
“Maafin gue ya, kalau gue bikin lo nangis, Kia. Gue nggak bermaksud untuk bikin lo nangis. Gue juga nggak bermaksud untuk bikin lo ngerasa bersalah sama gue. Gue baik-baik aja kok,” ujar Zaki membuat Kia segera menghapus air matanya, yang keluar dari pelupuknya.
“Gue nggak apa-apa kok. Lagipula ini bukan salah lo. Ini memang suratan takdir untuk gue, kehilangan orang yang gue cintai,” ujar Kia membuat Zaki memandangnya dengan dalam.
“Lo keingat sama Zain lagi, ya?” tanya Zaki, Kia pun mengangguk mendengarnya.
Karena merasa tidak bisa melakukan apa pun, Zaki pun hanya bisa memandang Kia dengan dalam.
“Gue mau peluk lo, tapi keadaan gue lagi gini dan nggak bisa banyak gerak. Gue bingung gimana caranya gue bikin lo nyaman dan juga tenang. Kalau keadaan gue kayak gini, gue rasa gue nggak bisa ngelakuin itu tapi setidaknya gue udah ngejauhin lo dari mereka,” ujar Zaki membuat Kia lekas menghapus air mata yang keluar kembali dari peluknya.
“Lo enggak usah ngelakuin apa-apa kok. Ini semua karena emang gue sedih karena keingat dengan Zain. Lo nggak usah ngelakuin apa pun, karena gue nggak minta lo untuk ngelakuin apa pun kok,” bantah Kia membuat Zaki tersenyum mendengarnya.
“Ya udah, pokoknya kalau nanti keadaan gue udah pulih, gue pasti bakalan nenangin lo dengan cara apa pun yang gue bisa,” ujar Zaki, memberikan janji dan harapan kepada Kia.
Namun Kia yang tidak ingin malu di hadapan Zaki, hanya bisa menunduk tanpa mengatakan apa pun di hadapan Zaki.
Kia kembali menyuapi Zaki, dengan makanannya. “Ayo makan lagi. Udah waktunya lo minum obat,” suruh Kia, Zaki pun menolaknya.
“Nggak, gue udah kenyang ,” tolak Zaki, Kia tidak lagi bisa memaksanya.
“Ya udah, minum ya sekarang,” ujar Kia, yang lalu meletakkan mangkuk tersebut di atas tempatnya kemudian mengambil minuman yang sudah disediakan untuk Zaki.
Zaki pun meminum minuman tersebut, dibantu oleh Kia kemudian memandangi dengan senyuman.
__ADS_1
“Makasih ya Kia, lo udah ngerawat gue di sini. Kalau bukan lo yang merawat gue, nggak tahu siapa yang rawat gue sekarang,” ujar Zaki, membuat Kia tersenyum mendengarnya.
“Lo nggak usah bilang makasih. Justru harusnya gue yang bilang makasih sama lo, karena lo udah ngelindungin gue secara langsung,” bantah Kia membuat Zaki tersenyum kecil mendengarnya.
“Itu udah kewajiban gue buat ngejagain lo, tapi kalau merawat gue itu bukan tugas lo. Makanya gue mau bilang terima kasih ke lo, karena lo udah bersedia untuk merawat gue di sini,” ujar Zaki, yang kata-katanya banyak mengandung bawang, sehingga membuat Kia kembali meneteskan air matanya.
“Udah lo jangan ngomong apa-apa, gue jadi sedih dengarnya,” ujar Kia.
“Ya, gue nggak ngomong apa-apa, deh!” Zaki menurut dengan apa yang Kia katakan.
Mereka pun sama-sama saling memandang, karena ternyata sebahagia ini mereka bersama.
“Apa lo nggak ada kelas hari ini?” tanya Zaki Kia pun mengangguk mendengarnya.
“Lo harusnya nggak usah begitu, Kia. Lo harusnya kuliah aja, nggak apa-apa gue di sini sendirian. Ada kok suster yang nolongin gue pastinya di sini. Lo nggak perlu khawatir. Bilang aja gue sebatang kara, dan suster pasti bakalan nolongin gue lah,” ujar Zaki membuat Kia tidak bisa melakukan hal itu.
“Gue nggak bisa kayak begitu, karena lo itu temen gue. Gue nggak mungkin begitu ke lo. Padahal lo udah ngorbanin diri lo sampai segininya buat gue, tapi gue malah gak mau merawat lo. Sama aja gue tuh nggak tahu terima kasih. Gue nggak mau kalau sampai tersiksa sendirian, apalagi itu karena gue,” bantah Kia membuat Zaki tersenyum kembali mendengarnya.
“Yakin kita cuma teman aja nih?” tanya Zaki, yang menggoda Kia saat ini.
Kia pun langsung memandangnya dengan ketus, “Apa sih Zaki? Gue tuh lagi ngomong serius sama lo, kenapa lo malah nggak jelas gitu?” ujar sinis Kia, lagi-lagi Zaki hanya tersenyum mendengarnya.
“Begitu gimana sih, Kia? Gue ‘kan cuma nanya, lo tinggal jawab aja apa susahnya sih?” tanya Zaki lagi, membuat Kia membuang pandangannya darinya.
__ADS_1
“Gue mau makan dulu, lapar! Gue juga dari semalam belum makan,” ujar Kia, yang lalu segera mengambil makanannya untuk sarapan.
Zaki pun menggeleng kecil karena Kia, yang lupa membantunya untuk meminum obatnya. Ia berusaha untuk meraih obat yang ada di atas meja, walaupun kesulitan, Zaki tetap meraihnya sendiri dan tidak meminta bantuan dari Kia.
Tersadar dengan apa yang Zaki lakukan, ia pun akhirnya bangkit kembali dari tempat duduknya, kemudian mengambilkannya obat yang hendak diminum Zaki.
“Gue lupa, gua harus minum obat sekarang,” ujar Kia yang lalu mengambilkan obat itu untuk Zaki.
Zaki tersenyum dan menerima obat itu dengan senangnya, karena dia yang mau menyuapinya untuk meminum obat. Zaki menjadi lebih semangat dari biasanya. Tidak salah jika Zaki senang ketika berandal itu menusuk perutnya, karena secara tidak sengaja, berandal itu sudah membuat mereka semakin dekat.
“Makasih ya lo udah ngerawat gue,” ujar Zaki membuat dia tersenyum mendengarnya.
“Lo nggak usah bilang makasih ke gue,” sanggah Kia, membuat Zaki semakin tersenyum saja mendengarnya.
Sementara itu, Fikar sudah sampai di tempat kost Zifa. Ia menunggu Zifa mandi dan lain sebagainya, tapi dirinya sendiri tidak mandi. Sekian lama menunggu kedatangan Zifa, akhirnya Zifa pun datang dengan keadaan yang sudah fresh.
Ia pun masuk kembali ke dalam mobil Fikar, untuk meminta Fikar mengantarkannya ke kampusnya. Terpaksa saja ia melakukannya, karena untuk menunggu taksi online datang, itu akan membutuhkan waktu yang lumayan lama, sehingga membuatnya sudah pasti terlambat datang ke kampus.
Menyadari Zifa yang saat ini sudah masuk ke dalam mobil, Fikar pun tersenyum ketika melihat Zifa yang saat ini sudah duduk di sebelahnya.
Fikar tidak menyangka, dirinya bisa bersama dengan Zifa lagi saat ini. Ia juga bisa kembali mengantarkan Zifa ke kampus lagi, membuatnya merasa sangat senang karenanya.
Melihat reaksi Fikar yang aneh, Zifa pun merasa heran dan bingung melihatnya. “Ngapain kamu kayak gitu?” tanya sinis Zifa, membuat Fikar tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Jangan galak-galak dong. Kamu pakai baju warna pink gitu jadi imut, lucu gitu,” goda Fikar membuat wajah Zifa bersemu karena malu, mendengar godaan yang Fikar katakan padanya.