
Zaki tersenyum hangat ke arahnya, “Silakan, selamat dinikmati hidangannya,” ujarnya dengan sangat ramah, mirip seperti waitress yang ada di restoran, ketika menyajikan makanan di hadapannya.
Kia sangat tidak habis pikir, karena ternyata Zaki sangat mengetahui dengan jelas tentang dirinya. Ia yakin, ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan memang Zaki yang sudah paham tentang seluk-beluk dirinya.
Karena merasa sudah sangat tergoda dengan hidangan yang ada, apalagi perutnya juga sudah sangat lapar karena tidak sarapan tadi pagi, ia pun menyingkirkan sejenak apa yang ia pikirkan tentang Zaki.
Melihat Kia yang sudah mulai menyantap makanannya, Zaki merasa sangat senang karena ia bisa membuat Kia sedikit memercayainya.
Ketika tengah asyik menyantap makanan mereka, seseorang pun datang tiba-tiba, membuat kekacauan dengan menumpahkan sesuatu ke arah Kia.
Karena menyadarinya, Kia pun segera bangkit, dengan keadaan mata yang mendelik, karena saat ini pakaiannya sudah basah terkena air.
“Oh My God!” gumam Kia, merasa sangat kaget dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Terlihat Zura yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Kia kaget, karena Zura yang sepertinya sangat ingin tampil di hadapannya.
“Ups, sorry ... gue gak sengaja,” ujar Zura, dengan nada yang memang terdengar sangat sengaja.
Siapa pun pasti akan mengetahui dengan jelas, hanya dari nada tertawa Zura.
Kia memandangnya sinis, “Lo sengaja, kenapa bilangnya gak sengaja?” pekiknya kesal, Zura pun memainkan perannya dengan berpura-pura seperti terhardik di hadapan Kia.
“Jangan begitu, Kia. Kenapa sikap lo dari dulu gak pernah berubah? Gue beneran sengaja, kok. Lo kenapa sentiment banget sama gue?” ujar Zura, membuat Kia merasa sangat muak mendengar ucapannya yang seperti itu.
Matanya memandang ke arah Zaki. Zura menyunggingkan senyumannya, karena ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.
“Ups ... ternyata lagi sama Kak Zaki, toh. Kia pinter banget ya menggait lelaki? Padahal makam Zain aja masih belum kering, ternyata udah berani buat menggait cowok lain? Gak tanggung, dia malah menggait Kak Zaki, lelaki populer yang terkenal di kampus ini, 3 tahun lalu,” ledek Zura, sontak membuat Kia mendelik kaget mendengarnya.
Entah karena kesal atau bingung, Kia pun hanya bisa mendelik kaget. Entah karena masalah Zain, atau masalah Zaki, keduanya sama-sama membuatnya terkejut.
__ADS_1
“Apa kata lo? Makam Zain? Zaki cowok populer? Hah ... gak habis pikir gue, kenapa sih lo masih aja ganggu gue? Kenapa? Gue gak seperti yang lo pikirin!” bentak Kia, merasa sangat jengkel dengan tuduhan Zura padanya.
Zura melipat kedua lengannya, “Ya, lo gak tau diri, sih! Zain belum lama meninggal, tapi lo udah bikin ulah dengan mendekati cowok lain. Semoga Zain tenang di alamnya sana, dan semoga dia gak tau, kelakuan lo yang seperti ini,” ujar Zura, sontak membuat Kia bertambah kesal karenanya.
Kia bangkit di hadapan Zura, “JAGA BICARA LO!” bentak Kia, yang sudah tidak bisa menahan perasaan kesalnya lagi.
Melihat mereka yang sedang bertengkar, Zaki tidak tinggal diam. Situasi ini sudah semakin panas, membuatnya harus segera turun tangan memisahkan mereka.
“Kalian lagi apa, sih?” tanya Zaki heran, mereka memandang sinis ke arah Zaki, yang sepertinya tidak ada perhatiannya kepada mereka.
“Lo kenapa gak pisahin kita, sih?” bentak Kia, Zaki membulatkan matanya heran.
“Apanya yang mau dipisahin? Kalian ‘kan gak main jambak-jambakan? Lagipun kalian masih baik-baik aja, dan masih kondusif,” ujar Zaki, membuat emosi Kia semakin membludak.
“Udahlah!” gerutu Kia kesal, lalu segera pergi dari sana meninggalkan Zaki dan Zura.
“Makasih!” ketus Kia, yang lalu segera pergi membawa minuman yang memang sudah dipersiapkan untuknya.
Melihat sikap aneh Kia yang absurd itu, Zaki pun hanya bisa tertawa kecil. Ia tidak menyangka, semarah apa pun Kia, tetap masih terlihat imut.
‘Dia masih imut, walaupun dia marah seperti itu,’ batin Zaki, merasa sangat heran dengan sikap Kia itu.
Namun, ada sesuatu yang membuat Zaki terkesan. Yaitu perlakuan Zura di hadapan Kia. Ia tidak menyangka, Zura akan mengatakan hal yang menyakitkan itu kepada Kia.
Zaki memandangnya sinis, “Lo ... kenapa ngomong kasar begitu ke Kia? Apa masalah lo?” tanya Zaki, kesal dengan sikap Zura yang seperti itu pada Kia.
Zura menyunggingkan senyumannya, “Ah, kenapa memangnya? Bukannya emang lo senang deketin Kia?” tanyanya dengan selorohannya yang mengarah pada hal untuk menjatuhkan Zaki.
“Senang apanya?” tanya sinis Zaki, membuat Zura tertawa mendengarnya.
__ADS_1
“Jangan bohong. Lo pasti sengaja ‘kan deketin Kia? Lo tau kalau Kia gak jadi nikah, dan itu membuat lo deketin dia,” bidik Zura, membuat Zaki menghela napasnya dengan panjang.
“Gue gak ngerti!”
“Ah, cowok sepopuler lo, pastinya gak akan pernah sia-siain kesempatan ini. Lo pasti udah lama ngincer Kia, bukan? Bahkan makam Zain aja masih belum kering, dan lo udah berani deketin Kia sampai makan siang bareng Kia!” bentak Zura, Zaki hanya bisa memandangnya sinis.
“Gue sama sekali gak ngerti dengan yang lo bilang. Satu hal yang harus gue tekankan ke lo, gue gak suka kalau lo nyentuh Kia sedikit pun. Gue peringatin!” ancam Zaki, membuat Zura mendelik kaget mendengarnya.
Zaki pun pergi dari sana, meninggalkan Zura seorang diri. Ia tidak bisa berlama-lama di tempat orang asing yang sangat aneh menurutnya.
Sementara itu, Kia berlarian menuju ke arah toilet. Ia tidak mungkin kembali ke kelasnya, dengan keadaan lengket seperti itu. Minuman yang Zura tumpahkan, ternyata adalah minuman manis, yang sangat membuat tubuhnya terasa lengket.
Tangannya membuka keran air, lalu ia mulai mengusapkan air tersebut ke arah pakaiannya yang basah.
“Duh ... kenapa si Zura begitu sih? Udah sengaja numpahin air, malah sengaja fitnah aku di hadapan Zaki,” gerutu Kia, yang masih berusaha untuk membersihkan pakaiannya.
Ketika sudah mulai bersih, Kia pun segera memandang ke arah cermin yang ada di hadapannya. Ia merasa kesal, saking kesalnya rasanya ia tidak ingin kembali ke kelasnya lagi.
Namun, ia menyadari, melakukan hal itu mungkin akan membuatnya tertinggal mata pelajaran tambahan, yang hanya ada di hari Sabtu ini saja.
“Gak bisa, aku harus kembali ke kelas. Jangan sampai hanya karena hal ini, aku malah jadi ketinggalan pelajaran!” gerutu Kia, lalu segera bergegas kembali ke ruangan kelasnya.
Ketika hendak kembali ke ruangan kelasnya, langkahnya terhenti karena ia melihat Zaki yang sedang berdiri di depan pintu masuk toilet.
Zaki terkejut, ketika melihat kedatangan Kia yang tiba-tiba. Tak hanya Zaki, Kia pun juga terkejut karena melihat Zaki berdiri di hadapannya.
“Ah, hai ....”
BERSAMBUNG.....
__ADS_1