Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
42. Ditarik-tarik


__ADS_3

“Jadi apa yang membuat anda bisa dikurung di dalam penjara begitu masuk ke dalam kota Sawi?.” tanya Raya. Tatapannya yang tajam memperlihatkan mata jeli yang begitu indah.


Setiap orang pasti akan salah tingkah saat ditatap oleh gadis itu. Tetapi lain halnya dengan Budi yang sudah cukup dibuat menderita oleh gadis didepannya.


Budi kembali mengingat bagaimana gadis itu tertawa terbahak-bahak saat anjingnya mengejar-ngejar dirinya ketika dunia masih baik-baik saja.


“Yeah, kau pasti tahu lah. Orang baru datang di kota, beberapa preman datang untuk memalak. Terjadi perkelahian dan seterusnya dan seterusnya hingga Polisi datang karena laporan penganiayaan.” pemuda itu menjelaskan dengan sesingkat mungkin.


Sama seperti para Polisi sebelnya, Budi tidak menunjukkan rasa hormat sedikitpun pada raya. Dia tidak begitu peduli pada gadis itu, Budi mengaggap Raya hanya akan membuatnya mendapatkan masalah.


Ridwan yang masih mengikuti Raya, menatap Budi begitu tajam. Sebelumnya Ridwan telah mendengar detai kasus yang dialami pemuda itu dari bawahannya.


‘Seperti yang mereka katakan. Dia terlihat begitu sombong, walaupun kondisi tubuhnya seperti itu.’ Senyum sinis tergores pada bibir lelaki itu saat melihat kondisi fisik Budi.


Perhatikan Ridwan kemudian beralih pada lima anggota geng Belati Merah yang menjadi teman satu sel Budi. ‘Para anak buah ku berpikir untuk menempatkan bocah ini di sel ini untuk memberinya pelajaran. Tetapi sepertinya itu tidak berhasil.’


Ridwan melihat jika lima anggota geng Belati Merah terlihat begitu ketakutan pada Budi hingga diantaranya ada yang sampai menangis.


Wajah mereka juga babak belur karena perkelahian.


‘Sudah jelas jika Pemuda ini memiliki kekuatan Unik seperti Raya dan Yuki.’


Pada akhirnya Budi dibebaskan karena jaminan dari Raya. “Kau cukup berpengaruh juga yah, hingga Polisi pun mendengarkan mu.” ucap Budi yang kagum melihat Raya bisa membebaskannya dalam waktu singkat.


“Kenapa kau begitu kaget?, seharusnya kau bisa menduga jika ini akan terjadi bukan.” Raya menunjukkan senyum penuh arti. Melihat itu Budi hanya mengalihkan perhatiannya.


Sejak keluar dari kantor Polisi, kedua muda-mudi itu terus berbicara banyak hal. Sementara Rohid dan Yuki hanya diam mengikuti di belakang. Hingga Yuki yang merasa tidak tahan lagi mulai mengamuk.


“Stop... stooopeeee!.” Yuki berteriak dengan logat Jepang. Gadis merengsek di tengah antara Budi dan Raya, lalu menjauhkan keduanya.


“Hey, bukankah tidak sopan jika kau tidak memperkenankan temanmu padanya!.” Yuki marah karena terus diabaikan.


“Ah... tetapi bukankah aku sudah melakukannya saat kita melakukan video call?.” balas Raya.


“Ya, sepertinya itu pernah terjadi.” Budi juga agak ingat tentang Yuki.


Tetapi wajah Yuki justru terlihat tidak yakin. “Kalau begitu siapa Namaku?.” tanya Yuki.


Budi hanya tersenyum kecil, dia merasa tidak perlu menggunakan keahliannya untuk mengetahui nama gadis berdarah Jepang di depannya. Melihat senyum itu membuat ketiga orang yang bersama dengannya yakin akan sesuatu.

__ADS_1


“Kau Yuna bukan?.” Yap Budi lupa dengan nama Yuki.


“BUKAN!.” balas Yuki dengan kesal.


Ketika Raya menanyakan nama adiknya juga Budi tidak bisa menyebutkan dengan benar.


“Nama adikmu Romli bukan!, kau pikir aku akan lupa dengan nama tetanggaku sendiri.” Budi menjawab dengan penuh keyakinan.


Tetapi keyakinan itu runtuh setelah Rohid menggelengkan kepalanya. Kedua gadis pun langsung tertawa terbahak-bahak melihat betapa buruknya Budi mengingat nama seseorang.


Tetapi kemudian kekhawatiran muncul di dalam diri Raya. “Um.... ka.. kalau aku bagaimana? Jangan bilang kau juga lupa.”


Raya kembali menatap Budi dengan begitu tajam, hawa membunuhnya bahkan sampai merebak keluar membuat setiap orang di sekitar terkejut.


‘Gawat! Jika dia tidak mengingat nama Raya, pemuda ini pasti akan mati!.’ pikir Yuki.


Budi terdiam sesaat menatap raya. “Raya, kenapa kau berpikir aku akan lupa dengan nama mu.” wajah Budi berpaling saat mengatakannya.


“Begitu yah.” ucap gadis itu lirih. Dalam sekejap hawa membunuh menghilang. Kemudian kepala Raya tertunduk dengan wajah merah.


‘Bagaimana mungkin aku melupakan nama orang yang membuatku cukup menderita.’ pikir Budi. Tetapi seperti orang-orang disekitarnya berpikir hal yang berbeda.


“Jadi hanya mas Budi hanya ingat dengan nama kak Raya? Kok bisa gitu?.” Rohid bertanya begitu polos.


“Sudahlah, Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti.” balas Yuki, “Karena itu adalah keahlian para penggombal tingkat lanjut.”


Mendengar perkataan Yuki, membuat berapa orang di sekitar menatap Budi. Mereka melihat dengan teliti pemuda itu dari ujung kaki hingga kepala seakan sedang melakukan penilaian.


Kemudian hasil dari penilaian mereka setelah melihat keadaan fisik Budi, membuat beberapa orang mulai marah.


‘Sial, siapa pemuda cacat ini?.’


‘Apa dia tidak sadar pada posisinya?.’


‘Manusia cacat seperti dia berani menggombal pada Nona Raya.’


‘Cuih menjijikkan. Bukankah dia lebih baik mati saja daripada merusak pemandangan?.’


Dalam sekejap Budi merasakan kedengkian dasi orang-orang di sekitar. ‘Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?.’ Budi tidak tahu kenapa tiba-tiba banyak orang yang membencinya.

__ADS_1


***


Keempatnya kemudian tiba di depan gerbang pemeriksaan, mata hari sudah hampir tenggelam. Mereka pun harus segera masuk ke dalam pengungsian.


“Aku mendengar jika kau membawa kuda bukan, bagaimana dengannya?.” tanya Raya.


Ketiganya tahu jika penyebab Budi dipenjara adalah karena anggota geng Belati Merah ingin mencuri kuda milik Budi.


“Jangan khawatir karena Pushrank sangat pandai main petak umpet.” ketiganya hanya saling menatap karena tidak mengerti apa yang Budi bicarakan.


Namun mereka segera mengerti setelah Budi memanggil kudanya dengan cara bersiul. Pushrank yang sebelumnya tidak terlihat di manapun tiba tiba muncul di balik tembok.


“Waw, kau sungguh sangat pandai bersembunyi Pushrank.” Budi mengelus rambut kuda itu dengan penuh kasih sayang.


Kuda dengan kulit coklat kemerahan itu terlihat senang saat mendapatkan pujian dari Budi, itu membuat Roxy dan Akita menjadi cemburu, kedua anjing itu kemudian meminta para gadis untuk mengusap kepala mereka.


Setelah memanggil Pushrank, mereka pun mulai mengantri untuk masuk kedalam pengungsian. Namun melihat jika itu adalah Raya dan Yuki membuat semua orang yang sudah berbaris di depan segera mempersilahkan mereka untuk masuk lebih dulu.


Hal itu tentu membuat Budi semakin bertanya-tanya tentang pengaruh kedua gadis itu di tempat ini. Tetapi dia tidak mungkin bertanya, dia lebih memilih untuk melakukan penyelidikan sendiri.


Tatapan tajam setiap orang padanya tidak akan Budi hiraukan. Mereka hanya iri pada pemuda itu yang bisa berjalan berdampingan dengan dua gadis cantik. Rohid yang melihat itu merasa sangat terbantu, karena sejujurnya dia merasa tidak nyaman dengan tatapan banyak orang padanya.


“Kalau begitu, selamat datang di pengungsian kota Sawi.” Ucap Raya menyambut kedatangan Budi.


Pemuda itu merasa takjub dengan kondisi pengungsian yang tidak seburuk dalam pikirannya. Kota itu tertata rapi dan terlindungi, sebuah tembok raksasa sedang di bangun, ini akan menjadi kota yang sangat besar.


“Sepertinya menarik.” Budi merasakan sebuah petualangan akan terjadi di kota ini.


“Hey, ayo kemari.” Raya menarik tangan Budi seakan tidak sabar. Budi yang masih mengagumi kota Sawi hanya mengikuti gadis itu dengan patuh.


Sementara Yuki dan Rohid seolah sudah di lupakan.


“Mau kemana?.” tanya Budi yang tangannya terus ditarik Raya.


“Kerumah ku.”


“Mau apa?.”


“Melamar ku.”

__ADS_1


BRAK! Budi, Yuki dan Rohid seketika terjungkal ke belakang.


__ADS_2