Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
37. Pergi ke Kota Sawi


__ADS_3

[Author: mungkin dari sini dan seterusnya saya akan menggunakan sudut pandang orang ketiga]


***


Selama beberapa minggu sebuah akun sosial media telah menjadi sorotan warga dunia Maya di seluruh dunia, dikarenakan seluruh konten yang terdapat pada postingan akun tersebut sangat tidak biasa.


Mulai dari menampilkan trik n tips, mengajarkan bagaimana cara melawan monster dengan benar, menerangkan material apa saja yang bisa didapatkan dari monster tersebut, hingga cara mudah untuk membuat senjata dari bahan monster.


Tetapi yang paling menarik dari semua konten pada akun itu adalah pembelajaran untuk membuat potions dan penawar racun menggunakan bahan herbal ajaib dengan sebuah metode yang belum ada di dunia sebelumnya.


Walaupun awalnya dianggap sebagai pembodohan karena terlalu tidak masuk akal. Akan tetapi lambat laun semakin banyak komentar yang mengaku jika telah mencobanya dan mendapatkan keberhasil.


[Terimakasih, ibuku sudah lebih baik karena sara yang kau berikan]


[Ternyata tikus besar bisa dimakan!, Walaupun terlihat menjijikkan tetapi percayalah dagingnya sangat enak]


[Haaah! Cairan Belalang sembah mengandung parasit? Ini gawat aku sudah mengkonsumsinya!]


[Sangat berbahaya membawa batu monster, itu bisa meledak!.]


Banyak komentar positif di setiap postingan akun itu, membuat semakin banyak orang yang percaya pada konten-konten di dalamnya. Hingga membuat akun itu mendapatkan banyak pengikut.


Berkat pengetahuan bagaimana cara bertahan hidup dan melawan para monster. Manusia pun mulai berbalik melawan untuk menjadi lebih kuat.


Perlahan dunia memasuki era baru.


Tetapi pertanyaan pun mulai muncul tentang sosok dibalik akun tersebut. Banyak pihak mulai mencari tahu tentang identitas pemilik akun dengan berbagai tujuan.


***


“Yeah, aku akan mengendarai kudaku. Aku akan mengendarainya sampai tidak sanggup lagi.”


Budi terus bernyanyi untuk menghabiskan waktu, saat dia dengan santai mengendarai kuda di jalanan yang sangat sepi.


Langit bersinar terik pagi itu, ini merupakan waktu yang tepat untuk meninggalkan rumah dan pergi melihat dunia yang luas.


Benar, akhirnya setelah tiga bulan mengurung diri di dalam perumahan akibat Outbreak, Budi yang telah mempersiapkan dirinya memutuskan untuk mencoba melihat dunia.

__ADS_1


Selain Pushrank yang menjadi tunggangannya, Roxy dan Akita juga ikut. Keduanya saat ini berada di dalam kantung belakang yang terpasang pada punggung kuda.


“Roxy, Akita lihat kita sudah sampai!.” Budi berseru dengan penuh semangat saat melihat sebuah gapura yang menunjukkan ucapan selamat datang di kota Sawi. Melihat itu membuat kedua anjing menjadi sangat senang.


Di sepanjang jalan masuk kota terdapat banyak sekali mobil terparkir sembarangan. Karena tidak ingin report Budi memilih membuat Pushrank berjalan di atas atap mobil.


Setelah cukup lama berjalan menuju tengah kota Budi akhirnya melihat beberapa orang di jalanan, itu berarti ada sebuah tempat pengungsian di sekitar area itu.


Melihat dengan seksama, dia menyadari jika orang-orang yang dia lihat membawa berbagai senjata yang terbuat dari bahan monster.


Di antara senjata yang dibawa, yang paling sering adalah senjata dari kelinci bertanduk karena material monster itu bisa digunakan untuk membuat sebuah tombak.


“Halo selamat siang.” pemuda itu mencoba menyapa orang-orang yang dia temui, tetapi mereka hanya menatapnya dengan heran. Mendapati reaksi itu membuat Budi cukup tertekan,


‘Bersosialisasi memang menjadi hal yang sangat merepotkan.’ ucapnya dalam hati.


Namun berbeda dengan Roxy dan Akita, keduanya menjadi begitu populer saat menampakkan diri, orang-orang yang melihat mereka langsung berkerumun untuk sekedar membelai tubuh para anjing itu.


‘Jadi aku kalah populer dari para anjing huh.’ Budi mulai menangis di dalam hati.


Kedatangan Budi menjadi perhatian banyak orang dikarenakan sudah berbulan-bulan kota itu tidak melihat pengungsian lain yang datang ke tempat pengungsian kota Sawi.


“Hey, kawan kau dapat darimana kuda itu?.” tanya seorang lelaki yang membawa sebuah tombak di belakang punggungnya.


“Aku menyelamatkannya saat hampir terbunuh oleh monster.” Budi menjawab sambil membelai leher Pushrank, setelah itu mereka pun kembali berjalan.


Tetapi pria itu tidak membiarkan Budi dan teman-temannya pergi. Beberapa orang langsung menghadang jalan Pushrank.


“Kawan begitu kenapa kau begitu terburu-buru?.” pria itu berkata dengan wajah penuh senyuman. Melihat itu Budi hanya menghela nafas panjang.


‘Akhirnya sebuah adegan klise akan terjadi.’ Budi sudah mengira apa yang akan terjadi selanjutnya. Budi kemuliaan berbalik lalu menatap pria itu dengan penuh senyum.


“Apa yang kau inginkan tuan?.”


Pria itu tertawa terbahak-bahak lalu berkata, “Kuda milikmu sangat bagus, bisakah aku meminjamkannya sebentar?.” pria itu berkata sambil menutup matanya dan senyum yang terlihat menjengkelkan.


Budi tidak menyangka jika akan bertemu dengan karakter seperti penjahat kacangan, yang biasanya dibuat hanya untuk membuat para pembaca emosi.

__ADS_1


Tatapan Budi menatap sekitar, dia melihat banyak orang yang melihatnya dengan wajah kasihan, sementara orang-orang yang merupakan komplotan pria itu terlihat tersenyum seperti orang bodoh.


‘Kasihan, baru sampai kota dia sudah bertemu dengan geng Belati Merah.’


‘Sekarang dia akan kehilangan kudanya.’


‘Datang lagi seorang yang tidak berguna, selama kuda dan dua anjing. Aku penasaran apa yang dia bawa di dalam tas punggungnya.’


‘Hari ini kita mendapatkan mangsa yang sangat mudah.’


Dengan keahlian (Hero Sense) Budi dapat mendengar bisikan dari orang-orang yang berada disekitar. Beberapa orang merasa kasihan pada Budi karena bertemu dengan Genk Belati Merah yang dikenal sebagai pembuat masalah di pengungsian.


Sedangkan para anggota Geng Belati Merah sendiri merasa beruntung karena melihat Budi seperti orang yang mudah di gertak. Mereka berpikir jika bisa mengambil semua yang Budi bawa, namun pikiran seperti itu ternyata....


“Tentu, kenapa tidak.” Budi dengan tenang turun dari kudanya. Melihat itu membuat senyum para anggota Geng Belati Merah semakin lebar hingga hampir menyentuh telinga.


‘Hahaha... dasar orang lemah, dia pasti sangat ketakutan saat melihat kita.’


‘Lihat saja dia pasti berusaha keras agar tidak kencing di celana.’


‘Mungkin kita bisa menggunakannya untuk bermain nanti, hihihi...’


Para anggota Geng Belati Merah berbisik sambil cekikikan, mereka berusaha untuk tidak tertawa. Sementara orang yang melihat di sekitar menatap Budi dengan prihatin.


“Tapi berhati-hatilah, karena Pushrank mungkin tidak terbiasa punggungnya ditunggangi oleh orang lain.”


Budi menepuk leher Pushrank dengan senyuman kasih sayang. Semua orang yang melihatnya berpikir jika Budi sedang memberikan salam perpisahan pada kuda itu.


Roxy dan Akita yang terpaksa diturunkan, hanya menguap dengan bosan. Mereka mengelilingi kaki Budi seakan ingin mengajaknya bermain.


“Ahahaha. Jangan khawatir, aku sangat pandai menjinakkan binatang maupun manusia.”


Dengan senyum penuh kemenangan pria itu menaiki punggung Pushrank. ‘Dasar bodoh, kuda ini sudah menjadi milikku sekarang.’ pikirnya, namun saat dia mencoba menarik tali kekang kuda, Pushrank tidak bergerak sedikitpun.


“Hey, ada apa dengan kuda bodoh ini!.” pria itu terus menarik tali sekuat tenaga terapi Pushrank tidak kunjung bergerak.


“Hei berhenti! Jangan menariknya terlalu keras, kau bisa membuat Pushrank marah!.” Budi berusaha mengingatkan tetapi, pria itu tidak peduli.

__ADS_1


Pushrank akhirnya marah karena tali kekang yang ditarik terlalu kuat. Kuda itu mantap tajam pria yang mencoba mengendarainya, seketika pria itu tersentak kaget karena merasa ditatap oleh makhluk buas.


Lalu dalam satu hentakan Pushrank menerbangkan pria yang duduk di punggungnya. Melihat itu semua orang hanya terdiam, mereka sangat terkejut melihat pria itu terbang begitu tinggi.


__ADS_2