Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
78. Sergapan


__ADS_3

Tembakkan senjata api terdengar di sepanjang jalan yang dilalui oleh konvoi Genk The Daki. Rentetan senjata mesin, suara tembakan sniper yang menggelar terus dibuat untuk menunjukkan kekuatan mereka pada para penonton live streaming.


Walaupun banyak penonton mengutuk apa yang akan mereka lakukan, tetapi ada juga beberapa orang kagum dengan persenjataan yang Genk kriminal itu miliki.


Dunia menjadi begitu berbahaya, banyak orang yang membutuhkan senjata untuk melindungi diri dari para monster.


Konvoi itu bukan hanya tentang penghancur dan pembalasan dendam. Tetapi juga sebuah kesempatan untuk mempromosikan senjata yang mereka produksi di kota Jati.


“Ahihihi... Hanya tersisa lima puluh lagi dan kita akan melihat kota yang akan menjadi tempat bermain kita.”


Suara Spaik terdengar keras melalui spiker. Pria dengan banyak tindik di wajahnya itu begitu bersemangat, dia tidak tahan meluncur rudal yang telah dikembangkan olehnya sendiri.


Pria dengan penampilan Punk itu adalah seorang maniak bom. Dia sangat mencintai ledakan, hingga pernah meledakkan dirinya sendiri ditengah area pengungsian yang sangat padat.


Ledakan bunuh diri yang dia lakukan mengakibatkan ribuan warga meninggal, namun karena ketahanan tubuhnya membuat Spaik menjadi satu-satunya yang selamat.


“Hem?.”


Di dalam mobil terdepan Wink seakan melihat seseorang mengendarai kuda tengah menatap mereka di balik pepohonan pinggir jalan.


Sebagai seorang sniper, persepsi bahaya Wink adalah yang terbaik dari anggota lain. Dia merasa tidak nyaman ketika semakin dekat dengan kota Sawi.


Wink mengatakan perasaan tidak enaknya pada Tangji, tetapi pemimpin Genk The Daki itu justru meledeknya.


“Kenapa kau takut berperang dengan sebuah kota yang hanya menggunakan senjata primitif untuk bertahan?. Apa kau tidak malu menyebut dirimu anggota penting Genk ini?.”


Tangji begitu yakin dengan kekuatan senjata yang dia miliki. Walaupun dia sadar jika di dalam kota Sawi memiliki Hunter berbakat yang mampu bersaing dengan Hunter terbaik dunia.


Tetapi semua itu tidak ada artinya jika dihadapkan pada senjata canggih pemusnah massal yang dia bawa.


Sekuat apa pun seorang manusia yang mendapatkan kekuatan dari membunuh monster, tetap saja mereka tidak mungkin melawan kendaraan lapis baja dengan hanya menggunakan pedang dan tombak.


Begitulah yang Tangji pikirkan.


Namun rasa khawatirnya Wink semakin tidak terkendali ketika dia melihat sekitar sosok bertopeng merah di atas tiang reklame menatap ke arahnya.


Namun saat dia menunjukannya pada Tangji, sodok bertopeng menghilang dari tempatnya.

__ADS_1


BRAK! Tangji yang marah karena Wink mengganggunya, akhirnya melayangkan tinju ke wajah Wink.


“Seorang pria kurang ajar dari kota itu telah berani menyentuh adikku dan membuat kakek ku koma. Kau justru memintaku untuk membatalkan serangan ini. Apa kau sudah bosan hidup!.”


Tangji begitu marah hingga setelah menghajar Wink, pria itu pun mencengkram lehernya hingga Wanita itu hampir mati kehabisan nafas.


Tapi mengingat jika kemapuan Wink terlalu bagus untuk dibuang, dia pun melepaskannya.


Sementara tanpa ada seorangpun yang menyadari keberadaannya sosok bertopeng merah duduk jongkok sambil menikmati sebatang rokok di atas atap mobil Tangji.


“Jika ingin hidup lebih lama seharusnya kau mendengarkan anak buah mu saat mereka tiba-tiba menjadi ketakutan seperti anjing.”


Tatapan topeng merah tertuju pada jembatan yang akan dilalui oleh konvoi Genk the Daki. Senyum dibalik topeng merah melebar seakan menanti sesuatu yang akan sangat menarik.


***


Jembatan Siwak memiliki panjang seribu tiga ratus meter yang menghubungkan dua kabupaten yang terpisah oleh sungai Salak.


Terletak di perbatasan kota Sawi dan menjadi jalur utama penghubung antar provinsi di pulau Jawa.


Itu membuat jembatan Siwak menjadi jalur transportasi yang sangat penting sehingga dibuat dengan begitu kokoh. Kendaraan lapis baja sekalipun tidak masalah untuk melewati jembatan ini.


Namun tiba-tiba ledakan besar terjadi membuat seluruh jembatan berguncang. Keadaan yang semula ramai oleh anggota geng The Daki, sekarang menjadi lebih ramai lagi.


Jembatan terputus akibat ledakan membuat ribuan kendaraan jatuh ke sungai Salak. Suara tawa seketika menjadi teriakan ketakutan.


Teriakan menitan tolong dari para anggota Geng The Daki terdengar seperti suara ribuan bebek yang digiring ke sungai.


“Sialan, ini sergapan!.”


Tangji yang berada di mobil paling depan berhasil lolos dari ledakan. Dia sangat marah ketika melihat konvoi di belakangnya sudah lenyap, ribuan anggota geng The Daki tenggelam dan hanyut bersama tank dan mobil pembawa senjata yang ia banggakan.


Bukan hanya Tangji dan anak buahnya, tetapi para penonton yang menonton secara live pun sangat terkejut melihat ledakan besar yang memotong jembatan Siwak menjadi dua bagian.


Semua orang sudah pasti mengira itu ada perbuatan dari warga kota Sawi yang mencoba melindungi kota mereka.


“Lelucon macam apa ini!.”

__ADS_1


Tangan Tangji mengerat, dia dipenuhi oleh kemarahan. Sementara Wink yang melihatnya hanya bisa diam, dia merasa sudah memberitahunya untuk berhati-hati.


Tetapi walaupun sudah kehilangan banyak personil, Tangji masih berniat untuk menyerang kota Sawi hanya dengan tiga buah Tank dan dua buah helikopter.


Sedangkan sisa anggota yang dia miliki saat ini hanyalah sebanyak seratus orang. Tetapi dia berpikir itu cukup untuk memusnahkan seluruh warga kota Sawi.


Meninggalkan jembatan Siwak yang telah hancur, konvoi kembali berlanjut. Namun mereka segera berhenti saat melihat di ujung lain jembatan terdapat sosok pria bertopeng merah duduk di atas kudanya.


“Itu adalah sosok yang aku lihat sebelumnya!.”


Seru Wink memberitahu jika apa yang dia lihat bukanlah sebuah halusinasi semata.


“Si brengsek itu pasti yang telah meledakkan jembatan!.”


Tanpa mengatakan apa pun pada sosok itu, Tangji segera memerintahkan anak buahnya untuk membunuhnya.


Wink yang mendapatkan segera menembak sosok bertopeng merah dengan sniper nya, namun tembakan yang dia berikan dapat di tangkis dengan sebuh belati.


Itu membuat semua orang terdiam, baik anggota the Daki maupun para penonton mereka semua sangat terkejut.


Mungkinkah ada seorang manusia yang mampu menangkis tembakan sniper yang begitu cepat hanya dengan sebuah belati?.


“Aku tidak akan memberikan satupun dari kalian melewati jembatan ini!.” ucap Topeng merah dengan begitu lantang hingga setiap anggota Genk the Daki dapat mendengarnya dengan jelas.


“Omong kosong, cepat lenyapkan orang aneh itu!.”


Mematuhi perintah Tangji, seluruh moncong Tank terarah pada Topeng Merah. Melihat itu seakan tidak membuat sosok di atas kuda takut, dia justru mengambil sebuah sabit besar dari kotak barang lalu memacu kudanya menuju pasukan musuh.


“Dasar idiot, TEMBAK!”


Tiga tembakan meriam Tank meledak secara bersamaan membuat jembatan kembali berguncang.


Ledakan besar terjadi di jalan yang akan kuda itu lalu, membuat semua orang berpikir riwayat sosok bertopeng telah berakhir saat itu juga.


Namun tiba-tiba dari kepulan asap Topeng Merah keluar bersama kudanya, seakan mereka tidak sedikit pun mengalami luka cidera akibat ledakan.


“Ululululu, Aku datang!.”

__ADS_1


Mengumandangkan Serua perang yang aneh, Sosok itu terlihat seperti iblis yang bersiap untuk melakukan pembantaian.


__ADS_2