
Pertemuan itu di hadiri oleh Raya sebagai perwakilan para Hunter.
Yuki pemilik rumah penampungan yang kini menjadi pusat kota baru.
Liliana wakil dari beberapa orang berpengaruh yang mendukungnya.
Ridwan mewakili kepolisian dan satuan keamanan.
Beberapa orang kaya yang memiliki pengaruh cukup besar di kota. Mereka datang ke mari begitu melihat pertempuran telah usai.
Lalu yang peserta terakhir adalah...
“Bisakah aku pergi saja, karena aku benar-benar sudah lapar.” Budi yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
Semua orang yang semula memperhatikan pidato dari salah satu orang kaya seketika mengalihkan pandangan ke arah Budi.
Melihat sikapnya yang begitu arogan membuat banyak orang mempertanyakan keberadaannya di pertemuan penting itu.
‘Kenapa Raya, Yuki dan Liliana membela pemuda barbar tanpa etika seperti dia?.’ pikir setiap orang.
Liliana laku meminta pelayan pribadinya untuk melayani Budi, walaupun pemuda itu sebenarnya menginginkan keluar dari tempat ini dan makan di kantin umum. Tetapi sepertinya tiga gadis tidak mengijinkannya Budi melakukan itu.
Budi tidak tahu apa yang mereka rencanakan.
Seorang pemuda berbaju serba hitam seperti seorang kepala pelayan dari keluarga bangsawan. Ferdinand, pelayan pribadi Liliana menghampiri Budi untuk melayaninya.
Seharusnya sih begitu.
“Jadi tuan Budi bukan? Apa yang anda inginkan untuk sarapan Anda?.”
“Aku....”
“Ah saya mengerti, kesulitan karena tidak paham estetika dari makanan mewah.”
“Hah?.”
__ADS_1
Ferdinand langsung memotong perkataan Budi sebelum pemuda itu mengatakan apa yang dia inginkan.
“Karena anda kesulitan ingin makan apa, bagaimana jika aku menyarankan menu terbaik yang menurut saya pas untuk orang seperti anda.”
“Oke....”
Budi tidak bisa mengatakan apa pun, pelayan muda itu begitu menekannya. Senyum diwajahnya tidak pernah lepas, itu membuat Budi agak emosi saat melihatnya.
“Saya menyarankan hidangan otak, karena anda seperti tidak memilikinya.”
Budi menatap Ferdinand saat mendengar perkataannya. Lalu berkata, “Otak? Maksudmu otak-otak? Ya aku pikir siomay enak menjadi menu sarapan.”
Tatapan mata Ferdinand menajam setelah mendengar balasan dari Budi
“Kenapa kau masih berdiri diam di depanku seperti seorang pengemis, cepat pergi dan buatkan pesanku, pelayan.”
Perkataan Budi membuat Ferdinand merasa aliran darahnya naik hingga ke ubun-ubun, dia begitu marah dan merasa terhina karena pemuda barbar di depannya berani memerintahnya.
Tetapi sebagai seorang pelayan khusus, Ferdinand harus bisa mengontrol emosinya dan tetap terlihat elegan serta berpendidikan.
“Aku tidak ingin terjadi masalah, seperti rasa makan yang tidak enak tetapi jika mengajukan komplain kalian mengatakan lidah orang desaku tidak cocok dengan makan mewah. Itu terdengar seperti setting sinetron yang buruk bukan?.”
Mendengar Budi berbicara, membuat urat otot menyembul di dahi Ferdinand.
“Jadi aku hanya ingin kau memastikan jika makan yang akan kau berikan padaku benar-benar enak. Tentunya seorang pelayan dari keluarga kaya raya bisa melakukan itu bukan?.”
“Tentu tuan.”
Ferdinand kembali menyunggingkan senyumnya seperti biasa. Walaupun wajahnya terlihat begitu ceria, tetapi dalam hati Ferdinand mengutuk dengan keras.
***
Budi menikmati sarapannya berupa siomay dengan saus kacang.
Sementara itu perbincangan terus berlanjut. Isi dari diskusi itu adalah tentang penanganan penjara bawah tanah, rencana pembangunan tembok baru yang lebih luas dan terakhir hadiah yang akan diberikan oleh para Hunter yang ikut serta dalam penaklukan.
__ADS_1
Walaupun Dungeon berhasil di rebut namun monster akan terus berdatangan. Tempat itu harus rutin dibersihkan jika tidak ingin terjadi ledakan populasi Monster yang bisa mengakibatkan terjadinya Dungeon Rampage, sebuah bencana besar dimana monster adalah jumlah besar keluar dari dalam Dungeon.
Ada rencana untuk memusnahkan Dungeon agar penjara bawah tanah itu berhenti menelurkan monster, tetapi sampai saat ini belum ada satupun negara yang mampu melakukannya.
Kemudian rencana kedua adal pembangunan tembok kedua yang akan melindungi kota dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Tetapi rencana ini mendapatkan pertentangan terutama oleh Yuki dan Liliana.
Yuki menolak karena dia tidak ingin Mansion orang tuannya menjadi pusat dari kota Sawi yang baru. Walaupun sebenarnya rencana itu bisa membuat rumahnya menjadi lebih aman karena dikelilingi oleh tembok kokoh.
Tetapi Yuki tetap menolak karena tidak ingin Mansion itu terus menerus menjadi pusat pemerintahan kota seperti yang terjadi saat ini. Dalam artian lain Yuki cukup terganggu dengan para tamu yang ada di rumahnya.
Sepertinya saat ini para orang kaya itu masih enggan meninggalkan rumah Yuki, itu terbukti dengan mereka memberikan janji dukungan dan ancaman kemanusiaan untuk menggerakkan Yuki agar mau membuat mereka tetap tinggal di Mansion.
Tetapi Yuki tetap pada pendiriannya. Gadis itu memberikan waktu dua bulan untuk para tamu berkemas meninggalkan Mansion. Tentunya keputusan itu menimbulkan kepanikan dan ancaman, tetapi tetap saja Yuki tidak menanggapi.
“Kemudian tentang hadiah untuk para Hunter. Karena ‘Sayangnya’ kota dalam keadaan seperti ini....”
Pria bertubuh gempal yang menjadi juru bicara para pengusaha, dia terlihat sangat malas membicarakan masalah terakhir yang sebenarnya adalah pembahasan penting karena menyangkut hak para Hunter.
“Kota saat ini sedang dalam krisis, jadi sebagai hadiah....”
“Mereka akan mendapatkan tanah.”
Perkataan Liliana membuat semua orang terkejut. Awalnya para pengusaha dan orang kaya ingin menyarankan hadiah serendah mungkin berupa uang tabungan dalam jumlah setidaknya sepuluh juta pada setiap Hunter.
Walaupun mereka tahu saat ini uang tidak dapat digunakan karena perekonomian sedang macet. Tetapi mereka bisa melakukannya dengan menggunakan alasan ‘Keadaan kota yang sedang mengalami krisis’ sebagai sebuah doktrin agar para Hunter dengan rela menerima apa yang mereka dapatkan karena tergerak oleh sifat kemanusiaan.
Tetapi mendengar pendapat Liliana yang akan memberikan tanah sebagai hadiah, tentu itu adalah sebuah kebalikan dengan apa yang mereka inginkan.
Tanah di kota saat ini sangat berharga, apa lagi yang berada di dalam tembok. Jika kota Sawi nantinya berkembang menjadi kota yang mampu memberikan keamanan dari para monster, niscaya akan ada banyak orang yang datang untuk menetap di kota Sawi.
Kemudian seperti yang diketahui jika semakin banyak populasi akan membuat semakin banyak hunian yang harus dibangun dan itu membuat harga tanah menjadi semakin mahal.
Mereka yang melihat itu tentu tidak akan membiarkan rencana Liliana terjadi. Mereka ingin membeli tanah tidak bertuan untuk diri mereka sendiri, bahkan jika perlu membeli tanah yang saat ini ada pemiliknya dengan cara apapun.
Mereka berusaha memancing di dalam air yang keruh. Tidak peduli apakah yang mereka lakukan adalah tindakan baik atau buruk, yang mereka peduli hanyalah keuntungan yang bisa mereka peroleh.
__ADS_1
“Sangat dangkal.” Gumam Budi yang hanya menjadi pendengar perdebatan panas di depannya.