Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
114. Malam Bersama Para Karyawan


__ADS_3

[Chapter dewa]


Aku terbangun bukan di dalam kamarku.


Sangat berantakan namun ruangan itu tidak asing.


Setelah beberapa saat melihat sekeliling aku pun mengingat ruangan itu yang ternyata adalah ruang makan toko Asongan.


Tidak ada yang aneh dari tidur di ruang makan rumah sendiri, semua itu sangatlah normal.


Kecuali bagian tentang lima perempuan tanpa busana yang tertidur di sekitarku.


“Ini lebih parah dari yang aku bayangkan.”


Aku tidak dapat mengatakan apapun saat mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Bekerja membuat pertambangan dan tembok kota dalam satu hari benar-benar menguras seluruh tenaga dan kesehatan mental.


Tenaga bisa dengan mudah dipulihkan dengan potions stamina, namun kelelahan mental tidak demikian.


Aku harus melepas stress yang menumpuk agar keadaan mental kembali membaik.


Untuk melakukannya aku membutuhkan pasangan, namun sayangnya baik Yuniar, Jie cie maupun Liliana tidak dapat membantu karena saat itu mereka sibuk.


Hanya Siti yang tersisa untuk ku mintai pertolongan.


Jika saat itu Siti juga tidak bisa membantuku mungkin semuanya akan berakhir dengan tindakan kriminal.


Toko Asongan baru tutup sepuluh menit lalu, para karyawan baru saja akan Beristirahat. Salah satu dari kelimanya memasak sedangkan sisanya menunggu di depan meja makan sambil menonton televisi.


Semuanya terasa begitu damai, terapi semuanya berakhir setelah kepulangan ku.


Tanpa mengatakan apa pun aku segera menyerang Siti di depan para pelayan baru. Siti cukup terkejut, namun dia tidak dapat menolak ku.


Para pelayan lainnya sempat berusaha menolong Siti dariku, namun Siti meminta agar keempatnya membiarkan aku.


Hasilnya keempat hanya bisa menyaksikan saat aku berusaha menyalurkan semua stres yang menumpuk.


Namun Siti tidak dapat menahan semua, dia sangat tidak berdaya menghadapi ku yang begitu brutal karena telah kehilangan kendali.


Melihat Siti yang terlihat menderita membuat salah satu pelayan baru berniat memberikan bantuan.


Sania, wanita berambut putih panjang dan begitu dewasa.


Usia para karyawan baru yang diberikan oleh Yuki lebih dewasa dibandingkan dengan Siti, usia mereka sekitar 27 hingga 30 tahun.


Lalu menurut ingatanku, Sania adalah yang paling dewasa diantara karyawan baru.


Aku tidak tahu apa yang membuat Sania rela menyerahkan tubuhnya untukku, apa dia memang ingin berniat membantu Siti?.


Namun kenapa dia begitu basah dan penuh keringat? Apa mungkin dia hanya ingin aku menyentuhnya.


Saat aku sadari bukan hanya Sania yang bersikap demikian, ketiga karyawan toko lainnya pun sama. Nafas mereka tidak beraturan dengan wajah merona merah.

__ADS_1


Mereka seakan tengah dalam puncak birahi.


Apa mungkin itu disebabkan karena menonton ku bercocok tanam bersama Siti?.


Tidak, aku rasa bukan hanya itu.


[Kemampuan pekerjaan Pervert secara pasif meningkatkan hormon Testosteron lawan jenis di sekitar anda saat anda sedang birahi]


Aku sangat terkejut dengan penjelasan Omega, aku tidak pernah mendengar itu sebelumnya.


Kecerdasan dari keahlian industri itu mengatakan jika memang ada efek tersembunyi dari setiap pekerjaan yang tidak di jelaskan pada rincian Job.


[Efek itu semakin kuat setelah Job mencapai level maksimum]


Efek yang membuat para wanita bergairah saat aku sedang ingin melakukannya. Itu sangat luar biasa, tetapi juga sangat berbahaya.


Efek itu aktif secara pasif yang artinya aku tidak dapat mengendalikannya. Juga aku merasa setiap kali aku kelelahan pasti keinginanku untuk berhubungan intim akan semakin kuat, jelas itu tidak normal.


Jika orang biasa akan memilih untuk beristirahat untuk menghilangkan kelelahan.


Namun untuk ku justru melakukan hal yang tidak bermoral seperti ini.


Tidak ada yang normal dari semua ini.


Tetapi bagaimana bisa seperti itu?.


[Seperti yang anda duga, semua itu karena efek pekerjaan Pervert yang telah mencapai level maksimum]


Sania mendorong tubuhku hingga didik di atas meja, wanita itu pun segera duduk di atas pangkuanku.


Senyumnya merekah saat mulai memasukkan milikku dengan tangannya sendiri.


“Aumhh.. ini sangat besar...”


Wajah sania menunjukkan kesakitan dan kenikmatan secara bersamaan ketika milikku mulai memasuki lembah miliknya.


Meja kembali bergetar manakala Sania mulai mengendalikan permainan, suaranya terus meracau dengan suara benturan yang terus bersahutan.


“Tuan milik anda sangat luar biasa, aku tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya.”


Sania memperhatikan wajahnya yang begitu senang, sudah jelas jika dia memang hanya ingin bermain denganku.


Tetapi wanita yang terlihat begitu berpengalaman pun hanya bisa bertahan selama dua puluh menit bermain denganku.


Berkali-kali kami saling mencapai puncak bersama yang membuat seluruh tenaga Sania terkuras.


Tiga karyawan yang berdiri di belakang dapat dengan jelas kelihatan lembah Sania banjir oleh semen yang aku berikan padanya.


Tubuh Sania yang sudah begitu lemas aku singkirkan begitu saja bersama dengan Siti. Walaupun dua wanita telah timbang namun hasrat ku masih belum terpuaskan.


Tersisa tiga karyawan lainnya, mereka terlihat agak ketakutan saat melihatku mulai mendekat.


Tetapi walaupun ketakutan tidak ada satupun pun dari mereka yang memohon untuk ku menjauh. Ketiganya seakan sedang kebingungan.

__ADS_1


“Kyaaa....”


Salah satunya berteriak saat aku menariknya, tetapi teriakannya segera terhenti ketika aku mengunci mulutnya dengan mulutku.


Hanya dengan ciuman brutal membuat perempuan itu menyerah, lengannya melingkari leherku dengan agak menekan seakan dia menginginkan lebih.


“Aku membutuhkan bantuan mu.” pintaku


“Aku... aku akan melakukan yang terbaik.” wajahnya begitu merah saat mengatakan itu.


Jesika mulai turun untuk merawat milikku, aku menggenggam erat tembus merah pendek wanita itu saat merasakan kenikmatan mulutnya.


Tatapanku kemudian terarah pada dua wanita lainnya yang masih menonton. Riska dan Sasha mulai mendekat manakala aku meminta pelayanan mereka.


Dilayani oleh tiga wanita sekaligus membuatku sangat senang. Tidak lama kemudian Jesika kehilangan pikirannya akibat mabuk semen dariku.


Sedangkan Riska dan Sasha nasibnya sama seperti Siti dan Sania. Mereka semua terkapar dengan lembah penuh semen.


Permainan yang aku lakukan sangat keras hingga membuat mereka tidak dapat bertahan begitu lama.


Tetapi setelah menumbangkan kelimanya, sekarang aku bisa mengendalikan diri, pikiranku kembali jernih sehingga bisa bermain lebih santai sekarang.


Wanita pertama yang aku sentuh adalah Jesika, dia bisa aku gunakan lagi setelah efek mabuknya menghilang.


Suara rintihan kenikmatan Jesika terdengar keras, membuat empat wanita lainnya terbangun.


Gairah mereka kembali naik manakala melihat permainanku dengan Jesika, para karyawan tidak lagi memperlihatkan kecanggungan saat memintaku untuk menyentuh mereka.


Ruang makan itu menjadi begitu berantakan karena permainan yang kami lakukan. Semakin lama permainan berjalan kami semakin kehilangan sisi kemanusiaan.


“Mereka makan seperti anjing dan B4bl.” ucapku saat melihat lantai dan dinding yang kotor oleh makanan.


Malam itu seperti pesta besar para manusia goa. Bahkan karena terlalu mabuk mereka sampai muntah di lantai hingga buang air kecil di pojok ruangan.


Walaupun toilet berada di samping dapur, namun mereka lebih memilih mengotori ruang makan karena memang ingin melakukannya.


Penciumanku sangat tajam karena keahlian [Hero Sense], akibatnya aku dapat dengan jelas mencium bau air seni yang dibuang para wanita di ruangan ini.


“Ini sangat gila.”


Aku mencoba mengingat alasan mereka melakukan hal-hal kotor tadi malam.


“Seumur hidup mereka telah membersihkan kotoran, dan kini mereka yang ingin membuat kotoran itu.”


Aku berpikir itu sangat konyol karena...


“Bukankah nanti juga mereka sendiri yang akan membersihkan kotoran mereka sendiri?.”


Ya, entah. Orang mabuk memang terkadang melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Ini juga salahku karena menawari mereka minum sembari bercinta.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2