
Percikan api bertebaran di sekitar Budi si topeng merah, manakala seluruh proyektil dari tembakan anggota geng the Daki mengenai pelindung dari (Aura) yang dia buat.
Lapisan pelindung biru transparan dari aura melindungi Budi dan Pushrank.
Level dari keahlian pekerjaan Penakluk itu sudah mencapai maksimum sehingga pertahanan menjadi sangat kuat, serangan fisik biasa tidak akan mampu menembusnya.
“Tebasan angin!.”
Memberikan serangan balasan, Budi mengayunkan sabitnya secara vertikal menyebabkan gelombang angin tajam yang bergerak begitu cepat.
Mobil, Tank bahkan aspal jalan sendiri terbelah begitu saja saat dilewati oleh gelombang angin.
“Bagaimana mungkin ada manusia yang bisa melakukan itu! Apa dia benar-benar masih seorang manusia?.”
Tangji begitu terkejut dengan kekuatan yang di tunjukkan oleh Topeng Merah. Dia sendiri merasakan kekuatannya semakin bertambah saat mengalahkan monster, namun tidak sebesar yang dimiliki oleh musuh didepannya.
Pria itu ikut bersama pasukan dari organisasi Gamprit saat membersihkan sebuah area Dungeon.
Sehingga dia mengetahui jika mengembangkan kekuatan dari membunuh monster akan menjadi trend di masa depan.
Tapi menurut perkiraan Tangji butuh waktu yang lama hingga manusia menjadi begitu kuat sampai senjata api tidak berguna untuk menghadapi manusia seperti itu.
Jadi menurutnya apa yang dia saksikan saat ini didepannya adalah sesuatu yang tidak bisa percaya, sesuatu yang tidak terduga.
“Sebuah anomali.” gumam Tangji.
Pria itu hingga terbengong melihat lawannya saat semua bawahnya sedang mati-matian menghadapi pria bertopeng di atas kuda.
“Pemimpin!.”
Wink segera berlari menuju Tangji dan segera mendorongnya karena sebuh mobil lapis baja jatuh tepat dia mana Tangji berdiri.
“Pemimpin sadarlah!.”
Wink menampar wajah Tangji membuat tersadar dari lamunan.
Setelah sadar Tangji menyadari jika kondisi pasukannya yang tersisa sudah begitu mengenaskan.
Seluruh mobil terbalik, pria bertopeng merah menggunakan kekuatan misterius untuk mengangkat mobil dengan berat ribuan kilogram dan melemparnya ke arah anggota geng the Daki.
Seluruh usaha yang dilakukan untuk membunuhnya tidak ada yang berhasil. Pelindung transparan milik topeng merah seperti perlindungan absolute tak tertembus.
“Jangan menyerah!.”
Suara lantang terdengar dari Spec yang memberikan semangat dengan speakernya. Namun tiba-tiba sebuah cahaya laser menembus dadanya.
Sinar itu berasal dari ujung jari Budi yang baru saja menggunakan sihir tipe campuran cahaya dan api.
__ADS_1
“Aku tidak pernah menggunakan serangan itu untuk menyerang manusia sebelumya.”
Mendapatkan serangan mematikan membuat Spec terluka sangat parah.
Darah mengalir deras dari lubang di dada yang mengeluarkan asap seakan besi panas baru saja menembus tubuh pria bertindik itu.
Tetapi Spec masih berdiri walaupun dia hampir kehilangan keseimbangan.
“Tidak di duga dia memiliki resistansi api yang cukup baik.”
Budi hendak menembak Spec dengan serangan yang sama. Namun perhatiannya teralihkan ketika melihat pemimpin Genk the Daki, Tangji dan pasukannya melempar senjata api dan menggantinya dengan senjata jarak dekat.
Mereka berpikir jika itu merubah keadaan.
“Menarik.”
Budi turun dari kudanya untuk menghadapi puluhan Genk the Daki seorang diri. Pushrank meninggalkan Budi seorang diri, kuda itu masuk ke dalam bayangan seperti keahlian milik Roxy.
Seperti halnya anggota geng the Daki yang merubah senjata, Budi pun menyingkirkan sabit besar lalu mulai menghadapi lawannya dengan tangan kosong.
Satu hentakan kaki membuat keberadaan Budi lenyap, dia bergerak begitu cepat dalam sekejap posisi pemuda bertopeng itu sudah ada di depan pasukan geng the Daki.
“Aaa!.”
BAM!
Anggota di sekitarnya segera menyerang, namun puluhan serangan itu tidak ada satupun yang bisa mengenainya.
Budi membalas serangan, setiap pukulan dan tendangan yang dia berikan membuat siapapun yang menerimanya terkapar dengan lubang di dada
Atau yang lebih buruk mereka menjadi daging cincang dengan tubuh yang diledakkan.
Wajah Tangji membiru, perutnya terasa mual melihat anak buahnya dibantah dengan cara yang begitu mengerikan di depan matanya.
Dua tidak pernah begitu takut seperti ini sebelumnya, karena selama ini dia yang selalu melakukan pembantaian.
Semua orang yang dia bunuh hanyalah hama dalam benaknya.
Lalu sekarang dia lah yang menjadi hama itu.
“Apa hanya seperti ini kekuatan dari Genk yang ditakuti se-pulau Jawa?.”
Budi menarik kepala anggota geng the Daki hingga putus, memasukan bom ke dalam mulutnya lalu melempar Kepala itu ke arah helikopter yang sejak tadi menembakinya.
“Sangat mengecewakan.” ucapnya saat melihat satu helikopter berhasil dia ledakan.
“Aku berpikir membunuh manusia bisa mendapatkan poin pengalaman yang lebih besar. Tetapi melihat kalian yang bahkan lebih buruk dari para Hunter di kota Sawi, aku berpikir tidak demikian.”
__ADS_1
Di balik topengnya Budi menatap tangan yang penuh darah, armor hitam yang dia kenakan berbau anyir dengan serpihan daging menempel.
Tapi bukan itu masalahnya.
Budi merasakan keinginan untuk membunuh semakin kuat, dia tidak merasakan perasaan bersalah sedikitpun saat mencabut nyawa manusia lain.
Dia merasa mereka yang ada dihadapannya hanya para kambing kurban yang siap untuk disembelih. Mereka pantas mendapatkan itu karena mereka lemah.
Wink berikut di atas mobil, senjatanya siap ditembakkan. Namun dia tidak yakin bisa melukai targetnya, tetapi karena tidak memiliki pilihan lain Wink pun menarik pelatuknya.
Cahaya bersinar dari sniper itu, Budi yang menyadari segera menggunakan tangannya untuk menangkap. Tetapi sebuah kejadian tidak terduga terjadi.
Tembang itu menembus tangan Budi yang hendak menangkapnya, lalu mengenai topeng yang ia kenakan.
Krak! Topeng itu rusak membuat setengahnya pecah.
“A... AAAAA!”
Semua orang langsung menjerit histeris saat melihat setengah wajah di balik topeng itu ternyata bukan manusia. Kulit dilapis sisik putih seperti ular, lalu mata merah dengan pupil tipis seperti reptil.
Sorot mata yang begitu mengintimidasi, ledakan Aura begitu menekan seolah-olah topeng yang hancur telah membuka segel yang menahan monster sesungguhnya.
“Hem...”
Budi menatap tangannya yang berlubang, telapak tangan itu dengan cepat kembali menutup.
“Cukup mengesankan.” dia tidak menyangka jika ada seseorang dari mereka yang baru saja menaikan keahliannya.
Saat Budi menatap perempuan dengan sniper, tembakan lainnya terbang ke arahnya. Mungkin karena serangan sebelumnya mampu melukai Budi membuat Wink berpikir jika serangannya bisa membunuh manusia kadal itu.
Tetapi tidak demikian, Perisai aura melindungi Budi seperti sebelumnya.
“Apa hanya itu?. Aku pikir Genk yang membuat seluruh masyarakat kota Sawi ketakutan seperti ayam yang kehilangan kepala bisa membuatku sedikit berkeringat. Tmetapi yang aku dapat hanya lelucon.”
Di saat Budi mengatakan kekecewaannya, tiba-tiba dari samping Spec yang terluka parah menyergapnya. Pria tindik itu segera memeluk punggung Budi dengan bom yang dia bawah.
Dia hendak melakukan bunuh diri bersama.
“Kau ingin berkeringat?.” Spec tersenyum lebar seakan sudah siap untuk mati. “Jadi mari kita berkeringat bersama!.”
“Sungguh lelucon yang buruk.”
Kabom!
Ledakan besar lainnya terjadinya semua anggota geng the Daki yang tersisa berharap jika serangan bunuh diri yang dilakukan Spec berhasil.
Namun yang terjadi hanyalah tekan intimidasi yang semakin kuat membuat semua orang jatuh berlutut, beberapa diantaranya kehilangan kesadaran.
__ADS_1