Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
58. Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Semua hal di dunia ini memiliki pasangan, seperti siang dan malam, terang dan gelap.


Kamu dan ...


Oke mungkin tidak semua memiliki pasangan seperti kamu yang masih sendirian.


Yap, kamu.


Seperti dua sisi koin, kebaikan dan kejahatan saling berdampingan. Jika salah satunya ada di atas dapat dilihat dengan jelas, maka sisi lainnya akan tertutupi dan terlihat begitu samar.


Apa yang kebanyakan orang lihat hanyalah sisi terangnya saja, karena tidak sembarang orang dapat melihat dalam kegelapan. Karena mungkin mungkin itu akan membuatmu tersesat.


***


Jiecie nama seorang wanita yang cukup aneh, entah itu nama asli atau sebuah kode. Dia adalah seorang anggota sindikat mafia Gamprit yang telah menguasai dunia bawah di wilayah Jawa selama puluhan tahun.


Banyak bisnis ilegal yang telah mereka lakukan seperti penyelundupan senjata, perdagangan obat-obatan terlarang, bisnis pembunuh dan penipuan Pinjol.


Mereka selama ini bergerak di balik bayang, enyah apa alasannya. Beberapa pengamat berspekulasi bahwa mungkin saja kakek buyut mereka adalah seorang vampir.


Tetapi beberapa bulan terakhir organisasi Hitam seperti Gamprit mulai menunjukan eksistensinya di permukaan. Setelah kehancuran sistem negara di beberapa daerah membuat hukum tidak bisa ditegakkan.


Organisasi Hitam melihat keadaan ini sebagai peluang untuk mengambil keuntungan dan memperlebar pengaruh mereka.


Di saat warga kebingungan dengan ancaman serangan monster. Mereka kesulitan untuk mempertahankan diri, namun tidak demikian dengan mereka yang melakukan bisnis ilegal.


Senjata dan persediaan mereka miliki, membuat mereka dengan mudah bertahan dan mulai membangun ulang kekuasaan.


Mereka belajar dengan cepat. Mereka beradaptasi dengan keadaan dunia yang tidak berbeda dengan dunia bawah tempat mereka berasal.


Dunia yang dipenuhi oleh kekacauan.


{Kau tidak boleh gagal untuk keduakalinya}

__ADS_1


“Tentu master, kami sudah melakukan ini berulang kali sebelum. Tidak akan ada yang bisa lepas dari jebakan mematikan ini.”


{Berharaplah demikian, karena jika kau gagal untuk keduakalinya maka kalian akan didenda dengan jumlah yang besar}


Panggilan terputus, Jiecie hanya membuang nafas pelan. Mendapatkan telfon dari bos yang menanyakan kelangsungan misi menang sangat membebani, apa lagi jika di kesempatan sebelumnya sudah pernah melakukan kesalahan.


Karena tidak ingin melakukan kesalahan untuk keduakalinya, Jiecie pun menghubungi rekannya untuk melihat perkembangan rencana mereka.


{Tersisa seratus meter, aku akan sampai lebih dulu.}


Jiecie menyunggingkan senyum di bibirnya. Jiecie mematikan ponsel lalu perhatiannya terus terfokus pada layar televisi yang sedang menayangkan penyerbuan pasukan Hunter melawan monster.


Bukan hanya Jiecie yang menonton siaran itu melainkan semua warga kota. Suara riuh terdengar di seluruh kota manakala sesuatu yang besar terjadi dalam siaran langsung penyerbuan.


“Ini pasti akan sangat menyenangkan.”


Senyum di wajah Jiecie semakin lebar manakala dia menunggu insiden yang telah dia rencanakan terjadi. Jiecie tidak sabaran melihat reaksi warga kota Sawi yang melihat para Hunter kota mereka terbunuh secara live.


Tetapi kekhawatiran tiba-tiba muncul dalam benak Jiecie ketika melihat seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya. “Penjaga toko itu. Apa yang dia lakukan?.” Jiecie mengenali sosok yang muncul di pinggir layar, kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh penonton lainnya.


Penjaga toko menggunakan busur lalu menembakkan dua anak panah, tetapi sasaran pemuda itu bukanlah monster melainkan langit. Beberapa orang yang melihat tindakan penjaga toko yang ikut dalam penyerangan sebagai kusir kereta sebagai tindakan bodoh.


Tetapi berbeda dengan Jiecie yang menjadi begitu panik setelah melihat arah tembakan anak panah.


“Timur dan barat.... mungkinkah?.”


Jiecie segera mengambil telepon lalu menghubungi seseorang. Panggilan tersambung namun yang dia dengar dari sisi lain adalah teriakan kesakitan dan permintaan tolong. Suara dari telepon terdengar keras hingga membuat seisi bar tempat Jiecie saat ini berada mengalihkan perhatian pada gadis itu.


Dengan cepat Jiecie segera menutup panggilannya. Wajahnya menjadi pucat setelah mendengar teriakan rekannya yang jelas sedang bertarung dengan monster dan mengalami luka, bahkan mungkin saja saat ini temannya sedang dicabik-cabik oleh monster yang dia pancing untuk menyerang pasukan Hunter.


“Bagaimana ini bisa terjadi?. Kami tidak pernah gagal melakukan trik ini sebelumnya.” karena begitu khawatir membuat Jiecie tidak tahan untuk mengigit kukunya. Dia kembali menghubungi seseorang yang juga sedang dalam tugas yang sana seperti rekannya yang pertama.


“Walaupun hanya setengah, tetapi setidaknya itu cukup untuk mengurangi kekuatan pasukan kota.”

__ADS_1


Jiecie berharap jika rekannya yang lain berhasil membawa para monster menuju pasukan Hunter yang saat ini tengah kelelahan. Namun sayangnya jawaban yang diberikan oleh rekan keduanya pun sama.


“Aaaas... sial, Jiecie tolong Aaaaa tidak sial!.” suara perkelahian dan makin terdengar dari telpon. Mereka jika rekannya masih bisa berkomunikasi Jiecie pun menanyakan apa yang sedang terjadi.


“Aku di serang! Tiba-tiba sebuah anak panah yang entah darimana mengenai kakiku, aku tidak bisa melanjutkannya.... Aaaaa sial tanganku, monster sialan ini memakan tanganku!.”


Sambungan telepon berakhir begitu teriakan kesakitan mulai pudar. Jiecie berharap jika rekannya bisa selamat, walaupun dia sadar kesempatan itu terjadi sangatlah kecil.


Pada akhirnya rencana Jiecie untuk menjebak pasukan Hunter telah gagal total. Di televisi saat ini memperlihatkan pasukan itu tengah beristirahat mengumpulkan kembali stamina setelah dua jam terus bertarung tanpa henti.


Jika saja rencana Jiecie berhasil, pasukan itu saat ini sudah pasti menjadi makanan monster, para warga menjerit ketakutan saat melihat pembantaian dan usaha organisasi Gamprit untuk merebut kota akan lebih mudah dilakukan.


Tetapi seperti yang sudah perlihatkan pada televisi, semua yang seharusnya terjadi di benak Jiecie tidak terjadi di dunia nyata. Pasukan Hunter kota Sawi dengan santai menikmati waktu istirahat mereka.


“Ini semua karena penjaga toko itu!.” Jiecie menggigit kuku jarinya hingga putus, dia sangat kesal karena dua rencananya menjadi berantakan karena penjaga toko senjata.


Yang pertama adalah rencana pengeboman, dan kini rencana pembantaian pun kembali di gagalkan. Walaupun Jiecie juga tidak yakin bagaimana penjaga toko cacat itu bisa menyerang rekannya dengan sebuah anak panah dari jarak yang begitu jauh.


Terrrr


Terrrr


Ponsel Jiecie bergetar menandakan jika seseorang telah menghubunginya. Dengan perasaan cemas Jiecie melihat nama si pemanggil, keringat dingin mengalir di wajah Jiecie saat melihat yang menghubunginya tidak lain adalah Bos dari organisasi Gamprit.


Jiecie hanya bisa terdiam saat mendengar perintah bosnya yang tidak senang dengan kegagalan kedua Jiecie.


{Saat kembali kau akan mendapatkan hukuman, namun sebelum meninggalkan kota itu pastikan berikan peringatan seperti biasanya. Pastikan kau melakukan dengan benar kali ini, atau kau mungkin ingin dipindahkan ke pabrik}


“Ti... tidak. Kake.... tuan aku tidak akan mengecewakan anda.” Panggilan pun berakhir.


Tatapan penuh kebencian Jiecie tertuju para layar televisi yang memperlihatkan seorang penempa dengan lihainya menangani senjata para Hunter. Tangan Jiecie menggenggam erat ponsel hingga membuat layarnya retak.


Wanita itu pun kembali menghubungi rekannya yang tidak ikut rencana penyergapan. Namun panggilan Jiecie tidak kunjung tersambung, dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada rekannya.

__ADS_1


Perasannya semakin tidak enak, hingga telinganya mendengar dering ponsel yang sangat dia kenali. Hingga saat dia melihat arah dari mana suara itu berasal, Jiecie melihat seorang anak kecil mengenakan Hoodie dan topeng tengah menatap kearahnya.


Di tangan anak itu sebuah ponsel tengah berdering.


__ADS_2