Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Tidak Suka Dikasihani


__ADS_3

Mereka hanya bisa memakluminya.


Kia berjalan cepat menuju ke ruangan kelasnya. Ia merasa sangat kesal, karena pandangan mereka dan perhatian mereka yang membuatnya kembali teringat dengan Zain.


‘Sudahlah, aku mau lupakan sejenak soal Zain! Jangan terus bikin aku ingat sama dia! Aku gak mau nangis di kampus!’ batin Kia, yang berusaha untuk menguatkan hatinya, agar tidak menangis di sini.


Akan sangat malu, kalau Kia sampai menangis di kampus. Semua orang pastinya akan lebih memperhatikannya, dan membuat Kia menjadi sangat terpojok.


Kia sudah sampai di ruangan kelasnya. Semua orang yang ada di dalamnya, menoleh ke arah Kia, karena Kia yang baru saja datang ke hadapan mereka.


Pandangan mereka membuat Kia merasa sesak, karena secara tidak langsung mereka membuat dirinya tidak bisa melupakan Zain.


“Kia ....”


Mereka mulai mengerubungi Kia. Banyak kata belasungkawa terlontar, membuat Kia menjadi semakin sedih dibuat mereka.


Kia tak menghiraukan, ia hanya bergeming dan langsung melangkah duduk di kursinya.


Semua orang memandangi, karena merasa kasihan terhadap Kia.


‘Aku gak butuh rasa kasihan mereka! Mereka malah buat aku semakin lemah aja!’ batin Kia, yang semakin down karena perhatian mereka pada Kia.


Selain Zifa, ia tidak ingin ada yang memedulikannya. Hanya Zifa satu-satunya teman terdekatnya, yang sangat ia percaya untuk menumpahkan semua perasaannya.


Namun sejak tadi, Kia sama sekali tidak melihat keberadaan Zifa. Pandangannya ia edarkan, tetapi sama sekali tidak menemukan Zifa.


‘Di mana Zifa? Kenapa dia belum datang?’ batin Kia, yang merasa bingung.


Beberapa saat berlalu, Zifa datang dengan membawakan beberapa makanan dan juga minuman kesukaan Kia. Ia sengaja melakukannya, karena Fikar yang menitip pesan untuk membuat Kia mengisi perutnya.

__ADS_1


Mata Kia membulat sempurna, karena kedatangan Zifa yang sangat ia tunggu.


“Tumben datang telat?” tanya Kia, Zifa tersenyum dan duduk di kursi yang berada di hadapan Kia.


“Jangan nanya apa-apa dulu. Nih, makan,” ujar Zifa, yang langsung menyodorkan beberapa makanan di hadapannya, dan juga segelas latte dingin yang ia sukai.


Melihat makanan yang ada di hadapannya, Kia merasa sangat mual. Ia tidak bisa makan lagi, karena perasaan sedihnya yang tiba-tiba saja muncul mempengaruhi psikisnya kembali.


“Aku gak enak makan, Zi. Kamu aja yang makan,” ujar Kia dengan sangat lemas, membuat Zifa memandangnya dengan heran.


“Kenapa? Jangan diturutin, dong! Lawan! Kamu pasti bisa!” ujar Zifa, memberikan semangat kepada Kia.


Walau sudah diberikan semangat, tetapi Kia masih tetap tidak bisa melupakan perasaan sedihnya. Ia tidak bisa menahan gejolak kesedihannya, yang masih ada menggenang di hatinya.


Kia menggelengkan kecil kepalanya, “Tetap aja gak bisa, Zi. Aku gak nafsu makan, karena teringat sama Zain terus. Apalagi sepanjang jalan aku ke kelas tadi, semua orang mengingatkan aku dengan Zain.


Alih-alih mengucapkan belasungkawa, tapi secara gak sengaja itu malah bikin aku sedih karena teringat dengan Zain lagi,” ujarnya menjelaskan, membuat Zifa menghela napasnya dengan panjang.


Kia hanya bisa menunduk sendu, karena perasaan sedihnya yang sudah mulai kembali. Ia tidak bisa dengan mudahnya melupakan Zain, meskipun ia sudah berusaha keras untuk melupakannya.


“Maaf, Zi. Buat beberapa waktu ini, tolong jangan nasehatin aku dulu. Aku beneran lagi berada di titik terendah. Kalau bukan karena perkuliahan ini, aku juga gak akan pernah masuk kampus lagi. Kampus yang udah ngingetin aku sama Zain, aku gak mungkin bisa datang lagi ke tempat ini,” ujar Kia, yang merasa harus mengatakannya pada Zifa.


Zifa memandangnya dengan sendu, karena ternyata sedalam itu perasaan Kia terhadap Zain.


“Sampai kapan, Kia?” tanya Zifa, yang meminta batas untuk memaksanya kembali menjadi seperti Kia yang dulu.


Kia tersenyum pasi, “Sampai kapan, aku juga gak tahu. Pokoknya, aku gak mau kamu sampai mengingatkan aku dengan Zain lagi, atau menasehati aku untuk segera melupakan Zain. Aku gak bisa cepat-cepat melupakan Zain. Aku beneran gak bisa.”


Air mata Kia jatuh, ia merasa tidak sanggup lagi menahan semua rasa sedih yang ia rasakan.

__ADS_1


Kia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, karena ia tidak ingin semua mata memperhatikannya. Zifa dengan sigap mengelus punggung Kia, karena ia merasakan kesedihan Kia yang sudah meluap.


Mereka memandang ke arah Kia, membuat Zifa merasa terusik. Ia memberikan isyarat kepada mereka, agar mereka tidak mencampuri urusan Kia dan juga dirinya.


Karena sudah mendapatkan isyarat seperti itu, mereka pun tidak jadi menegur Kia. Mereka membiarkan Kia, karena mereka sangat mengerti dengan yang Kia rasakan.


Kia masih menahan tangisnya, karena ia malu dengan teman-teman di sekelilingnya. Ia mengusap air matanya yang mengalir, dan segera memperbaiki suasana hatinya kembali.


Melihat Kia yang sangat berusaha keras melakukan hal itu, Zifa pun segera membantu Kia untuk menghapuskan air matanya.


“Gak apa-apa, kalau kamu mau keluarin lagi. Semua di sini udah paham kok,” ujar Zifa, membuat Kia menggelengkan kepalanya.


“Aku gak bisa nangis di hadapan mereka,” jawab singkat Kia, yang masih berusaha untuk menahan perasaan sedihnya.


Zifa tersenyum hangat mendengarnya, “Ya sudah, mau aku antar ke toilet?” tawarnya, lagi-lagi Kia menggelengkan kepalanya. “Jadi, mau kamu gimana?”


“Aku butuh penambah mood,” jawab Kia, Zifa segera menyodorkan latte dingin yang ia belikan untuk Kia.


“Nih, nanti latte-nya keburu gak dingin lagi,” ujar Zifa, sembari menyodorkan segelas latte tersebut.


Kia menerimanya dengan senyuman, “Terima kasih, Zi. Kamu beneran teman yang baik,” ujarnya, membuat Zifa tersenyum sangat senang ke arah Kia.


“Sudah pasti harus begitu. Aku gak mau kehilangan kamu, Kia. Aku mau kamu yang dulu, yang sangat ceria, yang bisa bikin aku terus ketawa saat bersama kamu,” ujar Zifa, yang lagi-lagi membuat Kia merasa teringat dengan Zain.


‘Kata-katanya sama seperti yang Zain bilang,’ batin Kia, membuat dirinya menunduk sendu karena ucapan Zifa itu.


Zifa merasa bingung, dengan yang Kia rasakan saat ini. “Ki, apa aku ada salah omong sama kamu?” tanya Zifa, membuat Kia memandangnya dengan dalam.


“Gak ada, Zi. Makasih, ya.” Kia berusaha tersenyum, dengan Zifa yang masih berpikiran ganjal terhadapnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2