
Budi menatap gedung tiga lantai yang terletak tidak jauh dari Mansion. Dahulunya gedung itu merupakan sebuah restoran Jepang milik keluarga Yuki, namun kini gedung itu berubah menjadi posko pembagian makanan untuk warga.
Sedangkan di sampingnya ada sebuah bangunan lebih kecil dengan keadaan yang begitu mengerikan, tempat itu tidak berbeda dengan tong sampah berukuran besar.
Dulunya bangunan itu merupakan sebuah toko pakaian. Namun kini menjadi tempat pembuangan sampah sisa makanan oleh para warga yang mendapatkan jatah makanan di posko sampingnya.
Walaupun saat ini toko itu begitu kotor, tetapi jika Sudah di bersihkan akan sangat menguntungkan sebagai tempat usaha.
Berada di area yang sangat strategis dapat dengan mudah menarik perhatian para warga yang datang ke posko untuk mendapatkan jatah makanan.
Melihat itu Budi merasa dia akan mudah mendapatkan pelanggan jika mendirikan tokonya di tempat ini.
“Aku akan meminta beberapa orang untuk membersihkan sampah di tempat ini.” kata Yuniar yang menemani Budi saat ini.
Namun Budi segera mencegah wanita itu. “Tidak perlu melakukannya, aku masih bisa memanfaatkan sebagai sampah ini.” Budi mengambil sampah makanan yang sebagian besar adalah sisa tulang.
“Kau bisa memanfaatkan sisa tulang?.” Yuniar sangat tertarik dengan apa yang akan Budi lakukan dengan semua sampah tulang. “Ya, aku bisa menggunakan tulang-tulang ini sebagai pupuk.”
Mendengar itu Yuniar menjadi sangat bersemangat, karena memang masalah sampah yang sulit terurai seperti tulang sudah sangat meresahkan di kota Sawi.
Selama beberapa bulan sebagian besar warga hanya mengkonsumsi daging monster, itu menyebabkan sampah tulang berserakan dimana-mana.
Gagasan untuk merubah tulang menjadi pupuk. Selain dapat mengurangi limbah makanan, hasil pengolahan pun dapat digunakan pada ladang yang saat ini sedang dibangun.
“Itu akan sangat menguntungkan.”
Yuniar pergi setelah pemuda itu mengatakan jika bisa membersihkan toko seorang diri. Wanita itu pun menghela nafas lega karena akhirnya tugasnya telah usai.
Seharusnya menemani Budi melihat tempat yang akan dijadikan sebagai toko adalah tugas Yuki, namun saat ini gadis itu sedang giat berlatih dengan kedua anaknya.
“Aku tidak bisa bersikap tenang saat di dekatnya.”
Yuniar merasakan jantungnya berdebar kencang ketika berbicara dengan Budi. Pikirannya selalu mengingat kejadian tadi malam.
Dia berharap untuk segera melupakan itu karena Budi sendiri bersikap begitu wajar saat bersamanya, membuat Yuniar berpikir jika pemuda itu juga sudah lupa dengan kesalahan yang mereka lakukan bersama.
***
“Akhirnya dia pergi juga.” Budi berusaha menenangkan dirinya. Dia sangat tertekan saat berada di dekat Yuniar, pikirannya terus mengingat kejadian tadi malam. Jika saja wanita itu lebih lama bersamanya mungkin Budi sudah menariknya ke sebuah gang.
__ADS_1
“Beruntung aku bisa mengendalikan diri.”
Setelah berhasil menenangkan diri, Budi pun mulai melakukan renovasi atau lebih tepatnya membangun ulang gedung itu.
Budi tidak khawatir ada seseorang yang akan marah karena bangunan itu dihancurkan, karena sang pemilik gedung dan tanah yang tidak lain adalah Yuki sendiri telah mengijinkan dia melakukan apa pun yang dia inginkan.
Pertama-tama Budi melakukan pembongkaran pada gedung itu. Tidak ada perabotan di dalamnya membuat Budi tidak perlu repot-repot untuk melakukan pemindahan, dia pun segera mengaktifkan kemampuan item box namun kali ini disertai dengan efek (Aura).
Setelah berlatih di dalam Dungeon di hutan dekat desa, Budi akhirnya bisa menaikan level keahlian (Aura) hingga maksimum. Efek yang dihasilkan benar-benar luar biasa.
Seperti contohnya keahlian item box yang hanya bisa menampung semua benda dengan total 2500 kilogram ketika sudah level maksimum.
Tetapi ketika digunakan bersama Aura, keahlian item box akan menjadi (Pocket Dimension) dimana mampu menyimpan benda apapun tanpa batas.
Lubang hitam muncul di bawah bangunan, lalu bangun itu pun perlahan mulai tenggelam seperti tertelan lumpur. Dalam sekejap gedung itu pun menghilang dan hanya menyisakan tanah kosong, saat Budi melihat sekitar dia merasa tidak ada seorangpun yang melihat kejadian itu.
“Sayang sekali, padahal keahlian ini pasti akan sangat menarik untuk di lihat.”
Setelah menyingkirkan gedung lama, Budi pun segera melakukan gedung yang baru untuk dijadikan toko impiannya.
Pertama-tama dia membuat ruangan basemen lalu sebuah pondasi yang kokoh, kemudian tungku api yang akan digundukan sebagai tempat dia bekerja.
“Sebuah ceroboh asap, kemudian ruangan laboratorium potions, lalu lantai dasar digunakan untuk toko, lantai kedua adalah ruang bersantai dan lantai ke tiga digundukan sebagai kamar.”
Budi memilih kembali rancangan toko yang akan dia buat, lalu setelah menghafalnya Budi pun kembali melakukan pembangunan. Selama berjam-jam dia terus melakukan pembangunan.
Dengan kekuatan yang dia miliki Budi berhasil mendirikan bangunan tiga lantai yang lebih baik dari bangunan di sampingnya dengan waktu singkat.
Banyak orang yang tidak menyadari jika ada sebuah bangunan baru di samping posko. Mereka hanya berpikir jika bangunan yang lama baru saja direnovasi.
Pembangunan toko selesai saat hari sudah mulai petang. Raya dan yang lainnya datang ketika mereka baru saja selesai latihan.
“Waw, tempat ini sangat berbeda dengan yang aku ingat.” Yuki terkejut melihat perubahan dramatis pada toko milik keluarganya.
“Seakan kau membangun ulang gedung ini.”
“Aku hanya melakukan yang terbaik.” ucap Budi..
“Walaupun kau mengatakan seperti itu, tetapi merubah toko pakaian biasa menjadi sebuah gedung tiga lantai dalam beberapa jam itu terlalu gila.” ujar Yuki.
__ADS_1
Gadis dengan gaya rambut pendek berwarna hitam itu begitu antusias melihat bagian dalam bangunan. Namun setelah melihat setiap ruangan Yuki justru semakin kebingungan.
“Bang Budi pelihara Jin juga yak?.”
“Burrrrrr....”
Budi menyemburkan Air putih yang dia minum ketika mendengar pertanyaan Yuki.
“Bagaimana kau sampai pada pemikiran seperti itu?.”
“Ya lagian gimana coba membuat gedung seperti ini dalam waktu singkat jika bukan karena bantuan Jin.”
Yuki menatap Budi dengan wajah yang penuh keyakinan.
“Kau pikir aku ini Bandung Bondowoso apa?.” Budi agak kesal karena gadis itu meragukan kemampuannya dan justru menganggapnya memelihara setan.
“Baiklah karena merasa kasihan padamu.” Budi menepuk kepala Yuki.
“Heh apa!.” gadis itu begitu terkejut.
“Mungkin kau tidak bisa tidur jika aku tidak menunjukkan bagaimana aku berkerja.”
Wajah Yuki menjadi begitu merah saat Budi mengusap kepalanya. Melihat itu Raya terlihat marah, namun Budi mengabaikannya.
Budi kemudian mengambil sebuah balok kayu berukuran besar di dalam kotak barang. Dua gadis terlihat sangat terkejut melihat ukuran kayu itu, mereka tidak mempermasalahkan ilegal logging yang Budi lakukan.
Karena semenjak bencana monster terjadi entah kenapa tumbuhan tumbuhan begitu subur hingga hutan muncul di mana-mana. Karena itu menebang pohon secara liar tidak lagi dianggap perbuatan kriminal.
“Apa yang akan kau buat?.” tanya Raya penasaran.
“Mari kita lihat, mungkin kursi dan bangku, sebuah tempat tidur dan rak untuk toko.”
Setelah menentukan apa yang ingin dia buat, Budi kemudian mengambil dua belati dari kotak barang, lalu dia pun mulai bekerja dengan cara yang sangat tidak biasa.
“Um... apa dia mulai kesurupan?.”
“Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia memang kesurupan.”
Melihat bagaimana pemuda itu bekerja, membuat kedua gadis semakin yakin jika Budi memang memelihara Jin.
__ADS_1