Penempa Jiwa Naga

Penempa Jiwa Naga
104. Keanehan pada Sebuah Batu


__ADS_3

Banyak orang yang sudah menunggu di depan toko untuk melakukan perdagangan herbal. Namun tiba-tiba empat anggota guild Legion Teapot datang berniat untuk menjemput pemilik toko.


“Ada apa ini? Apa toko ini melakukan sesuatu yang membuat Guild itu marah?.”


“Ahahaha, si cacat itu pasti sudah melakukan tindakan ilegal.”


“Benarkah!.”


“Pasti demikian, dari awal aku juga sudah yakin jika dia bukan orang baik.”


Entah siapa yang memulainya, desas-desus jika Budi telah melakukan sebuah kejahatan besar dengan cepat tersebar.


Akibatnya keadaan di depan toko Asongan yang tenang tiba-tiba berubah menjadi keributan. Itu terjadi hanya karena kedatangannya anggota guild Legion Teapot ke tempat itu.


“Bagaimana seandainya nanti ada utusan dewa datang ke toko ku?. Mungkin desas-desus akan mengatakan jika aku adalah Raja iblis yang sedang menyamar.”


Dengan kemampuan Hero Sense dan penglihatan super dari mata naga, membuat Budi dapat melihat apa yang sedang terjadi di luar tokonya.


“Ada apa bos?.” Tanya Siti yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Tidak, hanya saja sepertinya Yuki mengirim jemputan untuk.....”


Suara ku terhenti saat mataku terpesona oleh Siti yang hanya mengenakan handuk.


Walaupun sudah hampir seharian aku habiskan untuk bercinta dengannya, bahkan beberapa saat lalu kami baru saja selesai berolahraga psnas bersama.


Namun sebanyak apa pun aku menikmatinya, kemolekan tubuh Siti tidak pernah gagal membuatku bergairah.


“Kau benar-benat cantik Siti.” ucapku dengan jujur.


Gadis itu hanya terdiam dengan mata melebar dan mulut terbuka. Hingga ia kembali sadar lalu segera membuang wajah yang mulai memerah.


“Terimakasih.” ucapnya dengan suara yang begitu pelan.


“Yuki mengirim beberapa anggota guild Legion Teapot untuk menjemput kita, sepertinya dia khawatir karena di depan toko sudah ada banyak orang yang menunggu.”


Setelah mengatakan itu aku segera keluar kamar, karena jika berada lebih lama di dalam sana mungkin butuh waktu beberapa jam untuk ku keluar.


“Kita tidak boleh membuat mereka menunggu.” ucapku sebelum menutup pintu.


“A... aku mengerti.”


Suara Siti terdengar bergetar dan wajahnya pun seakan memperlihatkan kekecewaan. Terasa sangat berat memang, tetapi kami harus menahannya.


***


Pintu toko terbuka, perhatian setiap orang di depan toko segera tertuju pada ku yg baru saja keluar.


Aura tempat itu terasa sangat mencekam, aku dapat merasakan kebencian kuat terarah padaku. Itu semua berkat desas-desus bodoh yang menyebarkan informasi bohong tentangku.


Tetapi apa semua itu memang hanya karena sebuah desas-desus?.


Tentu saja tidak karena aku merasakan energi sihir menyelimuti semua orang yang sedang marah. Itu artinya mereka semua sedang dalam efek sihir manipulasi.


“Itu dia si bajingan yang telah menjual barang palsu.”


“Palsu? Yang aku dengar dia telah menyelundupkan barang ilegal.”


“Apa-apaan kalian. Dia itu seorang pedagang jahat yang memperbudak anak-anak untuk bekerja secara paksa di tokonya, tanpa diberi waktu istirahat dan upah sepeserpun.”


Mereka mulai berdebat tentang kejahatan fiktif yang aku lakukan. Tuduhan-tuduhan yang disebarkan oleh desas-desus sepertinya tidak konsisten sehingga menyebabkan kebingungan.

__ADS_1


“Terserah apa yang telah dia lakukan, yang pasti dia adalah orang jahat.”


Suara lantang terdengar dari tengah kerumunan. Setiap orang yang mendengar kata-kata itu kembali bimbingan.


Mereka percaya jika Budi memang jahat, tetapi kejahatan apa yang sudah dia lakukan?.


{Tck, dasar para idiot. Pakai acara mikir segala, seharusnya mereka langsung saja menghajar si cacat itu}


Aku dapat mendengar makian penuh kebencian dari orang yang tadi berteriak.


Dengan keahlian deteksi yang aku miliki, lokasi orang yang telah menggunakan kemampuan manipulasi telah berhasil aku lacak.


Sebuah batu melayang ke arahku, aku bisa saja menghindarinya dengan mudah. Namun tiba-tiba Siti keluar dari toko tepat di belakangku.


Bahaya, jika aku memilih menghindari batu itu maka Siti lah yang akan terkena serangan. Tidak ingin Siti terluka, aku pun memilih untuk tidak menghindar.


Tap! Aku dengan mudah menangkap batu yang dilemparkan seseorang.


Lemparan itu terasa cukup kuat karena dilapisi sihir, tetapi tidak masalah karena aku menggunakan sarung tangan dari kulit monster.


Melihat itu seketika semua orang terdiam.


Tetapi mereka terdiam bukan karena aku yang baru saja menangkap batu terbang. Melainkan mereka terpana oleh gadis yang tiba-tiba muncul di belakangku.


Siti yang mengenakan pakaian santai memang terlihat sangat manis.


Saat perhatian semua orang terkejut pada Siti, aku segera bergerak cepat menuju lokasi sumber dari sihir pengendalian.


Dalam sepersekian detik aku menerobos lautan manusia hingga ke tengah kerumunan.


“Apa kau yang...”


“Uwaaa...”


“Bagaimana kau?...”


Perkataannya terhenti saat seorang rekannya menepuk pundak dari belakang.


“Kalian pasti anggota Legion Teapot yang Yuki kirim untuk menjemput aku bukan?.” ucapku dengan lantang.


Aku sengaja berkata dengan keras agar orang yang menggunakan sihir pengendali panik sehingga efek dari sihir menghilang.


“Para anggota guild datang ke toko karena permintaan wali kota Yuki?”


“Jadi mereka datang kemari bukan untuk menangkap pemilik toko?.”


“Sebenarnya apa yang tadi kita ributkan?.”


Melihat reaksi setiap orang yang kebingungan, aku merasa jika sihir yang telah mengendalikan mereka telah dilepas.


Keempat anggota guild Legion Teapot menatap tajam kearah ku, aku tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan.


Yang bisa aku lakukan hanya membalas tatapan penuh kebencian itu dengan senyuman cerah.


“Bisa kita segera pergi?. Aku tidak ingin membuat Yuki menunggu.”


Decak lidah penuh ketidak puasa terdengar dari mulut salah satu anggota Legion.


Setelah itu keempatnya segera membubarkan semu orang di depan toko, lalu mengawal kami menuju Mansion Yuki.


“Hebat, pergi ke Mansion depan toko saja, wali kota sampai report mengirim pengawal.”ucsp Siti dengan kagum.

__ADS_1


Saat ini Siti berjalan di sampingku, sedangkan empat anggota guild berjalan disekitar melindungi kami.


“Itu membuktikan jika Yuki memang cerdas, dia tahu nilai dari seseorang yang sangat berjasa besar bagi kota. Tidak seperti sebagian besar orang di kota yang hanya memandang fisik.”


Anggota guild Legion yang mendengar itu pun mulai merasa marah, namun mereka masih bisa menahannya. Tetapi tidak akan lama.


“Siti coba lihat ini.”


Aku menunjukan batu yang dilempar ke arahku sebelumnya.


“Batu apa itu?.”


Siti kebingungan karena aku menunjukan batu yang terlihat biasa saja. Tapi tidak demikian dengan salah satu anggota guild Legion, dia terlihat cemas saat melihat batu itu.


“Coba lihat dengan seksama, dan temukan apa yang aneh dengan batu ini.”


Mengikuti perkataanku, Siti melihat lagi batu itu dengan lebih teliti.


Aku melarangnya untuk menyentuh batu itu sehingga Siti tidur memiliki pilihan lain selain berjalan lebih dekat denganku.


{Sial, si brengjek ini sangat pandai mencari kesempatan}


{Apa yang akan dia lakukan dengan batu itu}


{Siti terlalu polos, dia bahkan tidak sadar jika sedang diincar oleh serigala berkulit manusia}


{Aku tidak rela dia berada di samping malaikat ku}


Ucapan marah penuh kebencian dapat ku dengar dari anggota guild Legion.


Siti yang sedang memperhatikan batu tidak menyadari itu. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah kejanggalan.


“Aku merasakan sisa mana melapisi batu ini.”


Tebakan tepat Siti membuat keempat anggota guild tersentak kaget.


“Tapi apa artinya?.” Siti menatapku seakan meminta penjelasan.


“Itu berarti seseorang yang sebelumnya memegang batu ini menggunakan skill miliknya untuk menjadikan batu sebagai senjata.”


Siti sangat terkejut mendengar Itu.


“Heeee... menggunakan keahlian serangan untuk menyerang orang lain dan itu dilakukan di dalam kota. Bukankah itu sebuah pelanggaran berat?.”


Aku dapat melihat salah satu anggota mulai gugup, keringat dingin membasahi punggungnya dan wajahnya mulai pucat.


“Itu benar Siti, tapi bisakah kau membayangkan hukuman seperti sapa untuk mereka yang menggunakan sihir pesona pada puluhan warga biasa?.”


Seketika keempat anggota guild Legion Teapot merasakan kecepatan, wajah mereka memutih seperti kertas.


“Menggunakan sihir pesona untuk memanipulasi orang lain adalah sebuah kejahatan besar. Orang-orang seperti itu lebih berbahaya dari Hunter gila yang melakukan pembantaian pada sesama manusia untuk naik level. Hukuman yang pantas untuk orang seperti itu adalah digantung di depan banyak orang”


Kecemasan berubah menjadi ketakutan.


Ketakutan berubah menjadi keputusasaan.


Keputusasaan melahirkan kenekatan.


Takut apa yang telah mereka lakukan ketahuan, keempat anggota guild Legion mulai berpikir untuk membungkam kami.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2