Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Lelaki Misterius Itu


__ADS_3

Happy reading....


“Terus terang saja, Zaki. Saya ... ingin meminta tolong kepada kamu, untuk menjaga tunangan saya selama saya tidak di sisinya,” ucap Zain, sontak membuat Zaki mendelik kaget mendengarnya.


“Hah?! Kenapa tiba-tiba begitu bicaranya?!” pekik Zaki, yang sangat tidak terima mendengar ucapan Zain itu.


Zain memandangnya dengan dalam, “Ya, karena hanya kamu yang bisa menolong saya. Kamu yang bisa melihat saya, gak ada siapa pun lagi yang bisa,” ucapnya menjelaskan, tetapi Zaki sama sekali tidak mau.


“Kenapa harus saya?!” pekik Zaki, yang benar-benar tidak bisa menerimanya.


“Saya mohon ... cuma kamu yang bisa, Zaki. Saya sudah gak bisa jaga Kia lagi. Saya harap, kamu bisa jaga dia, apalagi kamu satu kampus dengan dia sekarang. Hanya kamu beda gedung dengannya. Saya harus minta tolong sama siapa, kalau tidak sama kamu,” ucap Zain, dengan segala kerendahan hatinya.


Walaupun Zain sudah merendah, tetapi Zaki sama sekali tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa melakukannya, karena sebuah alasan.


Zaki bangkit dari tempat duduknya, memandang ke arah Zain dengan sinis. “Saya gak bisa melakukannya! Tolong, jangan ganggu saya lagi!” bentaknya dengan tegas, yang lalu segera pergi masuk ke arah kamarnya.


Zain memandangnya dengan sendu, karena harapan dirinya satu-satunya, ternyata menolaknya seperti itu.


‘Kalau sudah seperti ini, bagaimana saya bisa menjaga Kia?’ batin Zain, yang merasa sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi sekarang.


Sementara itu, saat ini Kia dan Adnan sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Di sana, tidak terlalu ramai orang, sehingga mereka bisa dengan mudahnya memilih tempat yang mereka inginkan.


Kia berjalan di hadapan Adnan, berusaha mencari tempat duduk yang ia inginkan. Pandangannya tertuju pada sebuah kursi dan meja, yang sangat jauh dari tempat biasa ia duduk bersama dengan Zain.

__ADS_1


Kia sengaja memilih kursi dan meja di bagian dekat kasir, karena ia tidak ingin duduk di dekat pintu masuk lagi.


‘Di sana biasanya kita makan es krim bareng. Kenapa sekarang rasanya canggung banget ya?’ batin Kia, yang sejak tadi memandang ke arah tempat duduk dekat pintu.


Adnan berusaha tersenyum dan bersikap lembut di hadapan Kia, “Kia, mau makan es krim rasa apa?” tanya Adnan, Kia menatapnya dengan kasar.


“Kamu kan udah tau, kenapa pakai nanya segala?!” pekiknya, yang ia kira adalah Zain.


Kia mendelik kaget, karena yang ia lihat ternyata adalah Adnan.


Kia menunduk sendu karenanya, “Ah, maaf. Gue kira ... lo Zain,” ujarnya lirih, membuat Adnan tersenyum mendengarnya.


“Gak apa-apa, kok. Gue tau, lo lagi masa-masa melupakan pak Zain,” ujar Adnan, berusaha untuk membuat Kia nyaman padanya.


Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana cara ia mendapatkan hati Kia. Ia bisa membantu Kia, agar rasa traumanya hilang. Tentu saja semuanya memerlukan waktu.


Adnan tersenyum, “Ya sudah, sebentar ya. Tunggu, gue mau antre dulu,” ujarnya, yang lalu segera menuju ke arah kasir.


Kia menunduk sendu mengingatnya, “Matcha, ya?” gumamnya, yang secara tidak sengaja malah memesan es krim kesukaan Zain. Beberapa saat menunggu Adnan, pandangan Kia malah tertuju pada seseorang yang duduk di kursi seberang Kia duduk.


Pandangannya menajam, karena ia merasa sangat kenal dengan orang yang duduk di sana, dengan seorang anak yang sedang melahap es krimnya dengan lahap.


“Itu ... bukannya orang yang waktu itu nempelin foto aku sama Zain?” gumam Kia, yang mengenali sosok misterius itu, hanya dari jaket hitam yang ia kenakan.

__ADS_1


Kia memandangnya semakin lekat, karena ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, tentang lelaki misterius yang ia lihat itu.


Lelaki itu tak sengaja menoleh ke arah Kia, membuat pandangan mereka pun bertemu satu sama lain.


Lelaki itu mendelik, ketika Kia memandanginya dengan sangat lekat.


‘Cewek itu!’ batin lelaki misterius itu, yang terkejut dan langsung menggendong anak lelaki berusia sekitar 3 tahun itu, dari sana.


Kia tersadar, ternyata dugaannya memang benar, bahwa lelaki misterius itulah yang sudah meneror mereka.


“Woy jangan lari!” pekik Kia, yang langsung berlarian ke arah lelaki itu pergi. Mendengar suara pekikan Kia, Adnan yang sedang mengantre menjadi terkejut.


Matanya mendelik kaget, “Kia!!” pekik Adnan, tetapi Kia sama sekali tak menghiraukannya.


Dengan sangat terpaksa, Adnan pergi menyusul Kia, sebelum sempat mendapatkan es krim yang hendak ia pesan. Terjadilah kejar-kejaran di sini.


Kia tidak ingin kehilangan sosok lelaki misterius itu, karena ia tidak ingin menyiakan kesempatan untuk menanyakan, siapa yang sudah menyuruhnya melakukan hal tersebut.


Lelaki itu berlari kencang, sembari menggendong anak lelakinya itu. Kia memandangnya dengan sinis, karena ia sangat tidak sanggup mengejar lelaki itu.


“Jangan lari lo woy pengecut!” pekik Kia, yang langsung mengejar ke arah lelaki misterius itu pergi.


Namun, seseorang yang diketahui adalah Adnan, berhasil menahan tangan Kia, sehingga Kia tidak berhasil mengejarnya.

__ADS_1


“Kia!” pekik Adnan, yang sudah berhasil mendapatkan tangan Kia tersebut.


BERSAMBUNG......


__ADS_2