
Pertarungan semakin sengit ketika pasukan Hunter semakin dekat dengan Penjara Bawah Tanah. Monster yang datang semakin kuat, ada diantaranya memiliki kekuatan khusus seperti Kelabang landak yang memiliki cangkang berduri, sangat sulit dihadapi karena duri yang tumbuh di sekitar tubuhnya bisa melukai siapapun yang menyerangnya.
“Bertahan!.” Raya memberi perintah untuk menggunakan posisi bertahan pada pasukan terdepan. Berikutnya serangan tembakkan jarum dimuntahkan oleh Kelabang Landak, tetapi tidak ada satupun Hunter yang terluka karena barisan terdepan berlindung di balik perisai.
Ketika Kelabang Landak memberikan serangan, disitulah kelemahannya akan terbuka. Pertahanan monster itu melemah ketika satu persatu duri di tubuhnya lenyap digunakan sebagai amunisi, namun duri itu akan kembali tumbuh hanya dalam satu menit setelah serangan berakhir.
Karena itulah serangan balasan harus dilakukan dengan cepat. Setelah serangan berakhir pertahanan Kelabang Landak terbuka, puluhan anak panah dan beberapa bola api dari sihir menghujani monster itu. Lalu serangan frontal dilancarkan, pasukan Hunter segera menyerang secara bersamaan.
Tangan monster itu pun bergema menandakan kemenangan dari pihak Hunter. Tetapi akhir dari pertempuran masih jauh karena masih banyak monster yang datang.
Setelah berhasil mengalahkan Kelabang Landak, pasukan Hunter segera mengatur posisi untuk menghadapi monster berikutnya sambil terus bergerak maju.
Matahari telah sampai di atas ubun-ubun kepala, sudah enam jam sejak pawai berlangsung. Jarak yang sudah ditempuh oleh pasukan Hunter adalah satu kilometer, hanya tersisa lima ratus meter hingga mereka sampai di tujuan.
“Tebasan cepat!.”
“Tebasan kuat!”
Gadis berambut keemasan panjang menggunakan keahlian pedang begitu cepat, menebas Semut api beberapa kali hingga menumbangkannya.
Sedangkan yang lainnya adalah Gadis berambut hitam pendek, dia hanya memerlukan satu serangan dengan tekanan luar biasa mengenai titik vital lawan dan membunuhnya.
Liliana dan Yuki telah menjadi dua ujung tombak dari pasukan, sementara penggerak tombak itu adalah Raya sendiri. Dari belakang Gadis berambut merah Itu terus memberikan arahan pada setiap pasukan.
Setelah Kelabang Landak, monster yang menghadang pasukan Hunter adalah Semut api, serangga yang sangat merepotkan karena bisa mengeluarkan api dari mulutnya.
Di dalam perut Semut Api juga menyimpan cairan hitam yang mudah terbakar seperti minyak mentah. Jika tidak berhati-hati maka bisa terjadi kebakaran besar.
“Sayang sekali, padahal aku berpikir bisa memanfaatkan semut itu untuk berternak minyak bumi.” Budi menatap Semut Api dengan wajah menyayangkan.
Pemuda yang suka bereksperimen itu sangat senang ketika pertama kali bertemu Semut Api.
Budi berpikir jika ia bisa mengambil Cairan yang mudah terbakar dari tubuh serangga setinggi satu setengah meter itu, lalu mengubahnya menjadi bahan bakar.
__ADS_1
Namun setelah mengetahui jika tubuh Semut Api akan terbakar setelah kematiannya membuat Budi kecewa.
Tetapi melawan Semut Api tidaklah seburuk itu, karena selalu ada sisa material dari semut api entah itu kaki atau gigi taring dan yang terpenting adalah batu monster.
Setelah melawan rombongan belasan Semut Api, pasukan kembali bergerak. Mereka semakin dekat dengan tujuan. Namun mereka kembali berhenti ketika musuh lainnya datang.
“Yang ini akan cukup merepotkan.” ucap Budi yang sudah menyadari monster jenis apa yang sedang menunggu mereka.
Serangan pisau angin datang menyerang, itu adalah serangan paling mematikan sejauh ini. Karena berbentuk gelombang angin membuat serangan itu sulit untuk dideteksi.
Raya hanya bisa meminta pasukannya untuk bergerak perlahan sambil bertahan, sementara belasan pisau angin terus datang mengoyak perisa prajurit garis depan.
“Akan sangat nyaman jika ada seorang Hunter dengan keahlian assassin.” Budi teringat bagaimana dua menghadapi para Belalang Sembah Biru yang menjadi sumber dari serangan Pisau Angin.
Belalang Sembah Biru mungkin memiliki serangan yang menantikan, Pisau Angin yang mereka lempar selain sulit di lihat tetapi juga begitu kuat hingga bisa memotong boleh manusia biasa dengan satu serangan.
Tetapi seperti monster lainnya, Belalang Sembah Biru juga memiliki kelemahan. Monster ini akan sangat fokus pada target serangannya sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar, sehingga bisa dengan mudah dibawa dengan serangan menyelinap.
Jeritan Belalang Sembah Biru tiba-tiba terdengar bersamaan dengan suara gonggongan anjing. Setelah lama dibiarkan akhirnya Roxy bergabung dengan pasukan Hunter untuk membantu.
Satu persatu tangisan Kematian serangga terdengar, Pisau Angin juga semakin jarang hingga akhirnya benar-benar berhenti.
Pasukan Hunter pun dibuat kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, mereka heran bagaimana serangan tiba-tiba saja berhenti.
Sebelumnya sudah ada banyak pasukan di wilayah lain yang mencoba mendekati area Penjara Bawah Tanah. Ujian terberat dari usaha itu adalah serangan Belalang Sembah Biru.
Butuh pengorbanan besar untuk melewati pasukan serangga dengan atribut angin itu. Hingga kini tercatat hanya ratusan pertempuran saja yang berhasil mengalahkan monster itu.
Setelah melewati pasukan Belalang Sembah Biru, pasukan terakhir pun datang untuk menyambut kami. Mereka adalah para penghuni dari arena sekitar Penjara Bawah Tanah. Pasukan yang harus dikalahkan jika ingin penyerangan ini berhasil dengan kemenangan.
“Kita akan berhenti di sini sebentar, gunakan waktu istirahat kalian dengan sebaik-baiknya karena kita akan melakukan pengepungan!.”
Mendengar perintah Raya membuat semua Hunter bernafas lega. Setiap orang akhirnya bisa beristirahat setelah pertempuran penjaga selama beberapa jam yang begitu menegangkan.
__ADS_1
Mereka begitu lelah baik fisik maupun mental.
“Aku tidak percaya kita bisa sejauh ini hanya kurang dari satu hari.”
“Benar, aku pikir akan sulit untuk menghadapi Kelabang Landak. Tetapi tidak aku kira bisa semudah itu.”
“Semut api juga bukan ancaman, walaupun aku sempat merasa takut menghadapi mereka setelah melihat Pertarungan guild Gogole.”
“Aku pun demikian.”
“Tetapi aku masih penasaran bagaimana komandan Raya mengatasi Belalang Sembah Biru.”
Setiap Hunter menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol. Beberapa diantara mereka juga sibuk melihat sosial media untuk mengetahui reaksi para penonton live saat ini.
“Pasukan terakhir sudah di depan mata.”
“Waktu sudah semakin sore, apa yang Raya pikirkan!.”
“Mungkin dia juga ingin membuat pasukan Hunter bertarung dengan setan hahaha.”
“Gadis itu pasti merencanakan sesuatu.”
“Atau dia hanya gadis bodoh yang mabuk karena pujian, ahahaha.”
“Tetapi caranya menggerakkan pasukan patut dipuji.”
“Benar, sudah mencapai tahap terakhir tetapi tidak ada satupun korban jiwa. Bukankah itu sangat luar biasa?.”
Beragam komentar terus mengalir. Membuat para Hunter yang ikut dalam pertempuran merasa senang karena merasa jika pertarungan ini akan menjadi sebuah sejarah dan mereka menjadi bagian dari sejarah itu.
Namun, kekhawatiran mulai muncul ketika melihat matahari yang berada di barat. Bukan hanya para hutan yang khawatir, para warga kota pun demikian, mereka yang menanti kepulangan anggota keluarga terus berdoa untuk keberhasilan penyerangan.
“Baiklah, sudah saatnya untuk bersiap!.” suara Raya segera membuat ratusan Hunter bangkit secara bersamaan.
__ADS_1
“Jangan takut dengan gelapnya malam, karena kita memiliki lampu sihir.” pernyataan Raya cukup membuat kekhawatiran para Hunter meredam.
“Tetapi sepertinya lampu itu tidak akan berguna karena kita akan kembali sebelum matahari terbenam.”