
“Mau makan apa?” tanya Zaki, Kia merasa heran dan bingung dengan sikap Zaki padanya.
“Lo siapa?” tanya Kia heran, Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Kita belum kenalan, ya?” tanya Zaki, Kia masih saja memandanginya dengan heran. “Kenalin, nama gue ... Zaki.”
Mata Kia membulat kaget, ketika mendengar namanya yang sekilas mirip seperti Zain. Kia berpikir Zaki akan mengatakan nama Zain, tetapi rupanya mereka hanya memiliki nama yang hampir sama.
Tangan Zaki masih mengulur ke arah Kia, tetapi Kia hanya bisa memandang ke arah tangannya saja, karena merasa sangat heran dengan vibes Zaki, yang rasanya mirip seperti Zain.
‘Dia kenapa mirip banget kayak Zain?’ batin Kia, merasa tidak percaya dengan apa yang Zaki lakukan saat ini.
Saat pertama kali Zain dan Kia dekat pun, mereka dekat dengan hal yang sama dengan kali ini. Adnan berusaha untuk menggodanya, tetapi Zain tiba-tiba saja datang menarik tangan Kia, tetapi sikap Adnan pada Zain tidak seburuk saat ia berhadapan dengan Zaki tadi. Adnan masih memandang kalau Zain adalah dosen di kampus ini.
Melihat Kia yang sepertinya stuck, Zaki merasa sangat canggung karenanya. Hal itu membuat Zaki menarik kembali tangannya, dan mengalihkan pandangannya dari hadapan Kia.
“Maaf udah bikin lo gak nyaman,” ujar Zaki, tanpa memandang ke arah Kia.
Kia tersadar dari lamunannya. Ia segera menunduk, karena malu dengan apa yang ia lakukan terhadap Zaki.
‘Apa-apaan sih aku? Udah ditolongin, kenapa juga aku malah gak mau kenalan sama dia?’ batin Kia, merasa sedikit kesal dengan dirinya sendiri.
Zaki kembali memandang ke arahnya. “Mau makan, atau mau minum aja?” tawarnya.
Di hari yang masih sepagi ini, Zaki khawatir jika Kia belum sarapan saat berangkat ke kampus tadi. Ia jadi menawarkan kepada Kia, dan ingin membuat mereka menjadi semakin dekat lagi.
__ADS_1
“Gak usah, gue gak laper,” tolak Kia, Zaki tersenyum.
“Pasti lo haus, bukan? Pesan aja, biar gue yang bayar,” ujar Zaki, sedikit tersenyum di hadapan Kia.
Kia hanya memandangnya dengan sinis, karena merasa ada yang aneh dari Zaki. Mereka belum mengenal satu sama lain, tetapi Zaki terlihat sangat ingin akrab dengannya. Alhasil Kia hanya bisa memandangnya saja, dengan Zaki yang lalu tertawa kecil karena pandangan sinis Kia ke arahnya.
“Gue pesenin aja, ya?” tawar Zaki yang tanpa basa-basi segera bangkit dan menuju ke salah satu stand, untuk memesan minuman.
Kia merasa heran, karena sikap Zaki yang kurang lebih mirip dengan sikap Zain, saat mendekatinya dulu. Ia baru menyadari, bahwa di antara mereka benar-benar ada kemiripan.
‘Kenapa dia mirip banget sama Zain? Dari cara dia ngedeketin aku, gaya rambutnya, sampai cara dia mengolah suasana yang canggung. Kenapa malah jadi seperti ini, sih?’ batin Kia, merasa sangat heran dengan keadaan yang ada.
Saat Zaki hendak memesan, banyak orang yang mengenalinya. Zaki yang dikenal selalu memakai jaket hitam dengan kupluk, dan pakaian serba hitamnya, kini sedikit mengubah gayanya menjadi lebih berwarna. Hal itu bertujuan agar Kia tidak mencurigainya dan mengenalinya.
Zaki juga memakai mobil Zain sport yang ada di garasi rumahnya, agar Kia tidak mengenali motor sport yang waktu itu membuat Kia merasa dibuntuti.
Tentu saja Kia belum pernah melihat mobil sport Zain, karena Zain memang tidak pernah menunjukkannya di hadapan Kia. Zain bukanlah tipe lelaki yang ingin bergaya di hadapan wanitanya. Justru niat hati Zain, akan memberikan mobil sport itu untuk Kia setelah pernikahan mereka.
Sayangnya, mereka bahkan belum sempat bertukar cincin pertunangan, dan ajal sudah menjemput Zain lebih dulu.
Semua pandangan mata mereka memandang genit ke arah Zaki, membuat Zaki merasa canggung karena melihat tatapan mereka yang aneh. Tidak biasanya mereka melakukan hal ini padanya. Itu cukup membuat Zaki merasa sedikit resah.
‘Ah ... kenapa mereka malah ngelihat saya seperti itu?’ batin Zaki, merasa canggung dengan tatapan mereka yang terlihat sangat dominan.
Zaki setengah tidak menghiraukan, lalu segera menerima dua gelas latte dingin yang baru saja ia pesan. Ia kembali ke arah Kia, dan meletakkan latte tersebut di hadapan Kia, sembari duduk di kursi hadapannya.
__ADS_1
“Ini buat lo,” ujar Zaki, sontak membuat Kia mendelik kaget karena mendapatkan latte dingin dari Zaki.
Kia tak menyangka, di awal pertemuan mereka, Zaki bahkan mengetahui namanya dan juga minuman yang ia suka. Hal itu membuat Kia merasa sangat heran dan canggung, sekaligus merasa khawatir jika saja Zaki sudah menjadi mata-mata sebelum mereka bertemu seperti sekarang ini.
“Lo kok tau sih, minuman kesukaan gue?” tanya Kia sinis, Zaki tertawa kecil mendengarnya.
“Oh, ini minuman kesukaan lo? Kok sama, ya?” ujar Zaki dengan sedikit candaan, membuat Kia merasa sedikit kesal mendengarnya.
“Lo juga kenapa bisa tau nama gue?” tanya sinis Kia lagi, yang masih saja tidak menyangka dengan kejadian itu.
Zaki menghela napas, “Tadi cowok itu nyebut nama lo berulang kali. Gue jadi tau deh nama lo,” jawabnya, membuat Kia merasa sedikit malu mendengarnya.
Memang benar apa yang dikatakan Zaki tentang namanya. Tentang latte pun, tidak hanya Kia yang menyukainya, tetapi banyak sekali orang di dunia ini yang juga menyukai latte.
Pada kenyataannya, Zaki memang sudah memperkirakan hal ini. Ia sudah belajar mengenai cara menghadapi Kia, dan semua itu Zain dan Zifa yang mengajarkannya.
Sebenarnya, Zaki tidak terlalu suka minuman yang manis. Namun, ia berusaha untuk memberikan kesan terbaik pada Kia, karena Zain yang sering mengonsumsi latte juga ketika bersama dengan Kia.
Kia salah tingkah, ia hanya bisa menggerutu dalam hati, karena ada seseorang yang mirip sekali dengan Zain. Hal itu membuat Kia merasa sangat sedih, karena teringat dengan Zain kembali.
“Diminum latte-nya, nanti keburu gak dingin,” ujar Zaki, Kia dengan rasa malunya, segera mengambil latte yang ada di hadapannya.
Kia menyesap sedikit latte dari sedotan, dengan perasaan yang tiba-tiba saja teringat dengan Zain. Hatinya tidak bisa dipaksakan. Ia bisa tiba-tiba saja teringat Zain, dan bisa tiba-tiba saja menangis karena kepergian Zain begitu mendalam baginya.
Namun, kali ini ia berusaha untuk menahan perasaannya di hadapan Zaki. Ia tidak ingin Zaki mengetahui perasaan sedihnya, ketika sedang menikmati latte yang ia berikan.
__ADS_1