
Langit yang gelap mulai cerah, pagi telah datang.
Ratusan Hunter yang tertidur di area sekitar Dungeon satu persatu bangun, mereka mendapati seluruh kelelahan yang menumpuk di hari sebelumnya telah menghilang.
Sepuluh menit kemudian semua orang telah bangun, hanya tersisa satu yang masih tidur pulas. Budi duduk di atas balok kayu di depan perapian, kepalanya tertunduk dengan mata terpejam, sesekali terdengar suara nafas yang begitu pelan.
Semua orang yang melihat Budi masih tertidur lelap hanya mengabaikan pemuda itu. Namun tidak demikian Dimas yang merasa kesal melihat pemuda cacat itu masih tidur ketika yang lainnya sudah bersiap untuk kembali ke kota.
“Dasar pemalas, bukankah dia tidak melakukan apapun kemarin.” Dimas mendengus, menatap sinis pada Budi yang masih tertidur.
“Saat kita semua mempertaruhkan nyawa untuk mengalahkan pasukan monster, dia hanya jadi penonton. Tetapi sekarang dia tidur begitu lelap seakan menjadi orang yang paling bekerja keras.”
Karena terlalu marah, Dimas berniat untuk membangunkan Budi. Namun caranya tidak terlalu baik karena dia hendak menendang pemuda yang tengah tidur duduk itu hingga terjungkal.
Dimas tidak akan segan untuk melakukan itu karena dirinya merasa benar setelah apa yang dia lakukan kemarin, terlebih karena dia merasa jauh lebih baik dari sebagian besar Hunter di tempat itu.
‘Lagipula yang aku lakukan bukanlah kejahatan, ini adalah keadilan. Manusia lemah seperti dia seharusnya bekerja lebih keras, bukannya malah enak-enakan tidur ketika yang lain sudah bekerja mati-matian untuk melindungi dunia!.’
Merasa jika tindakan yang akan dia lakukan adalah hal wajar, Dimas benar-benar melakukan aksinya. Tetapi saat tendangan pemuda itu hampir mengenai tubuh Budi, tiba-tiba Roxy menghalangi.
Anjing Doberman itu keluar dari dalam bayangan Budi, lalu menggeram marah pada Dimas memperlihatkan gigi-gigi yang mengerikan.
Melihat itu Dimas terperanjat kaget hingga membuatnya melompat ke belakang, tetapi rumput yang basah membuat Dimas terpeleset. Tubuh pemuda itu jatuh tepat di atas api unggun yang sudah padam.
Walaupun tidak ada bara api yang tersisa dari api unggun. Tetapi abu dari sisa arang kayu membuat seluruh badan pemuda itu menghitam dan kotor.
Melihat itu sontak semua Hunter tertawa terbahak-bahak. Menjadi bahan tertawaan seperti itu tentunya membuat Dimas merasa sangat malu tidak terkira.
Suara tawa para Hunter pun membuat Budi terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang Budi lihat adalah Roxy yang duduk didepannya seakan sedang menjaganya.
Budi membelai kepala Roxy dengan lembut “Gadis pintar.” ucap Budi. Mendapatkan usapan di kepala membuat Roxy begitu senang.
Kemudian hal kedua yang dia lihat saat bangun adalah seorang pemuda yang duduk di tempat bekas api unggun. Pemuda itu menatapnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
“Apa yang sudah aku lakukan?.” Budi merasa heran dengan tatapan pemuda itu.
“Budi kau sudah bangun bukan?.” Raya yang baru datang menghampirinya, langsung menarik tangan Budi tanpa mengatakan apapun.
Melihat itu kebencian Dimas semakin besar.
Tetapi kali ini bukan hanya Dimas yang merasa marah melihat Budi begitu dekat dengan Raya. Ada ratusan Hunter yang terbakar amarah ketik keduanya bersama.
Mereka adalah kelompok pemuja Raya dan Yuki, sebuah kelompok yang berpikir jika seorang pemuda cacat lemah dan tidak berguna, tidak pantas berada lebih dekat dengan gadis-gadis cantik dengan kekuatan luar biasa bak Dewi.
Namun tidak akan ada yang berani mengatakan pendapat itu secara langsung pada idola mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah memusuhi sumber masalah yakni seorang pemuda asing bernama Budi.
***
Raya membawa Budi ke dalam gedung yang seperti dulu adalah sebuah hotel, tapi kini menjadi markas sementara anggota penting pasukan Hunter.
Di dalam ruangan yang memiliki banyak meja layaknya sebuah restoran, Yuniar dan Liliana bersama beberapa orang sedang menikmati sarapan mereka dengan begitu tenang dan sangat eksklusif.
Dibandingkan dengan para Hunter di luar gedung yang makan seadanya dari kantin umum.
Sedangkan di sini mereka makan makanan lezat yang dimasak oleh koki khusus, dan di layanan oleh pelayan terbaik.
Budi menyadari jika semua pelayan dan para koki tempat itu tidak dia lihat sebelumnya saat pertempuran. Yang berarti mereka datang ketika Budi sedang tertidur.
“Sepertinya beberapa orang kaya ingin membuat negosiasi.” ucap Budi ketika baru beberapa detik memasuki ruang makan mewah.
Perkataan Budi sontak membuat seluruh perhatian tertuju padanya. Tanpa peduli dengan semua tatapan itu, Budi duduk di salah satu meja kosong.
Tidak ada satupun pelayan yang mendekatinya, mereka terlihat enggan mendekati pemuda tidak dikenal dengan penampilan dekil dan kotor.
Karena itu Budi pun mengambil segelas air dari kotak item untuk menuntaskan rasa haus yang dia rasakan.
Kemudian Budi menghisap sebatang rokok dengan begitu tenang. Dia benar-benar tidak peduli dengan bidikan penghinaan setiap orang di ruangan itu yang bisa dia dengar dengan sangat jelas.
__ADS_1
“Lelucon apa ini?.”
“Melihatnya membuat nafsu makan ku lenyap.”
“Sangat tidak beretika.”
Beragam ucapan tidak mengenakan terus dilontarkan dengan nada kecil tetapi tetap mengganggu. Tetapi Budi hanya menanggapinya dengan meniup asap tebal dari mulutnya.
“Apa ini, kenapa ada sebuah kotoran di tempat yang seharusnya bersih dan suci.” Ridwan bangkit dari tempat duduknya dengan mulut dipenuhi oleh daging yang masih dia kunyah.
Di sekitar mulut pria itu terkotori oleh saus, dia seperti anak kecil yang tidak tahu bagaimana cara makan dengan benar.
Semua orang menatap ketika Ridwan menghampiri meja Budi. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh kepala kepolisian itu pada seseorang yang dianggap mengganggu.
“Hey apa kau tersesat.” dengan mulut masih mengunyah, dia menatap Budi dengan tatapan tajam. Namun Budi tidak sedikitpun peduli dan terus menikmati rokoknya.
Reaksi itu tentu membuat Ridwan begitu marah. Tetapi sebelum melakukan apapun, suara Liliana menghentikannya.
“Aku yang memberikan dia undangan untuk datang.” ucap Liliana dengan begitu anggun.
Setiap orang yang mendengar itu sangat terkejut. Tetapi itu masih belum cukup mengejutkan karena Raya dan Yuki pun tidak ingin kalah.
“Aku yang membawanya kemari.” Raya berkata dengan tegas.
“Dan aku ingin dia tetap di sini!.” Yuki memberikan ancaman pada setiap orang agar menghormati keberadaan Budi di tengah mereka.
Di dukung oleh tiga gadis paling berpengaruh di Kota Sawi, tentu saja membuat tidak ada satupun orang yang berani mengusir Budi dari gedung.
Takut memulai kadal dengan ketiganya, Ridwan pun melengos kembali ketempat duduknya semula.
Tapi walaupun masalah telah usai dan tidak ada lagi perkataan buruk mengenai dirinya. Budi justru merasa tidak nyaman karena berkat dukungan dari ketiga gadis, membuatnya sekarang diperhatikan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh luas di kota Sawi.
“Aku sangat benci berurusan dengan orang kaya.”
__ADS_1