
[chapter dewa]
Beberapa kali aku aku memencet bel rumah Liliana, namun tidak ada satupun orang yang datang membukakan pintu gerbang.
Selain Liliana, hanya ada Jiecie yang tinggal mansion mewah ini, sedangkan mereka yang ditahan seperti Hendry dan Ferdinand telah dibebaskan oleh Liliana saat melakukan hubungan kerjasama dengan Mafia Gamprit.
Jie cie masih tinggal di mansion sebagai jaminan agar mafia Gamprit yang dipimpin oleh keluarga besar Gi Cheng tidak mengkhianati kerja sama mereka.
“Apa mereka sudah tidur?.”
Aku kembali memfokuskan diri untuk melihat apa yang sedang keduanya lakukan, namun tindakanku segera terhenti saat menyadari jika seseorang sedang mendekat.
Pintu rumah di buka lalu Liliana keluar dari rumahnya.
“Budi, ada apa malam-malam seperti ini?.” tanya gadis berambut keemasan itu.
Wajahnya sangat merah dengan keringat deras membasahi tank top yang ia kenakan, Liliana kesulitan berjalan karena terlalu terburu-buru mengenakan hotpant.
Dia bahkan lupa jika salah satu kakinya tidak mengenakan alas kaki.
‘Sangat jaringan melihat dia begitu ‘Berantakan’.’ Pikirku.
Melihat penampilan Liliana membuat aku semakin bersemangat. Dadaku terus berdebar seakan siap untuk meledak.
“Budi ada apa?.”
Liliana kembali bertanya sembari membukakan pintu gerbang.
“Tidak ada yang khusus, aku hanya sedang ingin bermain dengan Jie Cie.” jawabku.
“Oh...”
Liliana tampak kecewa setelah mendengar jawabanku.
Mataku terus terarah pada dua buah Liliana yang puncaknya tercetak dengan jelas pada Tank top ketatnya. Kulit putih seperti susu itu agak memerah seakan baru saja dipijat.
Melihat semua itu aku hanya bisa menyunggingkan senyum. Adik kecilku di bawah sudah benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
Liliana mempersilahkan aku masuk ke rumahnya. Namun saat baru saja menutup pintu masuk, aku segera menyergap Liliana Dali belakang.
Liliana sangat terkejut saat tiba-tiba mendapatkan serangan dariku. Dua gunung miliknya aku cengkraman kuat-kuat dari belakang, Liliana pun berteriak keras karena perlakuan kasar itu.
“Budi kau gila, hentikan!.”
Liliana mencoba untuk menghentikan ku, namun aku tidak peduli dan terus bermain dengan buahnya.
Liliana tidak dapat melawan, tenaganya telah banyak terkuras setelah bermain dengan Jie cie.
Tangan Liliana yang berusaha menyingkirkan tanganku perlahan melemas mana kala dua pucuk miliki dicubit dengan kuat.
“Ngaaah...”
__ADS_1
Nafas Liliana semakin berat, tubuhnya mengejang dengan dua kaki yang tertutup rapat.
Dia sudah jatuh, aku bisa memulai kapanpun. Namun aku tidak akan mengambil kesempatan itu secepatnya.
“Eh?.”
Liliana terkejut saat kedua tanganku menyingkir dari dadanya. Dia pun menatapku dengan heran.
Dengan panik aku segera menundukan Kepala
“Maafkan aku karena sudah lancang!.” ucapku dengan masa keras.
“Um... itu... aku tidak...” Liliana menjadi gugup.
“Karena pekerjaan yang begitu pada membuat stress ku menumpuk. Pada akhirnya aku kehilangan kewarasan dan melakukan semua ini pada nona Liliana, aku sungguh meminta maaf?.”
Aku terus meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“A... aku mengerti. Setelah melihat apa yang kau buat, aku pun paham sekeras apa kau bekerja. Jadi wajar jika kau begitu kerepotan menahan libido karena tekanan pekerjaan...”
Liliana memaafkan perbuatan lancang tadi, wajahnya yang sangat merah tidak dapat menatapku.
Dia pun kembali mengantarku menuju tempat Jie cie berada.
Tetapi...
“Bukankah ini kamarmu?.”
Dia menjawab dengan jujur, mungkin karena Liliana sudah tahu jika aku mengetahui apa yang baru saja keduanya lakukan.
“Aku sangat menyesal karena mengganggu kalian.” ucapku dengan senyum lebar.
“Bukan apa-apa, lagi pula dia adalah milikmu.” mata Liliana masih tidak mau menatapku saat berbicara.
Saat memasuki kamar Liliana, aku sangat terkejut melihat keadaan Jie cie. Tubuh tanpa busana wanita itu dipenuhi oleh coretan kata-kata kotor.
Dua pucuk miliknya ditindik yang saling berkaitan dengan rantai. Sementara dua lubang bawahnya terisi oleh mainan dewasa.
Jie cie masih tidak menyadari keberadaan ku karena matanya tertutup kain. Tubuhnya tergantung oleh tali yang diikat di langit-langit.
Aku terdiam sesaat menikmati pemandangan. Hingga aku kembali tersadar dan tertawa kecil melihat apa yang terjadi di kamar itu.
“Wah kau cukup sadis bukan?.” ucapku pada Liliana.
Gadis itu pun tidak bisa mengatakan apapun, telinganya sangat merah karena terlalu malu. Jie cie segera menyadari keberadaan ku setelah mendengar suaraku.
“Mahasher... khau ahada hi sahana?.” dia kesulitan berbicara karena ada sebuah bola yang menyumbat mulutnya.
“Aku datang kemari untuk meminta bantuan mu. Tetapi sepertinya kau sedang sibuk.”
“Eh... itu...” Jie cie panik karena tidak ingin mengecewakan tuannya, namun saat ini dia sedang ‘bermain’ dengan bos nya.
__ADS_1
“Jangan pedulikan aku, saat ini majikan mu yang lebih membutuhkan mu.” ucap Liliana.
“Kalau begitu aku tidak akan sungkan.”
Mendekati Jie cie yang masih tergantung, aku segera menyingkir bola yang ada di mulutnya.
“Tuan...” suara Jie cie terdengar begitu lembut, lidahnya terjulur keluar seakan sudah paham apa yang sedang aku inginkan.
Tanpa melakukan pemanasan, aku segera menjejalkan milikku kedalam mulut Jie cie. Wanita itu tersedak saat benda keras ku merengsek masuk dengan begitu kasar ke tenggorokannya.
Aku dapat merasakan tatapan Liliana yang sejak tadi hanya melihatku, matanya tidak dapat lepas dari mulut Jie cie yang sedang aku gunakan.
Rasanya sangat melegakan saat aku melepaskan semua stress yang menumpuk. Tidak semua yang aku berikan bisa diterima Jie cie.
Karena terlalu banyak yang masuk kedalam mulutnya, Jie cie terbatuk menyenangkan hidungnya mengeluarkan cairan kental.
“Seperti biasa, mulutmu menang tidak akan mengecewakan.” ucapku saat masih melepaskan begitu banyak stress.
Tubuh Jie cie mengejar, bagian belakangnya mulai bocor, beberapa benda aneh keluar dari rahimnya.
“Oh, kau merawat Peliharaan ku dengan sangat baik, aku sangat berterimakasih kasih karena itu.”
Liliana tidak mendengar perkataanku, dia sedang sibuk dengan tubuhnya sendiri yang tiba-tiba terasa aneh.
Dadanya terasa nyeri sehingga butuh di pijat, sementara rasa gatal tidak tertahankan terasa di bagian bawahnya sehingga perlu segera di tangani.
Aku melihat Jie Cie sudah kehilangan kesadaran karena tersedak. Ini sangat mengecewakan karena stress yang aku miliki masih tersisa banyak.
Aku bisa saja menggunakan tubuh Jie cie yang masih tertidur lelap sebagai boneka dewasa. Namun Ku tidak melakukan itu karena masih ada opsi lainnya.
Aku mendekati Liliana yang sibuk dengan dirinya sendiri. Mata gadis itupun tertutup saat menikmati apa yang sedang ia lakukan, hingga tangannya aku hentikan.
Liliana sangat terkejut saat menyadari aku sudah ada di depannya. Dengan cepat aku mengangkatnya lalu melempar ke kasur.
Liliana tidak mengatakan apapun, terdapat ketakutan di matanya, namun dia tidak melawan.
Perlahan aku lepas hotpants yang menutupi kuncup bunga. Suara Liliana terdengar merdu saat merasakan lidahku membersihkan area miliknya.
Setelah dirasa sudah cukup, aku pun mulai mengarahkan senjataku. Tatapi Liliana tertuju pada bagian bawahnya yang mulai aku terobos.
Mata Liliana terpejam seakan menahan rasa sakit manakala semakin dalam aku masuk. Dia sangat ketat seakan belum pernah sekalipun digunakan, atau mungkin karena milikku yang terlalu besar.
Hingga perjalanan ku terhenti saat sesuatu menghadang. Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun menggunakan segenap kekuatan untuk menerjang rintangan itu.
Dalam say dorongan rintangan biru berhasil dilewati.
“Sakit....” suara penuh kesedihan terdengar dari Liliana, saat melihatnya gadis itu tengah menangis. Merasa ada yang aneh, aku menarik sedikit milikku dan melihat noda merah di sana.
Melihat itu aku baru sadar apa yang barusan aku lakukan padanya.
***
__ADS_1
Bersambung.