Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
52. Memasak Bersama


__ADS_3

Dengan keahlian (Pengrajin kayu) dari pekerjaan (Tukang kayu) membuat Budi dapat dengan mudah dan cepat mengubah satu batang pohon menjadi berbagai macam perabotan.


“Luar biasa, kau membuat meja ini begitu indah. Aku yakin kau akan mendapatkan banyak uang jika menjualnya.” puji Yuki Setelah melihat hasil akhir dari kerajinan kayu yang dibuat Budi.


“Tidak hanya terlihat cantik, kursi ini terasa nyaman dan kuat.” ucap Raya yang juga kagum dengan kemahiran Budi mengolah kayu.


“Ahahaha... itu bukan masalah besar untukku.” mendapat banyak pujian dari dua gadis cantik membuat kesombongan Budi semakin tumbuh besar, hidungnya bahkan terlihat mulai memanjang.


Setelah itu Budi meletakkan perabotan yang baru dia buat di ruang bawah tanah dimana perapian berada. Selanjutnya pemuda itu mengeluarkan beberapa benda yang akan dia jual ketika toko sudah siap di buka.


Yuki menjadi bersemangat saat melihat barang yang akan dijual Budi salah satunya adalah item sihir. “Uwaa... ini adalah kompor sihir yang katanya cuma Hoax.” ucapnya sambil mengamati sebuah alat dengan ukiran huruf sihir yang disebut juga sebagai Rune.


Rune adalah mantra sihir yang menyimpan keajaiban sesuai dengan apa yang tertera pada mantra tersebut. Jika mantra sihir bertuliskan api maka jika diaktifkan akan menghasilkan api dari mantra sihir tersebut.


Ketika Raya menghidupkan kompor sihir seperti kompor biasa, Rune yang terukir di kompor mulai menyala kemudian api pun tercipta.


“Sangat praktis.” gumam Raya.


Melihat kompor sihir yang sangat praktis membuat Yuki mulai memikirkan keuntungan yang bisa diperoleh jika memproduksi secara masal item sihir Itu.


Tetapi masalahnya saat ini tidak banyak, bahkan mungkin hanya satu orang yang bisa membuat item sihir yaitu Budi.


Sudah beberapa bulan lalu Goblin Factory memposting cara untuk membuat item sihir, namun sampai sekarang belum ada yang bisa menirunya.


Masalah utamanya adalah manusia saat ini belum banyak yang mengetahui bagaimana mengolah energi sihir, perbedaan job juga menjadi masalah lainnya.


Karena itulah informasi yang diberikan oleh akun Goblin Factory mengenai pembuatan item sihir dianggap sebagai Hoax karena belum ada orang lain yang membuktikan kebenarannya.


“Akan menjadi keributan jika kau mulai menjual item sihir sekarang.” ucap Raya.


“Ya aku sadar itu. Namun ini akan sangat membantu warga jika mereka memiliknya.” ujar Budi. Kedua gadis hanya tersenyum kecil melihat kebaikan hati Budi yang peduli dengan keadaan warga saat ini.


Item sihir lainnya yang dijual oleh Budi selain kompor sihir adalah lampu ajaib. Yuki mengatakan akan membeli semua stok lampau sihir yang Budi miliki untuk penerangan kota.

__ADS_1


Budi setuju dengan itu, mereka pun melakukan transaksi perdagangan menggunakan inti monster karena tentunya saat ini uang tidak bisa digunakan.


Tidak lama kemudian Yuniar dan Rohid datang ke toko itu, mereka berniat membantu Budi menyiapkan toko yang akan di buka besok. Beragam Senjata dan Armor di gantung dengan rapi sementara Ramuan penyembuhan maupun penawar racun berjejer rapi di atas rak.


Toko itu terlihat begitu siap untuk dibuka.


“Terimakasih, aku sangat terbantu.” ucap Budi sambil menundukan kepalanya. Dia pun mengundang mereka semua untuk makan malam bersamanya.


Lantai dua digunakan sebagai hunian, terdapat dapur dan ruang makan. Semua orang menunggu saat Budi tengah memasak, mereka menonton siaran televisi untuk mengisi waktu luang.


“Baunya tercium sangat lezat. Aku tidak menyangka jika kau bisa memasak.” puji Yuniar yang mencoba membantu Budi memasak.


“Seseorang mengajariku.” wajah Budi terlihat pucat seolah mengingat sesuatu yang mengerikan, “Dengan begitu keras.”


Budi teringat bagaimana sulitnya dia menguasai keahlian memasak, itu adalah usaha keras yang dipenuhi oleh darah dan air mata. Budi bahkan berpikir jika belajar memasak lebih sulit daripada menjelajahi Dungeon atau melawan monster.


Itu karena guru yang mengajarinya tidak lain adalah Jek si gadis goblin.


Gadi berkulit hijau itu selalu menghukum Budi dengan keras jika pemuda itu membuat makanan yang buruk. Namun berkat pengajaran yang begitu keras juga lah yang membuat Budi akhirnya bisa memasak makanan yang bisa dimakan.


“Ah...” wajah Yuniar begitu merah saat melihat milik Budi sudah tumbuh begitu tegak hingga terlihat jelas menonjol.


“Maaf.” Budi merasa malu memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas pada wanita itu.


“Ti... tidak apa.” walaupun wanita itu terus berpaling namun lirikannya terus tertuju pada Budi.


Budi akhirnya menghela nafas panjang seakan baru saja melepaskan beban berat. Yuniar yang melihat pemuda itu hanya bisa menebak-nebak apa yang Budi saat ini pikirkan.


“Aku tidak bisa melupakan apa yang terjadi kemarin malam.”


Klontang! Yuniar menjatuhkan spatula ditangannya. Suara yang ditimbulkan cukup keras hingga membuat perhatian setiap orang di ruang makan menjadi teralihkan.


“Apa sesuatu terjadi?.” tanya Raya yang terlihat khawatir.

__ADS_1


Yuniar yang panik pun menjawab, “Aku hanya menjatuhkan spatula karena cipratan minyak.” melihat tidak ada masalah serius mereka pun kembali fokus untuk melihat televisi.


Yuniar berusaha untuk tetap tenang, dia kembali pada masakannya. “Seharusnya kau melupakan apa yang terjadi, Malam itu hanya sebuah kesalahan.”


“Walaupun kau mengatakan seperti itu, tetapi yang aku lihat kau juga sama tidak seperti ku.”


Yuniar tidak mengatakan apa pun, dia menutup mulutnya dengan menggigit bibirnya sendiri, seakan tengah mengalami dilema besar dalam dirinya.


“Jadi kenapa bibi membantuku?.”


“Apa itu tentang memasak?.”


“Ya, bibi pikir apa lagi?.”


“Kuh. Aku hanya tidak ingin kau membuat sesuatu yang buruk dan mempermalukan diri sendiri.”


“Heeeeh, bukankah bibi begitu perhatian padaku?.”


Budi terus mencoba mengajak Yuniar berbicara untuk mengurangi ketegangan. Yuniar pun tidak memiliki niat untuk menjauhi pemuda itu hanya karena apa yang terjadi kemarin.


Mereka hanya berbicara seperti biasanya hingga tanpa disadari keduanya menjadi lebih dekat.


Budi sudah mencoba menyembunyikan miliknya, namun itu terasa tidak nyaman dan masih bisa dilihat jika diperhatikan dengan seksama.


“Apa itu menyakitkan?.” tanya Yuniar penasaran melihat Budi menjepit miliknya sendiri.


“Tidak juga, tetapi jujur ini sangat tidak nyaman.”


Walaupun dia ingin membantu tetapi Yuniar tidak bisa melakukannya. Dia adalah seorang ibu dengan dua anak, suaminya meninggal saat mencoba menyelamatkannya.


Entah akan menjadi seperti apa jika wanita itu melewati batasan itu sekali lagi. Namun perasannya semakin tidak menentu, gejolak yang dia rasakan semakin tidak terkendali.


Pada akhirnya semua masakan selesai dimasak. Yuniar akhirnya bisa bernafas lega ketik bisa keluar dari dapur meninggalkan Budi.

__ADS_1


Sebelum makan bersama Yuniar pergi ke kamar mandi, dia menghilang cukup lama hingga akhirnya kembali dengan wajah yang lebih segar.


__ADS_2