Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
53. Kembali Minum


__ADS_3

Budi membuat meja makannya begitu pendek sehingga membuat orang yang ingin menggunakan harus duduk dilantai. Terasa begitu nyaman ketika duduk di atas karpet kulit kelinci, setiap orang menikmati makan malam dengan hati yang baik.


“Aku tidak menyangka kak Budi bisa memasak.” Raya memberikan pujian saat mulutnya dipenuhi oleh nasi dan sayur kangkung buatan Budi.


“Akhirnya aku tidak perlu khawatir lagi dengan berat badan karena terus memakan daging.” Yuki tidak henti-hentinya mengambil sayuran. Walaupun dia berpikir jika sayuran baik untuk menjaga bentuk tubuh, namun jika dia makan dalam porsi besar Sans saja bohong.


Satu-satunya yang masih terlihat tenang di sini adalah Rohid, sepertinya dia tidak terlalu suka memakan sayuran sehingga di piringnya hanya ada nasi dan daging goreng. Melihat itu Yuniar menyuruhnya untuk menambah sayuran sebagai penyeimbang.


Tidak ingin melihat ibunya marah, Rohid pun hanya bisa menurut.


Ketika menikmati makananku, tatapanku teralihkan pada televisi yang masih menyala. Aku melihat siaran langsung penyerang Dungeon di televisi yang sedang populer beberapa bulan belakangan.


Sebuah acara yang menampilkan secara langsung pertarungan manusia melawan monster. Acara banyak menarik perhatian karena selain menghibur juga berisi pembelajaran bagaimana menghadapi monster di dalam Dungeon.


Bencana monster telah menimbulkan banyak sekali kerusakan, banyak prajurit yang gugur demi mempertahankan kedaulatan negara. Akibatnya saat ini negara dalam kondisi darurat pertahanan.


Jumlah tentara yang ada tidak mungkin bisa mempertahankan semua wilayah pengungsian di seluruh negeri. Alhasil warga yang masih bertahan pun hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup.


Mereka yang memburu monster disebut sebagai Hunter. Keberadaan mereka sangat didukung oleh pemerintah karena telah membantu keamanan wilayah dengan membasmi para monster.


Sudah banyak bermunculan kelompok Hunter yang mendirikan perserikatan, atau yang mereka sebut sebagai Guild. Sebuah perserikatan biasanya akan menguasai wilayah tertentu, para Hunter profesional diberikan bantuan oleh pemerintah untuk membersihkan Dungeon, walaupun hingga saat ini tidak ada satupun yang berhasil melakukannya.


[Guild Fury Four akhirnya berhasil melangkah ke lantai sepuluh. Ini adalah momen bersejarah karena untuk pertama kalinya bagi umat manusia melihat lantai ke sepuluh Dungeon]

__ADS_1


Pemberitaan di televisi seperti biasanya selalu berlebihan. Konten tentang penaklukan dan penjelajah Dungeon sedang membanjiri media sosial sekarang m para Hunter dianggap sebagai pahlawan karena berani mengorbankan nyawa untuk membasmi monster.


Tidak sedikit sebuah guild Hunter akan mendapatkan dukungan dari pihak swasta karena bisnis material monster dianggap sangat menjanjikan dan memiliki prospek masa depan yang cerah


***


Selesai makan dan sedikit mengobrol akhirnya semua orang mulai berpamitan. Sebelumnya Yuki dan Raya juga mengutarakan tentang rencana mereka untuk mendirikan sebuah Guild yang akan menjaga kedamaian kota Sawi dari para monster.


Budi mendapatkan tawaran untuk bergabung menjadi salah satu Eksekutif, namun pemuda itu menolak karena takut menimbulkan masalah. “Akan ada banyak orang yang merasa kalian berlaku tidak adil, jika seseorang yang datang entah darimana tiba-tiba mendapatkan posisi teratas di dalam komunitas yang telah mereka bangun.” begitu alasan Budi.


Raya dan Yuki pun paham dan berpikir memang alasan itu masuk akal. Budi saat ini hanya orang asing, tidak banyak orang yang mengetahui kemampuan pemuda itu. Jika tiba-tiba dia menjadi eksekutif dari sebuah organisasi yang telah dibangun dengan susah payah oleh para Hunter kota Sawi, tentu akan banyak menimbulkan masalah.


Yuki mengatakan peresmian pembentukan guild akan dilakukan setelah mereka berhasil membuka jalan menuju Dungeon, sehingga saat ini mereka sedang merencanakan penyerbuan besar-besaran untuk memusnahkan monster yang berada Budi sekitar area Dungeon.


“Tentu, tapi demi menjaga identitas, aku mungkin hanya akan bertindak sebagai support.” Budi menegaskan posisinya.


“Tidak masalah, justru itu adalah jalan terbaik karena kami bisa menentukan para Hunter yang layak untuk bergabung dengan guild kami.” Budi bisa melihat senyum aneh pada mata Raya saat mengatakan itu.


“Houh, jadi kau ingin menggunakan pembersih monster sebagai seleksi anggota guild. Bukankah kau cukup kejam.” pemuda itu tidak menyangka ada sisi gelap pada diri gadis berambut merah Itu.


“Kejam dalam artian yang bagus bukan?.” Raya tersenyum begitu cerah seakan kegelapan dari kata-kata yang dia ucapkan adalah sebuah pembenaran yang mutlak harus dilakukan.


“Aku pikir itu menang perlu. Dunia yang berubah, pemikiran tentang kemanusiaan pun harus dirubah.” kata Budi yang menang tidak ingin berpikir terlalu naif.

__ADS_1


Pada akhirnya anak-anak kembali ke Mansion, sementara Yuniar masih tinggal karena Budi memintanya untuk membantu beres-beres. Sebuah permintaan yang bisa dia tolak dengan mudah, namun entah mengapa Yuniar mengiyakan permintaan Budi.


Keputusan Yuniar bahkan membuat Budi sendiri sangat terkejut, padahal sebenarnya dia melakukan permintaan karena keisengan semata.


Keduanya membersihkan peralatan dan sampah di dapur dalam keheningan. Banyak pemikiran yang berkecamuk di dalam kepala, mata mereka saling mencuri pandang namun segera membuang wajah ketika tatapan saling bertemu.


Pada akhirnya membersihkan dapur dan ruang makan berakhir dengan cepat, mungkin karena keduanya melakukan pembersihan dengan terburu buru. Setelah itu Yuniar berpamitan karena tugasnya sudah selesai, namun Budi dapat melihat keraguan ketika wanita itu hendak meninggalkan rumahnya.


“Apa kau ingin minum dengan ku sebelum pergi?.”


Mata Yuniar terbelalak mendengar ajakan Budi. Dia terdiam sesaat, tatapannya menatap tangan yang sudah menggenggam gagang pintu bersiap membukanya. Namun perlahan tangan Yuniar ditarik mundur, dia tidak jadi meninggalkan rumah Budi.


“Tentu, itu pasti akan sangat menyenangkan.” wajah Yuniar terlihat begitu merah ketika mengatakannya. Budi pun kembali mengantar wanita itu ke ruang makan.


Mengambil satu botol minum, Budi membaginya bersama. Minuman itu lebih ringan dari terakhir kali mereka minum bersama. Setelah meminum berapa gelas Budi memberanikan diri untuk mendekati Yuniar.


Yuniar terlihat kesulitan namun dia tidak memperlihatkan penolakan, bahkan ketika Budi mencium bibir tebalnya Yuniar tidak bisa berbuat apa-apa.


Yuniar tidak mengira jika Budi begitu lihai bermain dan meningkatkan hasrat. Tanpa ragu Budi menaikkan tubuh Yuniar ke atas meja lalu segera memulai permainan panas. Yuniar merasa terbebaskan ketika dia akhirnya bisa melepas hasratnya yang tertumpuk sekaligus.


Permainan berjalan singkat hanya berlangsung tiga puluh menit namun begitu menguras tenaga. Yuniar masih tertidur di atas meja dengan baju yang berantakan, sedangkan Budi berdiri didepannya menatap dengan miliknya yang masih bertenaga.


“Kita masih belum selesai, bukan Bibi.” Budi menarik tangan Yuniar lalu membawanya ke kamar yang belum pernah dia tempati.

__ADS_1


Budi tidak akan pernah mengira akan menggunakan job yang selama ini dia pikir tidak berguna yaitu job (Pervert). Job itu telah naik level semenjak kejadian kemarin, dan kali ini pun sepertinya akan kembali naik.


__ADS_2