
Zaki pun tak habis sampai sana, dia mencolok mata berandal yang tersisa, membuat berandal tersebut kesakitan dan tidak bisa melihat. Kemudian ia menendang berandal tersebut hingga berandal tersebut berhasil tumbang di atas aspal jalan.
Melihat Zaki yang sepertinya bisa melawan mereka semua, ketua geng berandal tersebut yang belum mengotori tangannya pun merasa kagetm melihat kepiawaian Zaki dalam melakukan hal tersebut. Ia pun segera turun tangan dan berada di hadapan Zaki saat ini.
“Dasar, bocah tengik! Beraninya lo nyakitin rekan-rekan gue semua! Gue nggak akan terima! rasakan pembalasan gue!” bentak sang ketua berandal itu, yang langsung menghajar ke arah wajah Zaki.
Mengetahui sang ketua yang ingin menghajarnya, Zaki pun melepaskan berandal yang baru saja ia kalahkan kemudian melayani sang ketua brandal tersebut. Ia mengelak sedikit demi sedikit serangan dari atas bawah maupun samping.
Zaki harus bisa mengelak sebisa mungkin dari sang ketua, tanpa harus mengotori tangannya sedikit pun. Sang ketua yang dari tadi berusaha untuk mengenai Zaki, merasa kesal karena sejak tadi pukulan dan tendangannya selalu tidak kena sasaran.
“Sia_lan, bocah tengik! Beraninya lo permainin gue!” bentak ketua geng, sembari tetap melakukan gerakan untuk menghajarnya.
Namun, lagi dan lagi apa yang ia lakukan tidak ada manfaatnya dan tidak ada gunanya.
“Makanya lo jangan pernah main-main sama gue! Lo salah orang dan salah sasaran! Gue nggak akan mau ngalah dari lo, apalagi masalah Kia! Gue bakalan jaga dia semaksimal mungkin, dan nggak akan gue biarin Kia berada dalam masalah kalian!” bentak Zaki membuat si ketua berandal merasa kesal mendengarnya.
Si ketua kesal, karena jika ia gagal dari misi ini, ia tidak akan mendapatkan pembayaran dari apa yang ia kerjakan. Oleh karena itu, sang ketua berandal pun yang diketahui telah menjalankan tugas sebelum ini dari Adnan, langsung mengeluarkan sebilah pisau tajam dari sakunya. Hal itu membuat Zaki merasa sangat kaget, karena bukan hanya senjata tumpul, mereka juga membawa senjata tajam untuk melukainya.
Matanya mendelik kaget, karena melihat senjata tajam tersebut yang berada di hadapannya.
“Dasar cupu! Beraninya pakai senjata tajam! Lawan gue dengan tangan kosong kalau berani!” bentak Zaki membuat sang berandal menyunggingkan senyumnya di hadapan Zaki.
Seorang berandal dari arah belakang langsung menyergap tubuh Zaki. Zaki tersadar dan mendelik, ketika tubuhnya sudah terkepung oleh berandal itu.
“Mau lari ke mana lo?” ujarnya, yang membuat Zaki menjadi panik mendengarnya.
__ADS_1
“Lepasin gue, ba_ngsat! Jangan sentuh gue dengan tangan kotor kalian! Gue gak sudi!” teriak Zaki, sembari berusaha untuk memberontak dari mereka.
Namun, karena tenaganya yang sudah habis, ia jadi tidak bisa memberontak dengan berandal itu. Orang yang memegang senjata tajam itu, segera berhadapan dengan Zaki.
“Gue peringatin lo sekali lagi, jangan pernah lo deketinnya Kia lagi, atau tanggung sendiri akibatnya!” ancamnya lagi, tetapi Zaki sama sekali tidak peduli dan tidak takut dengan ancamannya itu.
“Gue sama sekali nggak takut sama ancaman lo! Gue bakalan terus jagain Kia, sampai kapan pun!” teriak Zaki, membuat sang berandal merasa kesal mendengarnya.
“Si_alan lo! Lo nggak ngehargain gue, rasain nih akibatnya!” ujar brandal itu, lalu segera menancapkan pisau itu ke perut Zaki.
Merasakan ada pisau yang menancap pada perutnya, Zai pun mendelik kaget karena ternyata berandal itu benar-benar melakukannya. Pisaunya tertancap pada perut Zaki, sehingga membuatnya mendelik tak percaya. Darah keluar bercucuran dari dalam perut, membuat Zaki merasa lemas dan gemetar.
“Ah?” gumam Zaki, merasa sangat tidak percaya dengan apa yang ia alami itu.
“Jangan main-main sama ucapan gue! Gue nggak pernah main-main sama ancaman yang udah gue kasih ke lo!” ujar sang berandal, membuat Zaki kesal mendengarnya.
Namun Zaki yang sudah tertunduk lemas itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan mengangkat kepalanya pun ia tidak bisa. Ketua berandal itu merasa sangat senang dan puas, ketika ia sudah berhasil membuat Zaki bertekuk lutut di hadapannya.
“Ayo cabut!” ajak sang ketua berandal kepada mereka.
Mereka pun akhirnya pergi dari hadapan Zaki dan meninggalkan Zaki di sana sendirian. Keadaannya sangat lemas, ia tidak bisa melakukan apa pun dan hanya diam saja di sana.
Karena sudah terlalu lemas, ia yang bersimpuh pun terjatuh dan tergeletak lemas di atas aspal jalan, dengan pisau yang masih menancap pada perutnya. Ia tidak bisa melakukan apa pun, sampai pandangannya pun menjadi rabun.
‘Gue lemah banget ... kenapa gue bisa lemah banget kayak gini, sih? Kalau udah gini, gimana bisa gue ngejaga Kia?’ batin Zaki yang merasa bingung, dengan keadaan saat ini.
__ADS_1
Perlahan matanya pun memejam, karena ia yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Karena sudah terlalu lemas, Zaki pun akhirnya pasrah dengan apa yang sudah menjadi tulisan takdir baginya.
Matanya perlahan menutup, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
Seseorang melintas menggunakan mobilnya. Ketika melihat mobil yang ia kenali sedang terparkir di pinggir jalan, ia pun segera memandangnya dengan bingung dan menghentikan laju kendaraannya.
“Itu bukannya mobil Zaki?” gumam seseorang, yang ternyata adalah Fikar, yang baru saja hendak pulang ke rumahnya.
Karena ia merasa penasaran, ia pun segera menuruni mobilnya kemudian melihat keadaan sekitar untuk memastikan keadaan yang ada.
Matanya seketika mendelik, kaget ketika ia melihat Zaki yang saat ini sudah terbaring lemah di atas aspal. Ia tidak menyangka, Zaki akan mengalami kejadian seperti ini.
“Hah?” gumam Fikar yang tak percaya dengan keadaan yang ada.
Ia melihat banyak sekali darah yang keluar dari perut Zaki, dan juga pisau yang masih tertancap pada perutnya.
“Astaga Zaki ....”
Fikar yang merasa sangat kaget, ketika melihat keadaan yang sangat ambigu ini. Tanpa pikir panjang, Fikar pun langsung mengangkat tubuh Zaki ke dalam mobilnya dan ia meletakkan Zaki pada kursi belakang mobilnya. Ia mengambil kunci mobil Zaki dan mengunci mobilnya, untuk keselamatan, agar tidak ada orang yang bisa menjahati mobilnya itu.
Setelah menyelesaikan semuanya, dengan cepat Fikar pun pergi dari sana untuk mengantarkan Zaki ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Fikar menuju ke rumah sakit, Fikar merasa takut dan khawatir jika memang benar terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Zaki. Ia tidak bisa percaya, tetapi sebisa mungkin ia akan melakukan apa pun untuk kesembuhan Zaki.
Saat mereka sampai di rumah sakit, Fikar pun langsung segera menggotong tubuh Zaki dan meminta pertolongan kepada petugas setempat, untuk memberikan penanganan terhadap Zaki yang sudah lemas itu.
__ADS_1