merasa dirinya seperti Tuhan yang bisa menentukan siapa yang akan dia selamatkan dan siapa yang akan dia buat menderita.
Tetapi masa kejayaan itu tidak berlangsung lama. Satu bulan setelah bencana monster, orang-orang mulai mengetahui jika daging monster aman untuk dikonsumsi, membuat orang-orang yang kelaparan mulai berburu untuk mendapatkan makanan.
Awalnya Gofar tidak terlalu mengaggap itu serius, karena dia percaya jika para warga biasa tidak mungkin bisa mengalahkan para monster yang sangat ganas dan berbahaya. Dugaan Gofar dibuktikan dengan banyak warga tewas akibat serangan monster saat berburu.
Namun tiba-tiba muncul dua gadis yang sangat menggangu.
“Gadis-gadis sialan itu!.” tangan Gofar mencengkeram begitu erat, dia sangat marah ketika mengingat bagaimana kekuasaannya mulai menurun.
Raya dan Yuki, berburu monster dalam jumlah besar, mereka melakukan itu untuk dibagikan pada para warga. Melihat bagaimana kuatnya kedua gadis itu membuat banyak warga yang ikut berburu bersama mereka.
Alhasil semakin lama pengaruh keduanya pun semakin kuat sementara Wali Kota sendiri sudah kehilangan kepercayaan masyarakat. Sekarang tidak ada yang peduli dengan pria gemuk itu, hanya beberapa orang dengan kepentingan saja yang masih berada di sampingnya.
__ADS_1
Salah satunya adalah Hendry yang merupakan pemimpin dari Geng Belati Merah.
“Bagaimana menurutmu setelah melihat keduanya berburu, apa kau pikir memiliki kesempatan untuk membunuh mereka?.” tanya Gofar pada Hendry.
Hendry tidak langsung menjawab. Pria itu baru menyelesaikan makanannya, dia bagaikan seorang bangsawan setidaknya begitulah yang dia pikirkan saat dengan tenang mengelap sisa makanan di mulutnya.
“Itu akan sulit, gadis bernama Raya itu memiliki insting yang begitu tajam.”
Hendry yang tadi siang berburu bersama Raya telah melihat bagaimana kedua gadis itu bertarung. Tujuannya bukan untuk mempelajari keahlian Raya dan Yuki, tetapi tujuan Hendry sebenarnya adalah agar dia mengetahui kelemahan mereka.
“Raya memiliki intuisi yang kuat, dia bisa mengetahui keberadaan monster dalam jangkauan dua puluh meter. Akan sangat sulit untuk menyergapnya.” ucap Hendry sambil meminum anggur merah dengan begitu elegan.
Melihat Gofar hanya menunjukkan wajah jijik. ‘Lihat tikus ini, dia berpikir bisa berperilaku seperti seorang bangsawan.’ Dalam ingatan Gofar dia hanya ingat hanya ada satu bangsawan yang berprilaku seperti seorang bangsa, yaitu pemilik asli dari Mansion tempatnya tinggal saat ini.
“Aku tidak peduli dengan gadis bernama Raya, yang perlu kau lakukan adalah membunuh Anak pemilik rumah ini, Yuki Hartanto. Jika dia mati maka tidak ada lagi yang bisa menghentikan aku memilih rumah ini. Dan jika itu terjadi maka kekuasaan ku sebagai Wali Kota akan kembali.” senyum lebar terlihat jelas di wajah Gofar.
Dengan harta yang dimiliki olehnya, Gofar berpikir bisa hidup dengan nyaman di rumah besar ini.
“Terdengar sangat menguntungkan. Apa aku juga mendapatkan hasil yang sepadan?.” Tanya Hendry.
“Ahahaha... tentu saja, aku akan membayar kerja keras mu dengan setimpal, ditambah kau bisa dengan bebas melakukan apapun di kota ini selama aku menjadi Wali Kota.”
“Itu, sangat menarik.”
Keduanya tersenyum lebar, mereka pun saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan kerja sama. Namun tiba-tiba...
Jleb!
“Ghaak...”. Gofar tiba-tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
Seketika senyum itu menghilang dari wajah Gofar, sementara tidak dengan Hendry.
“Ke... kenapa?.” tanya Gofar yang sadar telah ditikam oleh oleh pemimpin Geng Belati Merah itu.
“Ah... aku lupa memberitahu mu jika aku juga tertarik untuk menjadi Wali Kota.” usap Hendry. Tubuh Gofar pun terkapar tidak berdaya dengan darah yang mengalir deras.
Hendry membersihkan belati yang bernoda darah lalu merapikan bajunya seperti seorang bangsawan yang ingin bertemu dengan orang penting. Dia terlihat begitu santai ketika meninggalkan ruangan seakan tidak ada yang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
“Well mari kita berbicara mengenai berbagi hal dengan nona Yuki.”
Suasana meriah segera dirasakan Hendry saat dia membuka pintu keluar, sebuah pesta sedang diadakan di Mansion.