Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
120. Memasuki Kota Jati


__ADS_3

Tangji saat ini sedang berada di kota Toge karena ingin meminta bantuan pada militer melalui koneksi organisasi Gamprit.


Dia ingin membalas kekalahannya pada Rango, namun Tangji sadar jika dirinya tidak dapat melakukan pembalasan itu seorang diri.


Kekuatan Geng The Daki telah menurun akibat kekalahan itu, ditambah kutukan dari kontrak sihir membuatnya tidak dapat melakukan apa pun untuk melakukan tindakan berbahaya pada semua penduduk kota Sawi.


Akibatnya cara licik yang selalu Tangji gunakan untuk melemahkan musuhnya, yakni dengan membunuh satu persatu kerabat atau orang terdekat musuhnya, kini tidak dapat Tangji lakukan.


Karena dia tidak bisa melakukannya dengan tangan sendiri, Tangji pun berniat untuk menggunakan tangan orang lain.


Tetapi rencana itu ditentang oleh pemimpin organisasi Gamprit yang tidak lain adalah kakeknya sendiri.


Dengan alasan jika Rango terlalu kuat, hingga usaha balas dendam hanya tindakan sia-sia, Gicheng pun menarik bantuannya pada cucunya itu.


“Kenapa kau membiarkan penghinaan seperti ini begitu saja, bagaimana dengan nasib adikku?.”


[Balas dendam hanya karena nama baik bukanlah sesuatu yang perlu dipedulikan oleh organisasi, terlebih jika lawan yang kita hadapi adalah sesuatu yang masihlah belum diketahui kekuatan dan kelemahannya]


Tangji berbicara dengan ketua organisasi Gamprit lewat telepon satelit.


[Perusahaan Ceplik dari kota Sawi telah memberikan keuntungan yang besar untuk kita. Kau tidak diperbolehkan untuk mengganggu kota itu untuk saat ini]


Tangji semakin marah pada kakeknya sendiri karena lebih mementingkan keuntungan atas hubungan kerjasama dengan sebuah perusahaan yang diketahui salah satu pendirinya adalah orang yang sangat dia benci


“Rango sialan itu.”


Karena amarah Tangji mengeratkan giginya hingga gusinya mulai berdarah.


“Lalu bagaimana dengan adikku?.”


Pemimpin Geng The Daki itu sebenarnya tidak terlalu peduli dengan nasib adiknya yakni Jie cie yang kini masih ditawan oleh Rango.


Dia hanya ingin menggunakan alasan penyelamatan adiknya untuk menyerang kota Sawi.


[Dia hidup dengan nyaman di sana. Bahkan lebih baik lagi dia mendapatkan posisi sebagai sekertaris CEO perusahaan Ceplik. Dia sering menghubungi ku saat melakukan perdagangan, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang adikmu]


“Kerh...”


Balas dari kakeknya seketika melenyapkan harapan terakhir Tangji untuk mendapatkan dukungan dari organisasi Gamprit dalam rencana balas dendam.


Tanpa bantuan dari koneksi kakeknya, Tangji tidak dapat berbuat apa pun.


Namun seakan keberuntungan sedang berpihak padanya, Tangji mendapatkan kabar jika seorang jenderal militer telah dipermalukan oleh Hunter kota Sawi.


Tangji melihat peluang dari informasi itu, dia akan mendekati Jendral tersebut yang akan ia manfaatkan demi membalaskan dendamnya.


Tiba-tiba datang seorang wanita dengan mata kanan tertutupi seperti seorang bajak laut.


“Bos, ada laporan dari anggota kita yang berjaga di markas kota Jati jika Rango dan pemimpin guild Legion Teapot terlihat mendekat.”

__ADS_1


Wink ahli menembak di Geng The Daki memberikan laporannya.


Mendengar informasi itu tentu membuat dahi Tangji mengernyit. Dia berpikir keras untuk menebak tujuan musuh besarnya mendatangi kota yang telah dia taklukan.


“Apa yang mereka lakukan di kota ku?.”


“Anggota kita mengatakan jika keduanya datang ke kota untuk memasuki Dungeon.”


Mendengar itu Tangji semakin marah karena takut jika Rango akan merebut Dungeon kota Sawi yang sudah menjadi tambang material dan batu monster untuk Genk The Daki.


Jika saja dia bisa meminta pada anak buahnya untuk melawan para pengusir itu, namun Tangji tidak dapat melakukan Itu.


Karena kontrak sihir membuat seluruh anggota geng tidak dapat melakukan serangan pada Rango.


“Andai saja aku tahu kontrak itu akan memiliki efek seperti ini.”


Dia kembali mengingat rasa sakit yang tiba-tiba Tangji rasakan kemarin. Itu terjadi karena efek pelanggaran kontrak saat anggota Genk the Daki mengirim ribuan warga kota Jati.


Rasa sakit yang begitu luar biasa, Tangji tidak ingin merasakan itu lagi seumur hidupnya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan.”


Tangji dihadapkan dengan dilema besar, kepalanya begitu sakit seolah hampir saja meledak karena memikirkan masalah yang dia dapat dari sosok kadal bertopeng.


***


Tiba di kota Jati, Budi dan Raya langsung disambut oleh puluhan bandit yang mencoba merampok mereka.


Saat ini Budi telah mengenakan topeng yang khas dari sosok Rango. Dia pikir jika menggunakan topeng itu bisa membuatnya lepas dari para bandit.


Tetapi dugaan Budi salah, para bandit itu masih saja berusaha menyerangnya.


Namun tidak ada satupun bandit yang mampu melukai mereka karena perlindungan dari kontrak sihir.


Itu berarti para bandit adalah anggota dari Genk Daki.


“Semoga hari kalian menyenangkan.”


Ucap Budi saat meninggalkan para bandit yang terkapar di tanah menahan rasa sakit akibat kutukan kontrak sihir.


Melihat jika rekan mereka sekarat tanpa memberikan perlawanan, anggota geng Daki yang lain pun mengurungkan niatnya. Mereka pada akhirnya membiarkan Budi memasuki Kota.


“Sangat mengerikan,” komentar Raya begitu ia memasuki kota Jati.


Banyak anak-anak terkapar di pinggir jalan karena kelaparan, mayat digantung pada tiang listrik dan banyak orang bekerja sebagai budak dengan rantai di kaki mereka.


Melihat keadaan kota Jati membuat emosi Raya memuncak, namun Budi meminta gadis itu untuk menahan diri.


“Bukan kewajiban kita untuk menolong semua orang.” ucapnya.

__ADS_1


Namun dia sendiri pun tidak mungkin membiarkan warga kota Jati terus menderita. Budi berpikir harus melakukan sesuatu atau semuanya akan meninggalkan perasaan tidak menyenangkan untuknya.


“Mari rekam apa yang terjadi di sini, lalu lihat apa yang akan dilakukan oleh pemerintah.”


Daripada merepotkan diri sendiri, Budi lebih memilih untuk menggunakan kekuatan pihak lain yang memang semestinya bertanggung jawab.


Tetapi kali ini justru Raya yang tidak merasa yakin.


“Aku kurang yakin jika pemerintah akan melakukan sesuatu dengan keadaan kota ini.”


Gadis itu begitu pesimis dengan pemerintah negerinya sendiri. Budi pun demikian, tetapi dia masih memiliki rencana lain yakni menyebarkan melalui media sosial, dia berharap itu akan menjadi viral.


“Walaupun aku tidak yakin ada orang yang peduli dengan nasib orang lain di masa seperti ini.”


Setelah beberapa saat mengambil gambar tentang keadaan kota, Budi pun kembali mengarahkan Pushrank menuju Dungeon.


Penjara bawah tanah dilindungi oleh belasan anggota geng Daki, mereka juga melihat berapa warga kota dipaksa masuk untuk berburu monster.


“Aaaa tidak, aku mohon selamatkan Ayahku!.”


Seorang pemuda menjerit histeris dengan darah mengalir di kepalanya. Sepertinya pemuda itu telah terluka pukulan senjata tumpul di kepalanya.


“Bajingan diamlah!.”


Salah seorang anggota geng the Daki menghajar wajah pemuda itu hingga tersungkur di tanah.


“Tidak ada yang bisa selamat dari pukulan Oger, ayahmu sudah pasti mati di dalam sana!.” bentak anggota geng dengan begitu keras.


“Tidak aku melihatnya jika ia masih hidup!.”


“Diam kau sialan!.”


Kegigihan pemuda itu membuat Genk The Daki yang berbicara dengannya semakin marah, akibatnya pemuda itu pun mendapatkan pukulan lainnya.


Tidak tahan dengan apa yang ia lihat, Raya pun segera melompat dari punggung kuda lalu dalam sekejap berada di depan pemuda itu untuk melindunginya.


“Uwaah!.”


Anggota geng Daki terkejut karena tiba-tiba Raya sudah berada di depannya. Melihat orang asing menganggu, pria itu pun mengarahkan kemarahannya pada Raya.


“Sialan, kau berani... ghaaak!.”


Seperti yang lainnya, anggota geng Daki itu berusaha menyerang Raya namun dia segera terkapar di tanah karena sekujur tubuhnya tiba-tiba merasakan sakit.


"Kau tidak apa-apa?."


Melihat anggota geng Daki tidak dapat melukainya, Raya beralih memperhatikan pemuda yang hendak ia tolong.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2