Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
93. Perburuan 2


__ADS_3

Mark sangat terkejut saat mendapati dirinya di pindahkan ke area hutan tepat di dekat monster Troll. Merasa tidak mampu melawan monster itu seorang diri, Mark memilih untuk mencari anggota tim.


Pria itu merasa sangat beruntung karena dengan cepat dia menemukan empat peserta lain yang dipindahkan di dekat area sekitar.


Tiga orang yang dia temui awalnya menaruh curiga satu sama lain, tidak mungkin bisa mempercayai perkataan orang asing yang baru di temui di saat seperti ini.


Namun setelah mendengar perkataan Mark, mereka pun menurunkan kecurigaan mereka lalu bersedia membentuk tim sementara.


Bersama tiga rekan barunya, Mark menuju area monster yang sebelumnya ia lihat.


Mereka berniat untuk melakukan penaklukan, tetapi tanpa mereka sadari ada orang lain yang juga menargetkan monster itu.


“Tebasan kuat!.”


Datang dari atas, sesosok pria bertopeng mengayunkan sabit besar mengarah ke kepala Troll.


Mark dan anggota tim tidak sadar dengan kedatangan pria bertopeng merah itu, troll pun sama karena perhatiannya terarah pada tim Mark.


Hingga akhirnya senjata berlapis aura itu membelah Troll dari atas kepala ke bawah menjadi dua bagian.


“.........”


Troll tidak dapat mengatakan apapun, serangan dari pria bertopeng merah begitu cepat hingga monster itu tidak sadar tubuhnya terbelah.


Baru setelah darah mulai mengalir dari dahinya, Troll sadar dengan apa yang terjadi. Monster itu ambruk begitu saja di belakang pria bertopeng merah yang sekarang mengalihkan targetnya pada empat peserta.


“Dia kuat!.”


Melihat Troll yang terbunuh dalam satu serangan, keempat orang itu merasa tidak memiliki kesempatan memenangkan penghargaan melawan topeng merah.


Karena tidak ada perundingan.


Keempatnya tidak memiliki pilihan lain selain kabur karena topeng merah dengan terang-terangan menargetkan mereka.


Mark bersama kelompoknya berlari kembali ke hutan berharap bisa bersembunyi. Topeng merah tidak mencoba mengejar mereka, Budi sosok di balik topeng hanya menatap empat peserta berlari mencoba menyelamatkan diri.


Budi tidak merasa perlu repot-repot untuk mengejar, dia memiliki keahlian yang cukup praktis untuk menghabisi orang-orang pada level kelompok Mark.


“Cahaya Api, Laser Bom!.”


Budi mengangkat jari telunjukku ke arah mangsanya berlari, lalu cahaya bersinar dari ujung jari kemudian sebuah sinar laser ditembakkan.

__ADS_1


Serangan sihir milik Wong Pute yang menggunakan elemen cahaya dan api, memiliki daya rusak sangat besar hingga dapat menumbangkan monster peringkat dua dengan mudah.


Kilatan cahaya melewati salah satu rekan Mark.


“Ap.....”


Pria itu tidak tahu apa yang baru saja melewatinya, namun tiba-tiba bau daging terbakar tercium dan lubang besar di wajahnya tepat dimana cahaya itu melewatinya.


Bruk! Pria itu terjatuh begitu saja tanpa tahu apa yang membuatnya terbunuh.


Mark dan sisa temannya ketakutan saat melihat salah satu anggota terbunuh dengan begitu cepat.


Tetapi yang membuat mereka lebih terkejut adalah ledakan besar akibat cahaya dari telunjuk Budi.


Mark dapat selamat karena titik ledakan yang lumayan jauh. Namun dampak dari ledakan membuatnya terhempas cukup kuat.


Dua rekannya yang tersisa pun masih selamat, namun itu tidak akan lama karena tembakan laser berikutnya menghujani seluruh area hutan, ledakan terus terjadi membuat kebakaran lain di sisi hutan.


Mark mendapati dirinya menjadi orang terakhir yang masih selamat dari timnya. Dia berusaha untuk tetap berlari di tengah kobaran api yang membakar hutan.


Tiba-tiba dia tersandung karena kakinya tidak sengaja menendang tanah, lalu sekelebat cahaya melewati Mark membuatnya lolos dari Kematian yang sana seperti rekannya.


“Sial, siapa sebenarnya orang itu. Tidak mungkin bukan ada manusia sekuat itu, apa mungkin dia juga salah satu monster tingkat atas?.”


“Padahal aku belum melakukan apapun...”


Tidak ingin menyerah begitu saja, Mark berusaha menyerang dengan pedangnya. Tetapi api yang keluar dari tangan Budi segera membakar tubuhnya menjadi abu.


[Mengalahkan Mark Broks +40 poin]


Setelah menghabisi anggota terakhir dari Tim pertama yang dia temui, Budi kembali menggunakan deteksi untuk mencari mangsanya yang lain.


“Monster di selatan dan kerumunan peserta di Utara. Mana yang sebaiknya aku hadapi lebih dahulu?.”


Budi ingin menjadi juara pertama dari event ini. Dia memikirkan dua jalan yang bisa digunakan untuk mewujudkan keinginannya.


Cara pertama mendapatkan poin sebanyak mungkin.


Lalu cara kedua adalah mengalahkan peserta lainnya.


Memikirkan efesiensi, cara kedua adalah yang paling mudah. Namun mengingat poin yang didapat bisa ditukar dengan hadiah membuat Budi berpikir untuk menggunakan rencana pertama.

__ADS_1


“Bagaimana jika permainan berakhir saat semua lawan terbunuh. Itu akan membuang kesempatan mendapatkan banyak poin dari mengalahkan monster.”


Pada akhirnya Budi memilih untuk melakukan panen poin lebih dahulu dengan cara melawan monster.


Tetapi semakin banyak poin yang dia peroleh, peserta yang mengincarnya pun semakin banyak.


Sebuah sistem yang membuat peserta dengan jumlah poin terbanyak akan ditunjukkan lokasinya melalui peta sistem.


Budi tidak tahu harus senang atau frustasi dengan para peserta yang terus mendatanginya.


Rencana melakukan panen poin terancam gagal karena permainan kemungkinan akan segera berakhir saat jumlah peserta mulai menipis.


{Hantaman menggelar!}


Sebuah palu besar hampir menghantam kepala Budi yang tengah berhadapan dengan monster.


Tetapi karena sudah tahu serangan itu akan datang, Budi hanya perlu bergeser sedikit untuk menghindar.


Ledakan listrik terjadi saat paku itu menghantam tanah. Pria dengan palu terkejut ketika serangan dari titik buta yang dia pikir akan melukai Budi justru berhasil di hindari.


Dia hendak melakukan serangan lanjutan, namun palu miliknya tidak dapat diangkat karena kaki Budi menginjaknya.


Saat pria itu mengangkat wajahnya untuk menatap Budi, dia dibuat begitu terkejut karena moncong senjata mengarah tepat didepannya.


“Hastala Vista Old Man!.”


Bang! Budi menembakkan shotgun tepat didepan wajah lawannya, membuat wajah pria tua bertubuh berotot itu hancur berantakan.


Namun satu tembakan saja tidak cukup untuk membunuh pria tua Itu, sehingga Budi kembali menembak beberapa kali hingga kepala pria tua tidak lagi ada di tempatnya, itu sudah menjadi bubur daging yang berserakan di mana-mana.


“Hingga shotgun tidak mampu membunuhnya dengan satu tembakan. Pria tua ini pasti memiliki pertahanan berlevel tinggi.”


Selain pria tua dengan palu, Budi juga merasakan kehadiran orang lain di dekatnya. Jumlahnya bukan hanya satu melainkan puluhan, mereka seakan membentuk pasukan untuk melawannya.


Bukan hanya untuk mengalahkan lawan terkuat, mereka juga berharap mendapatkan sebagai poin yang Budi kumpulkan.


“Hadiah setengah poin bagi siapa pun yang berhasil membunuhku, sepertinya sangat menggiurkan untuk mereka.”


Melihat bagaimana Budi mengalihkan pria tua sebelumnya, membuat sebagian orang berpikir Budi tidak begitu kuat karena menggunakan senjata api.


Pikirkan rakus mulai muncul di kepala banyak orang. Mereka menginginkan poin milik Budi untuk diri mereka sendiri.

__ADS_1


Tidak ada rasa saling percaya pada kelompok Itu, begitu Budi di kalahkan, mereka pasti akan bertarung dengan rekan di sampingnya untuk mendapatkan poin.


__ADS_2