Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
71. Dengan Liliana


__ADS_3

Pelayan itu terus menatap Budi, seakan dia suka melihat reaksi pemuda itu ketika mendapatkan perawatan darinya. Kelihayan si Pelayan membuat Budi tidak tenang, namun dia tidak diizinkan untuk menyentuh rambut si pelayan.


Plak!


Plak!


Plak!


Pelayan itu memukul pipinya sendiri dengan benda yang sedang dia rawat, membuat Budi sulit menelan ludahnya karena berpikir betapa eksotisnya itu.


Pelayan yang dia tarik begitu saja ke toilet ternyata sangat ahli melakukan perawatan, menyadari itu Budi merasa sangat beruntung.


Mulutnya terbuka lebar, menekan semua yang bisa masuk kedalamnya, walaupun itu begitu besar dan panjang hingga mengoyak tenggorokannya.


Namun Pelayan itu tetap memasukkan semua hingga bibir nya menyentuh pangkal yang dipenuhi bulu.


“Akh...” suara Budi tidak bisa tahan, sudah hampir saatnya dia melepaskannya.


Mengetahui itu pelayan mulai menarik kepala, melepas benda itu lalu membuka lebar mulutnya. Dengan wajah yang begitu merah, pelanyan menggerakkan tangannya memberikan perawatan.


Hingga pelepasan pun akhirnya tercapai. Apa yang Budi keluarkan masuk dalam mulut pelayan, namun sebagian besar melumuri wajah dan rambutnya.


Keluar dari toilet dengan wajah yang cerah, Budi kembali lagi ke tempat Raya dan yang lainnya. Sedangkan pelayan yang telah merawatnya segera pergi dan kembali bekerja.


Budi sebelumnya menanyakan nama pelayan itu, namun dia tidak ditanggapi. Karena diabaikan Budi pun hanya bisa mengucapkan terimakasih.


***


Waktu kembali menemui para gadis, Budi mendapati beberapa orang telah mengerumuni mereka. Seperti biasa orang-orang itu adalah mereka yang memiliki kepentingan.


Beberapa diantara ingin agar Yuki mengurung niatnya untuk mengusir keluarganya dari mansion dengan alasan rumah mereka masih diperbaiki.


Sementara yang lainnya menawarkan lamaran pernikahan pada Raya. Dengan iming-iming kekayaan dan status mereka menginginkan Guild master Legion Teapot itu menjadi milik mereka.


Bahkan beberapa diantaranya tidak segan merayu Yuniar agar anaknya mau menikah dengan putra dari keluarga mereka.


Sedangkan Liliana sendiri...


Ya dia sendirian di balkon menatap keindahan kota yang sedang merayakan pesta.


Karena para wanita lainnya terlihat sedang sibuk menghadapi para penjilat. Budi pun memilih untuk mendekati gadis berambut keemasan itu.


“Kau ingin bergabung dengan mereka atau apa?.” perkataan Budi sedikit membuat Liliana terkejut.


“Budi man.” Liliana menyunggingkan senyuman saat melihat kedatangan Budi.


“Apa ada yang salah?.” Budi berdiri di samping Liliana.


“Tidak, hanya saja saya barusan sedang menggunakan keahlian persepsi. Saya berpikir dalam jarak lima meter tidak akan ada yang bisa menyelinap.”

__ADS_1


Liliana menatap Budi dengan kekaguman.


“Tetapi ternyata saya salah. Anda dengan mudah bisa menyelinap dan membuat saya tidak sadar akan kedatangan anda.”


Liliana penasaran dengan kekuatan Budi dan identitasnya. Seperti para fans dari Raya dan Yuki, Liliana pun dibuat sangat heran kenapa pemuda itu begitu dekat dengan kedua gadis itu.


“Kami hanya teman satu kampung.” terang Budi.


“Saya mengerti, anda mencoba merahasiakannya.” Liliana terlihat kecewa.


“Tapi itu yang sejujurnya.” Budi tidak akan memaksa Liliana untuk percaya, karena memang sudah ada beberapa orang yang bertanya seperti itu sebelumnya. Dan reaksi mereka pun tidak jauh berbeda dengan Liliana.


Mereka mengaggap Budi, Raya, Yuki dan Yuniar sedang menutupi sesuatu.


Perbincangan Liliana dan Budi terus berlanjut, hingga tanpa sadar pembicaraan itu mengarah pada masalah beberapa menit lalu ketika Budi sedang di toilet.


Budi sangat terkejut karena Liliana tahu jika terjadi sesuatu saat dirinya berada di toilet. Budi berpikir jika tidak mungkin ada yang akan tahu karena dia menggunakan keahlian [Bersembunyi] dari pekerjaan Pencuri.


Tetapi ternyata hal itulah yang justru menjadi bumerang untuknya.


Liliana mengatakan jika dia sudah menghitung jumlah bpara Pelayan. Dan ketika Budi berada di toilet ada satu Pelayan yang menghilang, Liliana mencoba mencari vtshu keberadaan Pelayan itu dengan kemampuan deteksi, tetapi hasilnya nihil.


“Saya baru bisa menemukan keberadaan Pelayan itu ketika anda muncul. Bukankah itu membuktikan menjelaskan semuanya?.”


Budi hanya terdiam dengan mulut terbuka lebar. Dia merasa kekuatan persepsi dan deteksi Liliana hampir menyamai milik Raya.


Tetapi dibandingkan Raya yang hanya menggunakan kemampuan deteksinya untuk bertarung. Liliana justru menggunakannya untuk mengintip urusan orang lain.


Deteksi dan persepsi adalah kemampuan aktif yang memerlukan energi sihir untuk menggunakannya. Kemampuan yang diketahui sangat boros energi, tetapi itu sepadan dengan hasil yang bisa didapatkan.


“Saya bisa menggunakan dua keahlian itu selama lima menit tanpa henti.”


Lilian berhenti saat merasakan sakin kepala mulai menyerang, itu pertanda bahwa energi sihirnya mulai menipis.


“Sebaiknya kau segera berhenti sebelum keinginan untuk terjadi ke bawah muncul di kepalamu.” Budi memberikan saran.


“Ahahaha... yes sir!.”


Efek buruk dari kehilangan banyak energi sihir adalah gangguan mental, orang yang mengalaminya akan merasa depresi dan mengaggap hidupnya tidak berarti.


Dalam beberapa kasus penderitanya bahkan sampai ada melakukan bunuh diri.


Percakapan keduanya kembali dilanjutkan. Budi menanyakan pelayan yang pagi tadi mengikuti Liliana.


“Maksudmu Ferdinand?.”


“Itukah namanya? Terdengar seperti orang brengsek.”


“Hey! Jangan menilai seseorang hanya dari namanya.” tiba-tiba Liliana menjadi marah.

__ADS_1


“Ah maaf,” Budi yang takut langsung buru-buru meminta maaf.


“Ya, lagi pula dia menang orang brengsek sih.”


“Lah?.”


Liliana tidak membicarakan lebih jauh tentang Ferdinand. Budi berpikir mungkin itu mengenai masal keluarga mantan Wali Kota.


Budi yang penasaran dengan keberadaan Pelayan itu, iseng menggunakan kemampuan persepsi dan deteksi untuk mencarinya.


Dan dengan mudah Budi menemukan keberadaan Ferdinand yang kini berada di dalam kantor Polisi bersama Ridwan.


Melihat itu membuat rasa penasaran Budi semakin besar. Pemuda itu pun mengaktifkan keahlian (Hero sense) dan (Aura) untuk mempertajam Indra pendengarnya.


Hasilnya dua dapat mendengar pembicaraan seseorang dalam jarak 750 meter dengan sangat jelas, seakan Budi berada dalam satu ruangan yang sama.


Setelah beberapa saat menguping pembicaraan Ridwan dan Ferdinand, perlahan kerutan di dahi Budi mulia terlihat.


“Tuan Budi apa ada yang salah?.” Liliana memanggil karena melihat Budi yang tiba-tiba terdiam.


“Ah, aku hanya memikirkan tentang beberapa hal.”


“Tentang apa?.” tanya Liliana penasaran.


“Ih kepo.” tetapi Budi justru menanggapinya dengan candaan.


Mendapati jawaban itu Liliana menggembungkan pipinya karena kesal, di terlihat begitu imut saat seperti itu.


Karena terus dipaksa, Budi pun akhirnya mengatakan apa yang dia dengar dari percakapan Ferdinand dan Ridwan.


“Ini tentang penyusup yang pihak kepolisian berhasil tangkap. Sepertinya itu adalah Anggota organisasi Gamprit.”


Mendengar itu membuat wajah Liliana menjadi begitu pucat. Dia tentu tahu organisasi Hitam seperti apa Gamprit itu.


Karena selain monster, hal yang paling ditakutkan oleh penduduk kota di pulau Jawa adalah kelompok Gamprit.


Beberapa kota sudah ditaklukkan oleh mereka, dan yang lainnya telah di musnahkan. Pihak militer beberapa kali melakukan penertiban, tetapi kelompok itu seperti rumput di musim hujan, mereka terus datang lagi dan lagi.


Selama akarnya tidak dimusnahkan maka Organisasi itu tidak akan benar-benar hilang.


“Sepertinya anggota yang kepolisian tangkap memiliki jabatan yang cukup tinggi.” ucap Budi.


“Jadi mereka sekarang bisa mendapatkan informasi dimana markas persembunyian organisasi Hitam itu bukan?.”


Liliana menjadi bersemangat karena satu kekhawatirannya akan menghilang.


“Tidak juga, seperti mereka hendak membebaskannya.”


“Hah!.”

__ADS_1


Karena begitu terkejut membuat Liliana sampai berteriak, membuatnya kembali menjadi pusat perhatian.


__ADS_2