
[Chapter Dewasa]
Keduanya saling berpelukan dengan Nafa terputus-putus. Budi mengambil botol yang ditawarkan oleh Yuniar, membuka tutupnya dalam satu jentikan ibu jari lalu meminumnya dalam jumlah banyak.
Budi menekan pipi Yuniar dengan kasar sehingga bibirnya terbuka lalu pemuda itu segera menciumnya saat mulutnya penuh oleh minimum.
Yuniar tidak marah atas perlakuan kasar Budi, justru dia menikmati cara pemuda itu memberinya minum dari mulut ke mulut.
Perlahan Yuniar merasakan milik Budi yang masih di dalam dirinya mulai bereaksi. Dia sadar jika Budi ingin melanjutkan permainan, namun sayangnya.
“Kita harus segera ke atas, atau para gadis akan curiga.” bisik Yuniar.
Sebenarnya Wanita ini juga menginginkan permainan dilanjutkan, karena hanya keluar dua kali tidak membuatnya benar-benar puas.
Tetapi apalah daya, dia tidak ingin hubungan dengan Budi diketahui oleh orang lain terutama putrinya sendiri, Raya.
Memahami itu, Budi melepaskan Yuniar, wanita itu memejamkan mata merasakan sensasi menggelitik saat torpedo itu ditarik mundur dari dalam lembah miliknya.
Melihat milik Budi yang tegak berdiri begitu kokoh, yuniar menunjukkan wajah meminta lebih dengan mengigit bibir bawahnya.
Namun Budi mengabaikannya, ia meminum minumannya hingga tersisa tengah, lalu memberikannya kembali pada Yuniar.
“Ah, tiba-tiba aku ingin buang air kecil,” ucap Yuniar setelah menghabiskan seluruh minuman di dalam botol.
Wanita itu hendak turun dari Anvil, namun Budi menghentikannya.
“Kenapa kau tidak melakukannya di sini?.”
Perkataan Budi sontak membuat Yuniar terkejut.
“Kau ingin aku mengencingi tempat mu bekerja?.”
“Tidak masalah, aku justru ingin kau melakukannya.”
Budi memohon agar Yuniar mengabulkan keinginannya. Karena terus di dorong dan perasaan kesenangan yang aneh saat melihat Budi begitu bersemangat melihat tubuhnya, Yuniar pun akhirnya mengabulkan keinginan Budi.
Duduk di atas Anvil, Yuniar membuka lebar kedua kakinya memperlihatkan pada Budi yang berdiri didepannya lembah surga miliknya yang ditumbuhi rambut lebat.
“Bisakah aku merekam ini?.” pinta Budi sambil mengelus lembut paha putih Yuniar.
Karena Budi memelas saat memintanya membuat Yuniar sulit untuk menolak. Ia pun membiarkan Budi merekamnya.
“Ini sangat memalukan...”
Yuniar menutup wajahnya dengan telapak tangan sedangkan tangan yang satunya membuka lembah terbelahnya menggunakan dua jari agar lebih mudah mengeluarkan air seni.
__ADS_1
“Tidak perlu malu bi, bibi terlihat sangat menggairahkan saat ini.”
Budi merekam Yuniar buang air kecil dari awal hingga akhir. Mulai dari mutiara yang berkedut, cairan yang Budi tinggal mulai keluar dari lubang Yuniar, hingga akhirnya air mancur yang ditunggu keluar dengan begitu deras.
“Luar biasa, ini akan menjadi koleksi yang bagus.”
Budi memutar ulang video yang baru dia ambil, sedangkan Yuniar mulai merapikan bajunya.
***
Keduanya keluar dari toko, menyaksikan malam di kota yang terasa kembali hidup. Agar tidak di curigai, Yuniar berjalan lebih dahulu di depan Budi.
Perjalanan menuju mansion Budi habiskan dengan melihat rincian job miliknya yang sebelumnya tidak ingin dia gunakan.
Job Mesum telah mencapai level 10 tanpa Budi sadari. Selain menambah daya tarik, pekerjaan itu juga membuka keahlian baru yakni [Bujukan].
Keahlian yang dapat membuat seseorang melakukan apa pun yang diinginkan pemilik skill. Tetapi sepertinya kemampuan ini hanya bekerja pada seseorang yang [Terpesona] pada Budi, sementara kemungkinannya sangat kecil untuk berpengaruh terhadap orang asing.
Budi sebelumnya menggunakan keahlian [Bujukan] pada Yuniar untuk membuat wanita itu mau memperlihatkan caranya kencing dan membiarkan Budi merekamnya.
Mereka tiba di mansion, tempat itu tidak seramai sebelumnya. “Mungkin mereka mulai pindah.” pikir Budi yang kembali teringat dengan permintaan Yuki yang ingin rumahnya bebas dari penghuni ilegal dan pegawai sipil.
Budi datang ke mansion hanya berniat untuk memperkirakan wajahnya pada Raya dan Yuki agar keduanya tidak khawatir dan merasa bersalah setelah memberikan pekerjaan yang begitu banyak untukku.
“Woah, rupanya seperti ini statistik yang aku miliki!.” Raya terlihat senang melihat statistik miliknya dari kartu identitas guild.
___________________________________________
Ras: Manusia
Job: Commander LV 17
Gelar: Leader of Batalyon
Skill: Beginner Spears IV, Beginner Estoc II, Persepsi bahaya V.
Skill Job: Legion Control, Speech
___________________________________________
Walaupun dia tidak bertarung secara langsung kemarin, tetapi dia tetap mendapatkan poin pengalaman akibat kemampuan job yang dia miliki memungkinkan Raya untuk mengambil 2% dari pengalaman yang didapatkan oleh pasukan yang dia pimpin.
Sama seperti Raya, Yuki dan Liliana pun senang saat melihat statistik yang mereka miliki. Dan juga kekhawatiran yang aku miliki ternyata benar, mereka tidak mungkin memberikan kartu identitas dengan efek sihir pada setiap anggota guild.
“Kita akan memberikan kartu identitas dengan efek sihir Lokasi untuk anggota baru. Efek akan terus ditambahkan sesuai nilai kontribusi yang mereka berikan.”
__ADS_1
Liliana menuliskan beberapa hal yang nantinya akan menjadi peraturan.
Pertemuan itu hampir saja menjadi rapat lainnya saat setiap orang mulai berdiskusi. Tetapi ketika Budi hendak pergi, mereka pun kembali lagi ke kenyataan.
“Mau pergi kemana, pesta masih berlangsung.” tanya Yuki. Dia khawatir jika diskusi tadi membuat Budi tidak nyaman sehingga memilih untuk meninggalkan pesta.
“Aku sudah tidak tahan lagi, aku harus segera pergi ke toilet.” Budi menjawab dengan begitu terburu-buru.
Melihat itu semua gadis mengerti dan membiarkan Budi pergi. Sedangkan Yuniar ingin membantu Budi karena tahu apa yang sedang terjadi pada pemuda itu.
‘Dia ke toilet bukan hanya sekedar untuk buang air, kan?.’ pikir Yuniar.
Tetapi sayangnya jika dia memilih untuk segera mengikuti Budi, maka bisa membuat Raya curiga.
Di sepanjang jalan menuju toilet, Budi berpapasan dengan para pelayan yang mondar-mandir mengantarkan makan dan minuman untuk mereka yang berpesta di aula utama mansion.
Mendapatkan sebuah ide, Budi kemudian menempatkan pekerjaan orang mesum di slot keempat job.
Lalu saat dia melihat sepasang Pelayan wanita lewat, Budi segera menangkap tangannya. Pelayanan itu terkejut ketika tiba-tiba Budi menghentikannya.
“Ada apa?.” tanya Pelayan penasaran.
“Aku butuh bantuan mu.” saat berbicara dengan Pelayan, Budi mengaktifkan keahlian [Bujukan] membuat wanita itu merasa iba dan hendak menolong.
Tanpa mengatakan apa pun Budi langsung menariknya menuju toilet dan memanggungkan bilik paling ujung.
“Apa apaan ini?.” Pelayan marah karena Budi membawanya ke toilet pria.
“Maafkan aku nona, tetapi aku benar-benar membutuhkan bantuan anda di bagian ini.” Budi mengarahkan tangan Pelayan ke bagian celana yang menonjol.
Wanita itu sangat terkejut dan berniat untuk keluar dari toilet meninggalkan Budi. Namun efek pesona terlalu kuat untuk dia lawan.
Telapak tangan Budi mengusap pipi Pelayan itu membuatnya merona dan dadabya mulai terasa sesak.
“Aku tidak memiliki siapapun untuk diajak berbagi, aku mohon padamu untuk membantuku.”
Budi membuka sangkarnya, melepas burung miliknya. Melihat ukuran milik Budi membuat pelayan itu terkejut, tangannya masih diarahkan oleh Budi untuk menyentuhnya.
Secara perlahan tangan Pelayan itu mulai bergerak sesuai dengan kemauannya.
“Baiklah aku akan menolong mu.”
“Uwa, terimakasih!.”
“Hey, tenang. Jika berisik nanti ada yang mengetahui keberadaan kita.”
__ADS_1
Budi duduk di closet, sementara tangan si pembantu masih menggenggam ayam jago miliknya seakan tidak ingin melepasnya.
Melihat Budi sudah siap, pelayan pun mulai turun, memberikan pelayanan terbaik untuk tamu majikannya.