Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
31. Now this is...


__ADS_3

Udara panas terasa menyiksa, aku merasa paru-paruku terbakar saat menarik nafas. Kulitku terbakar, seakan besi panas menempel di seluruh kulitku.


Jarak antara aku dengan Wong Pute sejauh seratus meter, kobaran api membakar area tempat dia berada.


Aku tahu tidak mungkin bisa mengalahkannya, pergi lebih dekat hanya akan berakhir dengan kematian. Aku akan berakhir menjadi arang seperti daging kelinci yang selalu aku masak.


Tetapi.... Menatap teman-temanku yang kehilangan kesadaran.


Jika terus seperti ini mereka tidak akan ada yang selamat. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan mereka. Semua ini terjadi karena salahku, seandainya aku tidak berburu di malam hari pasti semua ini tidak akan terjadi.


Jika pun mereka pada akhirnya tidak selamat, aku pun harus terus bersama mereka.


Ledakan api dari Wong Pute begitu luar biasa, aku tidak tahu seluas apa area ledakannya, namun yang pasti seluruh area yang aku lihat telah terbakar.


Aku merasa seakan sedang berada di tengah-tengah neraka.


Melihat area api seluas itu membuatku berpikir tidak ada kesempatan untuk kabur. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menghentikan hawa panas ini langsung dari sumbernya.


“Sekarang atau tidak sama sekali!.”


Dengan segenap keberanian yang masih tersisa aku mulai keluar dari kolong jembatan tempatku berlindung, kemudian langsung berlari menuju Wong Pute.


Gelombang panas langsung menyambutku begitu meninggalkan kolong jembatan. Bau gosong mulai tercium, rambut di sekujur tubuhku mulai terbakar begitu juga pakaian yang aku gunakan.


Jika saja aku tidak menggunakan (Aura) untuk melindungi tubuhku, maka hanya satu detik setelah keluar dari kolong jembatan sudah dipastikan aku akan berubah menjadi arang.


Namun efek penguatan dari (Aura) tidak cukup menahan semua panas api.


Tubuhku merasa sakit luar biasa tetapi aku tetap berlari, gigiku mengerat menahan rasa sakit hingga air mataku mulai mengalir deras. Aku telah melihat apa yang mungkin terjadi, usaha yang aku lakukan untuk melawan manusi abu hanya memiliki 0,5% tingkat keberhasilan.


Aku benci mengetahui itu karena aku adalah orang yang selalu sial. Aku tidak pernah mendapatkan hadiah yang aku inginkan jika cara mendapatkannya menggunakan sistem perjudian.


Keberuntungan yang aku miliki begitu buruk, sampai-sampai jika aku diberikan sepuluh kali kesempatan untuk mendapatkan sepuluh hadiah dimana salah satunya adalah hadiah yang paling aku inginkan. Maka di kesempatan ke sepuluh lah aku baru mendapatkan hadiah yang aku mau.


Aku harus mengambil semua sampah lebih dahulu sebelum akhirnya mendapatkan emas. Karena kesialan inilah aku sangat menghindari apa pun yang berguna dengan perjudian.


“Tetapi lima persen kesempatan menang. Bukankah manusia paling beruntung di dunia pun mustahil untuk menang jika presentase kemenangannya sekecil itu?.”


Otakku terus memikirkan hal-hal tidak berguna, hawa panas yang semakin kuat saat aku semakin dekat dengan Wong Pute, membuat aku kehilangan fokus.


‘Tetapi apa pun yang terjadi aku harus melangkah ke depan.’


Persetan dengan persentase kemenangan, aku akan tetap melakukannya.


‘Lagipula jika pun ingin mundur, semuanya sudah terlambat.’


Mata kanan sudah tidak dapat digunakan, hanya mata kiri yang masih bisa berfungsi. Kulitku menghitam dan melepuh seperti daging gosong, aku merasakan darahku sudah mendidih hingga seluruh pori-pori mengeluarkan asap.

__ADS_1


[Ketahanan rasa sakit level up]


[Ketahanan api level up]


[Skill Aura level up]


[Ketahanan api level up]


..................


............


.....


Rasa sakit akibat luka bakar mulai berkurang seiring level yang semakin bertambah. Tetapi semakin aku mendekati Wong Pute, semakin panas api yang aku masuki. Sehingga seluruh efek resistansi pun menjadi tidak berguna.


Hanya seratus meter, tetapi aku merasa jarak itu begitu jauh hingga rasanya ribuan kilometer jauhnya. Ini sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan ketika beberapa hari lalu ingin pergi ke Minimarket.


Halangan hanya para monster yang bisa aku lawan berkali-kali waktu itu. Tidak ada api yang berkobar di sekitar, aspal pun tidak mendidih seperti yang terjadi saat ini.


‘Kenapa aku berjuang begitu keras, menanggung semua rasa sakit itu. Apa yang sebenarnya aku perjuangkan?.’


Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di kepalaku. Langkah kakiku mulai mengendur, aku kembali berpikir semua yang aku lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan.


Apa aku patut menanggung semua ini?,


Apa karena aku benar-benar ingin menjadi seorang pahlawan?.


Tetapi aku bahkan tidak tahu apakah dunia membutuhkan aku atau tidak.


Aku hanya ingin menyelamatkan mereka, semua bintang dan Jek yang sudah aku anggap sebagai keluarga.


Sebuah jawaban yang dalam sekejap membuat aku begitu tenang, perasaan damai seolah mengalami pembebasan.


Rasa sakit itu tiba-tiba lenyap.


Ding!


[Pain Resist level Max]


[Fire Resist level up]


ku hanya berjalan tanpa berpikir untuk lari. Aspal jalan mencair, tidak terasa menyakitkan namun masih agak panas. Tatapanku tertuju pada sosok Wong Pute yang hanya tersisa jarak sepuluh meter, hingga aku bisa mencapainya.


Melihat aku yang mendekat makhluk putih itu menyerangku menggunakan ledakan api putih seperti sebelumnya. Aku tidak mungkin menghindari itu dengan tubuh terbakar seperti ini, alhasil aku hanya bisa menerima serangan yang datang begitu saja.


[Fire Resist level up]

__ADS_1


Walaupun begitu panas tetapi hanya itu saja, rasa sakit sudah tidak bisa melukaiku lagi.


Tubuhku sempat terdorong karena ledakan, tetapi aku bisa bertahan dan kembali melangkah maju. Wong Pute berulang kali kali melempar sihir api kerahku, namun berkali-kali juga aku bisa bertahan dan terus maju.


Wajah makhluk itu menunjukkan sebuah senyuman, apa dia sebagai melihat penderitaan ku?. Aku akan segera menggapainya, lalu kenapa dia terlihat tidak peduli akan hal itu.


Tidak ada sedikitpun ketakutan yang aku rasakan dari makhluk ini. Itu membuat perasaanku merasakan sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.


Wong Pute penunjuk ke arahku menggunakan jari telunjuknya. Ini berbeda dari sebelumnya dimana monster ini selalu menggunakan telapak tangan untuk mengeluarkan semburan api.


Kemudian sebuah cahaya bersinar dari ujung jari telunjuk Wong Pute. Lalu dalam sekejap sebuah laser merah ditembakkan ke arahku membuat salah satu kaki ku terpotong.


Kehilangan satu kaki membuatku tidak berdaya, aku pun terjatuh di atas aspal panas. ‘Setelah sejauh ini, apakah ini akhirnya?.’ aku tidak memiliki tenaga yang tersisa untuk bangkit. Tembakan laser berikutnya membuat tangan kananku terpotong, hilang sudah harapanku untuk bangkit.


Ini akan menjadi akhir dari perjuanganku, terkapar tepat di depan makhluk itu. Jarak diantara kami hanya tersisa tiga meter. Mungkin itu adalah sebuah tekor baru, karena yang aku tahu tidak ada seorangpun yang bisa mendekati makhluk ini kurang dari dua puluh meter karena terlalu panas.


Bahkan peluru pun akan meleleh sebelum menyentuhnya.


“Jarak yang tidak bisa digapai.” Tatapan mata kiri yang terus menatap kaki Wong Pute, kini mulai menutup.


Aku akan mati kali ini....


“Kan?.”


Sebuah tetesan air membasahi wajah ku, semakin lama tetesan itu semakin deras. Hujan deras tiba-tiba mengguyur, membuat api di sekitar padam.


Aku bisa bernafas sekarang, walaupun itu tidak akan lama hingga aku terbunuh karena luka bakar dan pendarahan yang aku alami.


Mataku mencoba melihat kondisi monster itu, apakah air hujan mempengaruhinya?, Tetapi sepertinya tidak, makhluk itu terlihat baik-baik saja seakan air bukanlah kelemahannya.


‘Lalu apa, apakah dia seorang Dewa hingga tidak memiliki satupun kelemahan?.’


Tidak, makhluk ini bukannya tanpa kelemahan. Buktinya aku bisa melukainya dengan serangan (Airwaves). Luka itu bahkan masih terlihat jelas, seakan Wong Pute tidak bisa menyembuhkannya.


“Itu artinya dengan (Aura) aku bisa mengalahkannya.”


Tetapi tetap saja, tidak ada kesempatan yang aku miliki untuk melakukan serangan balik. Seolah mengerti aku masih bisa menyerangnya, wong Pute hanya berdiri diam menatapku yang sekarat.


Jika saja dia mendekat sedikit saja, aku pasti akan melompat menggunakan satu kaki lalu mencekik lehernya dengan lengan yang tersisa. Tetapi tentunya kesempatan seperti tidak akan terjadi.


Petir yang menyelamatkan aku dari Laba-laba pembunuh, tidak mungkin datang untuk keduakalinya.


“Now this is.... the end.”


Sebelum aku kembali menutup mata, sebuah teriakan terdengar sayup-sayup ditengah derasnya hujan.


‘Mungkinkah.....’

__ADS_1


__ADS_2