
Mereka segera membawa Zaki ke ruang UGD untuk memberikan penanganan secara cepat, karena jumlah darah yang terlihat sangat banyak yang keluar dari area sekitar lukanya.
Mereka pun langsung melakukan penanganan, dengan Fikar yang hanya bisa diam dan menunggu hasil dari penanganan tersebut.
Fikar duduk di kursi yang berada di depan ruang UGD. Ia pun menunggu dengan sabar, tetapi tak bisa dipungkiri ia merasa sangat takut jika kejadiannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Namun, dengan segera Fikar menepiskan semua pemikiran buruknya terhadap apa yang terjadi dengan Zaki saat ini.
“Ah, jangan mikir yang aneh-aneh! Fokus aja sekarang dengan kesembuhan Zaki. Mudah-mudahan dia baik-baik aja dan nggak terjadi hal yang serius sama dia,” gumam Fikar yang ngerasa harus berjaga-jaga, ketika ada sesuatu hal yang mungkin akan menimpa Zaki nantinya.
Namun di hati kecilnya, ia masih berharap tidak ada yang terjadi dengan Zaki.
Fikar mengusap kasar wajahnya, ‘Astaga ... lo kenapa sih Zaki? Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo? Apa yang sebenarnya terjadi sampai lo, sampai lo kayak begini. Ditusuk sama orang yang entah siapa orangnya, gue nggak tahu. Mudah-mudahan kasus ini bisa cepat diselesaikan,’ batin Fikar, yang merasa sangat aneh dengan hal yang terjadi pada Zaki.
Fikar mendadak ingin memberitahukan semua ini kepada Kia dan juga Zifa. Biar bagaimanapun mereka adalah teman dari Zaki, yang harus mengetahui keadaan Zaki yang sebenarnya.
Walaupun Fikar dan Zifa sedang ada permasalahan kali ini, tetapi itu tidak menghalangi niat Fikar untuk mengatakan hal ini kepadanya. Walaupun mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi, tetapi ia masih harus menjaga hubungan ini agar bisa tetap berjalan. Walaupun nantinya mereka tidak ditakdirkan Tuhan untuk bersama, dengan perasaan yang sama lagi.
Fikar pun segera menghubungi Zifa, untuk memberitahu kabar mengenai Zaki. Namun, Zifa sama sekali tidak mengangkat telepon masuk darinya. Hal itu membuat Fikar merasa sangat malu, karena ia yang sudah tidak bisa memberikan kenyamanan seperti dulu bagi Zifa.
“Please, angkat ....”
Fikar masih mencoba, tetapi ini sudah kali ketiga ia menghubungi Zifa, dan Zifa sama sekali tidak mengangkatnya.
“Zifa sama sekali nggak angkat telepon dari saya. Gimana saya bisa hubungin dia dan ngasih tahu dia tentang hal ini?” gumamnya bingung.
__ADS_1
Karena sudah seperti ini, Fikar pun akhirnya menghubungi Kia untuk memberitahu hal yang menimpa Zaki. Karena sudah terlalu malam, Fikar pun merasa pesimis, khawatir Kia tidak mengangkat telepon darinya.
Namun, setelah lama menunggu, Kia pun akhirnya mengangkat telepon dari Fikar.
“Halo Kia,” sapa Fikar dengan nada yang sangat terburu-buru, membuat Kia merasa sangat bingung dan juga khawatir.
“Halo, Kak? Ada apa?” tanya Kia, yang malah menjadi panik setelah mendengar nada bicara Fikar, yang seperti itu.
“Kia, kamu bisa ke sini nggak sekarang? Ada hal yang urgent!” tanya Fikar, membuat Kia merasa sangat khawatir mendengarnya.
“Ke mana, Kak? Memangnya ada apa?” tanya Kia, yang benar-benar merasa khawatir dengan apa yang terjadi dengan Fikar.
“Ke rumah sakit sekarang! Zaki soalnya lagi kritis,” jawab Fikar, membuat Kia merasa kaget mendengarnya.
“Iya, penjelasannya nanti aja di rumah sakit. Lebih baik kamu ke sini sekarang. Kalau nggak bisa sendiri, kamu minta tolong Ayah buat anterin kamu, oke? Karena bahaya banget! Ah, atau kalau nggak minta tolong sopir aja, ujar Fikar membuat Kia langsung segera melakukan persiapan.
“Iya aku ke sana sekarang. Kakak tunggu di mana? Aku ke sana sekarang! Pokoknya Kakak tunggu di situ, jangan ke mana-mana! Aku segera datang!” ujar Kia, yang merasa sangat khawatir mendengarnya.
“Iya, Kakak tunggu di depan ruang UGD. Saat ini dokter masih melakukan penanganan terhadap Zaki. Zaki juga keadaannya masih kritis ujar Fikar menjelaskan kepada Kia, tentang permasalahan yang Zaki hadapi.
Kia pun segera meletakkan handphone-nya di atas ranjang, sembari melakukan persiapan.
“Sekarang aku lagi siap-siap. Sebentar lagi aku on the way ke sana,” ujar Kia, membuat Fikar sedikit merasa tenang mendengarnya.
__ADS_1
“Oke, oke. Hati-hati di jalan ya, Kia! Pokoknya kamu nggak boleh sendiri berangkatnya, kamu harus dianter!” ujar Fikar, yang benar-benar merasa sangat khawatir dengan keselamatan Kia.
“Oke iya ,Kak! Aku pasti berangkat sama sopir. Ya udah, aku mau jalan dulu sekarang,” pamit Kia, yang saat ini baru saja selesai memakai bajunya.
“Ya, hati-hati di jalan. Pokoknya kalau ada apa-apa, langsung kabarin aja!” ujar Fikar sekali lagi.
Mereka pun memutuskan sambungan telepon mereka, lalu Kia pun segera pergi menuju ke arah rumah sakit bersama dengan sopirnya. Sementara itu, Fikar yang merasa cemas dengan keadaan Zaki, kembali menelpon Zifa yang tidak bisa ditelepon sejak tadi. Fikar kembali mencoba menghubungi Zifa lagi. Setelah beberapa kali menghubungi dan tidak diangkat sama sekali, akhirnya Zifa pun mengangkat telepon darinya, membuat Fikar segera memberitahukan maksud dan alasannya untuk menghubungi Zifa, agar Zifa tidak memutuskan sambungan teleponnya.
“Jangan dimatiin dulu, tunggu sebentar aku mau ngomong! Ini masalah Zaki,” ujar Fikar, yang dengan nada terburu-buru, membuat Zifa terdiam sejenak mendengarkan.
“Mau ngomong apa?” tanya Zifa dengan datar, membuat Fikar berusaha untuk mengatur napasnya yang tersendat.
“Zaki sekarang di rumah sakit! Zaki kritis sekarang!” ujar Fikar, sontak membuat Ziva kaget mendengarnya.
“Apa? Zaki ke rumah sakit? Zaki kritis kenapa?” tanya Zifa, membuat Fikar gemas mendengarnya.
“Udah ... sekarang kamu ke sini aja, ke rumah sakit. Aku nggak bisa ke sana untuk jemput kamu, karena nggak ada siapa pun di sini. Kamu bisa ‘kan jalan sendiri ke sini? Pakai taksi online aja, nanti ongkosnya aku yang bayar,” ujar Fikar, Zifa pun merasa bingung mendengarnya.
“Iya, gue pasti bakalan ke sana, tapi biar gue aja sendiri yang bayar ongkos taksinya,” tolak Zifa yang masih mementingkan egonya di saat seperti ini.
Hal itu membuat Fikar mengalah di hadapannya. “Ya udah, pokoknya yang penting kamu datang ke sini. Hati-hati di jalan,” ujar Fikar, langsung segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah sakit terdekat.
“Iya lo tunggu aja di sana. Gue sekarang jalan kok ke sana,” ujar Zifa, yang lalu segera memutuskan sambungan telepon dari Fikar.
__ADS_1
Fikar pun merasa sendu, karena Zifa yang tiba-tiba saja memutuskan sambungan telepon darinya. Padahal ia ingin sekali melakukan teleponan itu, sampai Zifa tiba di rumah sakit. Hal itu ia lakukan, karena ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Zifa nantinya di jalan. Mengingat Zaki yang sepertinya sudah diganggu oleh sekelompok orang, hingga akhirnya ditusuk menggunakan pisau.