Pengganti Arwah Tunanganku

Pengganti Arwah Tunanganku
Mengambil Yang Berharga


__ADS_3

“Apa alasan lo nuduh gue, kalau gue yang bunuh Zain? Apa karena jaket ini? Apa karena postur tubuh gue? Hanya itu aja?” tanya Zaki, Kia pun terdiam mendengarnya.


Sejenak mereka hanya diam tanpa melakukan apa pun. Zaki pun memandangnya dengan dalam, merasa tidak percaya kalau Kia telah menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan.


“Kia, asal lo tahu ya ... di dunia ini banyak banget orang yang pakai jaket kayak gini. Di dunia ini juga banyak banget pabrik yang produksi jaket model seperti ini. Bicara soal postur tubuh, memangnya cuma gue yang punya postur tubuh begini, hah? Kalau emang jelas kelihatan muka gue di CCTV yang lo lihat, lo boleh maki gue sepuas lo!” ujar Zaki, membuat Kia merasa sedikit bersalah di hadapannya.


Memang benar apa yang dikatakan Zaki, Kia juga merasa belum yakin dengan tuduhannya itu. Namun walau begitu, bukan berarti Kia percaya begitu saja dengan apa yang Zaki katakan.


Zaki kembali memandang sekitar untuk melihat keadaan, khawatir ada seseorang yang mengenal mereka dan mendengar perbincangan mereka.


Setelah melihat keadaan sekitar, Zaki pun segera melihat ke arah jam tangannya. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Itu tandanya jam pelajaran sudah dimulai.


Hal itu membuat dirinya bingung dan menjadi cemas.


Zaki memandang ke arah Kia, “Kalau lo masih mau debat tentang ini, mending jangan sekarang, deh! Jam pelajaran gue udah dimulai,” ujarnya, yang lalu pergi meninggalkan Kia tanpa basa-basi lagi.


Melihat Zaki yang pergi dari hadapannya, Kia pun merasa sedikit bersalah dengannya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan juga dirinya untuk tetap menuduh Zaki. Ia melihat jaket dan juga postur tubuh Zaki, yang mirip seperti orang yang membunuh Zain saat itu, dan ia meyakini hal itu.


Kia menunduk bingung, “Masa sih bukan dia yang membunuh Zain? Terus kenapa mirip banget? Kenapa aku sampai nggak bisa bedainnya?” gumamnya, merasa ada yang salah dengan keadaan yang terjadi.


***


Setelah kejadian staycation kemarin, hari ini Zifa tidak masuk ke kampusnya. Ia merasa tidak enak badan dan tubuhnya yang terasa lemas.

__ADS_1


Siang ini, terlihat Zifa yang masih bermanja-manja di atas ranjang tidurnya. Tubuhnya tidak karuan, karena kejadian malam itu yang membuatnya merasa seperti sekarang ini.


Malam itu saat selesai berbincang dan meminum kopi buatan Fikar, kehangatan pun tiba-tiba muncul di antara mereka. Mereka pun melakukan hal itu, karena mereka yang sudah sama-sama terbuai dengan apa yang mereka lakukan.


Memang niat hati mereka tidak untuk melakukan hal itu, tetapi semua itu karena hasutan dan godaan syaitan, sehingga mereka sampai melakukan hal yang melampaui dari hal yang tadinya ingin mereka lakukan.


Setelah selesai melakukan adegan intim bersama, Ziva pun bangun dari tidur nyenyaknya di pagi hari, dan terkejut karena melihat sosok Fikar yang sedang tertidur pulas di sebelahnya, dengan bertelanjang dada dan hanya memakai satu selimut saja bersama dengannya.


Matanya mendelik, betapa terkejutnya ia ketika melihat Fikar yang saat ini ada di hadapannya.


“Oh my God! Gak mungkin!” gumam Zifa, sembari memandang nanar ke arah Fikar yang ada di sebelahnya.


Kepalanya terasa berat, karena saat ia membuka matanya, ia langsung memaksakan untuk bangkit dan duduk di atas ranjang tidur hotel. Pandangannya pun kini menjadi hitam dan ia terpaksa harus menunduk sejenak untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


“Ternyata semua itu benar! Aku sama Fikar udah ....” Zifa tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Ia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, tak percaya dengan apa yang terjadi.


Zifa pun hanya menangis, karena merasa bingung harus berbuat apa. Ia hanya meringkuk takut, karena masa depannya saat ini mungkin telah berada di ambang batas kehancuran.


‘Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya malah jadi berantakan seperti ini?’ batin Zifa, masih dalam keadaan meringkuk meratapi nasibnya.


Karena terganggu mendengar suara isak tangis dari Zifa, Fikar pun bangun dari tidurnya. Ketika ia membuka matanya, ia mendapati Zifa yang saat ini tengah menangis dan meringkuk di atas ranjang tidurnya.


Setelah berdiam diri sejenak, Fikar pun bangun untuk mengetahui apa yang Zifa rasakan.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa nangis? Ada apa?” tanya Fikar bertanya dengan lembutnya.


Menyadari Fikar yang sudah bangun dari tidurnya, Zifa pun menatap ke arah Fikar dengan sinis.


“Kenapa kamu lakuin itu semua semalam? Kamu ‘kan udah janji, nggak akan mau melakukan apa pun yang melebihi batas! Sekarang semuanya udah terjadi, gimana cara kamu untuk balikin semuanya seperti semula?” tanya Zifa dengan sinis, membuat Fikar tersadar dengan apa yang ia lakukan semalam pada Zifa.


Fikar pun mendelik dan mengusap kasar wajahnya. Ia bingung, dengan apa yang harus ia jelaskan pada Zifa.


“Ya ampun ... kenapa ini semua harus terjadi?” gumam Fikar yang merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan pada Zifa.


Namun tentu saja ini bukan kesalahan Fikar sepenuhnya. Zifa pun sudah lepas kendali malam itu, sehingga ia merelakan Fikar untuk mengambil seluruh miliknya yang berharga. Zifa seakan tidak sadar, karena sudah terlalu mabuk kepayang.


Fikar meraih tangan Zifa dan menggenggamnya erat. “Maafin aku, Sayang. Semalam kita sama-sama mabuk asmara. Bukan cuma aku, kamu juga mau semalam. Aku nggak bisa ngendaliin diri aku, dan kamu juga nggak bisa ngendaliin diri kamu. Kamu gak bisa untuk menghentikan aku,” ujarnya membuat Zifa semakin kesal dan sinis memandang ke arahnya.


“Jadi maksud kamu sekarang, kamu nyalahin aku? Iya, benar begitu?” tanya Zifa semakin sinis saja.


Fikar pun menggeleng, karena bukan maksud hatinya untuk menyalahkan Zifa kali ini.


“Tidak, aku tidak menyalahkan kamu, Sayang. Tapi memang semalam keadaannya kita berdua yang menginginkannya. Karena kamu diam aja semalam, jadi aku pikir itu adalah tanda setuju dari kamu, untuk melakukan semua ini. Kalaupun kamu menolak semalam, aku tidak akan melakukannya,” ujar Fikar menjelaskan keadaannya.


Zifa merenung, mungkin memang benar apa yang Fikar katakan. Ini semua bukan kesalahan Fikar sepenuhnya, melainkan dirinya juga. Ia merasa bodoh karena sudah membiarkan Fikar melakukan hal seperti itu padanya.


Saat ini Zifa benar-benar bingung dan tidak tahu lagi harus bagaimana lagi. Semua impiannya mungkin saja hancur, hanya karena permasalahan ini. Ia mungkin saja akan kehilangan masa depannya, cepat atau lambat. Namun, ia tidak ingin terlalu cepat untuk kehilangan masa depannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2