Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
61. Sukarelawan untuk menjadi Umpan


__ADS_3

Suara cemoohan berubah menjadi pujian.


Wajah yang putus asa berubah menjadi kebahagiaan.


Beberapa kata dari Yuki dalam sekejap merubah kebencian ratusan Hunter pada Dimas dan kelompoknya, menjadi kebanggaan dan rasa iri.


Itu berawal dari Yuki yang mengatakan teorinya tentang penyebab Dimas tidak lagi merasa nyaman menggunakan tombak.


Gadis berambut pendek hitam itu mengatakan jika Dimas telah menjadi lebih kuat sehingga membangkitkan bakat terpendam Dimas yang sesungguhnya.


“Saya pikir sebaiknya anda mulai berpikir untuk belajar menggunakan pedang setelah pertemuan ini usain.” saran Yuki pada Dimas.


Tentu saja beberapa Hunter tidak langsung mempercayai perkataan tangan kanan komandan Raya itu.


Tetapi setelah menunjukkan jika Raya pun saat ini menggunakan satu senjata cadangan yang berbeda dengan senjata utama, membuat banyak orang mulai percaya.


“Bakat terpendam yah.”


“Apa ini sungguhan?.”


“Tapi ini yang bilang Nona Yuki loh.”


“Jadi itulah kenapa Nona Raya membawa pedang.”


“Akun Goblin Factory tidak pernah membahas hal ini sebelumnya. Jika teori tersebut memang benar, maka akan menjadi sebuah penemuan baru.”


Semua orang jatuh pada pemikiran mereka masing-masing. Dimas bersyukur karena dia akhirnya lepas dari masalah, ditambah dia bahkan diberikan ucapan selamat dari banyak Hunter karena Yuki sendiri menyebutnya telah menjadi lebih kuat.


“Jika memang apa yang dikatakan oleh Nona Yuki benar. Maka aku ingin tahu bakat terpendam yang aku miliki.” Liliana berkata dengan suara pelan, hingga hanya Budi yang berada paling dekat dengannya dapat mendengar ucapan gadis itu.


Tatapan Lilian tertuju pada pedagang yang baru saja diperbaiki. Pedang berjenis longsword itu sebelumnya hanyalah pajangan di dinding rumahnya. Namun kini pedang itu dia gunakan untuk melindungi diri dan menjadi sahabat terdekatnya untuk mencari kekuatan.


“Kau sudah berada dijalan yang benar.” ucap Budi. Mendengar itu Liliana mengalihkan pandangannya dari para Hunter yang sedang bergembira.


“Bagaimana kau tahu?.” tanya Liliana.

__ADS_1


“Percayalah, aku tahu.” balas Budi singkat.


“Tahu apa kamu!.” balas Raya tiba-tiba.


“Tahu kuning.” jawaban Budi membuat Raya terkekeh.


Kehadiran Raya membuat Liliana terkejut, karena dia tidak menyadari kehadiran Raya sebelumnya.


Melihat kedekatan Raya dan Budi membuat Liliana merasa penasaran dengan hubungan keduanya.


Gadis itu teringat dengan pembicaraan para orang kaya yang mendukungnya, mereka mengatakan jika kubu Yuki telah mengambil seorang pemuda cacat yang terlihat tidak berguna.


Dalam sekejap Liliana sadar yang dimaksud oleh rumor itu adalah Budi. Tetapi sampai saat ini Liliana sama sekali tidak melihat jika Budi adalah pemuda yang tidak berguna.


Tetapi justru sebaliknya. Jika saja tidak ada Budi mungkin saja tidak ada orang lain yang bisa memperbaiki senjata para Hunter.


Ditambah fakta jika sebagai besar senjata yang digunakan para Hunter kota Sawi berasal dari toko baru milik Budi. Itu sudah cukup memberitahu nilai dari pemuda cacat ini.


‘Bagaimana aku baru menyadarinya?.’ tatapan Liliana terus memperhatikan Raya dan Budi yang terlihat begitu akrab. ‘Mataku tertutupi oleh omong kosong para penjilat itu sehingga tidak melihat sebuah tambang emas di depan mataku sendiri.’


Satu jam berlalu, waktu istirahat telah usai. Live kembali berjalan, pasukan pun mulai bergerak melanjutkan pawai penaklukan.


Ridwan dengan armor besi lengkap bagaimana kesatria kaleng memimpin di barisan paling depan. Helem besi berbentuk ember yang dia kenakan membuatnya cukup menarik perhatian.


“Lihat pak, anda mendapatkan seribu subscriber baru.” salah satu anak buah Ridwan menunjukkan ponselnya. Tetapi bukannya pujian, yang didapat bawahan itu justru kemarahan.


“Dasar tidak bertanggung jawab! Kota sedang melakukan tugas berbahaya, kami malah serbuk main HP!.”


Ridwan segera mengambil ponsel milik bawahannya yang katanya untuk disita. Namu yang sebenarnya Ridwan sendiri ingin melihat jumlah pengikutnya di sosial media.


Walaupun terlihat biasa saja tetapi yang sebenarnya saat ini Ridwan sedang tersenyum lebar di balik Helem.


‘Mantap, jika seperti ini terus aku bisa jadi influencer’


Ridwan sangat senang menjadi semakin terkenal.

__ADS_1


“Persiapkan diri kalian. Monster ada di depan!.”


Tiba-tiba teriakan Raya terdengar keras, dalam sekejap semua Hunter mempersiapkan senjata mereka untuk bersiap menghadapi monster.


“Pak bagaimana ini? Apa kita akan bergabung dengan pasukan nona Raya seperti sebelumnya?.” tanya bawah Ridwan.


“Alah, tidak usah. Palingan yang kita hadapi hanya monster lemah seperti sebelumnya. Kita akan tetap di barisan depan dan menghadapi para monster tanpa rasa takut.”


Ketenaran membuat Ridwan besar kepala. Dia tidak ingin bergabung dengan pasukan yang Raya pimpin karena Ridwan mengaggap itu hanya akan membuatnya sulit mendapatkan sorotan.


“Tapi pak, kita sudah semakin dekat dengan Dungeon loh.” salah satu anak buahnya memberikan peringatan jika monster akan semakin kuat jika berada lebih dekat dengan Penjara Bawah Tanah.


Tetapi Ridwan justru mengabaikan saran bawahannya


“Jangan menjadi pengecut! Atau kau akan membuatku malu!.”


Bawah itu terdiam saat merasakan nafsu membunuh dari perkataan Ridwan. Pada akhirnya mereka pun terus berjalan dengan kecepatan yang sama walaupun pasukan di belakang mereka sudah menurunkan kecepatan karena waspada.


“Apa yang mereka lakukan?.” Raya heran dengan grup yang Ridwan pimpinan semakin menjauh dari rombongan. Rombong itu hanya berjumlah tujuh orang, jumlah sebesar biru hanya akan menjadi sasaran empuk bagi moster di wilayah sekitar Penjara bawah tanah.


“Yeah, setidaknya kita tidak perlu repot-repot memilih pasukan yang akan dijadikan umpan.” Raya membiarkan pasukan Ridwan bergerak lebih dahulu, sementara dia mempersiapkan pasukan khusus untuk membantu jika keadaan tidak terduga terjadi.


Dedaunan bergoyang di beberapa pohon, seakan sesuatu tengah bergerak dengan cepat di dahan. Lalu tiba-tiba dengan cepat beberapa Rakun assassin melakukan serangan dadakan. Ridwan dan bawahannya tidak siap dengan serangan dadakan membuat mereka menjadi target penyerangan yang mudah.


Melihat monster telah menyerang, Raya segera memerintahkan pasukan khusus untuk segera menyelamatkan nyawa pasukan ‘Umpan’.


Yuki, Rohid bahkan Yuniar berada di dalam pasukan berjumlah sepuluh Hunter. Mereka adalah pasukan ringan yang memiliki mobilitas tercepat dari pasukan lain sehingga dapat dengan mudah memberikan bantuan pada pasukan ‘Umpan’.


Ridwan berteriak keras ketika salah satu lengan digigit Rakun. Serangan berikutnya datang untuk merusak wajah pria itu, dalam sekejap Ridwan membayangkan wajahnya menjadi buruk dan tidak tampan lagi.


“Tidak apapun tapi jangan wajahku yang tampan seperti Jeng kook!.” Ridwan berteriak keras karena sangat ketakutan kehilangan wajah tampan yang sudah payah dia dapatkan dari Korea.


Tetapi sepertinya keberuntungan masih berada di pihaknya, karena sekelebatan cahaya putih yang ternyata sebuah pedang menusukkan Rakun assassin yang hendak menyerangnya.


Rambut putih keemasan tergerai indah seperti benang sutra. Liliana yang bergabung dengan pasukan khusus datang berbarengan dengan Yuki, keduanya bertarung dengan sengit melawan para Rakun assassin.

__ADS_1


“Ini perasaanku saja, atau mereka memang sedang berduel?.” ucap Budi saat melihat dua gadis yang sangat berlawanan, mereka terlihat seperti saling berkompetisi mengalahkan monster terbanyak.


__ADS_2