
Dibawa oleh polisi, Budi digelandang menuju ke kantor polisi. Dia ditangkap karena tuduhan penyerangan yang dilakukan oleh monster peliharanya terhadap warga tidak bersalah.
“Warga tidak bersalah? Hem, menarik.” Ucap Budi di depan polisi yang tengah memeriksanya.
Para pelapor yang membuat Budi berurusan dengan pihak berwajib tidak lain adalah anggota geng Belati Merah yang berusaha menyerangnya.
Budi tidak tahu detai laporan itu, tetapi yang dia dengar jika enam orang preman yang berusaha membuat masalah justru menuduhnya telah melakukan penyerangan secara sepihak.
“Apa kau masuk kota ini dengan membawa monster?.” tanya penyidik.
“Tidak.” jawab Budi singkat.
“Lalu bagaimana dengan kuda dan dua anjing yang terlihat bersamamu?!.” Tatapan penyidik itu begitu tajam.
“Apa anda tidak bisa membedakan antara binatang biasa dan monster?.” Budi balik bertanya.
Penyidik kepolisian itu terdiam, dia melirik pada rekan polisi lain yang bersama dengannya di dalam ruangan Interogasi.
“Hei kau, bersikap sopan lah saat ditanyai oleh polisi!.” ucap seseorang di belakang Budi, intimidasi terasa begitu jelas dari pria itu.
“A.... a.... Asiyaap~.” jawaban Budi yang seakan tidak peduli dengan intimidasi para polisi, membuat kedua geram.
Namun mereka masih tetap tenang dan kembali melanjutkan pertanyaan. Kedua Polisi memperhatikan Budi. Pemuda itu saat ini hanya memiliki satu lengan dan satu mata.
Walaupun keadaannya terlihat tidak meyakinkan, tetapi Budi sangat tenang dan begitu santai seakan dia tidak merasakan takut akan apa pun.
Melihat itu membuat kedua Polisi berpikir ada dua kemungkinan kenapa Budi begitu santai, ‘Antara dia memang orang yang memiliki kekuatan sepesial atau hanya orang bodoh.’ pikir keduanya.
Karena pemikiran itulah mereka tidak ingin bertindak gegabah.
Polisi yang duduk di depan Budi kembali bertanya .“Apa tujuanmu datang ke kota ini?.”
Budi terdiam sebentar seakan sedang memikirkan sesuatu, hingga dia menjawab, “Aku ingin bertemu dengan tetanggaku. Dia mengungsi di tempat ini.” jawab Budi dengan jujur.
Polisi itu mengangguk kecil saat mendengar jawaban Budi, dia sudah sering mendapati kasus yang sama seperti ini sebelumnya.
Selama beberapa bulan terakhir Budi sering berkomunikasi dengan tetangga yang tidak lain adalah majikan Roxy. Percakapan keduanya lebih banyak terjadi pada pesan email dan seringkali video call.
Gadis bernama Raya itu sangat bersemangat tentang pembahasan mengenai perburuan monster, sehingga Budi pun berpikir jika dia menyukai bertarung dengan para monster.
__ADS_1
“Jadi siapa nama tetangga mu itu?.” polisi kembali bertanya.
“Sanjaya.” balas Budi dengan singkat menyebutkan nama keluarga Raya.
Namun itu menimbulkan reaksi yang tidak terduga. Budi merasa dua polisi tiba-tiba menjadi begitu waspada, tatapan mata mereka lebih tajam dan dingin.
Pemikiran jika Budi adalah manusia dengan kekuatan spesial menguat hanya karena dia memiliki hubungan dengan keluarga Sanjaya.
Tetapi mereka masih belum yakin.
Polisi di belakang menghampiri Budi lalu mencengkram pundak pemuda itu. “Apa urusanmu dengan keluarga itu?.” ucapnya dengan nada mengintimidasi.
Budi hanya membalas tatapan tajam Polisi itu dengan tatapan bosan, “Kamu Naenya?, Kamu bertanya-tanya?.” balas Budi tidak peduli. Yang jelas membuat Polisi itu sangat marah.
“Bajingan sialan!.”
Dengan wajah merah mengerikan dan urat menonjol di wajahnya, pria itu segera melayangkan pukulan ke wajah Budi, namun Polisi lain segera menghentikan rekannya.
“Hey bocah, jika kau terus bersikap arogan seperti ini, maka kau bisa dimasukkan ke penjara tahu!.” pria yang berperan sebagai Polisi baik itu mulai memberikan ancaman pemenjaraan.
Namun Budi masih tidak memperlihatkan takut sedikitpun. “Oh wow... bukankah ini sangat kebetulan?. Aku tidak tahu harus menginap di mana malam ini. Jadi semalaman di penjara aku rasa akan menjadi pilihan terbaik daripada tidur di luar.” Budi tersenyum cerah seakan tidak takut sedikitpun mendekam di dalam penjara.
‘Dia hanya orang bodoh.’ pikir kedua polisi itu.
Pada akhirnya mereka pun tidak keberatan menahan Budi yang sudah membuat keduanya jengkel dengan sikapnya yang sangat arogan.
“Ini dia tempat mu menginap, nikmati kunjungan mu. Dan semoga kau bisa tidur. Nyenyak malam ini.” para Polisi tertawa terbahak-bahak ketika meninggalkan Budi di dalam sel penjara.
Ada lima penghuni di dalam kurungan besi itu, mereka menatap Budi dengan penuh selidik. Tatapan mereka terus memperhatikan pemuda itu dari kepala hingga ujung kaki.
Melihat seorang pemuda dengan satu tangan dan satu mata membuat mereka berpikir jika Budi tidak begitu kuat. Lalu setelah puas memperhatikan Budi, senyum lebar merekah dibibir setiap orang.
“Yo, kawan apa yang membuatmu berada di tempat ini? Apa kau tertangkap saat sedang mencuri daging tikus?.” semua orang tertawa mendengar ucapan salah satu tahanan.
Tetapi Budi dengan tenang menjawab, “Tidak, aku berada di sini karena terlibat masalah dengan genk Belati Merah.” perbuatan pemuda itu seketika membuat gelak tawa para tahanan menghilang.
“Benarkah, apa yang kau lakukan hingga berurusan dengan Genk itu?.” tahanan yang sepertinya adalah pemimpin tempat ini terus bertanya.
Walaupun wajahnya dipenuhi oleh senyuman, tetapi Budi bisa merasakan perasaan buruk dari pria itu.
__ADS_1
Tatapan Budi berubah menjadi serius, dia ingin mengakhiri pembicaraan tidak berguna dengan orang-orang ini secepat mungkin.
Melihat wajah Budi yang seru membuat kelimanya tersentak kaget. Namun mereka segera sadar dan berpikir yang mereka rasakan barusan hanya imajinasi.
‘Tidak mungkin bukan pria cacat seperti dia bisa membuat kami ketakutan?.’ pikir kelima tahanan.
“Mereka mengganggu orang yang salah.” kata Budi. Dia mempersiapkan dirinya untuk berkelahi.
“Oh benarkah, apa yang kau lakukan pada anggota geng Belati Merah?.” pria itu menyentuh pundak Budi, wajahnya mulai menunjukan intimidasi.
“Anjing-anjingku memberikan mereka pelajaran.” tidak merasakan intimidasi, Budi masih tenang.
“Anjing-anjing? Mereka?.” wajah pria itu semakin gelap.
“Ya, mereka enam orang, anjing dan kudaku membuat mereka tidak bisa berjalan hingga bulan depan.”
“Brengsek!.”
Pria itu membalas perkataan Budi dengan pukulan di perutnya. Melihat itu membuat para tahanan lainnya kembali tertawa.
“Apa kau tahu jika kami semua adalah anggota geng Belati Merah?.” pria itu tersenyum lebar setelah melihat jika Budi tidak dapat menahan pukulannya.
“Begitu yah, jadi ini sebuah balas dendam?.” tanya Budi dengan wajah menahan sakit.
“Yeah, selama di dalam sel ini kau akan menjadi budak dan samsak tinju kami karena berani membuat masalah dengan genk Belati Merah.”
Mereka semua tersenyum puas seolah-olah telah menemukan mainan baru.
“Tidak aku tidak mau menjadi seperti itu.”
Bam!
“Gufu....”
Budi membalas pukulan yang dia terima dengan pukulan yang sama, tetapi pria itu seketika terkapar di lantai hanya dengan satu pukulan di perutnya.
“Aku ingat jika di dalam sel penjara ada tradisi unik ‘Menyekolahkan’ penghuni baru bukan?.” Budi menatap empat tahanan lainnya, “Apa kalian juga akan melakukannya padaku?.”
Melihat temannya di serang, para tahanan pun segera membalas dendam. Mereka segera menyerang Budi secara bersamaan.
__ADS_1
Di saat dalam sel penjara tengah mengalami keributan, di luar sel sebuah kamera tengah merekam semuanya.