
Menaiki kuda bersama, Budi dan Raya menuju pintu keluar kota.
Raya tidak berani berbicara karena takut Budi marah padanya akibat kejadian yang baru saja terjadi.
Hingga Budi memulai percakapan dengan gadis yang membonceng dibelakangnya.
“Kau tahu jika aku tidak akan menanggapi pendapat orang lain tentangku dengan serius bukan?.”
Raya tersentak kaget ketika mendengar Itu. Dia teringat dengan kejadian di masa lalu dimana dunia masih begitu damai tanpa monster.
Tinggal di desa dimana banyak penduduk tinggal. Budi yang hanya seorang penyendiri sering menjadi bahan gunjingan para tetangga.
Dia dianggap terlalu mencurigakan karena tidak pernah bersosialisasi. Namun terlepas dari banyaknya rumor buruk tentangnya, Budi tidak pernah menanggapi secara serius.
Pemuda itu hanya menganggap semua perkataan warga desa sebagai angin lalu.
“Jadi Kak Budi nggak marah padaku?.”
Raya mengingat kemarahan Budi saat di depan markas Guild Legion Teapot.
“Itu hanya akting.”
“Akting?.”
“Ya, setidaknya sekali aku ingin agar orang-orang kota tahu siapa aku.”
Budi merasa terlalu menyulitkan jika semua orang terus menatapnya dengan rendah. Menurutnya itu hanya akan menimbulkan banyak masalah.
“Ini semua karena Liliana yang ingin agar identitas kakak tetap rahasia.”
Benar, kenapa tidak banyak orang yang mengenali Budi adalah perbuatan Liliana yang tidak ingin jika semua orang tahu sumber senjata, potions dan item sihir di kota Sawi.
Tetapi Budi tidak mengira jika efeknya akan sejauh ini hingga warga bahkan banyak yang tidak tahu akan keberadaan toko Asongan miliknya.
“Aku merasa Yuki pun ikut andil dalam konspirasi ini.”
Budi khawatir jika nanti baik Yuki maupun Liliana akhirnya memutuskan untuk mencegah para warga biasa pergi ke dalam tembok dimana tokonya berada.
Jika itu terjadi maka akan berakibat buruk pada bisnisnya.
Budi terus memikirkan apa yang sedang direncanakan wali kota dan partner bisnisnya. Namun semua kekhawatirannya sirna setelah merasakan tangan Raya memeluknya dari belakang.
Budi dapat merasakan dada gadis itu yang menekan punggungnya saat Raya memperat pelukannya.
Pushrank semakin dekat dengan tembok luar. Raya terkejut begitu melihat tombok membentang lebar seakan tanpa ujung.
“Jadi itu yang kak Budi buat kemarin?.”
Raya bertanya dengan begitu penasaran.
“Ya, begitulah.”
Namun Budi menjawab dengan begitu singkat.
Walaupun sudah tahu jika kemampuan Budi tidak masuk akal, namun Raya masih merasa sangat takjub ketika melihat apa yang pemuda itu bisa ciptakan.
__ADS_1
Membuat tembok setinggi puluhan meter dengan lebar mencapai lima ratus kilometer persegi dalam satu malam.
Sesuatu hanya bisa dilakukan jika seseorang berhasil mengumpulkan tujuh bola naga atau meminta pada lampu ajaib yang dihuni oleh jin.
Tetapi seperti Bondowoso yang dibantu pasukan makhluk gaib saat membangun seribu candi, Budi pun mendapatkan bantuan saat membangun tembok besar kota Sawi.
Namun bukan bantuan dari makhluk gaib melainkan robot mesin.
Melihat tidak ada satupun yang membicarakan tentang tembok itu di kota, membuat Raya menyimpulkan jika para warga masih belum menyadari tentang keberadaan tembok.
“Penduduk kota pasti akan gempar setelah menyadari jika seluruh kota telah dikelilingi oleh tembok yang muncul tiba-tiba dalam waktu semalam.” ucap Raya.
“Tentu itu pasti akan terjadi, namun Yuki dan Liliana sudah memikirkan cara untuk menjelaskan pada publik.”
Sebagai publik figur, kedua gadis itu bisa dengan mudah mempengaruhi masyarakat kota Sawi.
Mereka bisa dengan mudah merubah sesuatu yang tidak bisa di pikiran warga menjadi sesuatu yang lumrah.
“Yuki dan Liliana akan mengatakan pada warga jika yang mendirikan tembok itu adalah Rango.”
“Rango?.”
Raya penasaran dengan apa yang akan kedua temannya rencanakan pada identitas kedua Budi.
Sosok Rango sangatlah misterius. Dia pertama kali muncul ketika menghadang Genk the Daki yang ingin menghancurkan kota Sawi.
Kemudian kemunculan Rango yang kedua adalah saat event pertama sistem dimana dia menjadi pemenangnya.
Kemenangan itu yang membuatnya menjadi begitu terkenal.
Mereka akhirnya sampai di depan gerbang masuk kota. Budi dan Raya diam di depan gerbang saat kamera pengawas memperhatikannya.
Gerbang kota tidak akan terbuka jika seseorang tidak memiliki izin dari Wali Kota. Raya yang merupakan pemimpin Guild Legion Teapot tentu memiliki izin Itu.
Sedangkan Budi tidak membutuhkan izin sana sekali karena dialah yang membuat gerbang sekaligus tuan dari kecerdasan buatan yang mengendalikan gerbang kota.
[Izin meninggalkan kota dikonfirmasi]
Begitu suara Omega terdengar di mikrofon, gebang pun mulai terbuka. Getaran kecil terasa saat gerbang besar itu mulai bergerak.
Begitu gerbang terbuka, Budi segera memacu kudanya untuk meninggalkan kota. Namun dia terkejut mana kala di depan gerbang sudah ada tiga mobil yang menunggu.
“Militer?.” ucap Budi saat melihat dua truk militer di belakang mobil SUV.
“Aku mendengar dari Yuki jika hari ini akan ada anggota Dewan dari kita Toge yang datang berkunjung.”
Budi mengangguk kecil mendengar balasan dari Raya. Dia berpikir mungkin anggota Dewan datang ke kota Sawi untuk meminta maaf karena keributan kemarin karena ulah pasukan militer.
Setiap orang dari rombongan itu menatap keduanya yang mulai mendekat. Hingga seorang pria dengan hasil hitam dan dasi merah keluar dari mobil SUV diikuti oleh beberapa orang berseragam militer.
“.....”
Budi menatap salah satu prajurit yang keluar dari mobil, dua merasa pernah melihat prajurit itu sebelumnya.
Prajurit militer itu pun menatap Budi dengan tatapan tidak menyenangkan, itu memberitahu Budi jika memang pernah bertemu dengannya sebelumnya.
‘Tapi aku tidak ingat kapan.’
__ADS_1
Selama Budi mencoba mengingat kapan pernah bertemu prajurit itu, pria berjas hitam mulai mendekatinya.
Senyumnya terlihat terlihat ramah, sangat khas dari seorang politisi.
“Aku sangat tersanjung karena nona Raya sendiri yang menyambut kedatanganku.” ucap Erik.
“Hah?.”
Raya sama sekali tidak mengerti apa yang Erik bicarakan.
Erik mengira jika pemimpin Guild Legion Teapot itu datang ke pintu gerbang karena ingin menyambut kedatangannya.
“Aku pikir Anda salah memahami situasinya.” ucap Raya.
Namun yang sebenarnya terjadi Raya hanya ingin keluar dari kota dan ia tidak tahu akan bertemu dengan rombongan Erik.
Menyadari kesalahannya membuat Erik begitu malu, tetapi sebagai seorang politisi berpengalaman Erik tentunya memiliki kulit wajah yang tebal.
“Oh, begitu rupanya. Cukup dapat dimengerti karena kedatanganku yang tiba-tiba sehingga anda tidak mendapatkan kabar apapun dari wali kota, walaupun seharusnya anda diberitahu tentang kedatanganku...”
Erik terus berbicara dengan begitu bangga.
“...Tapi tidak masalah karena gadis muda seperti dia pasti seringkali melakukan kesalahan...”
Raya menatap tajam Erik begitu ia menyinggung tentang Yuki.
Erik merasakan kebencian mulai tumbuh dari tatapan Raya sehingga dia pun segera mengalihkan fokus pembicaraannya.
“Ini pasti karena takdir yang telah mempertemukan kita, jadi sekarang bisakah anda mengantarku menuju kantor wali kota?.”
Senyum itu tidak pernah lepas dari wajah Erik, senyum penuh pemujaan diri, pemuda berusia 27 tahu itu begitu narsis.
Raya dan Budi hanya saling menatap. Erik yang yakin jika ajakannya akan di terima segera mempersilahkan Raya untuk turun dari kuda dan ikut bersamanya kembali ke kota dengan mobil.
Namun balasan Raya sungguh membuat Erik sangat terkejut.
“Maaf, seseorang sedang menungguku.” ucap Raya yang kemudian meminta Budi untuk segera memacu keduanya.
Erik terdiam dengan wajah kaku setelah mendengar itu, senyumnya menghilang dan berubah menjadi wajah tidak percaya.
“Emm... begitu yah. Baiklah anda pasti akan bertemu dengan orang penting sehingga menolak ajakan ku yang sangat tidak pentin...”
Tanpa peduli apa yang akan Erik katakan, Budi segera menarik tali kekang Pushrank sehingga kuda itu segera berlari kencang meninggalkan gerbang kota.
Tangan Erik terkepal saat melihat mereka meninggalkannya begitu saja, para prajurit militer dengan jelas melihat Kemarahan Erik mulai tumbuh.
Tetapi Erik dapat mengendalikan dirinya karena dia seorang anggota Dewan.
“Sungguh rakyat jelata tanpa etika.” ucapnya sambil merapikan rambut.
[Perhatian pintu gerbang akan segera di tutup]
Pengumuman dari pintu gerbang terdengar membuat Erik dan anggotanya segera kembali ke mobil lalu masuk ke dalam kota.
***
Bersambung
__ADS_1