
Saat membuka aku mendapati wajah cantik Siti berada tepat di depanku.
Gadis itu tertidur lelap karena kelelahan setelah permainan panjang kami yang membuat kamarku begitu berantakan.
Melihat layar status aku melihat jam menunjukkan sekitar tiga pagi. Turun dari tempat tidur aku bersiap untuk melakukan rutinitas harian.
“Bos?.”
Terdengar suara Siti yang memanggilku, sepertinya dia terbangun saat aku berusaha menutupi tubuhnya yang tanpa busana dengan selimut.
“Maaf membuatmu terbangun.”
Siti menggelengkan dengan lembut sebagai jawaban. Raut wajahnya yang terlihat masih mengantuk sangat imut.
“Bos mau ke mana?.” tanya Siti yang melihatku mulai memakai baju.
“Aku sudah terbiasa bangun pagi untuk mengisi persediaan toko.” balasku.
Mendengar jawabanku, Siti segera ikut bangun dan mengatur jika akan membantu.
Walaupun aku sudah menyuruhnya untuk tidak memaksakan diri, tetapi gadis itu masih bersikeras.
“Terserah kau saja lah.”
Tidak dapat menolak permintaan seorang gadis, aku pun membiarkannya membantuku.
Aku merasa akhir-akhir ini terlalu lunak dengan wanita.
Sebelumnya aku tidak dapat menolak permintaan raya dan Yuki untuk membangun infrastruktur kota.
Sekarang aku juga tidak dapat menolak permintaan pelayan ku sendiri.
Ya selama permintaan mereka tidak keterlaluan seperti misalnya membuat kota ini melayang di atas langit, maka aku tidak keberatan.
‘Apa yang mereka inginkan bukanlah masalah besar untukku.’
Di dunia ini mungkin hanya aku yang bisa berpikir seperti itu.
Setelah pembangkit listrik, mereka ingin aku membuat tembok besar China mengitari seluruh kota?.
“Ahahaha, tidak masalah. Aku bisa menyelesaikan permintaannya itu hanya dalam satu hari.”
Aku tertawa terbahak-bahak dengan pikiranku sendiri. Sementara itu Siti menunjukkan raut wajah prihatin saat melihatku tertawa sendirian seperti orang gila.
Kami keluar dari kamarku dan segera menuju ruang bawah tanah dimana tempat produksi barang berada.
Siti terlihat takjub saat untuk pertama kalinya dia memasuki ruangan itu, karena sebelumnya tempat itu terlarang untuk ia masuki.
“Aku pikir bos mendapatkan semua barang yang fi jual di toko dari pabrik besar atau semacamnya.”
Siti terus melihat-lihat ruangan produksi yang dipenuhi peralatan, hinga tatapannya terpaku pada area laboratorium tempat aku melakukan eksperimen membuat potions jenis baru.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?.”
“Itu karena barang yang anda jual terlalu banyak, tidak mungkin hanya satu orang yang mengerjakannya.”
__ADS_1
Aku tidak memberinya jawaban, namun langsung memperlihatkan padanya bagaimana aku bekerja.
Mulut Siti terbuka lebar melihatku dengan cekatan membuat pedang dari bahan monster, maupun mengolah herbal menjadi potions.
“O.... okey, Bos memang luar biasa aneh.”
Siti menunjukkan reaksi yang sama seperti mereka yang melihat bagaimana aku mengerjakan sesuatu.
Melihat bagaimana aku bekerja, Siti yang sebelumnya ingin membantu justru merasa akan membuatku report.
Namun saat dua berpamitan untuk meninggalkan riang produksi, aku pun segera mencegahnya.
“Siti bagaimana jika aku mengajarimu cara meramu obat sihir?.”
“Sungguh!?.”
Siti terlihat sangat antusias mendengar tawaranku. Namun seketika wajahnya menunjukkan keraguan.
“Aku tidak memiliki apa pun untuk membayar kebaikan Bos.”
Siti menjadi murung saat mengatakan itu. Dia seakan ingin sekali belajar mengolah obat.
“Kenapa kau berpikir aku akan meminta bayaran? Lagi pula pengetahuan pengolahan herbal sihir bisa kau dapatkan dengan mudah di internet, misalnya postingan goblin factory yang sangat terkenal. Kenapa kau tidak belajar dari sana?.”
Walaupun Siti hanya seorang pelayan, aku pikir dia tidak seburuk itu dalam hal pengetahuan teknologi. Dia pasti pernah menggunakan waktu luangnya untuk belajar sesuatu di media online.
“Tentu aku melakukan hal semacam itu, bahkan aku sudah hafal semua pengetahuan pengolahan herbal sihir dari goblin factory.”
Dia sangat bersemangat saat membicarakan tentang goblin Factory. Dia mengatakan jika sudah sejak lama menjadi fans akun misteri Itu.
“Lalu apa masalahnya?.”
Mendengar pertanyaan itu Siti terdiam sejenak, hingga akhirnya dia mengatakan masalah sepele yang membuatnya tidak dapat belajar menjadi seorang peramu obat.
“Aku tidak bisa mendapatkan herbal.”
Alasan yang sangat sederhana.
Padahal dia selalu berurusan dengan berbagai jenis herbal saat melakukan pekerjaannya sebagai penjaga toko.
Dia bisa saja mengambil beberapa herbal untuk dirinya sendiri, namun Siti tidak ingin melakukan hal buruk seperti mencuri.
‘Yuki telah memberiku seorang pelayan yang luar biasa. Aku mungkin bisa mempercayainya.’
Setelah itu aku pun mengajarinya bagaimana meramu obat sihir. Awalnya dia ragu karena takut menyia-nyiakan herbal berharga.
Tetapi setelah aku membujuknya, Siti pun akhirnya memberanikan diri untuk mulai belajar.
Awalnya Siti sangat tekun belajar menjadi pembuat obat. Tetapi setelah beberapa kali melakukan kesalahan, dia mulai berpikir jika meramu obat bukanlah keahliannya.
Namun aku terus memberikan dia dorongan agar tidak cepat menyerah.
“Kau pikir aku tidak pernah gagal saat belajar membuat potions?.” ucapku sambil mengolah herbal menjadi potions tingkat menengah.
Siti menjadi begitu penasaran setelah melihat potions yang baru aku buat. Dia belum pernah melihat potions seperti itu sebelumnya, dan aku pun tidak menjualnya di toko.
__ADS_1
“Ini adalah potions tingkat menengah.”
“Tingkat menengah?.”
“Benar, potions ini lebih baik dari yang aku jual di toko.”
Potions Lower grade adalah obat sihir yang biasa aku jual di toko. Para peramu pemula bisa membuatnya.
Sedangkan Potions Middle grade hanya bisa dibuat oleh peracik yang sudah memaksimalkan level keahlian Alkemis mereka, hingga membuka keahlian baru bernama Adept Alkemis.
“Bahan yang digunakan tidak jauh berbeda dengan potions peringkat Rendah, namun efek yang dihasilkan bagai langit dan bumi.”
Siti memperhatikan dengan seksama saat aku menerangkan sembari terus membuat potions.
Efek potions peringkat rendah adalah mengurangi rasa sakit dan menghentikan pendarahan.
Regenerasi berjalan lambat. Memerlukan waktu selam satu jam untuk menutup luka. Bahkan jika luka terlalu parah, menggunakan satu potions saja tidak cukup.
Masalah lainnya juga tentang jeda penggunaan. Efek potions tidak akan menumpuk jika digunakan sekaligus.
Setelah meminum potions tingkat rendah, diharuskan menunggu waktu jeda selama dua jam.
Jika memaksa menggunakan potions lain selama waktu jeda maka tidak akan ada pengaruh yang dihasilkan.
“Lalu bagaimana dengan efek potions tingkat menengah?.”
Siti yang penasaran dengan efek potions batu pun bertanya. Tanpa memberikan jawaban, aku segera melakukan pengujian di depannya.
Menggunakan pisau daging aku menguliti lenganku sendiri. Siti terkejut melihatnya, dia tidak tahu kenapa aku melakukan hal gila seperti itu.
Tetapi sebelum Siti mengatakan apa pun, aku segera meminum potions potions tingkat menengah yang baru aku buat. Lalu dengan cepat lengan yang sudah aku kulit kembali beregenerasi.
“Itu sangat gila.”
Siti seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Mengetahui betapa hebatnya efek penyembuhan dari potions tingkat menengah, Siti pun kembali bersemangat untuk menjadi seorang peramu.
Kami menghabiskan dua jam di dalam ruang produksi. Siti telah berhasil membuat beberapa potions, dia terlihat bahagia melihat hasil kerja kerasnya.
“Ini sangat bagus Siti, aku pikir kau memang berbakat menjadi seorang peramu.”
Aku memuji beberapa potions yang berhasil Siti buat. Gadis itu merasa senang mendapatkan pujian ku.
Setelah itu aku mengambil kesempatan untuk mengajak Siti mandi bersama. Siti yang dalam suasana hati baik pun tidak sedikitpun memperlihatkan penolakan.
Hari ini toko mungkin akan buka lebih siang dari jam biasanya. Karena aku menghabiskan waktu yang cukup panjang di dalam kamar mandi bersama Siti.
Sama seperti Yuniar dan Jiecie, Siti seakan menjadi seseorang yang sangat berbeda.
Siti menjadi sangat buas, dia sampai membuatku kesulitan menghadapi permainannya.
Melihat perubahan ketiga perempuan yang aku kencani, membuatku merasa seakan memiliki kekuatan untuk membangkitkan sifat terpendam orang lain.
***
Bersambung
__ADS_1