Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
98. Kembali bekerja


__ADS_3

Suasana posko pengungsian masih terasa begitu kental di restoran itu.


Banyak orang lalu lalang dengan penampilan seadanya, kaos oblong, celana pendek dan sendal jepit. Mereka seakan tidak peduli jika tempat itu sebenarnya adalah restoran mewah.


Kehadiran Budi merebut cukup banyak perhatian, tatapan tajam nan sinis terarah padanya, bisikan tidak mengenakkan dapat pemuda itu dengar dengan jelas.


Sepertinya itu berkaitan dengan tindakannya yang mengusir para pengunjung tokonya beberapa saat lalu.


“Cuih, lihat betapa sombongnya dia.”


“Hanya karena mendapatkan dukungan dari para perempuan sudah membuatnya besar kepala.”


“Dasar memalukan!.”


Budi mengabaikan semua perkataan buruk netizen padanya, 'Ya lagi pula meladeni mereka apa untungnya buatku?.' pikir Budi.


Papan pengumuman restoran dipenuhi oleh selebaran pencarian orang hilang. Melihat itu membuat Budi berpikir untuk membakar semua selebaran karena tidak ada tempat yang tersisa.


Tatapi untungnya Yuki telah menyiapkan papan pengumuman lain yang khusus untuk permintaan pekerjaan.


“Pekerjaan apa yang dia pasang di papan pengumuman?.”


“Hahaha, apa-apaan mencari herbal.”


“Bukankah bayarannya cukup bagus?.”


“Berburu monster jauh lebih menguntungkan.”


“Tetapi tidak semua orang berani berhadapan dengan monster.”


Pekerjaan pengumpulan material yang Budi pasang bisa dilakukan oleh siapa pun tidak peduli Hunter atau penduduk biasa.


Dia berharap pekerjaan itu bisa membantu mereka yang kesulitan mencari uang. Namun sepertinya maksud baik Budi di salah artikan oleh para pembencinya.


Mereka berpikir Budi sedang putus asa karena kekurangan bahan produksi senjata dan potions.


Sebenarnya Budi juga menyediakan permintaan yang sama sejak dia pertama kali membuka tokonya.


Bisnis itu berjalan lancar awalnya, tetapi beberapa hari terakhir Hunter yang mau mencari herbal semakin sedikit, mereka lebih suka berburu monster untuk naik level.


Gengsi pun ikut andil menurunnya Hunter pencari herbal, karena ada anggapan di masyarakat jika mencari herbal hanya dilakukan oleh orang lemah, sementara orang kuat seharusnya pergi mengalahkan monster.


“Sepertinya mereka hidup terlalu nyaman sehingga lebih mementingkan gengsi daripada keselamatan diri mereka sendiri.”


Potions adalah salah satu item wajib bagi Hunter yang berniat memasuki Dungeon. Sebuah obat ajaib yang dapat menyembuhkan luka dan racun dalam waktu singkat.


Entah sudah berapa banyak orang yang diselamatkan oleh potions, dan semua itu masih belum cukup untuk membuat masyarakat sadar tentang pentingnya herbal sebagai bahan baku membuat potions.


“Entah mereka sedang dibodohi atau memang pada dasarnya sudah bodoh dari awal.”


Budi mengungkapkan kekesalannya pada kebodohan para Hunter.


Setelah urusannya di restoran beres, Budi pun segera memanggil Pushrank untuk membawanya ke area terlarang.


Ada dua hal yang Budi lihat saat mendekati area terlarang.

__ADS_1


Yang pertama kabut tipis tidak biasa terlihat samar di udara.


Setelah diperhatikan lebih seksama, Budi sadar jika kabut tipis yang hanya dapat dilihat dengan mata naga ternyata adalah sisa dari emisi Mana dari sihir petir.


“Sepertinya Goliath menghadapi sesuatu tadi malam.”


Budi mengira jika tadi malam ada seorang yang berusaha menyusup ke area terlarang.


Lalu yang kedua adalah Liliana sudah menunggunya di depan gerbang.


Budi tidak tahu tujuan Liliana menunggu kedatangannya, karena jika itu duel keduanya sudah sepakat akan melakukan itu setelah pekerjaan Budi selesai.


“Bukankah kau datang terlalu siang. Hampir saja aku menerobos masuk karena kau tidak kunjung datang.”


Melihat Liliana bertolak pinggang membuat Budi sadar jika gadis berambut blonde itu sedang kesal.


“Kau akan menyesal jika melakukan itu.” Budi membalas perkataan Liliana.


Liliana tahu persis apa yang Budi bicarakan. Dia menyaksikan sendiri saat beberapa anggota militer mencoba menyusup, tetapi semua berakhir dengan sambaran petir.


Gadis itu pun mengatakan tujuannya menemui Budi.


“Pihak Genk The Daki bersiap membayar tuntutan paska perang.” ucapnya.


Itu membuat Budi terkejut, itu baru dua hari sejak perang terjadi. Tapi Genk The Daki sudah bersiap memberikan kompensasi.


“Bukankah ini terlalu cepat?.”


Budi berpikir mereka mungkin akan butuh waktu selama satu bulan untuk mulai membayar tagihan.


Budi menggangguk keci mendengar penjelasan Liliana.


Untuk mengurangi resiko pemberontakan penduduk kota Jati, Genk The Daki pun mengurangi jumlah warga dengan memberikannya ke kota Sawi sebagai ‘Pembayaran’ tuntutan paska perang.


Budi kagum dengan luasnya pengetahuan Liliana, mendapat pujian seperti itu Liliana hanya merendah.


Dia mengatakan jika semua informasi yang dia miliki di dapatkan dari para tawanan yang berada di ruang bawah tanah rumahnya.


Dengan semua pengetahuan yang ia miliki, Liliana sudah siap untuk merambah dunia bawah. Dia ingin menguasai bisnis pasar gelap kota Sawi sebelum pesaing mulai berdatangan.


“Mereka akan mengirim 3.000 tenaga kerja seperti yang kau minta. Sebenarnya mereka berniat memberikan lebih banyak untuk ditukar dengan Batu monster, namun aku menolak karena hanya kau yang berhak memutuskan.”


Liliana mengatakan semua itu dengan ringan seakan sedang mendiskusikan perdagangan kecil.


Walaupun faktanya pembicaraan ini menyangkut kehidupan ribuan orang.


“Mereka tidak memberikan batu monster yang harusnya dibayar?.”


Budi bertanya tentang lima juta batu monster biru yang termasuk dalam kesepakatan ganti rugi.


“Tidak ada, Sepertinya mereka juga sedang membutuhkan batu sihir.”


Batu monster saat ini sangatlah berharga. Selain sebagai pengganti mata uang, batu sihir juga bisa digunakan sebagai sumber energi alternatif.


Itu membuat nilai batu monster terus naik karena banyaknya permintaan.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Liliana meninggalkan area terlarang, dia tidak akan mengganggu Budi yang akan bekerja.


Liliana berharap pembangkit listrik itu segera jadi karena akan sangat menguntungkan untuk kota dan perusahaannya.


Dia mengatakan ingin berdiskusi dengan Yuki tentang penanganan 3.000 ‘Budak’ yang akan segera datang.


Keadaan pasti akan menjadi kacau jika pengungsi sebanyak itu ditangani tanpa persiapan.


Setelah kepergian Liliana, Budi pun masuk ke dalam area terlarang.


“Omega sekarang kau bisa aktif kembali.”


[Oh, selamat siang Master!]


Kecerdasan buatan yang sebelumnya dinonaktifkan selama Budi bermesraan dengan Yuniar, akhirnya diaktifkan kembali.


“Omega, bisakah kau mengambil alih kendali Goliath?.”


Budi menunjuk Goliath yang masih dalam mode berjaga.


[Tentu]


Goliath yang sebelumnya hanya diam kini bergerak walau Budi tidak memberinya perintah.


Sinar lampu dari matan robot besar itu berubah dari merah menjadi biru, menandakan jika seseorang sedang mengendalikannya secara manual.


[Lapor master, pengambilalihan kendali robot Goliath Prototipe 3 telah berhasil di laksanakan]


Suara Omega terdengar lantang dari Goliath, dia bahkan memberikan hormat pada Budi seperti prajurit yang melapor pada atasannya.


Budi kemuliaan mengeluarkan sepuluh robot Goliath yang baru diciptakan malam kemarin di dalam kotak barang.


“Bagus, sekarang saatnya untuk mulai bekerja.”


[[Shaaapp!]]


Sebelas robot Goliath berteriak serempak. mereka semua dikendalikan oleh satu kecerdasan.


melihat itu Budi agak takut dengan Omega yang seakan bisa melakukan apapun pada sistem komputer.


'Aku hanya bisa berharap dia tidak berubah memusuhi umum manusia seperti para robot di film-film barat.'


Kembali memulai pembangunan.


Hal pertama Budi lakukan adalah membuat lantai yang menutupi bagian atas pembangkit listrik untuk menyediakan ruangan dimana pabrik akan dibuat.


Jadi saat pembangkit listrik berada di dasar lubang, tepat di lantai atasnya terdapat pabrik yang akan digunakan untuk memproduksi berbagai macam hal, terutama produksi potions dan Robot.


Tetapi walaupun sudah terisi dua lantai, lubang itu masih tetap tersisa ratusan meter. Masih banyak ruangan yang tersisa untuk dibuat sebagai lantai lainnya.


Budi berpikir akan digunakan untuk apa semua lantai itu.


***


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2