
Happy reading.....
Semua orang sudah ada di pemakaman Zain, termasuk keluarga Kia, dan semua orang yang sangat kehilangan Zain.
Zura juga ada di sana, karena ia juga sangat merasa kehilangan Zain. Belum sempat ia merebut Zain dari Kia, ia sudah kehilangan mangsanya untuk selamanya.
Kia terduduk di atas hamparan tanah merah, tempat Zain dikebumikan. Kakinya melipat, dengan tangan yang memeluk nisan bertuliskan nama lengkap Zain.
Harapannya sudah hilang, bersama dengan hilangnya Zain dari hidupnya. Kini, ia sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi.
Hanya bisa menangis, untuk sementara waktu.
Zura memandang ke arah Kia, yang saat ini sedang menangisi sembari memeluk nisan Zain.
Pandangannya sinis, karena tak terima dengan semua yang sudah terjadi dengan Zain.
‘Ini semua salah Kia! Kalau bukan karena Kia dekat sama Zain, dia gak akan pernah pergi dari kehidupan ini!’ batin Zura, yang masih saja menyalahkan Kia, atas semua yang sudah terjadi pada Zain.
Rasa cintanya pada Zain tak bisa tersampaikan, sampai Zain sudah tiada di dunia ini.
‘Kalau Zain masih hidup, masih ada peluang buat ngerebut dia dari Kia. Kalau sudah seperti ini, gue gak bakalan sanggup saingan sama pencipta dia,’ batin Zura, yang hanya mengalah pada Tuhan, tidak pada Kia.
Walaupun Zura sudah berpikir demikian, ia masih tetap saja menyalahkan Kia, karena Kia yang dianggap sebagai dalang dari kecelakaan yang terjadi pada Zain.
Matanya memandang lebih sinis dari sebelumnya, ‘Awas aja ya, Kia. Selama lo masih hidup, gue gak akan pernah buat hidup lo seneng! Gue gak akan pernah lepasin lo, karena lo udah buat Zain mati!’ batinnya, yang sudah bersumpah dengan tegas, dalam hatinya.
Satu per satu kerabat mulai pergi dari pemakaman Zain. Kini, hanya tinggal Kia, keluarganya, dan Zifa saja. Mereka masih tetap setia menunggu Kia untuk pergi dari sana.
Bunda terduduk di sebelah Kia, berusaha untuk menenangkan hati Kia. Tangannya ia usapkan pada bahu dan punggung Kia, sehingga ia bisa menyalurkan perasaan tenang itu kepada Kia.
__ADS_1
Kia masih saja terduduk, sembari menangisi Zain di atas batu nisannya. Namun, hari sudah hampir gelap, malam sudah menjelang. Kia masih saja betah pada posisi tersebut, sejak siang tadi.
“Sudah, kita pulang sekarang, ya? Sudah mau gelap, nanti kita gak bisa pulang,” ajak Bunda, Kia merasa tidak ingin meninggalkan Zain sendirian di sini.
“Kalau bisa, Kia mau menginap di sini, Bunda. Kia mau sama Zain,” pinta Kia.
Mata mereka saling memandang satu sama lain, setelah mendengar permintaan aneh Kia. Mereka tidak bisa mengambulkannya, tetapi tidak bisa juga memaksa Kia untuk kembali ke rumah, saat ini juga.
“Ya udah, Bunda, Ayah dan Zifa, kalian pulang dulu aja. Biar Fikar yang temani Kia di sini. Nanti kita nyusul,” ujar Fikar, membuat mereka mengangguk kecil mendengarnya.
Bunda kembali mengelus punggung Kia dengan lembut, “Bunda, Ayah dan Zifa pulang dulu, ya. Kamu baik-baik di sini. Jangan sampai terlalu malam,” pamitnya sembari memesankan hal tersebut pada Kia.
Tak ada jawaban dari Kia, membuat Bunda melemparkan pandangannya ke arah Ayah. Bunda paham, memang sangat berat kehilangan orang yang kita cintai.
Bunda pun bangkit, berhadapan dengan mereka. Ia mengangguk ke arah Fikar, lalu Fikar membalasnya. Ayahnya menepukkan tangannya pada bahu Fikar, memberi tanda agar Fikar menjaga adiknya dengan benar.
Fikar sangat tahu sekali soal itu.
Setelah memandang ke arah kepergian keluarganya, Fikar pun segera memandang ke arah Kia. Ia duduk berjinjit di sebelah Kia, untuk menemani Kia meratapi nasibnya.
Fikar adalah sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya. Ia tidak ingin meninggalkan Kia sendiri di tempat seperti ini, bersama dengan kesedihan yang sedang ia rasakan.
Tangannya merengkuh lembut pipi Kia, yang lalu disusul dengan kepala Kia yang ia sandarkan pada bahu Fikar.
Tangisnya seketika pecah kembali, karena Kia yang teringat dengan rasa yang sama, saat ia menyandarkan kepalanya pada bahu Zain.
Nyaman! Satu kata yang bisa menggambarkan perasaan Kia saat ini, yang sudah menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Fikar.
“Zain ....”
__ADS_1
Kia terus memanggil sosok Zain, karena ia benar-benar tidak akan bisa menjalani kehidupan ini, tanpa Zain.
Mengerti dengan keadaan hati dan perasaan Kia, Fikar segera mengusap kepala Kia dengan lembut, turun ke wajah Kia, yang sudah bersimbah air mata.
Sesungguhnya Fikar juga tidak kuat, melihat adiknya terus menangisi Zain seperti ini. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa pun, karena kepergian Zain merupakan takdir yang sudah tertulis untuknya.
Sosok Zain tidak benar-benar meninggalkan Kia. Ia masih di sana, melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri, Kia yang sedang menangis terisak di hadapan tempat terakhirnya, walaupun Kia tak bisa melihat dirinya yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Tak hanya hati Kia yang merasa teriris, tetapi hati Zain pun merasakan demikian. Ia bahkan belum sempat membuat kenangan yang baik, yang akan ia tinggalkan untuk Kia, sebelum dirinya meninggalkan Kia seorang diri di dunia ini.
Sosok Zain yang mengenakan baju serba putih, dengan banyak sekali cahaya yang terpancar dari tubuhnya, memandang lekat ke arah Kia.
Walaupun sama sekali tidak berbicara, Zain masih terus memandangi Kia dan juga Fikar di sana.
Terlihat jelas rasa kehilangan, dari sorot mata Zain. Ia tidak rela, meninggalkan Kia sendirian di dunia ini.
‘Aku gak akan pergi ke mana pun. Aku akan tetap di sisi kamu, Kia,’ batin Zain, yang bahkan sudah tidak bisa menangisi nasib mereka lagi.
Pandangannya teralihkan, dengan sosok lelaki yang sedang memegang sebuket bunga pada tangan kanannya. Sejenak pandangan mereka bertaut, membuat Zain membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Lelaki berperawakan kekar itu, ternyata bisa melihat sosok Zain yang sudah menjadi arwah. Karena masih tidak percaya, Zain terus memandangi lelaki itu, untuk mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Perhatian Zain terusik, dengan Kia dan Fikar yang tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya. Zain memandang ke arah Kia, dengan pandangan yang sangat tidak rela.
Kia dan Fikar meninggalkan pemakaman Zain, melewati dirinya yang sedang berdiri di hadapan mereka.
Seakan tembus pandang, mereka melewati Zain dan menerobos melewatinya. Zain benar-benar sudah menjadi arwah sekarang.
Zain berbalik, memandang ke arah mereka yang bahkan juga melewati sosok lelaki, yang bisa melihat keberadaan Zain. Zain tak rela, melihat Kia meninggalkan dirinya di sini.
__ADS_1
BERSAMBUNG......