
[Chapter dewa lagi]
***
Beberapa kali pengunjung datang untuk menanyakan keberadaan Siti, mereka seakan datang ke toko hanya untuk melihat Gadis itu.
“Dia sedang berusaha meredakan gejolak dalam dirinya.”
Budi memberikan jawaban yang agak ambigu pada beberapa orang di depannya.
“Gejolak? Apa dia sakit perut atau semacamnya?.”
“Pantas tadi aku melihat wajahnya begitu merah.”
Mereka mulai mengobrol di depan meja kasir tanpa peduli jika mereka telah mengganggu bisnis toko ini.
“Aku yakin sebentar lagi dia akan selesai.” lanjut Budi sambil melirik ke bawah.
“Jadi apa ada yang ingin kalian beli?.” lanjut Budi.
Tiga orang Itu hanya membalas dengan tatapan sinis seakan tidak peduli dengan keberadaan Budi.
Tangan pemuda itu menarik rambut gadis dibawahnya. Mengerti jika Budi hampir mencapai batasnya, Siti pun membuka lebar mulutnya bersiap untuk mengambil semua yang Budi berikan.
“Uhg.... Ssshh, jika tidak ingin membeli sesuatu, silahkan kalian pergi.” wajah Budi menjadi sulit saat mengatakan itu.
“Hah! Apa yang kau katakan?.” salah satu pemuda terlihat marah mendengar perkataan Budi.
“Apa yang dia katakan barusan?.”
“Dasar bodoh, dia lupa dengan dirinya sendiri.”
Ketiganya menatap Budi begitu revdah, menganggap diri mereka sangat penting bagi toko ini. Budi tidak tahu kenapa merasa berpikir seperti itu.
“Sudah aku katakan jika tidak ingin membeli apapun maka keluarlah dari toko ku sialan!.”
Budi semakin marah, dia menghentakkan pinggulnya dengan keras membuat Siti terbelalak saat tenggorokannya dijejali dosis besar.
“Apa kalian berencana tetap berada di sini agar menakuti para pengunjung yang akan datang,, Hah?.”
Tidak ada jawaban dari ketiganya. Walaupun banyak kata yang bisa mereka ucapkan, tetapi entah kenapa kemarahan Budi membuat mereka merasa takut hingga membuat mereka tidak bisa berpikir.
Bukan hanya ketiga pemuda di depan kasir, tetapi semua pengunjung di toko pun merasakan ketakutan yang sama.
Budi, pemuda cacat yang selalu mereka anggap lemah dan tidak mampu melakukan apa pun. Tidak disangka bisa membuat para Hunter seperti mereka ketakutan hanya dengan bentakan.
Di saat kemarahannya Budi mempercepat gerakan membuat mata Siti menatap ke atas hingga sepenuhnya menjadi putih, bagian bawah pun sudah basah kuyup.
Walaupun saat ini dia yang sedang memberikan perawatan pada Bos nya. Namun justru Siti yang merasa keenakan.
__ADS_1
“Kalian pasti tahu bukan jika toko ini didukung oleh Walikota dan memiliki hubungan kerjasama dengan Perusahaan Ceplik dan guild Legion Teapot?.”
Senyum Budi melebar melihat para pengunjung yang mulai khawatir. Karena tentu saja mereka tahu dari mana semua item sihir dan senjata yang beredar di seluruh kota.
Toko Asongan adalah pemasok utama lampu sihir yang menerangi kota saat malam hari dan menjauhkan para monster
Kehadiran tokonya juga berperan besar dalam memajukan perekonomian kota. Karena semua itu tentu wali kota akan melindungi Budi.
Perusahaan Ceplik menjual berbagai macam item sihir dan potions, 70% barang yang mereka jual berasal dari toko ini.
Legion Teapot, Guild terbaik di kota Sawi mendapatkan suplai potions dan senjata juga dari toko ini.
Tiga kekuatan puncak berada di belakang Budi.
Seakan mendapatkan pukulan keras di kepala. Mereka baru saja sadar jika Budi bukan seseorang yang bisa mereka gertak begitu mudah.
“Apa kalian baru saja sadar dari ketololan kalian? Sekarang enyahlah sebelum aku menghubungi Raya dan meminta dia mengirim beberapa anggota guild untuk mengusir lalat pengganggu seperti kalian.”
Budi mengatakan semuanya dengan penuh kesombongan, itu membuat para pengunjung yang merasa lebih baik menjadi marah.
Tetapi sadar akan ancaman Budi bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan membuat mereka mulai panik.
Ketakutan dengan ancaman Budi, semua pengunjung pun segera kabur meninggalkan Toko.
Toko pun menjadi seperti. Namun Budi seakan senang dengan itu.
Wajahnya menatap ke atas saat melepaskan stresnya yang menumpuk. Entah stres karena selalu dipandang rendah oleh orang bodoh, ati yang lainnya.
Yang pasti Budi merasa sangat lega
Sementara di bawah Siti mengalami kesulitan menerima semua yang Bos nya berikan.
“Ugh...”
Siti tersedak membuat hidungnya mengeluarkan cairan kental.
Bagian bawah Gadis itu kembali bocor untuk kesekian kalinya, membuat Siti hampir kehilangan kesadaran karena kenikmatan yang dia rasakan.
Melihat itu Budi merasa sangat puas. Dia menarik keluar miliknya dari dalam mulut Siti yang masih melayang seperti orang teler.
Gadis itu bahkan masih tidak bereaksi saat Budi memasukkan jempolnya untuk melihat rongga mulutnya.
Sorot mata yang sayup, Siti membuka lebar mulut kotornya dan mengeluarkan lidah yang dipenuhi semen.
Dia terlihat sangat eksotis.
Plak! Tiba-tiba Budi menampar pipi gadis itu membuatnya terperanjat kaget. Namun setelah beberapa waktu Siti tersenyum cerah.
“Terimakasih Bos, itu adalah semen terenak yang pernah aku rasakan.”
__ADS_1
Siti terkejut ketika bangkit dari bawah meja namun mendapati toko begitu sepi, tidak ada seorangpun yang ada di dalam toko kecuali merupakan berdua.
‘Sepertinya dia begitu hanyut dalam permainannya hingga tidak sadar dengan keributan yang aku buat.’
Melihat kebingungan Siti, Budi pun menceritakan apa yang terjadi saat dia merawat adik lelakinya.
Mendengar penjelasan Budi membuat Siti merasa lega, dia juga merasa terganggu dengan kehadiran pengunjung yang datang ke toko hanya untuk memperhatikannya.
Itu terjadi sejak kemarin, beberapa orang datang hanya untuk mencuri pandang padanya.
Akibat banyaknya orang di dalam toko membuat pengunjung yang memang datang dengan niat membeli sesuatu akhirnya memutuskan untuk mengurutkan niatnya.
“Kenapa kau tidak usir mereka saja dari awal?.”
“Itu tidak mungkin tanpa seizin Bos. Jika aku mengusir mereka bisa berpengaruh buruk pada bisnis, aku takut itu akan merugikan toko.”
Budi tertawa terbahak-bahak mendengar balasan Siti.
“Jangan khawatir toko ini akan sepi, karena saat ini belum ada toko yang menjual item sebagus di toko ini. harganya pun murah.”
Budi merasa yakin jika tokonya akan terus menjadi pilihan terbaik para Hunter mendapatkan item berkualitas dengan harga bersahabat.
“Tapi bos juga harus ingat jika roda itu terus berputar. mungkin saja nanti ada orang muncul entah darimana mana yang memiliki keahlian membuat senjata, item sihir dan potion yang lebih baik dari bos.”
Siti hanya ingin mengingatkan agar Budi tidak menjadi sombong.
Budi berpikir hanya gurunya yang memiliki keahlian lebih tinggi darinya. Tetapi Tohir sang Dwarf tidak mungkin menjadi rival bisnisnya.
“Ya itu memang mungkin terjadi.”
Melihat keadaan toko yang sepi membuat Siti tanpa sungkan menawarkan tubuhnya untuk Budi. Tetapi pemuda itu menolak dengan alasan sudah terlambat untuk bekerja.
Siti yang mendengar itu langsung kecewa, dia merasa seperti seorang latjur yang tertolak setelah menawarkan tubuhnya secara gratis.
Itu melukai harga diri Siti. Namun semua berakhir setelah Budi mengatakan ingin menghabiskan malam ini bersamanya.
“Setelah menutup toko datanglah ke area terlarang. Aku akan menyambut kedatangan mi.”
“Area terlarang? Bukankah tempat itu tidak boleh dimasuki oleh orang tidak berkepentingan?.”
“Ya tapi kau kan memiliki kepentingan itu.”
Setelah mencapai kesepakatan, Budi pun akhirnya bisa meninggalkan tokonya.
Dia mampir ke restoran yang sebelumnya merupakan posko pembagian makanan. Kedatangannya bertujuan untuk menempelkan surat permintaan ke papan pengumuman di dalam restoran itu.
***
Bersambung
__ADS_1