Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Menangis


__ADS_3

Happy reading......


“Ih ... kamu apaan sih,” gumam Kia, yang merasa sangat malu mendengar candaan Zain padanya.


Mereka memang seperti itu, menghabiskan malam dengan tawa dan canda. Sesekali mereka merasa sendu, tetapi salah satu di antara mereka berhasil membuat candaan, yang bisa membuat mereka melupakan keluh-kesahnya saat itu.


Tak jarang mereka juga melakukan sleep call, dengan Kia yang sudah tidur lebih dulu, sedangkan Zain masih harus mengerjakan pekerjaannya yang belum tuntas di hari itu.


Mereka hanya mengisi hari-hari mereka dengan melakukan hal romantis, tidak dengan hal yang membuat mereka tersesat dengan nafsu yang mereka miliki.


Bahkan, mereka sama sekali tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas. Mereka baru merasakan cium-ciuman kecil di hari ini, menjelang pengucapan sumpah mereka.


“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Zain, yang lalu melihat ke arah jam tangannya, “ini sudah pukul 9 malam,” lanjutnya.


Kia menghela napasnya dengan panjang, “Aku gak bisa tidur karena mikirin kamu,” jawab Kia dengan polosnya, Zain tersenyum sembari menahan tawanya agar tidak menyakiti hati Kia lagi.


“Ya udah, sekarang ... pikirin sepuasnya sambil tidur, ya!” Zain melepas jas hitam yang ia kenakan, dengan menyelipkan handphone-nya di antara telinga dan juga bahunya.

__ADS_1


“Ih, mana bisa begitu?” sanggah Kia dengan manja, membuat Zain tersenyum kembali mendengarnya.


“Bisa, kok! Aku pun sering mikirin kamu sambil kamu tidur,” seloroh Zain, Kia terasadar mendengar candaan Zain padanya.


“Ya itu karena kamu gak tidur, jadi bisa mikirin aku yang lagi tidur,” ujar Kia, membuat Zain tertawa kecil mendengarnya.


Mereka benar-benar pasangan yang sangat romantis, sampai hari-hari mereka pun tak pernah diisi dengan tangis.


Di sela perbincangan mereka, Kia mendadak khawatir, karena ia teringat dengan berita pembunuhan, yang ia dengar di televisi kedai es krim yang mereka kunjungi tadi sore.


Mulut Kia seketika bergetar, saking bingungnya harus mengatakan apa untuk memulai percakapan ini bersama dengan Zain.


“Sayang ....” Zain menyapa dengan sangat lembut, dan sukses membuat air mata Kia menggenang pada pelupuknya. “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu diam aja?” tanyanya lagi, yang benar-benar membuat air mata Kia jatuh dan membasahi boneka yang sedang ia peluk.


Rasa sedih dan sakit Kia rasakan, tetapi ia tidak tahu dengan apa yang ia rasakan. Ia hanya merasakan sedih, karena mendengar berita pembunuhan itu di televisi, dan malah terus teringiang-ngiang sampai sekarang.


Kia hanya diam, dalam waktu yang cukup lama. Namun, Zain sangat sabar menunggu Kia menjawab pertanyaannya yang ia tanyakan tadi.

__ADS_1


Terdengar suara isak tangis Kia. Walaupun kecil, tetapi Zain mendengar dengan jelas, karena kondisi ruangan yang sepi tanpa ada seorang pun di sana.


Hanya dirinya.


Niat hati ingin beristirahat di awal waktu, karena tahu keadaan Kia sedang down, Zain merasa harus menunda waktu istirahatnya sementara waktu, sampai hati Kia benar-benar tenang.


Karena tidak mendengar suara Zain sejak tadi, Kia pun menjadi penasaran dengan keberadaan Zain saat ini. Ia mengusap air matanya yang keluar, dan mencoba membuat dirinya tegar di hadapan Zain.


“Halo? Zain?” panggil Kia.


“Sudah tenang sekarang?” tanya Zain, yang mengetahui suasana hati Kia yang sekarang sedang drop.


“Kamu tau aku nangis?” tanya Kia, sembari berusaha menahan tangisnya, agar tidak terdengar kembali oleh Zain.


“Aku tau semuanya tentang kamu, Kia. empat tahun aku ngejar kamu, dengan segala pengorbanan yang aku lakukan. Akhirnya, kamu bisa aku dapetin sekarang,” ujarnya, membuat Kia merasa terharu mendengarnya.


Kia menghela napasnya dengan panjang, “Oh iya ya? Waktu cepet banget berlalu. Padahal, waktu awal masuk kuliah kamu selalu kelihatan deketin aku. Akunya aja yang gengsi,” ujarnya, yang lalu tertawa ketika mengingat masa lalu mereka bersama.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2