
Jiecie terdiam mematung saat berlari itu menempel di lehernya. Dia berpikir Budi pasti akan menjadikannya sebagai sandera.
“Jika kau bermaksud menahan ku dengan maksud sebagai tawanan, agar organisasi membatalkan serangan. Maka kau melakukan hal yang sia-sia.”
Wanita itu berpikir jika Budi akan menjadikannya sebagai alat diplomasi dengan organisasi Gamprit yang berniat mengirim Genk The Daki untuk menghancurkan kota Sawi.
Tetapi dia salah besar.
“Apa yang anda bicarakan nona Jiecie? Aku tidak berniat menahan anda atau semacamnya.”
Budi menyingkirkan belatinya dari leher Jiecie yang membuatnya begitu terkejut. Tetapi tidak membuang kesempatan, Jiecie segera mengambil belati yang dia simpan di paha lalu mengayunkannya ke wajah Budi.
Teriakan kera pria itu terdengar membuat anggota organisasi yang sejak tadi menembaki Budi dengan kuda dan Liliana, seketika merasa berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
Semua orang dibuat terkejut melihat Budi berada di samping Jiecie, terkapar dengan darah mengalir dari luka di wajahnya.
“Jal4ng sialan! Apa yang kau lakukan.” teriak Budi sambil menutupi wajahnya yang terluka.
“Hahahaha, dasar bodoh. Kau pikir aku akan sudi berbicara dengan mu, HAH!.” Jiecie tersenyum lebar.
Dia sempat berpikir akan sulit lolos dari pemuda dengan kekuatan yang tidak diketahui, tetapi ternyata tidak sesulit ia bayangkan. Jiecie berpikir dirinya sudah berhasil menumbangkan Budi, buktinya adalah pemuda itu tergeletak kesakitan di depannya.
Tetapi masalahnya...
“Jika pemuda itu ada di situ, lalu di depan kita siapa?.” perkataan Ferdinand membuat semua orang kembali memusatkan perhatian pada jalan.
Terlihat Budi masih ada di sana, duduk tenang di atas Pushrank dengan Liliana yang memeluknya dari belakang. Senyum pemuda itu mengembang, terlihat bodoh tapi juga mengejek.
Semua orang kemudian dipenuhi oleh kebingungan, bagaimana bisa ada dua Budi?.
Tetapi semuanya segera terjawab ketika Budi yang terluka di samping Jiecie perlahan berubah menjadi Ridwan si mantan polisi.
“Sialan, ini sebuah hologram!.” ucap Jiecie.
Semua orang pun segera sadar. Pernyataan Jiecie seakan menjadi jawaban kenapa Budi di depan mereka tidak bisa ditembak.
“Itu dia!.”
Jiecie menembak sebuah titik kecil tepat 20 meter di atas kepala Budi. Setelah titik itu tertembak, Budi di depan mereka pun menghilang.
“Itu benar-benar hanya sebuah hologram.”
Ferdinand terpukau dengan kecanggihan teknologi yang di gunakan oleh Budi. Hologram yang dia lihat begitu nyata hingga dia tidak mampu membedakan apakah itu asli atau tidak.
Setiap orang menjadi waspada karena mereka tidak tahu keberadaan penyerang. Lampu truk yang menjadi sumber penerangan berkedip beberapa kali hingga akhirnya mati total, membuat Jiecie hanya bisa mengandalkan penerangan dari senter yang terpasang pada moncong senapan.
“Keluar kau, jangan menjadi seorang pengecut!.” seru Ferdinand sambil mengarahkan sebuah pistol.
Lalu tiba-tiba...
“Bhaaak...”
Ferdinand terpental hingga tubuhnya membentur badan truk, mantan Pelayan Liliana itu pingsan seketika.
Terdapat luka lebam di wajahnya sehingga setiap orang yang melihatnya mengaggap jika Ferdinand di serang dengan pukulan.
“Aaaaa!.”
__ADS_1
Setelah Ferdinand, dua penjaga yang berada di atas atap truk terjatuh. Sudah dapat dipastikan mereka jatuh bukan karena terpeleset melainkan karena mendapatkan serangan.
Seperti juga kehilangan kesadaran seperti Ferdinand.
“Sialan!.”
Jiecie memaki kertas karena tidak dapat melihat bagaimana lawannya mengalahkan anak buahnya.
Wanita itu merasa jika seseorang sedang berdiri di belakangnya dan menutupi matanya dengan kedua tangan sehingga Jiecie tidak dapat melihat apa pun.
“Hah!.”
Terlihat sekelebatan bayangan sempat dia lihat. Jiecie yang jika bayangan itu adalah Budi yang bergerak begitu cepat.
“Gyaaaa!.”
Suara teriakan anak buahnya yang ditumbangkan kembali ia dengar. Semakin lama suara itu semakin banyak, Jiecie merasa hanya bisa menunggu hingga gilirannya untuk di eksekusi.
{Halo!}
Tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi, mendengar suara dari ponsel Jiecie segera mengangkat telepon untuk menjawab panggilan dari seorang yang tidak diketahui tempatnya dimana.
{Jiecie apa kau sudah sampai di tempat kakak mu?.}
Suara dari ponsel terdengar serak seperti pemiliknya adalah orang yang begitu tua.
“Tidak ini sangat kacau. Kami dicegat oleh seseorang di tengah jalan, dan kini dia menyerang kami!.”
{Kau di serang!}
Suara teriakan kembali terdengar, Jiecie sadar ini adalah gilirannya untuk mendapatkan serangan karena tidak ada lagi yang memperdulikannya.
Jiecie menembak secara membabi-buta ketika melihat bayangan yang bergerak kearahnya, namun tidak ada satupun peluru yang mengenai Budi.
{Jiecie ada apa!.}
Suara kakek tua dalam ponsel terdengar panik. Hingga ketika suara Jiecie terdengar. Mendengar kepanikan pria tua itu semakin kuat.
Budi yang telah berurusan dengan anggota Gamprit, sekarang hanya tersisa Jiecie yang belum dia buat kehidupan kesadaran.
Pemuda itu berlari dengan cepat ke arah Jiecie, wanita itu segera menembak Budi yang tiba-tiba muncul di depannya, namun gerakan pemuda cacat itu sangat cepat sehingga tidak ada satupun peluru yang mengenainya.
BRAK! Budi menabrak tubuh Jiecie begitu keras hingga wanita itu terpental membentur badan truk. Jiecie kehilangan kesadaran untuk sesaat, tetapi Budi segera menyadarkan wanita itu kembali dengan membenturkan kepalanya ke truk.
Suara jeritan Jiecie pecak ketika merasakan sakit dari perlakuan kasar Budi, dari kejauhan Liliana hanya melihat penyerangan itu tanpa melakukan apa pun.
Melihat jika semua anggota organisasi Gamprit sudah di netralisir, Liliana yang mengendarai Pushrank mulai mendekat.
{Jiecie katakan apa yang sedang terjadi!}
Suara pria tua masih terdengar di ponsel. Jiecie hanya menatap ponsel yang tergeletak di jalanan dengan wajah yang sulit. Tubuhnya saat ini dikunci oleh Budi.
“Kau dilarang meninggalkan kota nona.” bisik Budi dari belakang. “Karena kau belum mendapatkan izin dariku.” tubuh Jiecie langsung bergidik, dia merasa seperti gadis yang baru saja jatuh dalam tipu muslihat om-om mesum.
Energi berwarna biru keluar dari tubuh Budi, energi itu membentuk sebuah tangan yang kemudian mengambil ponsel. Energi biru itu jugalah yang sangat ini menggantikan tangan Budi mengunci tubuh Jiecie.
“Halo pria tua.” Budi menyapa pemilik suara di ponsel, sementara itu tatapannya tertuju pada bagian belakang Jiecie.
__ADS_1
Tangan energi Budi buat lebih menekan sehingga tubuh Jiecie semua rendang dan membuatnya agak menungging.
Senyum Budi mulia melebar.
{Siapa ini, apa yang akan kau lakukan dengan cucuku!}
Suara pria tua penuh dengan ancaman. Tetapi Budi justru semakin senang. Dia segera menarik ke bawah celana hitam ketat yang Jiecie gunakan beserta dalamnya, membuat bagian belakang wanita itu terekspos begitu jelas.
“Aku akan memberikan hukuman pada wanita nakal sepertimu.”
Pak!
“Aah!.”
{Jiecie apa yang terjadi!}
Budi menampar keras bumper belakang Jiecie hingga membuatnya berteriak.
“Apa yang akan aku lakukan pada cucu tersayang mu, yah? Kau bisa menebaknya?.”
Tangan Budi dengan kasar merengsek masuk kedalam sela kaki Jiecie lalu mencengkram lembah wanita itu membuatnya kembali menjerit, tetapi tidak sekeras saat Budi menekan mutiara Jiecie.
{Dasar bedebah, aku akan memastikan seluruh keluargamu dan orang yang kau sayangi mati di depan matamu}
Kakek Jiecie begitu emosi mendengar suara cucunya yang sedang dilecehkan. Sementara Jiecie sendiri begitu lemas setelah mendapatkan siksaan dari Budi.
“Ahahaha... cucumu pasti akan menjadi keledai yang sangat menyenangkan untuk diajak bermain, aku sudah tidak sabar untuk menaikinya.”
{Sialan!}
Budi mulia membuka celananya sendiri, hingga suara batuk terdengar di sampingnya. Itu berasal dari Liliana yang dari tadi menonton.
“Apa kau sungguh akan melakukannya?.” tanya Liliana dengan tidak yakin.
“Tentu.”
Budi mengeluarkan torpedo miliknya, melihat itu Liliana agak terkejut.
“Apa kau keberadaan Nona Liliana keberatan?.” Budi bertanya sambil mengusap miliknya.
“Tidak,” tatapan Liliana tidak bisa lepas Ari milik Budi yang sudah begitu tegak, “Kau bebas melakukan apapun pada para kriminal.”
Mendengar pernyataan itu, Budi langsung memasukkan miliknya pada lubang Jiecie yang membuat wanita itu kembali berteriak.
Liliana terus menonton dananya baik turun merasakan gairah yang semakin naik. Dia sangat menikmati bagaimana Budi memberikan pelajaran pada anggota organisasi Gamprit.
Sementara itu telephon masih tersambung, suara Jiecie terus diperdebatkan pada kakeknya.
“Ahahaha... aku akan menggauli cucumu setiap hari dan meng-upload videonya di Yutyut biru, kau pasti akan senang melihatnya.”
Provinsi Budi membuat kakek Jiecie begitu emosi hingga dia terkenal serangan jantung sehingga harus dirawat.
Rencana Budi akhirnya berhasil, organisasi Gamprit saat ini kehilangan pemimpin mereka. Dia berharap agar terjadi perpecahan di dalam organisasi itu.
“Sementara itu kau akan terus menjadi keledai ku yang jinak bukan?.”
Plak!
__ADS_1
“Agh!”