Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
27. Perburuan Malam


__ADS_3

Keempat ayam terlihat senang karena ketika mereka pulang tiba-tiba mendapat kandang baru. Aku turut senang melihat mereka bahagia menempati kandang yang aku buat.


Tetapi masalahnya karena aku membuat kandang hanya untuk ayam, membuat binatang lainnya cemburu, dan memintaku untuk membuatkan kandungan untuk mereka.


“Oh ayolah teman-teman, kalian haru bersabar.” ucapku saat kepalaku dikunyah oleh Pushrank, sementara nyonya Goty berulang kali menanduk perutku. Seperti Roxy, Akita dan Oyen tidak peduli dengan kandang karena mereka bisa hidup di dalam rumah.


Hari mulai petang, setelah makan malam dan berbicara pada Tohir dan Jek mengenai rencana yang akan aku lakukan besok. Mereka pun mulai dilema.


Ada dua rencana berbeda yang akan aku lakukan besok, yang pertama membuat saluran irigasi, lalu rencana kedua membuat ruang bawah tanah yang diperuntukkan untuk Tohir bekerja.


Namun dalam waktu singkat keputusan pun datang dari keduanya. Tohir dan Jek sepakat jika membuat saluran irigasi adalah prioritas utama untuk saat ini. Dengan adanya saluran air yang baik maka ladang bisa lebih dikembangkan.


Sementara Tohir mengatakan jika saat ini masih bisa menggunakan basemen. Tetapi masalahnya aku juga ingin dia segera mengajariku teknik menempa.


‘Mau bagaimana lagi, aku hanya bisa berharap membuat saluran irigasi dengan cepat.’


Setelah makan malam aku bersiap untuk melakukan patroli.


Akhirnya setelah berhari-hari mengurung diri saat malam hari, kini aku memberanikan diri untuk keluar di saat dunia gelap gulita dengan monster tipe hantu berkeliaran.


Keberanian itu datang karena aku sudah memiliki senjata untuk melawan makhluk astral, yaitu pedang Durandal (Krigyus) buatan Tohir.


“Baiklah Jek, apa kau siap?.”


“Orkey.”


Jek berusaha menjawab dengan menggunakan bahasa manusia. Walaupun suaranya terdengar serak, tetapi aku bisa memahaminya. Dia akan pergi denganku untuk berburu dedemit malam ini.


Roxy dan yang lainnya juga ikut, kecuali untuk para ayam yang sudah tidur lelap di dalam rumah baru mereka. Lagipula penglihatan para ayam terkenal buruk saat makan hari, jadi membiarkan mereka tinggal di rumah adalah pilihan terbaik.

__ADS_1


Aku membagi kelompok menjadi dua. Kelompok pertama terdiri dari aku sendiri, Roxy dan Pushrank. Sedangkan kelompok kedua dipimpin oleh Jek, dengan anggota Akita, nyonya Goty dan Oyen.


Jek menaiki punggung Nyonya Goty, tubuhnya yang kecil bisa dengan mudah dibawa oleh kambing betina itu dengan mudah. Setelah melakukan beberapa persiapan kami pun segera memulai perburuan malam hari.


***


Hanya beberapa saat keluar dari halaman rumah, kami disambut oleh para demit yang berkeliaran di malam hari. Sosok tengkorak hidup dengan senjata yang dia pungut di jalan, lalu arwah wanita gentayangan melayang di udara.


“Suara tawa yang begitu khas, tidak salah lagi itu mbak Kunti.” kataku saat menatap arwah wanita terbang di langit.


Jerangkong datang menyerang dengan pemukul kayu. Tanpa rasa takut nyonya Goty menerjang dengan Jek di punggungnya, goblin itu tidak menggunakan panahnya karena tahu monster Jerangkong memiliki ketahanan tinggi pada serangan proyektil biasa.


Nyonya Goty menabrak tubuh Jerangkong, membuat setan itu hancur setengah badan. Sebelum tumbang monster yang terdiri dari kerangka tulang mengayunkan tongkatnya untuk menyerang Jek, terapi serangan itu berhasil di tangkis dengan tingkat sihir.


Jerangkong berhasil tumbang dengan satu serangan, namun monster berjenis Undead itu masih belum kalah. Kehebatan monster di malam hari adalah mereka memiliki skill unik, contohnya adalah Jerangkong yang dapat hidup kembali sebanyak apapun selama tengkorak kepalanya tidak hancur.


Aku mengerti hal ini karena Tohir yang memberitahuku.


Serangan itu pun membuat monster kerangka tulang kembali tumbang, namun kali ini tidak akan hidup kembali.


Suara tawa wanita terdengar semakin keras, Kuntilanak bersiap menyerang. Hantu wanita mengenakan daster putih itu menukik ke bawah, melayang menuju Jek. Namun aku segera melompat, memenggal kepala setan itu dengan pedang sihir.


[Membunuh kuntilanak +100 Exp]


Hanya dengan satu serangan Kuntilanak dapat ditaklukkan, namun aku merasa hampir kehilangan seluruh tenaga karena serangan tadi cukup menguras energi sihir dalam jumlah besar.


Kesulitan keras, Exp yang dihasilkan pun tidak main-main. Berburu di malam hari memang bisa membuatku mudah naik level, tetapi itu sebanding dengan resiko yang dihadapi.


Setelah pertemuan selesai, Jek mengambil item yang dijatuhkan oleh kedua setan yang kami kalahkan. Tidak seperti monster dari Dungeon, monster yang muncul di malam hari akan menghilang setelah dikalahkan, biasa saat menghilang akan ada sesuatu yang ditinggalkan.

__ADS_1


Jek menyerahkan apa yang dia dapatkan padaku. Yang kami dapatkan dari perburuan barusan adalah dua batu sihir, tulang dan paku. Kedua batu sihir terlihat mirip sedangkan tulang sudah pasti merupakan item yang dijatuhkan oleh tengkorak, sementara paku dari mbak Kunti.


Aku tidak tahu apa untuk apa sebuah tulang, tetapi aku sangat tertarik dengan paku yang dijadikan oleh Kuntilanak. Aku berencana membangun pagar disekitar umah dan ladang. Karena itu aku memerlukan banyak paku.


“Jadi mari buru Kuntilanak lebih banyak.”


Untuk saat ini aku memprioritaskan untuk memburu kuntilanak, tapi sayangnya paku adalah barang langka yang jarang dijatuhkan oleh hantu wanita itu. Dari sepuluh perburuan aku hanya mendapatkan tiga paku.


Kami pergi semakin jauh hingga melihat jalan raya yang begitu gelap dan sepi. Mengikuti jalan raya ini ke arah timur maka aku akan sampai di kota Sawi, tempa dimana banyak orang mengungsi. Sementara ke arah sebaliknya dikatakan tidak ada apa pun selain monster.


“Bugirman...”


Suara serak Jek memanggilku, aku segera sadar dari lamunanku. Goblin itu menunjuk ke arah jalan, dari kejauhan aku bisa melihat bola bercahaya melayang ditengah jalan dalam jumlah besar.


“Kunang-kunang?.” pikirku.


Serangga dengan kemampuan membuat cahaya di belakang tubuhnya itu terlihat berbeda dengan kunang-kunang yang aku tahu. Dengan tubuh sebesar kumbang badak, bagian belakang kunang-kunang berpendar seperti batang besi yang dipanaskan.


{Bagaimana menurut mu? Apa kita akan melawannya?}


“Entahlah, jumlah mereka terlalu banyak.”


Aku tidak tahu cara melawan kunang-kunang monster. Dan jumlah mereka yang besar mencapai puluhan ekor terlihat sulit untuk di lawan hanya dengan kelompok kami.


Saat kami berniat pergi dan mencari monster lainnya, tiba-tiba dari atas jatuh sebuah bola dengan rambut hitam. Itu cukup membuatku terkejut, hingga Jek berteriak keras karena kaget.


Ternyata benda jatuh barusan adalah sosok kepala manusia yang masih bisa bergerak. Jelas saja itu adalah setan. Kepala buntung hendak menggigit kaki kuda namun berhasil dihindari. Kerena kesal dikagetkan, Jek pun memukul kepala buntung dengan tongkat sihirnya.


Melihat sejak pertama kali berburu Jek hanya menggunakan tongkatnya sebagai pemukul, membuatku mulai bertanya-tanya apakah dia benar-benar bisa menggunakan sihir?.

__ADS_1


Seperti seorang pemain Polo, Jek dari atas kuda (Kambing) memikul kepala buntung hingga membuatnya terlempar jauh menuju jalan raya. Yang tampa sengaja mengarah pada kawanan kunang-kunang.


Akibatnya kunang-kunang itu pun mulai mengejar kami seperti para lebah yang sarangnya diganggu.


__ADS_2