Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Nggak Jelas Banget


__ADS_3

“Oh gitu ... terus gimana? Apa lo ada kelas sekarang?” tanya Kia.


Zaki mengangguk, “Ya, gue ada kelas dan sebentar lagi dimulai,” jawabnya.


Kia mendelik, “Terus gimana dengan baju lo?” tanya Kia bingung dengan apa yang akan Zaki lakukan.


Zaki menyeringai, bingung harus menjawab apa. “Ya .. mau bagaimana lagi? Ya gue pakailah, masa gue di kelas pakai singlet doang? Lah k‘an nggak lucu dan nggak etis juga ‘kan? Masa di hadapan dosen dan teman-teman, gue gue pakai singlet doang, sih?” ucap Zaki membuat Kia memandangi bingung.


“Kenapa lo harus pakai singlet?” tanya Kia, ia pun dengan segera mengambil jaket Zaki yang ada di dalam tasnya, lalu menyodorkannya ke arah Zaki, membuat Zaki memandang bingung ke arah jaket tersebut.


“Nih, lo pakai dulu jaket lo, biar nggak malu-maluin di kelas!” suruh Kia, membuat Zaki memandangnya dengan datar.


“Kenapa lo malah jadi ngasih balik jaket gue ini? Nanti kalau gue ngambil, terus gue balikin ke lo lagi nggak?” tanya Zaki bingung.


“Nggak usah! Ini ‘kan memang punya lo. Jadi lo nggak usah balikin lagi ke gue,” tolak Kia membuat Zaki enggan untuk memakainya.


“Kalau gitu caranya, mendingan gue pakai singlet aja deh di kelas,” ujar Zaki, yang sangat pantang untuk menarik kembali apa yang sudah ia berikan kepada orang lain.


Mendengar ucapan Zaki yang aneh, Kia pun merasa tidak bisa melakukannya. Ia tidak ingin mempermalukan temannya sendiri di hadapan teman-teman yang lain.


“Apaan sih? Nggak boleh, lah! Ngapain lo pakai singlet? Nggak jelas banget!” bentak Kia, membuat Zaki menyunggingkan alisnya.


“Kalau iya, memangnya kenapa?” tanya Zaki dengan nada tinggi.


“Ya gue nggak mau, lah! Ngelihat temen gue dipermaluin di depan orang lain,” jawab Kia juga dengan nada tinggi.


Zaki menyeringai, “Jadi sekarang lo udah anggap gue sebagai temen nih ceritanya?” selorohnya, dia pun terkejut mendengar ucapan Zaki.

__ADS_1


“Apaan sih? Ya iyalah lo temen gue, emang kenapa?” ujar Kia malu-malu.


“Hahaha, ya baguslah! Ada kemajuan. Siapa tahu dari temen jadi demen,” ledek Zaki, membuat Kia sedikit kesal mendengarnya.


“Jangan sampai gue sentil ginjal lo, ya?” ancam Kia, Zaki pun tertawa lepas mendengar ancamannya itu.


“Ih ... takut,” ujarnya, berusaha untuk terlihat takut di hadapan Kia, tetapi Kia malah merasa kesal melihat ekspresinya itu.


“Udah cepat, nih jaket lo pakai!” suruh Kia.


“Nggak, ah! Nanti malah lo nggak mau nerima lagi,” tolak Zaki mentah-mentah, dia pun menjadi gemas melihat sikap dan perilaku Zaki yang seperti itu.


“Udah pakai! Yang penting, lo tuh nggak malu. Urusan nanti mah gampang,” ujar Kia dengan ucapan yang setengah memaksa.


Karena waktu yang sangat sempit dan juga Zaki yang tidak mungkin mengenakan pakaian yang basah, ia pun menerima jaket tersebut dari Kia.


“Ya udah, gue pakai dulu,” ucap Zaki yang mengalah di hadapan Kia.


“Ya iyalah! Masa lu mau masuk toilet bareng gue, sih? ‘Kan nggak lucu,” seloroh Zaki, membuat Kia bertambah gemas mendengarnya.


“Nggak jelas, lo! Udah sana cepet pakai jaketnya!” bentak Kia, Zaki pun hanya tertawa mendengarnya.


Zaki kembali masuk ke dalam toilet untuk memakai jaketnya. Setelah beberapa saat, ia pun selesai mengenakan jaketnya dan memandang ke arah cermin yang berada di dalam toilet tersebut.


Zaki memandang wajahnya sendiri dan merasa aneh ketika memakai jaket ini. “Kenapa gue jadi aneh sendiri ya, pakai jaket punya Zain?” gumam Zaki, yang merasa aneh sendiri ketika mengenakan jaket yang tak lain adalah milik Zain.


Zaki sengaja tidak mengatakannya pada Kia, karena ia tidak mau sampai Kia mengetahuinya. Yang ada nanti akan timbul spekulasi aneh dari Kia, yang tidak akan bisa ia jawab, dan malah hanya akan membuatnya terpojok saja.

__ADS_1


‘Gue nggak nyangka Zain punya jaket warna hitam seperti ini juga. Gue pikir ... dia nggak suka model jaket yang kayak gini. Soalnya dia kaku sih orangnya. Kalau kayak gini ‘kan jadi mirip kayak gue yang sebenarnya,’ batin Zaki sembari tetap memandang ke arah penampilannya di hadapan cermin.


Zaki pun segera keluar, ketika sudah selesai dengan penampilannya itu.


Ketika ia keluar dari dalam toilet, pandangan Kia pun tertuju padanya. Ia mendelik tak percaya, karena ia melihat Zaki yang penampilannya mirip seperti orang yang sudah membunuh Zain. Kia sampai menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, sehingga membuat Zaki merasa bingung dengan yang Kia lakukan.


“Lo kenapa Kia? Lo kayak orang kaget gitu, sih?” tanya Zaki bingung.


Kia tak menjawab dan hanya tetap mendelik, karena lidahnya saat ini terasa sangat kelu. Sikap dia yang seperti itu membuat Zaki merasa bingung, dengan apa yang dia lakukan.


“Lo kenapa Kia? Jawab dong! Gue bingung, nih!” tanya Zaki, Kia menunjuk ke arahnya dengan rasa tidak percaya.


“Lo ... apa lo yang udah bunuh Zain?” tanya Kia, Zaki pun mendelik mendengar pertanyaan anehnya itu.


“Apa?” tanya Zaki tak percaya atas tuduhan yang Kia layangkan padanya.


“Jaket lo ini ... postur tubuh dan lainnya juga, gue yakin emang lo yang ngebunuh Zain, dan lo yang ada di CCTV ruangan sebelah kamar Zayn waktu itu!” tuduh Kia, membuat Zaki tersadar dengan apa yang ia maksudkan.


Walaupun yang Kia bicarakan memang benar, tetapi yang ada di dalam kamera pengintai itu bukanlah dirinya. Zaki sama sekali tidak mengetahui bagaimana saat-saat terakhir sebelum Zain dibunuh.


Zaki hanya bisa memasang tatapan yang bingung di hadapan Kia. Ia berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah orang yang Kia maksudkan.


Zaki memandang ke arah sekitarnya, lalu kembali ke arah Kia. “Maksudnya apa sih, Kia? Gue sama sekali nggak ngerti apa yang ngomongin!” bantah Zaki, Kia masih pada pendiriannya.


“Ya, nggak salah lagi! Lo yang ada di kamera CCTV malam sebelum Zain meninggal! Sosok itu pakai jaket hitam, dan postur tubuhnya pun sama kayak lo!” tuduh Kia membuat Zaki merasa bingung harus menjawab ucapan Kia seperti apa.


“Lo nggak bisa klaim begitu aja dong! Gimana kalau gue tuntut lo atas pencemaran nama baik? Lo mau berbuat apa?” tanya Zaki, berusaha untuk memutar balikan keadaan.

__ADS_1


Karena memang tidak merasa bersalah, Zaki pun berani mengatakan hal seperti itu di hadapan Kia. Sementara itu, Kia yang sudah terobsesi dengan Zain tiba-tiba saja tersadar dari tuduhannya kepada Zaki. Ia tidak ingin dicap sebagai seorang yang mencemarkan nama baik tanpa alasan dan bukti yang otentik.


BERSAMBUNG...


__ADS_2